
Kediaman keluarga Pranata. Rumah utama sangat sepi tanpa penghuni. Ibu dan Aleta pergi ke rumah sakit. Sedangkan Kamila dan Nathalia keluar untuk kuliah dan sekolah.
Di rumah itu hanya ada para pelayan yang sudah kembali sibuk membersihkan dan merapikan rumah utama di setiap kamar dan ruangannya. Kepala pelayan dan juga pelayan lainnya sudah bebas dari hukuman mereka. Mereka mengerjakan hukuman mereka dengan ikhlas dan sabar, karena mereka cukup sadar akan kesalahan yang telah mereka perbuat.
Selain hukuman kedua. Kepala pelayan juga mendapat hukuman tambahan dari Aldy. Ia disuruh memasak makanan untuk para pelayan lainnya. Kepala pelayan pun tidak menolak, dengan senang hati, ia memasak dan menyiapkan makanan untuk para pelayan di dapur belakang.
Siang harinya. Kamila pulang bersama dengan Elis. Ia mengajak Elis bermain di rumahnya untuk yang pertama kali. Rumah utama pun sudah tidak sesepi tadi pagi. Kini Ibu dan Aleta juga sudah pulang untuk makan siang dan istirahat.
Ibu memberitahukan kondisi Jessica pada Kamila. Gadis itu tersenyum saat mendengar Jessica sudah lebih baik hari ini. Ia juga tidak lupa untuk memperkenalkan Elis pada Ibu.
Kedatangan Elis disambut hangat oleh Ibu. Namun berbeda dengan Aleta. Gadis itu terlihat tidak menyukai Elis karena menganggap Elis terlalu seksi dan centil. Nyatanya, Elis tidak berpakaian seksi ataupun memiliki tubuh yang seksi.
Tubuh Elis kerempeng dan tepos. Ia pun tidak mengenakan pakaian yang ketat saat ini. Elis mengenakan baju lengan panjang berukuran L. Sama sekali tidak ketat jika dipakai oleh tubuh tepos Elis. Lalu letak seksinya dimana? Entahlah, hanya Aleta yang tau jawabannya!
Kamila mengajak Elis menuju kamarnya. Ia mempersilahkan Elis untuk duduk dan istirahat di atas kasurnya.
"Mau nonton?" tanya Kamila sambil menggoyangkan laptop di tangannya.
"Emmm, boleh." Elis pun bergeser, memberi ruang kosong untuk Kamila.
Kamila naik ke atas kasur lalu mengambil posisi tengkurap dengan kedua kaki yang dinaikkan. Ia menyalakan laptopnya lalu mencari drama-drama yang belum ia tonton.
"Bagaimana jika ini saja?" Elis menunjuk salah satu drama Thailand yang berjumlah 20 episode.
" My House, baiklah. Sekali-kali kita berpindah negara, dari Korea ke Thailand," jawab Kamila sambil membuka sebungkus camilan lalu menyodorkannya pada Elis.
Keduanya hening. Mata mereka fokus pada layar laptop yang sedang memutar drama Thailand tersebut.
Sesekali Elis tertawa kecil saat melihat si gadis kecil dengan rambut keriting itu diangkat oleh si pemeran laki-laki yang memiliki wajah tampan dan tubuh yang sangat sempurna. Kamila pun ikut tertawa karena merasa lucu pada bagian itu.
"Stop!" Elis meraih tasnya lalu mengeluarkan Hp. Ia membuka YouTube, mencari drama yang baru saja ia tonton.
"Ah, aku mau download dulu. Nanggung kalau nggak habis sekarang, kan bisa aku lanjutin di rumah nanti," ucapnya sambil mengedipkan satu matanya pada Kamila.
"Baiklah. Asalkan kau bahagia!" Kamila kembali fokus pada layar laptopnya.
"Kamila?!" Elis heboh sendiri sambil menatap Kamila dan layar Hpnya secara bergantian.
__ADS_1
"OMG!" Elis menyerahkan Hpnya pada Kamila. Kamila meraih benda itu, menatap gambar yang sedang ditampilkan di layarnya.
"Oh." Kamila mengembalikan Hp Elis dengan ekspresi datarnya. Kini matanya kembali fokus pada layar laptop yang masih memutar drama Thailand di sana.
"Kalian sudah putus?" tanya Elis penasaran.
"Entahlah." Kamila mulai mematikan laptopnya lalu meletakkan di atas meja belajar.
"Lalu?" tanya Elis ingin tahu.
"Entahlah, Lis, aku tidak tau. Kemarin, hari Sabtu aku menjemput Nathalia ke sekolahnya. Dan di parkiran sekolah, aku melihat Jack dengan seorang gadis manis, bukan sampai di situ saja. Aku kembali melihatnya ketika di lampu merah. Mereka terlihat sangat bahagia. Mungkin Jack bukan yang terbaik untukku dan aku bukan yang terbaik untuk Jack." Raut wajah Kamila mulai berubah. Rasa kecewa, sedih dan marah bercampur aduk menjadi satu pada dirinya.
"Dan sekarang, dia bahkan tidak berusaha untuk menghubungiku atau sekedar memutuskan hubungan terlebih dulu denganku, sebelum ia menjalin hubungan dengan kekasih barunya!" sambungnya dengan nada yang begitu rendah.
