Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 H-3 Pernikahan


__ADS_3

Hari ini. Semua orang mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kamila sibuk dengan tugasnya dan juga sibuk memikirkan kado pernikahan untuk Aldy dan Jessica.


Para pelayan, mereka sibuk membersihkan rumah utama. Terutama kamar Aldy. Ada beberapa pelayan terpercaya yang membersihkan kamar itu. Mendesain ulang untuk ditempati oleh Aldy dan Jessica nantinya.


Sementara kedua calon pengantin itu sedang dipisahkan sekarang. Jessica dibawa ke sebuah villa, ditemani oleh Ibu dan beberapa orang pelayan dan juga pengawal. Sedangkan Aldy. Ia tetap di rumah utama. Namun, ia tidak tidur di kamarnya, melainkan tidur di kamar milik Jessica.


Belum sehari dipisahkan dengan Jessica. Aldy sudah gelisah tak karuan. Bagaimana jika sudah tiga hari? Dia pasti akan memeluk Jessica dengan erat lalu menggigit pipi wanita itu ketika bertemu nanti.


☆☆☆☆☆☆


Villa Kamboja


Jessica mengedarkan pandangannya pada setiap sudut ruangan. Villa ini di desain begitu indah. Semua barang yang ada di dalamnya berwarna putih cerah. Dan pada bagian dapur, dicat dengan warna abu dan juga putih. Sungguh, ini benar-benar rumah impian Jessica.


"Siapa yang memilih desain Villa ini, Bu?" tanya Jessica lalu duduk di samping Ibu.


"Aldy sendiri yang memilih dan juga mendesainnya. Apa kau suka?" Ibu melirik Jessica yang sedang mengangguk kemudian tersenyum padanya.


"Nyonya, ini susu hangatnya." Pelayan muda itu meletakkan dua gelas susu coklat hangat di atas meja. Ia pun tersenyum lalu pamit undur diri pada Jessica dan Ibu.


Laras, begitulah nama panggilan pelayan muda tadi. Ia adalah salah satu pelayan muda yang sudah lama mengabdi pada keluarga besar Yoga Candra. Laras seumuran dengan Kamila. Namun, badannya lebih tinggi dan berisi. Tidak seperti badan Kamila yang kecil, imut dan menggemaskan.


"Dia Laras. Dia selama ini tinggal di rumah belakang dan bertugas pada bagian laundry," jelas Ibu.


Ibu melirik Jessica lalu tersenyum pada wanita itu. "Audy, Ibu tinggal ke belakang dulu. Ada yang Ibu harus selesaikan di sana," lanjut Ibu.


"Silahkan, Bu. Atau ada yang bisa Audy bantu?" Jessica menawarkan dirinya. Siapa tau Ibu membutuhkan bantuannya.


"Tidak apa. Ini bukan pekerjaan yang berat. Ibu bisa menyelesaikannya sendirian." Ibu bangun. Ia pun berjalan menuju taman belakang Villa.


Setelah kepergian Ibu. Jessica memutuskan untuk mencari tempat yang cocok untuk menikmati susu hangatnya.


Danau buatan. Di sinilah tempatnya yang cocok untuk menikmati secangkir susu cokelat hangat. Danau hijau yang terletak di sebelah kiri Villa. Danau ini terlihat begitu indah, ukurannya juga tidak terlalu luas, namun sangat indah dan memanjakan mata.


Jessica duduk di sebuah jembatan yang menghubungkan Villa Kamboja dengan rumah pohon di seberang Danau sana.


"Tempat ini sangat menenangkan. Aku suka tempat ini. Bunga-bunga, Danau buatan, dan rumah pohon. Semuanya sangat indah," gumam Jessica.


Jessica menurunkan kakinya. Merendam kakinya di dalam Danau sambil sesekali melirik ke arah rumah pohon yang sangat memikat itu.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Nyonya besar menyuruhnya saya menemani Anda. Apa saya...."


"Tidak apa, duduklah. Aku senang jika kau mau menemaniku di sini," potong Jessica lalu tersenyum pada Laras.


