Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Mengundurkan Diri


__ADS_3

Jessica menyempatkan dirinya untuk menjemput Kamila sore itu. Sebelumnya ia sudah bicara dengan Ibu terlebih dahulu, mengenai keputusan yang sudah ia ambil. Dengan berat hati Ibu menyetujui keputusan Jessica dan akan membicarakan semua ini dengan Kamila nantinya.


Jessica sampai di parkiran Kampus, ia bisa melihat Kamila dan Elis duduk di tempat biasa. Keduanya menghampiri Jessica dengan penuh senyuman manis di bibir mereka.


"Kak Jess," sapa Elis. Jessica hanya menanggapi dengan senyum tipis di bibirnya.


"Aku duluan ya, Lis." Kamila berjabat tangan dengan Elis lalu masuk ke dalam mobil hitam polos itu.


"Temani Kamila, aku percaya padamu," ucap Jessica sebelum masuk ke dalam mobil. Elis tersenyum, "Tenang saja, Kak Jess," jawabnya.


Mobil Hitam itu melaju, keluar dari area kampus. Kamila melirik Jessica yang sedang fokus mengemudi, "Kak Jess, aku turut berduka atas kepergian Guru Kak Jess," ucapnya.


Jessica tidak menjawab, ia hanya mengukir senyum tipis di bibirnya. "Jaga dirimu," ucap Jessica setelah suasana hening yang lama.


"Kak Jess."


"Kak Jess mau kemana?" tanya Kamila sedih. Mata Gadis itu bahkan sudah berkaca-kaca.


"Kak Jess selalu ada di sisimu, hanya tubuh Kak Jess saja yang akan menjauh darimu, tapi tidak dengan hati Kak Jess." Jessica membuka pintu mobil lalu keluar, diikuti oleh langkah kecil Kamila.


"Masuklah dan bersihkan dirimu, Kak Jess akan mengemas barang-barang Kak Jess dulu," ucap Jessica. Kamila menatap Jessica redup, air matanya menetes membasahi pipi merahnya itu.


"Sudahlah, Kak Jess tau kau Gadis yang kuat." Jessica mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu.


"Masuklah, Kak Jess akan menumuimu nanti," sambungnya.


Kamila melangkah kakinya masuk ke dalam Rumah Utama, di dalam Aldy dan Ken sedang sibuk dengan pekerjaan mereka yang tertunda. Keduanya melirik ke arah Kamila yang berjalan dengan lesu.


"Kakak," panggil Kamila. Gadis itu berdiri di belakang kursi kerja Ken.


"Kakak akan mencari yang baru untukmu," jawab Aldy santai. Kamila menatap Aldy tak percaya, dengan mudah pria itu ingin menggantikan Jessica dengan yang baru.


"Tidak perlu Kak, aku bisa membawa mobil sendiri dan aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Kamila lalu beranjak pergi meninggalkan Aldy dan Ken.


Aldy mengacak rambutnya frustasi, "Aku bahkan tidak ingin dia mengundurkan diri," gumam Aldy.


"Apa yang harus ku lakukan Ken, aku tidak pernah bicara dengannya setelah kejadian itu." Aldy mengeluh pada ken. Setelah acara ulang tahun itu, Aldy dan Jessica tidak pernah berbicara satu sama lain. Bahkan tidak pernah bertatap muka lagi.


Ken juga mengacak rambutnya, ia bingung dengan semua situasi ini. Dia juga sudah jarang berkomunikasi dengan Keisha, karena Dokter Muda itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


"Persetenan dengan cinta membuatku bodoh dan gila," gumam Aldy. Pria itu membenturkan kepalanya ke atas meja kerja, kini ia sudah terlihat seperti orang bodoh yang menjadi budak cinta.


________


Waktu makan malam sudah tiba, semua sudah duduk di meja makan yang berbentuk persegi panjang itu. Ken dan Aldy saling menatap, keduanya melirik Jessica bersamaan.


"Makan dulu Jess," pinta Ibu. Wanita paruh baya itu bisa merasakan aura kesedihan dari kedua anaknya.


"Kak Jess makan dulu, setelah itu. Aku akan melepaskan Kak Jess," ucap Kamila sambil tersenyum palsu.


Jessica menatap Ibu dan Kamila bergantian lalu menyuap makanan yang ada dihadapannya. Semua makan dengan tenang, entah apa yang mereka pikirkan saat itu.


Aldy mencoba mencuri pandangan pada Jessica, sayangnya wanita itu tetap fokus pada makanannya, tidak pernah melirik ke kanan ataupun ke kiri lagi.


Acara makan malam yang menyedihkan itu sudah selesai, Ken menyiapkan mobilnya untuk mengantar Jessica sekalian untuk pulang ke apartemennya.


