
Mengetahui diri mengidap penyakit leukimia, Amanda seolah kehilangan semangat hidupnya, ia pun enggan menjalani kemoterapi.
"Manda, kamu makan dulu ya Nak, habis itu minum obat," kata ibu Manda sambil menyuapi nya nasi.
"Manda ngak lapar Ma, Manda juga ngak mau minum obat, kita pulang saja Ma," ucapnya dengan tatapan mata kosong.
"Jangan begitu, kamu harus tetap minum obat kamu, biar cepat sembuh sayang," bujuknya lagi.
"Manda ngak mungkin sembuh Ma, jadi percuma Manda minum obat, percuma juga Manda ada di sini, Manda ngak akan sembuh Ma, Manda juga iklas jika sebentar lagi Manda akan mati," tutur nya dengan lirih.
"Jangan bicara seperti itu sayang, kamu anak perempuan Mama satu-satunya dan Kakak kamu Nino, dia mana perduli sama Mama."
"Tapi Ma, Biaya pengobatan kangker itu mahal, Mama pasti ngak punya uang kan, setelah membiayai kuliah manda selama lima tahun, dan baru satu tahun bekerja, kini Manda menderita penyakit ganas seperti ini, apa yang Mama beri ke manda, tak sebanding dengan apa yang Manda berikan Ma, sudalah Ma, lebih baik uangnya Mama simpan untuk hari tua Mama, Mama pasti lebih membutuhkan nya dari pada Manda, karna setelah kepergian Manda, Siapa yang akan membiayai hidup Mama."
"Nak, kamu jangan putus asa dulu, apa yang Mama berikan selama ini Mama iklas, tanpa mengharap imbalan dari kamu,yang terpenting kita obati penyakit kamu, dokter menyaran kan untuk kemoterapi, kamu mau kan sayang?" tanya nya penuh harap tapi Amanda tetap tidak mau, ia bahkan ingin melepas selang infusnya sendiri.
***
Raihan menemui Dion, setelah dari rumahnya, dan bertemu Ummi, ia pun langsung menuju rumah sakit tempat Dion praktek.
Melihat Raihan yang datang, Dion pun langsung menyambutnya bahagia.
"Mas Raihan," sapa Dion, ia pun memeluk Raihan.
"Dion, baru saja aku mencari mu di rumahmu, kata Ummi, kamu ada di sini ya."
"Ada apa Mas ? sampai repot mencari ku sampai di sini."
"Gini Dion, aku bersama ikatan pengusaha muda indonesia, akan mengadakan forum peduli dan tanggap bencana Indonesia, kami mengundang para aktifis mahasiswa, para pengusaha, dosen dan tenaga kesehatan, untuk bicara dalam satu forum, yang membahas tentang bencana yang menimpa saudara-saudara kita di beberapa tempat, akhir-akhir ini, dan rencana nya kita akan membuat suatu yayasan peduli dan tanggap bencana, Jadi aku harap kamu bisa hadir di forum mewakili tenaga kesehantan, dan ada juga dokter, pengusaha, dosen dan mahasiswa, lainnya dari berbagai kota lainya," papar Raihan.
"Jadi sekarang, selain jadi dosen dan pengusaha, sekarang Mas Raihan juga aktifis."
"Bukan hanya itu Dion, aku juga masih jadi mahasiswa sekarang, pinginya sih kalau ada Program stara 4 aku mau tuh kuliah sampai stara 4."
"Kuliah aja Mas trus, keburuan tua nanti ngak kawin-kawin," canda Dion.
"Ah jodoh mah ngak kemana-mana Dion, di usahain seperti apa juga kalau belum jodoh, ngak akan jadi, ada aja halanganya, ya di ambil orang lah, ya putus tengah jalan lah," ungkap Raihan sambil bercanda.
"Jadi ceritanya nyindir aku nih," sahut Dion.
"Ngak nyindir emang kenyataanya seperti itu kok," balas Raihan dengan nada bercanda, mereka pun tertawa kecil.
"Eh yon, kamu sudah ketemu Amira?" tanya Raihan.
"Sudah Mas, aku sama dia sudah resmi berpisah," jawab Dion sambil tertunduk.
"Serius kamu Dion?" Tapi kenapa Dion?"
"Seperti yang kamu bilang tadi Mas, kalau bukan jodoh, seperti apa pun di usahakan, ngak mungkin untuk bersatu, tapi ya sudalah Mas, emang benar kali kata dia, jodoh kami hanya sampai di sini," tutur Dion, dengan nada yang melemah.