"Mill." Elis menatap Kamila iba. Ia tau, Jack adalah laki-laki pertama yang Kamila cintai, namun siapa sangka, Jack juga laki-laki pertama yang menyakiti hati gadis itu.
"Sudahlah, biarkan saja dia bahagia dengan orang barunya," ucap Elis karena mulai mendengar isak tangis Kamila.
"Ternyata semua yang ia katakan selama ini hanya omong kosong belaka. Dan bodohnya aku yang percaya pada semua omong kosongnya itu." Kamila melepaskan dirinya dari pelukan Elis. Lalu menyeka air matanya kasar.
"Kau kira hanya kau saja yang bisa mendapatkan gadis cantik manis, aku juga bisa, Jack!" gumam Kamila.
Keduanya sempat hening beberapa menit. Dan akhirnya, Kamila pun mengajak Elis untuk ke rumah belakang, keduanya duduk di pinggir kolam renang sambil memasukkan kaki mereka ke sana.
Seketika, Kamila teringat pada Aleta. Gadis itu benar-benar membuat seisi rumah utama bingung menghadapi tingkah lakunya. Kamila ingin membentaknya, namun ia juga kasian pada gadis itu.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Sorenya. Kamila mengantar Elis pulang lalu langsung memutar arah menuju rumah sakit kota untuk menjenguk Jessica. Ia mampir di sebuah toko buah, membelikan buah-buahan untuk Jessica.
30 menit perjalanan. Kamila sudah sampai di rumah sakit kota. Ia berjalan sambil menenteng keranjang buah berukuran sedang.
"Kakak," panggil Kamila sambil memegang bahu Aldy dari belakang.
Aldy pun menoleh karena merasakan kehadiran Kamila di belakangnya.
"Kau sendiri?" tanya Aldy.
__ADS_1
"Hmmm, gadis menyebalkan itu ingin ikut. Tapi aku menolak dan melarangnya." Kamila menatap ke arah ruang rawat Jessica.
"Apa kita tidak boleh masuk?" tanyanya pada Aldy dan Ken.
"Boleh, kau masuk saja! Ada yang harus Kakak bicarakan dengan Ken di sini," jawab Aldy.
Kamila pun membuka pintu ruangan. Ia meletakkan keranjang buah yang ia bawa di atas meja, lalu mendekat ke arah Jessica.
Kamila menatap wajah Jessica yang begitu tenang. Ia menarik kursi lalu duduk di samping ranjang Jessica.
"Cepat sembuh, Kak," ucapnya sambil merapikan anak rambut Jessica.
Jessica yang merasakan sentuhan Kamila pun terbangun dari tidurnya. Ia menatap wajah Kamila redup dengan senyum tipis di bibir pucatnya.
"Maaf, aku membuat Kak Audi terbangun," ucap Kamila penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah puas tidur sejak tadi siang," jawab Jessica lemah, hampir tidak terdengar oleh Kamila yang duduk begitu dekat dengannya.
Ya, Tuhan....
Berikanlah kesehatan dan keselamatan pada Kak Jess, lindungi dia dari segala bentuk bahaya yang akan melukainya. Kami sungguh menyayangi Kak Jess. Dan kami percaya pada takdir indahMu. Dan tolong ingatkan kami, kalau takdirMu adalah hal yang terbaik dan terindah untuk kami semua....
Kamila tersenyum menatap wajah Jessica. Walau wajah itu pucat, namun sangat cantik dan mempesona di mata Kamila ataupun Aldy. Keduanya menyayangi Jessica layaknya mereka menyayangi diri mereka sendiri. Terutama Kamila, gadis itu bahkan sudah terhipnotis oleh kebaikan hati Jessica sejak awal pertemuan mereka.
Bagi Kamila, Jessica adalah wanita tangguh dengan sejuta kelebihannya. Ia memiliki hati yang mudah memaafkan oleh lain dan tidak pernah menyimpan dendam pada orang-orang yang sudah menyakiti hati Jessica. Jessica adalah wanita terbaik yang pernah Kamila temui setelah Ibunya. Jessica adalah wanita yang patut dicontoh bagi Kamila. Ke-tangguhan dan kesabarannya sangat patut dicontoh bagi wanita lainnya.
Setelah beberapa menit. Kamila pun keluar dan pamit pulang pada Aldy dan juga Ken. Ia berjalan dengan sedikit cepat karena takut hari semakin gelap nantinya.
Setelah sampai di parkiran. Kamila pun berlari untuk memasuki mobil karena rintisan air hujan mulai membasahi bumi. Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, mengambil arah yang sama dengan beberapa mobil di depannya.
Kamila menatap lurus jalan di depannya. Ia pun menoleh ke kanan dan kiri sangat berhenti di lampu merah. Rasa sakit kembali menyapa hati gadis manja itu. Dengan jelas, ia melihat Jack sedang memboncengi seorang wanita di bawah derasnya air hujan. Wanita itu bahkan memeluk pinggang Jack dengan dagu bersandar pada bahu pria itu.
Sialnya aku, di mana aku berhenti, maka di sanalah dia dan kekasih centilnya itu tiba-tiba muncul! (Kamila)
"Tuhan adil dalam memberikan luka dan juga kebahagiaan. Kau tunggu saja giliranmu, Jack!" ucap Kamila sambil menancapkan gasnya setelah lampu lalu lintas berubah warna.
Bersambung...
__ADS_1