
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Aldy tidak memberi kado spesial pada Kamila. Ia hanya memberi Kamila satu buku diary tebal dan satu kotak pulpen, bahkan harganya pun tidak sampai seratus ribuan.
Kamila menerima pemberian Aldy dengan senyum manis. Ia sama sekali tidak menuntut agar Kakaknya itu memberi hadiah mahal seperti tahun-tahun sebelumnya. Kamila hanya meminta satu hadiah pada Aldy dan Jessica. Dan permintaan Kamila pun disetujui oleh Aldy.
"Aku ingin keponakan secepatnya, jangan lupa yang banyak, ya!" ucapnya sambil cekikikan menatap Aldy dan Jessica.
Jessica yang mendengar hal itu langsung menunduk malu.
"Aku dan Kakakmu bahkan belum menikah, tapi kau sudah meminta keponakan dariku," gumam Jessica. Ia melirik Aldy sekilas, pria itu bahkan tersenyum bahagia dengan permintaan Kamila.
Hiks....adik dan kakak sama saja. Sama-sama mengemaskan dan pintar menyusun siasat.(Jessica)
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, kediaman keluarga Pranata masih ramai dengan para tamu spesial Kamila.
Sementara Jessica, wanita itu sudah pamit terlebih dahulu. Ia merasa pusing dan juga rasa ngantuk yang tidak bisa dikendalikan lagi.
Aldy pun mengantar Jessica sampai di depan pintu kamarnya. Ia terus berdiri di sana sampai Jessica masuk dan menghilang di balik pintu itu.
Setelah itu, Aldy kembali bergabung dengan Kamila dan para remaja lainnya.
"Bagaimana, Jack? Apa Kamila menampar atau mencekikmu?" tanya Aldy pada Jack yang hendak pamit pulang padanya.
Jack tersenyum lalu beralih menatap Kamila. "Hehehe, aku sudah meminta izin Kak Aldy untuk mrngerjaimu, oleh sebab itu, aku berani melakukannya. Jika tidak minta izin, maka habislah aku," ucap Jack.
Jack pun pamit pada Aldy. Ia menjauh dari kerumunan itu, berjalan menuju parkiran yang luasnya seperti lapangan basket di sekolah SMA Negri.
Jam Sebelas malam. Tamu pun sudah bubar dan pulang ke rumah masing- masing, ada juga yang menginap seperti Nathalia, contohnya. Gadis itu memilih untuk menginap karena sekolah juga sedang libur. Ia tidur di kamar tamu yang berada di lantai bawah paling pojok.
☆☆☆☆☆☆
Sekitar jam 5 pagi. Jessica terbangun lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membuang hajat. Setelah 10 menitan, ia pun keluar dan duduk di sofa berwarna hitam di pojok kamarnya.
Baru kali ini Jessica menatap ke arah lemari kaca yang menyimpan begitu banyak piala dan mendali di dalamnya. Jessica mendekat ke arah lemari itu. Ia membuka lemari, mengeluarkannya sebuah piala.
"Apa ini milikku? Tapi ini piala bela diri!" gumam Jessica. Ia pun kembali meletakkan piala itu pada tempat semula.
Jessica beralih membuka lemari kayu yang cukup besar di pojok kanan kamar. Ia sibuk mencari sesuatu, entah apa itu.
"Kemarin aku melihatnya di sini!" ucapnya sambil membuka laci kecil di dalam lemari.
"Di mana, ya?" Jessica mencari di tempat lain. Dan akhirnya, ia menemukan benda yang ia cari.
Jessica membuka sebuah album foto yang sudah cukup tua usianya. Di sanalah semua masa lalu tentang Jessica tersimpan. Dan tentunya, Aldy lupa untuk mengamankan benda ini.
"Hiks, aku ternyata dulu seperti ini, ya? Aku bahkan tidak tersenyum saat berfoto dengan sensaiku. Lucu sekali." Jessica terus membalik lembar demi lembar album foto itu. Beruntungnya, sebagian isi album itu hilang entah kemana. Tidak ada satupun foto yang berbahaya bagi ingatan Jessica.