"Ya, sudalah jika memang keputusan kalian seperti itu, semoga kalian sama-sama bahagia, dan dapat pasangan yang bisa saling mengerti," tambah Raihan.
__ADS_1
"Amin Mas,"
"Kalau gitu aku pamit, undanganya sekitar tiga minggu lagi, kamu boleh bawa rekan dokter, atau pacar baru kamu juga boleh," Raihan menepuk pundak Dion.
"Iya Mas, insya Allah."
"Aku pamit Dion," ia pun berlalu.
"Hati-hati Mas," ucap Dion, ia pun bermaksud kembali ke ruanganya, jam prakteknya pun sudah selesai.
Dion membalikan tubuhnya, dan ia sedikit kaget, ketika melihat ibu Nita sudah ada di belakangnya.
"Nak dokter, apa Nak dokter bisa bantu ibu?" tanya wanita paruhbaya itu kepadanya.
"Ada apa Bu?" tanya Dion.
"Nak dokter, tolong bujuk Amanda agar dia mau menjalani kemoterapi."
"Membujuk Amanda?" kenapa harus saya Bu?"
"Amanda ngak mau minum obat dokter, dia juga sepertinya sudah putus asa dengan penyakitnya, Amanda sudah menyerah sebelum berusaha, saya sudah sering membujuknya, tapi ia tetap tak mau, bahkan ia memaksakan diri untuk pulang, dan enggan berada di rumah sakit ini lagi," papar bu Nita.
"Trus kalau ibu ngak bisa membujuk nya, pastinya, saya ngak bisa bu." Dion menolak secara halus, karna ia juga tak ingin memaksa Amanda.
"Tapi Nak, ibu tahu sejak SMA Amanda menyukai kamu, dan ibu lihat, ia banyak sekali menyimpan foto kamu, Ibu dan Amanda tak punya siapa-siapa lagi, Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, dan kakaknya, tinggal jauh dari sini, jika terjadi sesuatu pada Amanda, ibu pasti akan sedih Nak," paparnya dengan meneteskan air mata.
Mendengar cerita ibunya, Dion menjadi dilema, satu sisi ia kasihan dengan sang ibu tersebut, di satu sisi ia takut mengungkit kenangan lama, karna merasa kasihan ia pun mengambil keputusan yang salah.
"Bu, ibu pergi saja dulu, nanti saya menyusul."
"Baik Nak," ia pun berlalu.
Dion kembali binggung, apa yang harus di katanya pada Amanda, ia memang pernah punya perasaan cinta pada Amanda, tapi itu dulu, sewaktu ia belum mengenal cahaya, sekarang meski ia dan Cahaya berpisah, namun rasa cinta itu masih ada, meski ia tahu, tak mungkin lagi mereka akan bersama.
Dion membawa setangkai bunga mawar merah yang di pesannya secara online, karna ia juga tak tahu harus berkata apa pada Amanda nantinya, ia berharap dengan memberi nya setangkai bunga, dapat membuat Amanda merasa bahagia, karna ada orang perduli padanya, dan memberinya semangat untuk melanjutkan pengobatanya.
Sesampainya di ruangan perawatan Amanda, Dion pun masuk dan langsung memberinya setangkai mawar pada Amanda.
Dengan senang Amanda menerima nya.
"Bagaimana keadan mu sekarang ?" tanya Dion memulai pembicaraanya.
"Seperti yang kau lihat Dion, sebentar lagi aku juga akan mati," tuturnya lirih.
Dion menarik nafas panjang nya.
"Hidup dan mati seseorang di tentukan oleh Allah, sebagai manusia kita harus bertawakal dan berserah, bertawaqal terlebih dahulu, lakukan semampu kita, setelah itu kita serah kan pada yang kuasa," papar Dion.
"Percuma Dion, aku ngak bakalan sembuh, aku hanya akan menghabiskan harta orang tua ku, Aku kasihan pada ibu ku, aku selalu merepotkanya, dan belum sempat untuk berbakti pada nya," tutur Amira semakin sedih.
"Tapi jika kau seperti ini, kau akan membuat ibu mu lebih bersedih Amanda, lihat lah dia, dia sangat mengharapkan kesembuhanmu, jika tidak untuk mu, lakukan saja untuk ibu mu."
__ADS_1
Amanda hanya diam, sambil merenungi kata-kata Dion.