Laras pun membenarkan rok yang ia kenakan lalu duduk di samping Jessica. Ia melirik Jessica sekilas. Dengan satu kali lirikan saja. Laras sudah hafal bagaimana rupa wajah Jessica.


"Siapa namamu?" tanya Jessica memecahkan keheningan yang cukup lama.


"Nama saya Laras, Nona," jawab Laras sambil menunduk.


"Berapa usiamu, Ras? Kelihatannya usiamu sama seperti Kamila." Jessica melirik sekilas lalu meraih susunya dan meminumnya.


"Iya, usia saya memang terpaut beberapa bulan dengan Nona Muda Kamila. Saya sekarang baru 20 tahun 9 bulan," jawab Laras masih dengan kepala tertunduk.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Jessica sedikit ragu. Ia takut pertanyaannya akan menyinggung perasaan Laras nantinya.


"Silahkan, Nona. Tanyakan saja, saya pasti akan menjawabnya, selama hal itu tidak melanggar perintah Tuan Muda." Laras kembali melirik Jessica, kali ini lebih lama.


"Ini tentangmu, maksudku, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi," jelas Jessica. Ia mengangkat kakinya lalu duduk menghadap Laras.


"Silahkan, Nona. Saya akan menjawabnya dengan senang hati," jawabnya tersenyum.


"Saya berkerja di bagian laundry. Saya yang mengurus semua pakaian Nyonya besar dan Nona Muda Kamila. Termasuk juga pakaian Nona." Laras tersenyum, membalas senyum manis yang Jessica suguhkan.


"Jadi begitu, tapi kau sama sekali tidak pernah terlihat. Atau mungkin aku saja yang tidak pernah melihatmu," ucap Jessica. Ia kembali meraih gelasnya, kali ini Jessica tidak meminumnya.


"Memang begitu, Nona. Tidak semua orang diizinkan masuk ke dalam rumah utama. Saya bahkan masuk ke sana di saat jam makan siang dan itu hanya mengambil pakaian kotor di kamar Nyonya besar, Nona Muda Kamila dan juga di kamar Nona," jelas Laras.


"Emm, bagaimana dengan keluargamu. Emm, maksudku, apa kau masih memiliki keluarga?" tanya Jessica sambil menggigit bibir bawahnya.


"Tidak, Nona. Ayah dan Ibu sudah lama meninggalkan. Saya tinggal bersama nenek, sayangnya, nenek juga sudah menyusul Ayah dan juga Ibu. Mereka sudah bahagia di sana." Laras kembali menunduk. Ia tidak sedih, malah ia takut, ceritanya ini akan mengingatkan Jessica pada keluarganya yang juga sudah kembali ke Sang Pencipta.


"Maaf, Ras. Aku tidak bermaksud." Jessica menyentuh bahu Laras. Bermaksud menguatkan gadis itu.


"Tidak apa, Nona. Saya baik-baik saja," jawabnya tersenyum manis.


"Baiklah, kita bicarakan yang lain saja. Bagaimana cinta, apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Jessica di iringi tawa kecilnya yang begitu indah.


"Cinta? Saya, saya sudah lupa, Nona. Saya bahkan sangat benci dengan cinta!" Laras menatap Jessica sendu. Matanya mengisyaratkan ada sesuatu hal yang ingin ia ceritakan pada Jessica.

__ADS_1


"Apa kau pernah putus cinta?" tanya Jessica.


Laras menggeleng. Matanya masih menatap ke arah Jessica. Tatapannya pun berhasil menyentuh hati wanita itu.


"Ada beban berat yang kau tanggung sekarang. Katakanlah semuanya padaku, setidaknya, semua yang kau tanggung itu bisa kau bagi juga padaku. Aku akan membantumu semampuku." Jessica mendekati Laras. Ia meraih tangan gadis itu, menyalurkan sedikit tenaga untuknya.


"Nona..."


