Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Aku Mundur, Ken!


__ADS_3

Kedatangan Aldy disambut oleh beberapa pria bertubuh tinggi, kekar dan tegap. Mereka menangkap kunci mobil yang Aldy lempar lalu memasukkan mobil Aldy menuju bagasi.


Aldy membuka pintu ruangan, ia bisa melihat dua orang malang yang duduk di atas kursi dengan kondisi yang menyedihkan.


"Ken," panggil Aldy.


Ken mendekat, pria itu tersenyum penuh ancaman.


Aldy memandang kedua wajah malang itu. Ia menyalakan lampu, membuat keduanya membuka mata karena silau.


"Kalian sudah memukulnya?" tanya Aldy ketika melihat sudut bibir keduanya sudah berdarah.


Semua hening, tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada Aldy.


"Mereka memberontak, oleh sebab itu, aku memberinya peringatan," jawab Ken. Pria itu menyerahkan sebuah bukti yang menyatakan kedua orang itulah dalang dari kecelakaan yang dialami Jessica.


"Cih, baiklah. Kalian sangat menginginkan hari ini, bukan?" Aldy memerintahkan seseorang untuk membuka borgol di kedua tangan pria itu.


Keduanya menatap Aldy, memohon agar Aldy mengampuni mereka.


"Kalian sudah memancing emosiku, dan untuk mendapatkan maaf, kalian harus melewati sanksi terlebih dahulu." Aldy melemaskan otot-ototnya.


Brakkkk....


Satu tinjauan maut mendarat di wajah kedua pria itu secara bergantian. Tangan Aldy masih panas. Matanya begitu tajam, menciutkan nyali meraka. Ingin rasanya Aldy menambahkan hadiah untuk mereka. Namun ia mengurungkan niatnya. Aldy menatap kedua pria dengan pipi memerah dan sudut bibir yang kembali mengeluarkan darah yang begitu segar.


"Ken!" Aldy menarik sebuah kursi. Ia duduk dengan tenang, menonton aksi panas dari Ken.


"Maaf, sebenarnya aku tidak tega pada kalian. Namun----"


Bruk....Bruk...


Ken menggila, ia tidak tahan lagi dengan emosinya. Memukul, menendang dan membanting keduanya, layaknya sedang membanting barang tidak berharga dan berguna.


"Sudah, Ken! Kalian! Bereskan keduanya. Jangan biarkan mereka muncul lagi di sekeliling Edelweiss-ku!" Aldy melempar sapu tangan pada Ken. Ia menatap tajam kedua pria yang sudah lemah itu. Keduanya diseret menuju sebuah ruangan yang tidak akan bisa dimasuki oleh orang lain.


"Istri dan Suami sama aja. Sama-sama gila, tidak punya otak!" ucap Ken. Ia menghubungi seseorang, meminta orang itu untuk melancarkan aksi mereka.


Aldy dan Ken tidak menyerahkan kasus ini pada polisi. Mereka mengirim kedua pria itu menunju tempat terbaik untuk keduanya. Lebih baik dari pada sel penjara.


Aldy dan Ken meninggalkan tempat itu. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


☆☆☆☆☆☆☆


"Dasar Es Batu Balok! Beruang Kutub! Tukang ingkar janji!" gerutu Keisha yang kesal karena Ken tidak menepati janjinya.


Ia menghentakan kakinya berkali-kali. Ingin rasanya ia mencakar wajah Ken sekarang juga.


Keisha berjalan dengan hati dan pikiran yang entah melayang kemana.


"Maaf, kau tidak apa-apa?" Hendra memegang pundak Keisha yang terjatuh di depannya. Menatap wajah cantik Keisha.


"Eh, aku tidak apa-apa. Maaf, aku tidak melihatmu," jawab Keisha sambil menatap wajah tampan Hendra.


"Tidak apa-apa. Lain kali, berhati-hatilah!" Hendra menatap punggung Keisha yang berjalan menjauh darinya. Hatinya sedikit bergetar ketika melihat wajah cantik di hadapannya tadi.


Sementara Keisha. Dokter Galak itu masih saja memikirkan Ken. Ia terus mendengkus kesal. Sekali-kali ia memaki Ken yang sangat menyebalkan di matanya.


"Kak Kei?" Kamila memegang pundak Keisha.


Keisha yang sedang melamun terkejut karena sentuhan pada pundaknya, hampir saja ia berteriak pada Kamila tadi.


"Kau! kukira siapa?!" ucap Keisha sambil mengelus dadanya.


"Kak Keisha tidak mau masuk? Ayo masuk, di dalam ada Ibu dan Jack." Kamila menarik tangan Keisha. Mengajaknya masuk ke dalam ruang rawat Jessica.


"Selamat pagi, Ibu, Jack, Je--Audi," sapa Keisha canggung.

__ADS_1


Jessica mengerutkan dahinya. Bingung, siapa lagi yang datang menjenguknya?


"Kak Kei, kami mohon kerjasamanya," bisik Kamila mengingatkan tentang kondisi Jessica saat ini.


