
Kabar terbaru tentang Jack sudah sampai di telinga Aldy dan Juga Jessica. Keduanya sama-sama tak menyangka kalau kasus ini akan menimbulkan kasus baru lainnya.
Jessica ataupun Aldy masih menutup mulut, belum siap untuk menceritakan kabar ini pada Kamila. Keduanya masih mencari waktu yang tepat, agar Kamila tidak terlalu tertekan.
"Apa kau yakin, jam tangan itu memang milik Jack?" tanya Aldy.
"Aku yakin, lihatlah jam tangan yang dipakai Kamila, sangat persiskan dengan yang di Kantor Polisi." Jessica masih ingat, waktu itu Jack dan Kamila sempat membeli Jam Couple berwarna hitam, sama persis dengan yang ditunjukkan polisi tadi.
"Ya, aku juga pernah melihat Kamila menggunakannya. Tapi, aku curiga saja. Bisa jadi itu cuma taktik mereka, supaya kita mengira Jack berada disekitar sana. Padahal Jack sama sekali tidak pernah kesana," ucap Aldy. Pria itu memang sangat teliti dalam menerima semua laporan, tidak mudah percaya pada orang lain.
"Hah, kau berpikir sejauh itu. Aku saja belum memikirkan hal itu," jawab Jessica. Jessica memang kurang pandai dalam taktik seperti ini, ia lebih pandai jika langsung main baku hantam.
"Khemm...aku akan mengirim beberapa orang lagi, aku mencurigai seseorang." Aldy menatap Jessica dengan senyum tipis dibibirnya.
"Bagaimana denganmu, Edelweiss?" tanya Aldy.
"A-aku, aku belum mencurigai satu orang pun. Ayah dan Mama Qiana sudah memberikan beberapa nama pada polisi, ku rasa itu sudah cukup," jawab Jessica dengan wajah datarnya.
"Baiklah, ku rasa kau memang tidak mencurigai siapapun yang ada di sekitarmu." Aldy beranjak meninggalkan Jessica yang masih duduk di bawah pohon mangga yang berada di halaman belakang Rumah Utama.
Jessica menatap punggung Aldy yang sudah terlihat kecil dan menjauh. Ada sedikit getaran di hatinya ketika Aldy memanggilnya dengan panggilan Edelweiss.
___________
Jam sudah menunjukkan pukul 01:21
Ibu keluar dari kamar, berjalan menuju kamar Kamila. Disusul oleh Aldy yang baru keluar dari kamarnya.
"Apa kau dengar itu?" tanya Ibu. Aldy diam, mencoba memperjelas apa yang ia dengar.
"Itu Ila, Bu." Tangan Aldy menunjuk ke arah kamar Kamila yang tertutup rapat.
"Ayo, kita temui dia. Kasihan adikmu," ajak Ibu sambil menyeret tangan Aldy.
"Ila."
"Sayang."
"Ini Kakak, Ila buka pintunya," teriak Aldy dari balik pintu kamar Kamila.
"Ila."
"Buka pintunya, sayang. Ini Ibu dan Kakak." Ibu menggedor pintu kamar Kamila yang belum terbuka.
__ADS_1
Brakk...
Karena tak sabar lagi, Aldy mendobrak pintu itu sampai terbuka lebar. Ia bisa melihat adiknya yang duduk di pojok kamar sambil memeluk lututnya dan menangis begitu pelan.
"Ila...Sayang," ucap Aldy. Pria itu mengangkat kepala Kamila, mendengkap gadis manja itu dalam pelukannya.
"Me-mereka, mereka menyakiti Jack," ucap Kamila di sela-sela isak tangisnya.
"Me-mereka memukul dan mencabut Jack sampai Jack menjerit kesakitan," sambungnya.
Aldy mengeratkan pelukannya, mengelus kepala adik terbayangnya itu lembut. Perlahan tangisan Kamila mereda, nafasnya juga terdengar sudah beraturan.
"Sayang," ucap Ibu sambil membelai rambut Kamila yang masih menempel di dada kakaknya.
"Jack baik-baik saja. Dia tidak apa-apa, Jack kuat. Dia akan kembali untuk Ila," ucap Aldy penuh keyakinan.
"Ta-tapi dia menjerit kesakitan Kak, jeritannya begitu menyedihkan." Jeritan itu terus terngiang di telinga Kamila, seolah-olah menandakan Jack sedang berada dekat dengan Kamila.
