Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Duka


__ADS_3

Dua minggu sebelum perlombaan dimulai, tepatnya hari Jumat, sekitar jam 09:32 Pagi.


Jessica mendapat telepon dari Zia dan juga murid-murid lainnya. Mereka menyampaikan kabar duka, atas kepergian Guru tercinta mereka. Wanita paruh baya itu sudah menyelesaikan urusannya di dunia ini. Kini ia sudah kembali menghadap Ilahi di usianya yang genap 60 tahun.


Jessica bersandar pada tembok kamarnya, kakinya terasa begitu lemas, tidak mampu menopang tubuh tegapnya.


"Guru, cepat sekali Engkau meninggalkan kami. Kami masih membutuhkanmu, membutuhkan dukungan darimu." Jessica berdiri, menguatkan dirinya terlebih dahulu lalu berjalan menuju Rumah Utama, hendak meminta izin untuk menemui dan melihat Wajah Guru Tercinta sebelum di Makamkan nantinya.


"Mbak, Nyonya besar dimana," tanya Jessica pada Kepala Pelayan.


"Nyonya sedang di dalam kamar, ada apa, Jess?" Kepala Pelayan itu menatap Jessica, tidak biasanya wanita itu mencari Nyonya besar di waktu pagi seperti ini.


"Aku ingin meminta Izin, Mbak. Guruku sudah meninggalkanku, aku ingin mengunjunginya untuk yang terakhir kalinya," ucap Jessica sambil menahan air matanya.


"Turut berduka ya, Jess. Kamu pergi saja, nanti aku sampaikan pada Nyonya besar dan juga Tuan Muda." Kepala Pelayan itu mengelus punggung Jessica lembut.


"Tapi..."


"Sudahlah, pergi saja. Nyonya akan faham dan mengerti kondisimu," ucap Kepala pelayan.


"Terima kasih, Mbak." Jessica berjalan keluar dari Rumah Utama, ia memesan Taksi online lalu meluncur menuju perguruan.


Setengah jam perjalanan, kini Jessica sudah sampai di depan perguruan yang sudah ramai itu. Isak tangis terus terdengar dari dalam perguruan, beberapa murid berhamburan keluar ketika melihat Jessica datang. Mereka memeluk dan menangis di dalam pelukan Jessica.


"Kak Jess," ucap Zia di sela-sela isak tangisnya. Jessica menatap Gadis itu, menghapus air matanya yang terus membasahi pipinya.


"Kau harus mengikhlaskan kepergian Guru," ucap Jessica dengan senyum palsu di bibirnya.Zia menghapus air matanya, mencoba tersenyum seperti Jessica saat ini.


"Kak Jess," panggil Arfan.


"Kakak-kakak Senior memanggil Kak Jess, mereka semua sudah berkumpul di Rumah Guru," sambungnya.


Jessica dan Zia melangkahkan kakinya menuju kediaman sang Guru yang masih berada di dalam lingkungan perguruan ini.

__ADS_1


Rumah itu terlihat begitu ramai, bukan hanya muridnya saja yang berdatangan tapi banyak juga kerabat dan sahabat Guru yang sudah kumpul di depan Rumah sederhana itu.


Jessica masuk ke dalam, duduk tepat di samping Jenazah Gurunya. Ia membuka Kain putih yang menutupi wajah pucat itu, menatap wajah pucat itu lekat-lekat.


Tak terasa butiran bening pun mulai membasahi pipi Jessica.


Jessica menyekanya lalu kembali memasang wajah dinginnya. Ia menatap sekeliling, orang-orang itu tertunduk dalam, meratapi kesedihan yang sedang melanda hati mereka.


"Jess," panggil Ken yang baru saja sampai dan duduk di samping Jessica.


Jessica diam, tidak menjawab ataupun melirik ke arah Ken. Wanita itu terbang bersama dengan pemikirannya yang entah melayang kemana.


"Jessica," panggil Ken untuk kedua kalinya. Jessica menoleh, "Kapan mau sampai?" tanyanya.


"Aku sudah sampai sejak tadi." Ken menatap ke arah Wanita paruh baya yang sudah tidak bernyawa itu, ia diam-diam meneteskan air matanya. Semua kenangan saat-saat bersama wanita itu menari-nari di pikirannya.