Keisha mengangguk. Ia mendekat ke arah Jessica.


"Hai, Aku Keisha. Kau bisa memanggilku se-nyama mungkin. Usia kita sama." Keisha menatap wajah Jessica. Wanita itu tersenyum tipis dengan kedua mata yang menatap ke arah pintu yang terbuka.


"Kau di sini?" Aldy berjalan mendekati ranjang Jessica, diikuti oleh langkah Ken di belakangnya.


"Ayo keluar, tidak baik jika begitu banyak orang di dalam ruangan ini." Ibu menatap Kamila dan Jack. Keduanya tersenyum, lalu mengikuti langkah Ibu untuk keluar dari ruang rawat Jessica.


Jessica semakin bingung ketika melihat Ken.


Siapa lagi dia?


"Bagaimana? Kau sudah sarapan?" tanya Aldy. Pria itu menarik kursi, lalu duduk di samping ranjang Jessica.


"Tolong bantu aku untuk duduk," pinta Jessica. Ia merasa begitu tidak nyaman jika terus berbaring di atas ranjang itu.


Aldy berdiri, membantu Jessica untuk duduk. Matanya terus menatap wajah Jessica. Benar-benar tulus dan penuh kasih sayang.


Huhuhu, Tuan Aldy sangat mencintai Jessica. Jujur, aku iri padamu, Jess! (Keisha)


Keisha melirik Ken. Pria itu bahkan tidak pernah menyapanya. Atau sekedar meminta maaf karena telah mengingkari janjinya.


Rasa kesal Keisha semakin bertambah. Tangannya sudah panas, rasanya ingin mencakar muka Ken sekarang juga.


"Tuan, Audi, saya pamit, ya? Saya masih ada urusan lain," pamit Keisha pada Aldy dan Jessica.


Jessica menatap Keisha dengan senyum tipis di bibirnya. Begitu pula dengan Aldy, ia menatap Keisha dan Ken secara bergantian.


"Kalian sedang bertengkar?" tanya Aldy karena merasakan ada sesuatu yang aneh di antara keduanya.


Ken baru sadar, ia langsung melirik ke arah Keisha.


Keisha menatap Ken tajam. Kini rasa kesalnya sudah mencapai level tertinggi.


"Begitu, ya? Baiklah, aku tidak akan ikut campur. Dan kau Ken! Sebaiknya antar Keisha untuk pulang!" Aldy menatap Ken tajam.


"Tanpa disuruh pun, aku akan melakukannya," jawab Ken dengan mata yang menatap ke arah lain.


Aldy hanya menghembuskan nafas pelan. Ia tidak ingin Jessica melihat dirinya marah-marah atau berteriak pada orang lain.


"Pulanglah!"


Keisha mundur beberapa langkah. Ia berjalan dengan cepat, membuka pintu lalu menghilang begitu saja.


Ken pun mundur, ia berlari mengejar langkah Keisha.


"Mereka siapa?" tanya Jessica yang masih dihantui rasa penasaran.


"Pria tadi itu, Ken. Dia masih bagian keluargaku, dia juga sekretaris pribadiku," jawab Aldy jujur.


"Sekretaris pribadi?" Jessica mengerutkan dahinya tidak mengerti. Setaunya, hanya orang penting saja yang memiliki sekretaris pribadi.


*Apakah dia orang penting? Atau dia orang yang kaya raya? Tapi dari penampilannya sih, iya? Apalagi Kamila, terlihat sekali dia anak orang kaya. Lalu aku? Kenapa aku bisa ada di tengah-tengah mereka? Dan Ibu? Kenapa dia begitu menyayangiku? Apa sebenernya yang terjadi padaku?!


Tuhan, aku tidak mengingat apapun. Kumohon, lindungi aku dari orang-orang yang berniat buruk padaku. Hanya Engkaulah tempatku berlindung dan mengadu*. (Jessica)


"Hei, kenapa melamun?" Aldy mencubit pipi Jessica pelan, menyadarkan Jessica dari lamunan.


"Tidak, aku hanya merenungi nasibku. Kau sudah janji, bukan? Kau janji akan menceritakan semuanya padaku? Siapa aku sebenarnya? Kenapa aku bisa menjadi kekasihmu? Dan sebenarnya, dimana keluargaku? Apa mereka tidak mencarimu? Apa mereka tidak merindukanku?" Jessica menatap mata Aldy redup.


Rasa nyaman selalu melekat di tubuh Jessica, jika ia dekat dengan Aldy. Jessica merasa begitu nyaman dan aman di samping pria itu.


"Iya, aku janji padamu. Aku akan menceritakan apapun yang ingin kau tau. Tapi ada syaratnya!" Aldy kembali menarik kursi. Ia duduk seperti posisi semula.

__ADS_1


"Syarat? Baiklah, asalkan syaratnya bukan uang. Aku tidak punya uang!" Jessica tersenyum sambil tertawa kecil.


"Hahahaha, tidak akan. Syaratnya, kau cepat sembuh dan percayalah padaku, hanya itu!" jawab Aldy serius.


"Baiklah."