"Panggil saja Kak Jess, aku akan bahagia jika kau memanggilku seperti itu," potong Jessica. Laras pun tersenyum lalu memantapkan hatinya untuk bercerita pada Jessica.


"3 tahun yang lalu, tepatnya ketika aku berusia 18 tahun. Waktu itu, aku baru saja lulus SMA. Dan waktu itu, aku sudah mengabdi pada keluarga besar Yoga Candra. Di usia inilah aku pertama kali mengenal cinta. Sebelumnya, aku pernah tau apa itu cinta. Namun, aku tidak pernah tau bagaimana rasanya dicintai dan disayangi oleh siapapun. Sampai pada suatu saat, aku mengambil cuti untuk pulang ke rumah nenek dan merawat nenek sebelum kepergiannya." Laras berhenti untuk mengambil nafas yang cukup panjang.


"Di saat-saat itulah. aku bertemu dengan seorang pria bernama Andre, dia adalah ketua geng motor yang cukup terkenal sampai daerahku..."


Jessica meminta Laras untuk berhenti. Ia menatap Laras redup, meminta Laras menyebut ulang nama sosok pria tadi.


"Kau bilang Andre? Ketua geng motor?" tanya Jessica memastikan untuk yang kedua kalinya.


Laras mengangguk. Ia pun kembali melanjutkan ceritanya.


"Singkat cerita. Aku dan Andre saling mengenal lewat media sosial. 1 hari, 2 hari, satu minggu. Hubungan kami semakin baik. Akhirnya, aku dan Andre memutuskan untuk bertemu. Kami memilih bertemu di sebuah jembatan tua dekat dengan rumah nenek. Andre pun menyetujui itu. Pertemuan pertama kami bisa dibilang lancar dan baik-baik saja. Setelah pertemuan itu, kami pun kembali bertemu dan pertemuan kedua ini adalah momen di mana Andre menyatakan perasaan padaku." Air mata Laras sudah tak terbendung. Entah apa yang menyebabkan ia menangis.


"Aku dan Andre mulai menjadi pasangan kekasih. 1 bulan berlalu begitu saja. Bulan itu, aku pun kembali mengambil cuti dan mengunjungi nenek. Kali ini, nenek sudah mulai sakit-sakitan. Aku merawat nenek dan juga sesekali bertemu dan melepas rinduku pada Andre. Namun, aku tidak menyangka. Pertemuan itu adalah pertemuan terakhirku dengannya." Laras menyeka air matanya.


"Apa yang terjadi, apa Andre mengkhianatimu?" tanya Jessica penasaran.


Laras kembali menggeleng. "Dia, dia menodaiku. Dia berjanji akan bertanggungjawab padaku, nyatanya, dia hilang kabar setelah melakukan hal itu denganku. Aku benar-benar mencintainya waktu itu, aku takut kehilangan dia. Tapi, aku juga tidak mau melakukan hal itu dengannya. Dan aku tidak menyangka, Andre malah memaksaku untuk melakukan itu dengannya."


Seketika. Mata dan aura dingin Jessica kembali aktif. Bahkan aura itu bercampur dengan kemarahan yang begitu memuncak. Jessica menatap Laras iba. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Apakah ada orang selain aku yang mengetahui hal ini?" tanya Jessica.


Laras menggeleng. "Hanya Kak Jess yang mengetahuinya."


"Ras."


Aku berjanji, aku akan meminta Andre untuk mempertanggungjawabkan semuanya ini! (Jessica)


Laras melepaskan dirinya dari Jessica. Benar kata Jessica, ia tidak sanggup menanggung beban berat ini sendiri. Dan Laras pun merasa lebih ringan ketika sudah berbagi cerita dengan Jessica.

__ADS_1


Entah mengapa. Laras merasakan suatu harapan dan juga kebahagiaan besar akan datang menghampirinya lewat bantuan Jessica. Laras tidak tau pasti tentang hal itu, tapi, tidak dapat dipungkiri lagi. Hatinya benar-benar mengatakan bahwa Jessica lah yang akan membantu menyelesaikan semua ini.


__ADS_2