Namun, satu foto di lembar terakhir berhasil menyita perhatian Jessica.
__ADS_1
"Bukankah pria ini, pria yang di makam waktu itu? Aku dan dia terlihat cukup akrab di sini. Dia bahkan merangkul bahuku? Tapi siapa dia?" Jessica mengeluarkan foto itu. Meletakkannya di atas meja.
"Besok aku akan tanya pada Aldy. Dia pasti akan menjelaskannya," ucap Jessica lalu meletakkan album foto itu ke tempat semula.
Jessica membaringkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar yang cukup menenangkan.
"Di mana Hpku? Selama ini aku tidak pernah megang Hp sama sekali. Apa Aldy yang sudah mengamankannya?" gumam Jessica. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Jessica pun memutuskan untuk mandi dan keluar dari kamarnya untuk berjalan-jalan di sekitar halaman rumah utama.
Sejak kapan mereka menyapu dan mengepel? Apa mereka tidak tidur semalaman? (Jessica)
Jessica memperhatikan semua pelayan yang sedang menyapu dan juga mengepel di lantai bawah. Ia pun kembali berjalan menuju halaman utama sambil menggosok-gosok kedua tangannya.
"Padahal ini tengah kota, tapi udaranya sedingin di pedesaan atau pegunungan." Jessica membuka pintu utama. Ia berlari-lari kecil menuju taman utama.
"Segar sekali." Jessica mulai berlari ke taman samping yang menghubungkan rumah utama dan rumah belakang.
Beberapa pelayan menyapa Jessica dan menawarkan diri mereka untuk menemani Jessica. Jessica menolak tawaran mereka. Lagi pula, ia tidak akan kemana-mana. Hanya berlari di sekitar rumah utama saja.
"Di sini rupanya." Aldy duduk di samping Jessica. Ia merangkul bahu Jessica. Menarik kepala Jessica agar bersandar pada pundaknya.
"Aku mencarimu di dalam. Sejak kapan kau keluar, hmmm?" tanya Aldy. Pria itu mulai menjahili Jessica dengan mencubit-cubit pipi Jessica.
"Ada yang ingin kutanyakan. Bolehkan?" Jessica mengangkat kepalanya. Ia melirik Aldy sekilas.
"Ditanya malah ingin balik bertanya. Ya, sudah. Edelweiss-ku ingin menanyakan apa?" jawab Aldy sambil mencoba menahan rasa kesalnya.
"Ada padaku, dia aman, kau tenang saja. Apa kau ingin menghubungi seseorang?" tanya Aldy curiga.
"Tidak. Oh, ya. Aku lupa, aku ingin menanyakan tentang pria yang di makam waktu itu? Siapa namanya?" Jessica terlihat begitu antusias untuk membahas tentang Hendra. Jauh berbeda dengan Aldy. Ia mulai menampakkan rasa tidak sukanya saat mengerti siapa yang dimaksud Jessica.
"Kau sudah berjanji akan menjelaskannya padaku, nah, sekarang aku minta penjelasan darimu. Kumohon, satu informasi saja." Pinta Jessica.
Aldy pun mengalah. Ia menghembuskan nafas kasar lalu menarik nafas panjang dari hidungnya.
"Namanya Mahendra. Kau memanggilnya Kak Hendra. Dia menyukaimu, dan kau mungkin menyukainya!" Aldy memalingkan wajahnya. Kesal, itu yang ia rasakan sekarang.
"Maaf, aku, aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Sudahlah, lupakan tentang pertanyaanku, itu tidak penting," ucap Jessica dengan nada yang begitu rendah. Membuat Aldy menolah ke arahnya.
Bodoh! Jessica hanya ingin tau tentang Hendra. Kemana kau malah bersikap seperti ini padanya (Aldy)
Aldy mengutuki dirinya sendiri. Ia menarik tubuh Jessica. Mendekap wanita itu erat.