☆☆☆☆☆☆☆☆☆


"Hei, tunggu Kei!" Ken menarik tangan Keisha, menyeret wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Lepas Ken! Dasar Beruang Kutub! Hati Es Batu! Lepaskan aku!" teriak Keisha.


Orang-orang menatap keduanya penuh tanda tanya. Mereka mengalihkan pandangannya saat mata tajam Ken menetap ke arah mereka.


"Kau tidak bisa memaksa wanita seperti itu, Ken!" ucap Hendra yang berdiri di belakang Ken.


Ken tidak menggubris ucapan Hendra. Ia tetap menarik tangan Keisha. Memaksa wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya.


Dasar! Kau benar-benar berhati Es Batu! Tidak kah kau bisa se-manis dan selembut Tuanmu! (Keisha)


Keisha memasang wajah yang sangat tidak enak untuk dilihat. Ia menatap ke luar Jendela. Lalu tersenyum ketika melihat Hendra yang masih mengamati mobil Ken.


Siapa pria itu? Kenapa dia mengenal Ken? Ah, aku lupa. Diakan sekretaris Tuan Aldy! Pasti semua orang akan mengenalnya! (Keisha)


"Jaga matamu!" ucap Ken dingin. Ia melajukan mobil, keluar dari area parkiran rumah sakit.


Keduanya hening. Tidak ada yang bicara satu sama lain. Keisha sibuk dengan Hpnya, membalas beberapa pesan dari temannya. Sedangkan Ken fokus pada jalanan di depannya. Sesekali ia melirik ke arah Keisha yang mulai senyum-senyum tak jelas.


Ken menepi, ia merebut Hp Keisha kasar.


"Aku tidak suka!" Ken memasukkan Hp itu ke dalam saku celananya.


Dengan wajah tanpa dosa. Ia kembali menyetir, tanpa memperdulikan perasaan Keisha yang duduk di sampingnya.


Keisha membeku, ada rasa sakit yang amat dalam di hatinya. Sejauh ini, Ken tidak pernah kasar padanya, apa lagi sampai berlaku seperti ini.


Tanpa sadar, butiran bening mengalir, membasahi pipi Dokter Muda itu. Keisha menyekanya, lalu memiringkan tubuhnya menghadap jendela.


Kau boleh dingin pada siapa pun. Tapi setidaknya kau baik dan lemah lembut padaku. Aku calon istrimu! Pernikahan kita akan dilaksanakan beberapa minggu lagi! Dan kau! Kau berhasil membuatku kalah, mungkin aku yang terlalu berambisi untuk mengubahmu! Mungkin aku yang terlalu percaya diri akan ketulusan cintamu! Aku mundur Ken! (Keisha)


Keisha terus menyeka air matanya. Baginya, mencintai Ken adalah hal yang sangat menyulitkan. Sikap Ken memang tidak bisa ditebak. Kadang ia bersikap manis dan kadang juga bersikap dingin pada Keisha.


Ken melirik Keisha. Ia memaki kebodohannya sendiri. Bisa-bisanya ia memperlakukan wanitanya seperti itu.


Entah mengapa, emosi Ken masih belum stabil karena kedua orang yang baru saja ia beri sanksi itu. Ia berhenti, lalu berusaha meraih tangan Keisha.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis," ucapnya penuh penyesalan.


Keisha diam. Ia bahkan tidak melirik ke arah Ken yang menggenggam tangannya.


"Kei, maaf, aku benar-benar tidak sadar." Ken terus menatap Keisha, hatinya berteriak memaki kebodohannya sendiri.


"Keisha, aku benar-benar tidak sadar. Aku masih terbawa emosi tadi," ucapnya lirih.


Keisha menoleh, menatap mata Ken dalam.


"Aku ingin menyerah Ken. Mungkin perjodohan....."


"Hust....kau tidak boleh mundur! Aku tidak mengizinkanmu! Bukankah kau sendiri yang mengatakan, kalau kita harus bisa memahami sifat satu sama lain. Bukankah kau yang memintaku berjuang sampai titik ini? Dan kau ingin mundur begitu saja?! Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sadar tadi. Kumohon, maafkan aku, itu yang terakhir, aku janji," potong Ken.


Ken memohon dengan wajah yang begitu mengemaskan di mata Keisha. Sebenarnya Keisha juga tidak tahan jika tidak memaafkan Ken. Tapi rasa kesalnya sudah pada level tertinggi, membuat Keisha enggan untuk merespon permintaan maaf dari Ken.


"Hmmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Keisha. Wanita itu menatap Ken, mengisyaratkan agar Ken mengantarkannya pulang.


Ya, Tuhan. Sebenarnya wanita itu Engkau ciptakan dari apa? Mengapa sangat sulit dimengerti dan dipahami seperti ini? Kemarin dia yang ingin berjuang, dan hari ini? Dia ingin mundur begitu saja?! Hiks.... (Ken)


Ken menghembuskan nafas pelan. Ia kembali menyalakan mobil. Melajukannya menuju apartemen Keisha.

__ADS_1


__ADS_2