Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Audi Jessica


__ADS_3

Langit yang cerah berubah menjadi mendung. Angin bertiup kencang, membuat daun-daun terbang dan berguguran. Alam bersedih, seolah mengerti suasana hati Jessica dan anak-anak lainnya.


Pemakaman Naomi dihadiri oleh beberapa kerabatnya dan juga para pengurus panti lainnya.


Ibu, Aldy dan Kamila datang untuk menemani Jessica. Wanita itu diam tanpa ekspresi yang jelas. Tatapannya bahkan kosong. Matanya tidak tajam dan juga tidak redup. Ekspresi Jessica benar-benar tidak dapat dijelaskan saat itu.


Jessica diam, ia menyaksikan proses pemakaman Naomi tanpa komentar ataupun mengeluarkan suara sedikit pun. Orang-orang mulai bubar setelah berdo'a untuk Naomi. Mereka menyemangati kerabat Naomi yang bahkan terlihat biasa-biasa saja atas kepergian wanita 48 tahun itu.


Semua orang sudah pamit untuk pulang, hanya tersisa Jessica, Aldy, Ibu dan Kamila di sana.


Jessica yang berdiri di samping Aldy tiba-tiba terduduk lemas. Spontan Aldy menoleh dan mengangkat tubuh Jessica. Ia menggendong Jessica untuk masuk ke dalam mobil dan mengantarnya pulang.


Sementara Ibu dan Kamila dijemput oleh beberapa bodyguard yang akan mengantar dan mengawal mereka sampai ke kediaman Keluarga Pranata.


Aldy membaringkan tubuh Jessica di kursi belakang. Jessica tidak pingsan. Namun wajahnya terlihat begitu pucat, sama seperti keadaannya ketika sakit dulu.


Aldy melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Ia mencoba untuk fokus karena tidak ingin terjadi sesuatu padanya atau pada Jessica.


"Kita ke rumah sakit saja," ucap Aldy sambil memutar arah. Jessica menggeleng, namun Aldy yang duduk di kursi kemudi tidak mengetahui penolakan dari Jessica.


"Bawa aku pulang!" ucap Jessica setelah terdiam cukup lama. "Kumohon," sambungnya memelas.


Jessica mengambil posisi duduk setelah merasa lebih baik. Ia memegang bahu Aldy yang masih fokus mengemudi. "Aku baik-baik saja. Bawa aku pulang! Aku hanya ingin istirahat."


Aldy menghembuskan nafas pelan. Ia kembali memutar arah.


Mobil Aldy berhenti tepat di depan gerbang kontrakan. Ia membuka pintu mobil untuk Jessica, memapah wanita itu sampai masuk ke dalam kamarnya.


Aldy mengelus kepala Jessica lembut, "Istirahatlah, aku akan meminta Jack untuk membawakan makanan untukmu," ucapnya.


Aldy masih menatap Jessica. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica.


"Jangan macam-macam! Aku akan membalasmu ji....."


Jessica menghentikan ucapannya saat kecupan lembut mendarat di keningnya. Ia menatap wajah Aldy penuh dengan tanda tanya.


"Aku menghormati wanitaku, aku tidak akan melakukan hal-hal yang tidak pantas padanya," ucap Aldy lalu menjauhkan wajahnya dari wajah Jessica.


"Aku pulang, kau istirahatlah!"


Aldy keluar dengan langkah yang begitu berat. Ingin rasanya ia menemani Jessica sampai wanita itu membaik. Namun apa daya, dia dan Jessica belum menjadi pasangan suami istri, orang-orang pasti akan menyangka keduanya melakukan hal yang tidak-tidak di dalam sana.


"Kenapa kau selalu menolak pemberianku? Aku hanya ingin yang terbaik untukmu saat ini dan seterusnya," gumam Aldy.


Aldy pernah menawarkan Jessica untuk tinggal di hotel selama 2 bulan ini. Ia bahkan ingin membelikan mobil untuk Jessica, namun lagi-lagi Jessica menolaknya dengan alasan tidak ingin menerima pemberian dari orang lain.