"Itu hanya mimpimu, Nak. Ini sudah larut, kau hanya bermimpi. Bahkan Ibu dan Kakakmu tidak mendengar orang menjerit kesakitan, kami hanya mendengar isak tangismu." Ibu terus mengelus kepala Kamila lembut, membuat gadis itu sedikit tenang dan tertidur dalam pelukan kakaknya.
"Taktik mereka sangat bagus. Mereka tau, tidak bisa menyakiti Kamila secara fisik, oleh sebab itu mereka menyakiti Kamila secara batin seperti ini." Aldy mengepal tangannya geram dengan tingkah laku dari si Dalang masalah ini.
"Ibu tidak menyangka akan seperti ini," gumam Ibu. Ketiganya tidur di atas kasur yang sama, dengan posisi Kamila masih dalam dekapan Kakaknya.
Aldy terbangun, mendapati Kamila dan Ibu masih tidur disampingnya. Ia beranjak keluar dari kamar, berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada Jessica yang berada di belakang sana. Aldy meraih sebotol air mineral lalu kembali ke kamarnya.
Ia menyalakan Handphone lalu menghubungi Jessica, tidak ada jawaban dari Jessica. Menandakan wanita itu sedang tertidur pulas.
"Syukurlah, ku kira ia masih terjaga sampai Jam segini," ucap Aldy lalu meletakkan Handphonenya diatas meja kerja.
Sejak hilangnya Jack, Aldy dan Ken lebih sering menyelesaikan urusan kantor di rumah, karena terkendala oleh beberapa hal yang harus ia dan Ken pastikan.
Jam 03:30.
Jessica menelpon balik, ia mengira ada sesuatu yang penting yang akan Aldy bicarakan dengannya.
"Hallo, ada apa. Kenapa belum tidur?" ucap Aldy memulai pembicaraan.
"Kau meneleponku tadi, tapi aku masih tidur. Ada apa?" tanya Jessica.
"Ah...aku hanya memastikan kau sudah tidur saja. Tidak ada apa-apa, tidurlah ini masih tengah malam." Aldy menatap layar Handphonenya yang menampilkan nama "Edelweiss" disana.
__ADS_1
"Aku baru saja mimpi buruk, oleh sebab itu aku terbangun," ucap Jessica lirih.
"Aku bermimpi, melihat Jack disiksa oleh dua wanita dan satu pria, mereka terus menyiksa Jack, sampai Jack menjerit kesakitan," sambung Jessica.
Aldy diam, ia berpikir sejenak. "Mungkin mimpimu sama seperti Kamila," ucap Aldy.
Jessica mengerutkan dahinya tak mengerti, "Besok saja kita bicara, supaya lebih jelas." Jessica menatap layar Handphonenya dengan tulisan, "Aldyan" disana.
"Good Night, Edelweiss," ucap Aldy lalu memutuskan sambungan telepon.
_______
Paginya, Ken dan Jessica menunggu di tempat biasa. Akhir-akhir ini keduanya terlihat sedikit akur, tidak pernah berdebat seperti biasanya.
"Bagaimana Jess?" tanya Ken tak jelas.
"Bagaimana, apa yang bagaimana?" Jessica bertanya balik karena tak mengerti dengan pertanyaan Ken.
"Bagaimana perasaanmu pada Aldy?" tanya Ken tanpa sensor sedikit pun.
"Pertanyaan macam apa itu, dan perasaan apa? Aku tidak punya perasaan apa-apa pada siapapun!" tegas Jessica.
"Benarkah, ku rasa kau sedang berbohong," goda Ken.
"Aku tidak punya waktu untuk meladeni omong kosongmu itu, Ken." Jessica beranjak masuk ke dalam mobil, lalu menyalakannya.
Kamila dan Aldy keluar dengan wajah yang sedikit kusut, wajah Aldy terlihat seperti orang yang kurang tidur, sedangkan Kamila terlihat seperti orang yang sudah menangis darah. (Lebay Thor)
Kamila hanya tersenyum tipis pada Ken, lalu masuk ke dalam mobil.
"Astaga, kenapa menjadi seperti ini," gumam Ken.
Mobil Jessica melaju di depan mobil yang dikendarai Ken, keduanya berpisah ketika sudah keluar dari kompleks perumahan.
Bersambung....
________
Semoga Suka😊💝
Berkomentarlah, Author suka baca komentar kalian😁
See You Next Video, Eh Next apa ya?
__ADS_1
Nextar aja, sepertinya enak😂