
Ibu dan Kamila berdiri dan langsung mendekati ruang bersalin. keduanya saling menatap lalu tersenyum bahagia.
"Keponakan tampanku sudah lahir," ucap Kamila yang sudah tidak sabar lagi menemui keponakannya itu. Ia bahkan sudah mengajukan beberapa nama pada Aldy untuk diberikan pada keponakannya yang entah bagaimana rupa wajahnya.
Beberapa menit kemudian. Aldy keluar dengan wajah yang menahan tawa. Wajahnya terlihat begitu tampan dan juga mempesona saat bahagia dan tertawa lepas seperti sekarang.
Bugh
Ibu memukul lengan Aldy lalu menatap putranya itu tajam. Begitu pula dengan Kamila. Gadis itu menatap Aldy dan sudah siap melahap kakaknya yang tidak tau situasi itu.
"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu memukulku?"
Aldy memerangi perutnya yang terasa begitu keram. Lalu beralih memegang pipinya.
"Bisa-bisanya kau tertawa! Kau tidak sadar, istri dan anakmu butuh kasih sayangmu! Tapi kau malah tertawa tanpa beban di sini!" ucap Ibu lalu sekilas melirik ke arah ruang bersalin.
Kosong. Tidak ada siapapun di dalam sana.
"Aldy? Di mana Jessica dan cucuku?" tanya Ibu khawatir.
Seketika Aldy pun ikut menoleh ke arah ruangan yang baru saja ia tinggalkan itu.
"Oh, itu, Dokter sudah memindahkan mereka ke ruang rawat biasa. Ayo, Ibu harus melihat cucu tampan Ibu yang galak itu," jelas Aldy lalu menuntun Ibu dan juga Kamila menuju ruang VIP tempat Jessica dan bayinya di rawat.
Kamila memegang kedua pipinya lalu menahan tangannya agar tidak mencubit si kecil yang begitu menjengkelkan itu. Sedangkan Ibu, wanita paruh baya itu memperhatikan wajah Aldy dan Jessica secara bergantian.
"Mirip sifat Ibu dan Ayahnya," gumam Ibu lalu tersenyum manis.
__ADS_1
"Cucu nenek..." Ibu mengelus kepala kecil itu lembut. Menyalurkan semua kasih sayang yang ia miliki untuk si kecil lucu ini.
"Uch....Aku akan memberimu julukan si Serigala kutub yang lapar, hahahaha, apa? Kenapa kau menatap ku seperti itu?!" ucap Kamila tertawa. Ia tidak menyangka keponakannya itu akan bereaksi secepat ini.
"Kak, Kak Aldy dan Kak Jess sudah tentukan nama terbaik untuk pangeran kecil ini?" lanjut Kamila bertanya pada Aldy dan juga Jessica.
"Devano Pranata Yoga." jawab keduanya bersamaan lalu menatap si kecil yang tersenyum, sepertinya dia suka dengan namanya.
"Hai Dev, perkenalan namaku Bibi Kamila." Kamila kembali tertawa. Ia mendekat lalu mencium pipi kecil yang masih merah itu.
"Tunggu dulu!" Kamila kembali mencium pipi kecil Dev lalu melirik ke arah Aldy dan juga Jessica.
"Hahahaha, beruntung keponakan tampanku ini tidak bau seperti ketiak Ayahnya....Hahahaha, kukira dia akan langsung mengikuti aroma tubuh Kak Aldy yang menjadi candu bagi Kak Jessica. Ternyata tidak, ya?"
Ucapan Kamila berhasil membuat Ibu dan Jessica tertawa kecil. Sementara Aldy hanya menekuk wajahnya masam. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Dev kecilnya memiliki aroma seperti aroma ketiaknya. Menjijikkan sekali! pikir Aldy.
Tidak terasa, matahari sudah naik dan tepat berada di tengah-tengah sekarang. Ruang rawat Jessica kini dipenuhi dengan begitu banyak hadiah dari keluarga besar Yoga Candra yang baru saja berkunjung.
Di dalam ruang rawat itu masih tersisa Ken dan juga Keisha. Keduanya memilih untuk lebih lama lagi, dan ingin terus melihat Dev kecil yang sangat menjengkelkan itu.
"Honey, lihatlah! Dev membuka matanya! Uch....Lucu sekali....Aku ingin mencubitnya." Keisha menahan-nahan tangannya yang sudah geli dan ingin mencubit bayi menjengkelkan itu.
"Ken! Keluarlah! Putraku haus dan ingin minum!" ucap Aldy pada Ken. Aldy tidak mungkin membiarkan Ken sampai melihat benda berharga istrinya yang sudah ia bagi sekarang dengan putra kecilnya, Devano Pranata Yoga.
"Hahahaha, baiklah. Ayo, Sayang! Kelihatannya bukan Dev saja yang haus, tapi juga Ayahnya," jawab Ken tertawa.
Ken menarik tangan Keisha, mengajak wanita itu keluar dari ruang rawat Jessica.
__ADS_1
"Uh, pelan-pelan Dev! Ayah tidak akan merebutnya darimu!"
Aldy menatap Dev yang sedang berusaha menemukan phuting Jessica. Ia pun membantu putranya itu, sekalian mencari alasan untuk memegang benda berharga itu.
Aldy tersenyum bahagia. Sampai saat ini, ia belum percaya kalau dirinya sudah menjadi seorang ayah. Sungguh semua berjalan begitu cepat dan terasa seperti mimpi bagi Aldy.
"Terimakasih, Tuhan. Aku benar-benar bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan padaku dan juga pada istriku."
Aldy mengelus kepala Jessica lalu mengecup bibir Jessica. Tangannya beralih mengelus pipi merah Dev yang masih sibuk dengan urusannya.
"Kira-kira, bagaimana nanti sifatnya ketika besar? Apa dia akan sedingin Ibunya atau akan sebaik dan setampan ayahnya?" Aldy menatap Jessica yang tersenyum mengejeknya.
"Dia tidak akan dingin, dia akan tumbuh menjadi pria yang selalu tersenyum hangat dan juga bermata indah. Aku tidak akan membiarkan Putraku seperti dirimu! Dingin dengan tatapan yang tajam! Tidak, tidak! Aku tidak mau!"
"Hei, hei, Sayang! Kau juga tidak sadar diri! Tatapan matamu lebih tajam dari milikku! Ya, kan Dev?!" sanggah Aldy lalu meminta persetujuan pada putra kecilnya yang tidak tau apa-apa.
Dev kecil menangis, itu artinya ia tidak mendukung apa yang Aldy katakan tentang Ibunya.
"Hahaha, kau kalah, Sayang!"
"Awas kau, Dev! Ayah akan menghukummu jika kau besar nanti!"
"Coba saja! Maka aku akan membalasnya dengan tidak memberimu jatah sampai kau tua!" jawab Jessica terkekeh.
"Teganya dirimu Sayang...."
Aldy ikut terkekeh setelah melihat ekspresi wajah Dev yang seolah-olah mengejek dan menertawakannya.
__ADS_1