"Maaf jika aku melakukan kesalahan selama bekerja di sini," ucap Jessica pada Aldy yang duduk di hadapannya.


Aldy menatap Jessica dingin, sama seperti tatapan awal ketika mereka bertemu dulu.


"Jessica pamit, Bu." Jessica menyalami wanita paruh baya itu. Ibu meraih tubuh Jessica memeluknya erat, "Ibu harap kau kembali lagi suatu hari nanti, bukan untuk menjadi bodyguard. Tapi menjadi Nona Muda di Rumah ini," bisik Ibu lalu melepaskan tubuh Jessica dari pelukankannya.


"Kak Jess." Kamila memeluk Jessica erat, Ia terus menyeka air matanya, mencoba memasang wajah dan senyum manisnya.


Ken sudah menunggu di depan mobil, mempersilakan Jessica untuk masuk.


"Masuklah, aku akan mengantarmu," ucapnya.


"Tidak Ken, terima kasih. Aku sudah memesan taksi sebelumnya," tolak Jessica.


"Ayolah Jess, ini sudah malam," pinta Ken.


"Justru itu Ken, aku tidak ingin merepotkanmu. Kau juga butuh istirahat,'kan." Jessica menyeret kopernya, berjalan menuju gerbang utama.


Ken hanya bisa menatap punggung wanita itu, ia tidak menyangka kisah ini akan berakhir seperti ini. "Aku yakin, takdir Tuhan itu indah, ini hanya bagian dari takdir indah itu," gumam Ken.


Gerbang hitam itu terbuka, Jessica keluar dengan langkah yang begitu berat. Ia membalikkan badannya, menatap Rumah megah dan mewah yang telah menampungnya selama tiga bulan itu.


Sebuah taksi mendekat ke arah Jessica, Sopir Taksi itu turun lalu memasukan koper Jessica ke dalam bagasi mobil.

__ADS_1


Taksi itu melaju, menjauh dari kediaman Keluarga Pranata.


Jessica menyadarkan kepalanya mencoba berpikir dengan tenang, tangannya meremas ujung jaket yang ia kenakan.


Ada rasa sakit di hatinya ketika Aldy menatapnya dengan dingin tadi, ia merasa kehilangan sesuatu tapi entah apa sesuatu itu.


"Nona bisa istirahat, saya akan membangunkan Nona jika sudah sampai," ucap Supir Taksi itu.


Jessica tidak menjawab, ia mengambil Handphone yang ada di saku celananya.


Ia membaca ulang beberapa chatnya dengan Aldy, sekilas ia tersenyum namun entah apa arti senyumnya itu.


Setengah Jam berlalu, Jessica sudah sampai di tujuannya. Ia keluar lalu disusul oleh Supir Taksi yang menurunkan barang-barangnya.


"Terima kasih, Pak," ucap Jessica sambil menyerahkan uang pembayaran.


"Ambil saja sisanya," sambungnya lalu beranjak masuk ke dalam kontrakan yang menjadi tempat pengabdiannya itu.


Jessica tidak menyangka, dirinya akan kembali lagi ke kontrakan kecil ini. Ia tersenyum ketika melihat chat kamar kontrak yang sudah berubah itu.


Jessica meletakkan kopernya tepat di samping lemari kayu yang cukup tinggi dan besar di sudut ruangan.


"Tempat ini menyimpan penuh kisah dan kenangan indah," gumam Jessica lalu merebahkan dirinya dia atas kasur kecil yang cukup nyaman itu.


Tok....Tok...


"Kak Jess," panggil Bagas, Arfan dan Zen dari balik pintu kontrakan.


"Selamat Malam, Kak," ucap mereka setelah pintu terbuka dan menampakkan Jessica di sana.


"Kalian, ada apa?" tanya Jessica.


"Ah, kami hanya ingin mengantarkan ini untuk Kak Jess." Bagas menyerah sebuah bingkisan yang cukup besar pada Jessica.


"Apa ini, dan dari siapa?" Jessica menatap bingkisan yang sudah pindah ke tangannya.


"Entahlah Kak, Pria itu memberikannya pada Kami dan meminta mengantarkan ini untuk Kak Jess," sahut Zen yang menerima bingkisan itu dari Pria asing tadi.


"Ah, Kalau begitu terima kasih," ucap Jesisca pada ketiga murid juara itu. Ketiganya mengangguk lalu pamit untuk pulang.

__ADS_1


Jessica menatap lekat-lekat bingkisan itu, ia meletakkannya dia atas meja lalu kembali berbaring di atas kasurnya dan tertidur pulas.


Bersambung....


__ADS_2