"Baik lah Amanda, besok aku juga akan ikut menemani mu kemoterapi, kau semangat ya, karna di sekeliling mu masih ada yang peduli padamu." Setelah mengucapkan kata-kata itu Dion pun berlalu darinya.
***
Amira dan Revan sudah selesai makan malam, ini lah kali pertama mereka makan malam bersama, tak ada rona bahagia di wajah Amira, wajahnya terlihat datar, ia juga tak banyak bicara, ia hanya menjawab apa yang Evan tanya kan pada nya.
"Amira kita singgah ke rumah yang akan kita tempati setelah menikah nanti, rumahnya sih tidak terlalu besar, tak seperti rumah orang tua mu, tapi jika ada yang kurang berkenan, baik arsitektur atau apalah, kau bisa koreksi sendiri, dan langsung ku renovasi kembali, agar kau dan anak-anak kita nyaman menempatinya," ucap Revan di dalam mobil.
Amira hanya diam, ia hanya tersenyum dengan terpaksa, meski tahu jika Amira tak menyukainya, tapi Revan tak ambil pusing.
Mereka pun sampai, rumah itu cukup luas dan indah, dengan kombinasi cat putih dan emas menambah elegan dan mewah.
Mereka pun membuka pintu rumah, dan Evan menunjukan detail setiap ruangan di rumah itu, Amira terlihat tidak begitu antusias, seperti orang yang banyak pikiran.
Tibalah mereka di sebuah ruangan besar, sepertinya ruangan itu adalah kamar utama, dan di sana sudah ada tempat tidur dan furniture yang lainya.
"Dan ini lah kamar yang akan kita tempati setelah menikah nanti," iya pun masuk dan di ikuti Amira.
"Di sinilah kita akan bercinta nantinya," bisiknya di telinga Amira.
Amira agak terganggu dengan kata bercinta yang di ucapkan oleh Revan, ia pun memutuskan untuk keluar, karna saat itu, Amira melihat Revan menatapnya dengan mesum.
Amira pun segera keluar, tapi tanganya di tarik dengan kasar oleh Revan.
"Mau kemana sayang?" tanya nya sambil menatap Amira dengan mesum.
"Aku mau pulang Van!" Seru Amira, ia pun ketakutan.
"Nanti dulu sayang, kita nikmati dulu malam ini," ia pun mencoba mencium Amira, tapi Amira menolak.
" Lepaskan Van," Amira berusaha melepaskan cengraman Revan, sementara tubuh nya kini telah bersandar pada dinding.
Meski memberontak, nyatanya tanggan Revan lebih kuat mencengram tanganya.
Amira berusaha menendang Revan, tapi keburu tubuhnya di hempaskan Revan ke atas kasur, kemudian ia menindih bagian paha Amira, agar ia tidak bisa bergerak, sementara telapak tangan nya menekan telapak tangan Amira.
"Van lepaskan aku Van !"
"Lepaskan aku Van! kau memang brengsek." Amira berteriak dan menangis.
"Sayang nikmati saja, jangan pura-pura gitu dong, aku tahu pasti kamu mau kan? cuma kamu malu aja, ngak perlu malu, sebentar lagi kita juga akan jadi suami istri," ujar nya dengan santai.
"Brengsek kamu Van, lepasin aku, Van!!!!" Amira berteriak, tapi Revan membukam mulut Amira dengan mulutnya, ia pun mencium bibir Amira secara brutal.
Amira masih meronta, berusaha melepaskan cengraman Revan, tapi tubuhnya sudah tak bisa bergerak karna tertindih tubuh Revan, ia pun mencoba meraih sesuatu yang ada di tasnya, dan Amira mendapati parfumnya yang ada di dalam tasnya, dengan segera saat ada kesempatan, ia pun langsung menyemprot parfum ke mata Revan.
"Aw !!!"pekik Revan merasakan pedih di matanya, karna tak tahan ia pun berlari kekamar mandi, dan ini kesempatan bagi Amira untuk kabur, dengan tergesa-gesa ia keluar dari kamar dan berlari menuju pintu, menyadari Amira lari, Revan pun mengejarnya, setelah keluar dari pintu, Amira berlari menuju pintu gerbang, karna merasa di kejar Revan, tanpa melihat kanan kiri, Amira pun menyebrang dan langsung di tabrak mobil, seketika tubuhnya melayang, dan terpental, sebelum akhirnya tegeletak di aspal.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Like dan komen nya, ya jangan lupa, biar aurhor semangat up nya, thanks.