"Jika aku sudah menjadi istrimu, kau bisa memberikanku semua, jika boleh, aku meminta negara ini atas namaku," jawab Jessica waktu itu.


"Huh, Januari sudah berlalu. Mengapa dua bulan terasa begitu lama sekarang?" Aldy menyalakan mobilnya. Ia melaju dengan kecepatan tinggi karena kondisi jalanan yang cukup sepi.


Ibu dan Kamila berjalan ke arah pintu utama ketika melihat mobil Aldy yang sudah terparkir di halaman rumah utama.

__ADS_1


Keduanya berjalan mendekati Aldy.


"Kenapa tidak membawa Jessica ke sini?" Ibu menatap Aldy tajam dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya.


"Huh, Ibu, tidakkah Ibu tau sifat wanita itu. Jangankan untuk kemari, untuk ke rumah sakit saja ia menolak." Aldy berjalan meninggalkan Ibu dan Kamila, keduanya menatap Aldy dengan tatapan yang begitu tajam.


"Aku khawatir padanya, aku bahkan ingin dia tinggal di sini, bersamaku, bersama kita, selamanya," ucap Aldy sebelum menaiki tangga menuju kamarnya.


"Aku sangat mencintainya." Aldy menaiki tangga dengan cepat. Ia hilang begitu saja di balik pintu kamarnya.


Ibu dan Kamila menarik nafas dalam. Keduanya ingin menghibur Jessica. Tapi mau bagaimana lagi? Jessica sekarang tidak ada di tengah-tengah mereka.


Ibu masuk ke dalam kamarnya. Sementara Kamila duduk di ruang keluarga sedang mencoba menghubungi Jack.


"Hallo, Jack?" Kamila menatap layar Hpnya. Tersambung, namun tidak ada suara Jack di seberang sana.


Cukup lama, Kamila belum mematikan sambungan. Ia meletakkan Hpnya lalu menyalakan TV. Mencoba untuk mencari sedikit hiburan.


"Hallo?" Suara Jack mulai terdengar. Kamila meraih benda tipis itu, medekatkan ke telinganya.


"Kau kemana saja, humm?"


"Maaf, tadi aku mengantar makanan untuk Kak Jess. Yosi yang memegang Hpku tadi," jawab Jack jujur.


"Hmmm, baiklah. Aku memafkanmu! Tapi lain kali, aku tidak ingin kau mengabaikanku lagi!" Kamila menatap layar Hpnya kesal.


"Iya-Iya. Maafkan aku."


"Iya, kau ingin apa?" jawab Jack lembut.


Kamila memberitahu Jack permintaannya yang cukup aneh.


"Apa? Kau yakin? Ah, tidak! Aku tidak akan mengabulkannya!" Jack menatap layar Hpnya tajam.


"Ayolah, Jack. Kali ini saja," pinta Kamila.


"Tidak! Jika terjadi sesuatu padamu bagaimana? Kak Aldy dan Kak Jess pasti membabat habis diriku! Tidak! Aku tidak mau menuruti permintaanmu kali ini!" Jack melempar botol yang ada di dekatnya. Botol itu mendarat tepat di atas kepala Yosi.


"Hehehe, Maaf, aku tidak sengaja," teriak Jack.


"Jack!" panggil Kamila.


"Ayo! Kau harus memenuhi permintaanku!" pintanya.


"No, no!"


"Sekali saja! Setelah itu tidak akan lagi," tawar Kamila.


"Tidak! Sekali tidak tetap tidak! Atau kau ingin aku melaporkanmu pada Kak Jess dan Kak Aldy, begitu?" Keduanya terus berdebat karena permintaan aneh Kamila.


____________

__ADS_1


Jessica menatap sebuah kotak makan yang terletak di atas meja kecil. Ia membukanya dengan hati-hati.


