Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Makan Siang Yang Romantis?


__ADS_3

Mobil sport berwarna merah melaju dengan kecepatan sedang, keluar dari halaman rumah utama. Penghuni mobil itu diam, hening tak bersuara. Ken fokus mengemudi, sedangkan Aldy bersandar pada pundak Jessica, dia ingin bermanja rupanya.


Kepalanya berat sekali! Seharusnya, wanita yang bersandar pada pria! Ini malah sebaliknya! (Jessica)


"Audy," panggil Aldy lalu mengangkat kepalanya.


"I-iya. Ada apa?"


"Apa kau tidak ingin sesuatu dariku, misalnya mobil, rumah atau yang lainnya?" tanya Aldy. Ia kembali bersandar pada pundak Jessica.


"Tidak. Aku tidak butuh semua itu." Jessica memiringkan kepalanya. Sampai kepalanya bersentuhan dengan kepala Aldy.


Wangi sekali rambutnya (Jessica)


"Lalu, apa yang kau butuhkan sekarang, humm? Katakanlah!" Aldy tetap pada posisinya, ia bahkan nyaman dengan posisi ini.


"Aku butuh kau, sudah. Itu saja sudah lebih dari cukup." Jessica mengangkat kepalanya. Ia menatap ke arah jendela mobil.


Aaaa, sudah gila kah aku?! Dan Ken, dia tadi menertawaiku, 'kan? Malu sekali (Jessica)


"Hahaha, aku suka kau yang sekarang. Tidak galak dan lebih nyambung jika diajak bicara." Aldy menendang kursi kemudi. Seketika Ken langsung menghentikan tawa kecilnya.


Ketika dua orang dingin diperbudak oleh cinta. Maka beginilah jadinya, hahahaha. (Ken)


Mobil berhenti tepat di parkiran sebuah restoran ternama dan termahal di kota ini. Semua makanan di sini memiliki rasa dan harga yang sangat istimewa, tentunya.


Aldy membukakan pintu mobil untuk Jessica. Ia mengulurkan tangganya, dan disambut oleh uluran tangan Jessica.


Keduanya berjalan memasuki restoran itu dengan bergandengan tangan. Sementara Ken berjalan di belakang mereka.


Restoran itu terlihat sedikit rame siang ini. Banyak orang kaya yang sedang makan di sana. Dan tentunya, mereka dikejutkan dengan kedatangan Aldy dan Jessica siang ini. Semua orang tau, Aldy adalah pengusaha muda yang berbakat dalam segala bidang. Dan pria itu termasuk orang terkaya nomer satu di kota ini.


"Selamat siang, Tuan. Kami sudah menyiapkan ruangan untuk Anda," ucap sang manajer restoran sopan.


Aldy menatap Jessica. Wajah wanita itu terlihat sedikit bingung.


"Mari saya antar," lanjut sang manager lalu berjalan di depan Aldy dan juga Jessica.


Keduanya sudah sampai di sebuah ruangan yang didesain sangat indah. Tentunya untuk makan di sini pasti membutuhkan uang yang cukup banyak, dan menguras isi dompet.


"Kau mau makan apa?" tanya Aldy. Ia menyodorkan buku menu pada Jessica.


"Emm, aku mengikuti menumu saja." Jessica mengembalikan buku itu pada Aldy. Ia yakin, Aldy pasti akan memilih menu yang terbaik untuknya, bukan hanya yang lezat saja, namun juga yang tidak berpengaruh pada kesehatannya.


Aldy memesan beberapa menu yang tidak berminyak. Ia cukup ingat dengan kondisi Jessica sekarang, Aldy juga memilih beberapa menu yang juga baik untuk kesehatan Jessica.


Ini sih salah. Dia hanya memesan makanan untukku saja. Dia bahkan tidak memesan makanan favorit-nya sekarang! (Jessica)


"Kau tidak memesan makanan favorit-mu? Bukankah kau tidak bisa makan tanpa menu itu?" tanya Jessica.


Aldy tersenyum sambil meraih tangan Jessica. Menggenggamnya erat.


"Aku akan makan menu apa yang kau makan. Itu sudah lebih dari cukup." Aldy tertawa kecil. Ia mencabut sebuah mawar merah yang menancap di sebuah pot kecil, memberikan mawar itu pada Jessica.

__ADS_1


"Ini untukmu."


Ish, tidakkah ia bisa berkata-kata manis atau romantis. Masa hanya begini saja. 'Ini untukmu' begitu saja?! (Jessica)


Jessica menerima bunga mawar yang Aldy berikan dengan senyum kecut di bibirnya.


"Hehehe, maaf. Aku tidak bisa merangkai kata-kata yang romantis. Aku tidak berbakat dalam hal itu." Aldy tersenyum manis, dan senyum itu langsung mengubah ekspresi wajah Jessica.


"Tidak apa, aku suka." Jessica meletakkan mawar itu di atas meja. Ia menatap wajah Aldy yang masih tersenyum kepadanya.


"Sudah, jangan tersenyum lagi, bisa-bisa aku diabetes karena senyummu itu terlalu manis," ucap Jessica.


"Hahaha, kau pandai menggombal rupanya. Baiklah, aku akan belajar menggombal padamu besok." Aldy masih tertawa kecil. Tawanya terhenti saat seorang pelayan restoran masuk dan membawa menu pesanannya dan Jessica.


"Selamat menikmati, Tuan, Nona," ucap pelayan itu dengan kepala yang menunduk hormat pada Aldy dan Jessica. Ia pun keluar setelah Jessica tersenyum padanya.