"Tidak apa, seharusnya aku yang minta maaf. Caraku menyampaikan salah, maafkan aku." Aldy mendaratkan satu kecupan lembut pada kepala Jessica.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
__ADS_1
Jessica menggeleng. Berarti tidak ada lagi yang ingin ia tanyakan.
"Kau mau Hp?" tanya Aldy sambil melepas Jessica dari pelukannya.
"Aku mau Hpku!" jawab Jessica lirih.
"Yang baru saja, ya. Yang lama biar aku yang menyimpannya," tolak Aldy.
"Yang lama," tawar Jessica sekali lagi.
"Aku simpan yang lama. Nanti kubelikan yang baru." Aldy berusaha bersabar lagi.
"Emm, baiklah."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Siang harinya. Seorang pengawal mencari Jessica. Ia meminta izin kepada kepala pelayan untuk menemui Jessica. Sekitar lima menit kemudian, Jessica keluar dan menemui si pengawal di halaman utama. Pengawal itu memberikan sebuah bingkisan pada Jessica.
"Semoga Nona suka," ucapnya lalu pamit undur diri pada Jessica.
Jessica menerima bingkisan itu dengan senyuman yang begitu indah. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah utama. Lalu duduk di kursi kerja milik Ken.
"Ya, Tuhan...Kenapa dia membeli Hp semahal ini. Harga Hp ini sepuluh kali lipat dari harga Hp lamaku," ucap Jessica sambil membolak-balik Hp yang baru saja ia keluarkan dari kotaknya.
"Ini sih terlalu berlebihan namanya, aku kan jadi tidak enak padanya." Jessica kembali memasukan Hp itu. Ia menatap kotak Hp dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan lagi. Antara sedih dan bahagia rasanya.
"Bagaimana, apa kau suka?" bisik Aldy berdiri yang di belakang Jessica, memegang pundak wanita itu.
"Astaga, kau mengagetkanku saja! Emm, aku, emm, ini, Hp ini terlalu berlebihan. Seharusnya kau membelikan yang biasa saja. Seperti Hpku yang lama." Jessica menyerahkan kotak itu pada Aldy.
"Tidak, aku akan memberikan yang terbaik untukmu. Se-mahal apapun itu, aku hanya ingin yang terbaik untuk orang yang terbaik." Aldy mengelus kepala Jessica lalu mencubit-cubit pipi wanita itu.
"Aku ada meeting di luar. Oleh sebab itu, aku pulang dan ingin makan siang denganmu. Kau belum makan siang, 'kan?" tanya Aldy sambil menarik kursi lain, lalu duduk di dekat Jessica.
"Belum, tapi kau sudah selesai dengan urusanmu juga, 'kan?" Jessica tersenyum tipis saat Aldy menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Hahahaha, sejak kapan pipimu suka merah seperti itu."
Ish, di mana aku akan menaruh mukaku setelah ini! (Jessica)
"Sudahlah, ayo kita makan saja! Kau bilang ingin makan siang, 'kan?!" Jessica bangkit sambil menyembunyikan wajahnya yang masih bersemu merah.
"Hahahaha, iya, ayo!" Aldy menarik tangan Jessica, membawa wanita itu menuju pintu utama.
"Kita mau ke mana?" tanya Jessica.
"Sudah, ikut saja! Kita makan siangnya di luar saja, supaya lebih romantis." Aldy tertawa kecil. Ia kini menggandeng tangan Jessica menuju halaman utama.
__ADS_1
Ken sudah menyiapkan mobil untuk keduanya. Ia mengeluarkan mobil kesayangan Aldy, yang hanya digunakan di momen-momen spesial, seperti sekarang.
Dia punya berapa mobil sebenarnya? Kemarin hitam dan putih. Sekarang merah? Belum lagi mobil yang digunakan Kamila dan Ibu. Semuanya berganti-ganti setiap harinya. (Jessica)