Jessica tersenyum, ia tau Mama Qiana atau Mama Jack-lah yang memasak makanan itu. Sebelumnya, Jessica mencari-cari botol air minumnya.


Sayangnya, air minumnya sudah habis semua, Jessica ingin keluar untuk membeli, namun tenaganya belum cukup untuk sampai ke warung di depan sana.


"Kau membawa makanan tapi tidak membawa minum untukku!" gumam Jessica. Ia menyalakan Hpnya hendak menghubungi Jack.


Sementara Jack masih menelepon dengan Kamila, oleh sebab itu, nomernya selalu sibuk ketika dihubungi oleh Jessica.


Jessica menarik nafas dalam. Ia mengotak-atik kontak di Hpnya. "Zia, hanya dia yang bisa diandalkan." Jessica hendak menghubungi gadis itu. Namun ia membatalkannya karena malam mulai larut, pasti gadis itu sudah tidur nyenyak di rumahnya.


Jessica kembali mengotak-atik kontaknya, ia menemukan nama Zen dan Bagas di sana. Karena sudah haus dan lapar, Jessica pun terpaksa menghubungi keduanya.


Bagas tidak dapat dihubungi, Jessica beralih menghubungi Zen.


"Hallo, Zen. Maaf meneleponmu malam-malam begini. Kak Jess ingin meminta tolong padamu? Bisakah?"


"Ah, Kak Jess ingin apa?" jawab Zen dengan semangat.


"Tolong belikan air botol mineral, itu saja," pinta Jessica.


"Baiklah, 5 menit langsung datang," jawab Zen. Zen memasukkan Hpnya ke dalam saku celana. Ia mengira Jessica sudah mematikan sambungan telepon sebelumnya.


"Kau mau kemana?" tanya Hendra yang duduk di samping Zen.


"Ada tugas penting," jawabnya sambil merebut kunci motor dari Hendra. Hendra tidak terima, ia pun ikut naik ke atas motor yang hendak dikendarai Zen.


"Tidak baik anak kecil keluyuran malam-malam begini," ucap Hendra. Pria itu menggantikan posisi Zen. Keduanya langsung meluncur menuju warung kecil di seberang sana.


"Heh, kenapa pakai motor jika hanya ke warung saja?!" Protes Hendra. Zen tidak menjawab, ia turun lalu membeli pesanan Jessica.


"Kak Hendra diam saja, jika tidak mau ikut maka turunlah! Aku punya misi penting." Kini Zen yang mengemudi, memboncengi Hendra yang lebih besar darinya.


Keduanya sampai di depan gerbang kontrakan Jessica. Zen menelepon, memberi tahu ia sudah di depan sana.


Selang beberapa menit, muncullah Jessica yang mengunakan jaket hitam dan celana panjang berwarna putih.


Jessica membuka gerbang. Ia menatap sinis Hendra yang masih duduk di atas motor dengan tangan yang sibuk pada Hpnya.


"Terimakasih, Zen." Jessica mengambil air botol yang disodorkan Zen. Ia memberikan satu lembar uang berwarna biru pada Zen. Zen menolak uang Jessica, ia keluar tanpa mengatakan satu patah kata pada Jessica.


"Zen!"


Zen tidak menoleh, ia naik ke atas motornya, bertukar posisi dengan Hendra. Hendra mengendarai motor dengan pikiran yang sedikit kacau. Ia tau kalau Jessica sedang tidak enak badan, jelas sekali dari raut wajah wanita itu.


"Dia pasti tidak akan merepotkan orang lain jika dia baik-baik saja." Hendra menambah kecepatan motornya, membuat Zen berpegang erat di pundaknya.


"Jangan katakan pria kaya itu yang membuatnya seperti ini! Jika benar, aku tidak akan mengampuninya!" Hendra semakin menambah kecepatannya. Darahnya naik ketika mengingat wajah pucat Jessica.


"Kakak ingin mati!" teriak Zen tepat di telinga Hendra. Hendra sadar, ia pun menurunkan kecepatannya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2