Di hadapanku dia begitu baik hati dan juga murah senyum. Sedangkan di hadapan orang lain. Dia berubah menjadi moster yang sangat menyeramkan! (Jessica)


Aldy meraih semangkuk sup ayam. Ia mencicipinya lalu menyodorkan satu sendok pada Jessica.


"Cobalah, ini lezat," ucap Aldy. Tentunya dengan senyum manis yang berhasil melelehkan hati Jessica.


Jessica pun menerima suapan dari Aldy. Benar saja, rasanya benar-benar lezat. Sesuai dengan harganya yang cukup fantastis untuk semangkuk sup saja.


Keduanya bertukar menu dan sendok. Sendok Jessica berpindah di tangan Aldy. Begitu pula sendok Aldy sudah berpindah di tangan Jessica.


Sesekali Aldy menjahili Jessica. Ia menarik ulur sendok yang hendak mendarat di mulut Jessica. Aldy terus mengulangi hal itu. Membuat Jessica gemas padanya.


"Ayolah! Jangan seperti anak kecil!" Jessica menatap Aldy tajam. Ia meletakkan sendok di tangannya dengan kasar di atas meja.


"Maaf, ayo, buka mulutmu! Jika tidak..." Aldy mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica. "Aku akan menciummu sekarang juga," lanjutnya.


Mengancam rupanya! (Jessica)


Jessica pun membuka mulutmu, menerima suapan dari Aldy.


"Pintar." Aldy memasukkan menu yang sama ke dalam mulutnya lalu menatap ke arah Jessica.


"Minum," ucap Aldy dengan wajah yang begitu mengemaskan.


"Ish, air minum di depan matamu! Tinggal kau ambil saja! Apa susahnya coba!" Jessica mengambilkan air minum di depan mata Aldy, meletakkan di dekat tangan pria itu.


"Aku mau yang itu!" Aldy menunjuk air minum milik Jessica lalu tersenyum manis pada wanita itu.


Ya, Tuhan....


Tadi sendokku ia tukar! Sekarang air minumku pun jadi sasarannya! (Jessica)


Dengan wajah kesal, Jessica pun meletakkan air minumnya di dekat tangan Aldy.


"Tanganku keram," ucap Aldy lalu tertawa kecil ketika melihat wajah cemberut Jessica.


"Kau memang pintar dalam mengatur strategi!" ucap Jessica sambil mengarahkan sedotan pada bibir Aldy.

__ADS_1


Pria itu tersenyum penuh kebahagiaan pada Jessica. Kini, Aldy lah yang menyodorkan minumannya pada wanita itu.


"Haruskah aku meminumnya?" Jessica menatap gelas Aldy, lalu beralih menatap wajah sang pemilik kelas.


"Jika tidak...."


"Baiklah, aku juga tidak ingin dicium olehmu!" Jessica menyedot air minum Aldy sampai tandas.


Hmmm, rasakan! (Jessica)


"Kau menghabiskannya?!" Aldy menatap gelasnya yang sudah kosong dengan ekspresi yang tidak dapat dijelaskan lagi.


"Aku haus." Jessica bersandar. Kenyang, itu yang perut Jessica rasakan sekarang.


Semua makanan yang mereka pesan tidak habis. Keduanya hanya mencicipi semua menu itu, tanpa menghabiskannya.


Setelah membersihkan tangan dan mulutnya. Aldy pun mengajak Jessica untuk keluar dari ruangan ini. Ia menggandeng Jessica, menjaga wanita itu dari lirikan-lirikan pria lainnya.


Melihat Aldy dan Jessica keluar, Ken langsung membukankan pintu keluar restoran untuk keduanya. Jessica tersenyum, bermaksud ingin berterimakasih pada Ken.


"Kau hanya boleh tersenyum padaku, tidak boleh pada pria lain. Termasuk Ken!" bisik Aldy pada Jessica.


Jessica mengangguk, menurut saja, itu lebih baik, pikirnya.


Dasar laki-laki posesif. Masa hanya tersenyum dilarang dan itu juga termasuk pada Ken, sekretaris dan juga keluarganya sendiri! Menyusahkan saja, apalagi sampai aku menjadi istrinya. Pasti dia akan melarangku untuk menatap pria lain selain dia. Benar-benar gila dan berlebihan! (Jessica)


"Kau sedang membicarakanku, 'kan? Sudahlah, jangan kaget seperti itu, aku mendengar semuanya." Aldy merangkul bahu Jessica, lalu bersandar pada wanita itu.


Sudah gila memang! Masa dia bisa mendengar apa yang aku katakan di dalam hatiku! (Jessica)


"Aku bisa mendengarnya! Sudah, jangan bicarakan aku lagi!"


"Hmmm. Kau memang pintar mengatur strategi. Aku akui kepintaranmu!" Jessica memalingkan wajahnya. Benar-benar sulit untuk menang debat dengan pria di sampingnya ini.


Cup


Satu kecupan lembut mendarat di pipi kanan Jessica, membuat Jessica berteriak dan mengelap pipinya dengan punggung tangannya.


Sudah gila memang! (Jessica)


"Itu ucapan terimakasih dariku, karena kau sudah mengakui kepintaranku!" ucap Aldy sambil tertawa kecil.


"Iya, terimakasih atas hadiahnya."


"Kau mau lagi?"


"Tidak. Cukup satu saja!"


"Yang kiri belum!" Aldy bergeser mendekati Jessica.


"Tidak mau!" teriak Jessica tepat di depan wajah Aldy, membuat Aldy dan Ken terkejut oleh teriakannya.


Asal nyosor aja! Rasain akibatnya sekarang! (Ken)

__ADS_1


Astaga, Mode serigalanya sudah aktif lagi! (Aldy)


__ADS_2