"Guru, maaf jika aku belum bisa membuatmu bangga, seperti yang telah Jessica lakukan selama ini," gumam Ken. Pria itu melangkahkan kakinya, keluar dari Rumah sederhana itu.


Jessica berjalan menuju kerumunan murid-murid di lapangan. Mereka terlihat begitu terpukul dan sedih dengan kepergian Guru Tercinta mereka.


"Kak Jess." Zia menatap Jessica dengan mata yang masih menitikkan butiran-butiran bening.


"Sudahlah, kau harus merela Guru, Zi. Kita semua akan menghadapi Kematian nantinya," ucap Jessica lalu mendekap gadis itu ke dalam pelukannya.


"Bagaimana dengan perguruan nantinya, siapa yang akan mengurus tempat ini lagi. Siapa yang akan menemani kami sampai ke perlombaan?" Zia mengangkat wajah menatap Jessica penuh harap.


"Kak Jess, ada untuk kalian dan perguruan." Jessica tersenyum, la mengajak Zia dan yang lainnya untuk membantu persiapan pemakaman sang Guru.


________


Malamnya sekitar pukul 08:13.


Suasana di perguruan masih sama, isak tangis masih terdengar dari dalam perguruan itu. Para Senior utama dan Junior pun masih berkumpul di sana, Jessica duduk diantara mereka.

__ADS_1


"Jess, kami berharap banyak padamu," ucap Senior Lin. Para senior utama sudah sibuk dengan keluarga baru mereka kecuali Ken dan Jessica.


"Aku tau itu Lin, biarkan aku memikirkan ini dulu, aku butuh waktu." Jessica meremas-remas jemarinya. Ia harus memilih salah satu dari dua pilihan yang akan merubah hidupnya.


Kembali keperguruan yang sangat membutuhkannya atau tetap menjadi Bodyguard Kamila, yang tidak terlalu membutuhkan dirinya.


Jessica diam, ia hanya mendengarkan semua ucapan para senior dan junior di hadapannya.Semua yang mereka katakan ada benarnya dan juga ada alasannya.


Mengapa memilih Jessica untuk mengurus perguruan ini.


Jessica, dia murid kesayangan dan juga kebanggaan Guru sejak awal berdirinya perguruan ini. Bukan hanya kesayangan dan kebanggaan Guru saja, Ia juga termasuk murid yang paling banyak menyumbang piala dan penghargaan atas prestasinya.Selain itu, dia juga sangat digemari oleh para junior juara dan juga junior pemula.


"Aku harap keputusanmu itu tidak akan mengecewakan kami nantinya." Senior Lin menatap Jessica penuh harap, berharap Serigala Betina itu akan menggantikan Guru untuk mengurus perguruan ini, tentunya dengan sedikit bantuan dari para Senior lainnya.


Jessica tak menjawab apapun, pikirannya terus tertuju pada dua pilihan itu. Pastinya Jessica akan memilih perguruan, karena memang tempat itulah yang paling membutuhkannya.


Tapi, meninggalkan Kamila, bukanlah hal yang mudah bagi Jessica. Ditambah lagi dengan keadaan seperti sekarang ini.


Jessica menghubungi Kepala Pelayan, meminta izin untuk tidak pulang malam ini.


"Nyonya Besar menitip salam untukmu. Maaf jika tidak bisa menghadiri pemakaman tadi," ucap Kepala Pelayan di sebrang sana.


"Tidak apa-apa, Mbak. Aku hanya ingin meminta izin untuk tidak pulang malam ini, aku akan pulang besok pagi, dan mungkin tidak akan kembali lagi setelah itu." Jessica sudah mengambil keputusan dan itu semua sudah bulat tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun lagi.


"Baiklah," ucap Kepala Pelayan itu lalu memutuskan sambungan.


Jessica duduk, menarik nafas panjang. "Aku tau, ini pasti akan sulit bagi Kamila, tapi masih banyak orang lain yang jauh lebih membutuhkanku disini," gumam Jessica.


Wanita itu mengganti bajunya dengan baju yang dibawakan oleh Zia dan beberapa murid lainnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur berukuran kecil itu.


Jessica menatap langit-langit ruangan yang sudah menua dan rapuh itu, ia mencoba memejamkan matanya dan terlarut dalam tidurnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2