
Di sebuah kafe yang sudah lama menjadi tempat favorite Kamila dan juga kawan-kawan yang lain.
"Hay, boleh bergabung dengan kalian?" Jack menatap Kamila dan Elis bergantian. Keduanya hanya menjawab lewat senyuman, yang berarti boleh.
"Tumben berdua, yang lain mana?" tanya Jack. Biasanya dia melihat Kamila selalu berempat ke tempat ini.
"Lagi ada tugas, jadi nggak sempet ke sini," jawab Elis mewakili Kamila. Gadis itu belum mengeluarkan satu katapun dari mulutnya, ia hanya menatap Jack hangat seolah-olah mereka berbicara hanya lewat tatapan mata saja.
"Khemm...sepertinya aku harus kembali ke kampus, ada hal yang harus ku urus." Elis bergegas meraih tasnya dan meninggalkan Jack dan Kamila berdua di sana.
Kamila menatap kepergian Elis, terdengar ia menggerutu dan memaki Elis beberapa kali.
"Hay, bibirmu itu tidak pantas ngomong seperti itu!" Jack yang mendengar Kamila memaki Elis angkat bicara. Jack menatap Kamila dalam, mengalirkan perasaannya melewati tatapan mata.
Ku mohon jangan menatapku seperti itu, bisa-bisa jantungku meledak karena getaran dari tatapanmu. Kamila
"Jangan ulangi lagi, jika Kak Jess mendengarmu pasti dia akan melakukan hal yang sama seperti apa yang ku lakukan." Jack belum mengalihkan pandangan, pandangannya masih terfokus pada satu titik yaitu Kamila.
"Sudah puas menatapku?" Kamila sudah meraih sedotan hendak menusuk mata Jack.
"Huh, hidup dengan Kak Jess, maka ketularan galaknya Kak Jess," ucap Jack yang sudah mengalihkan pandangannya. Kini matanya tertuju pada sebuah kartu mahasiswa di atas meja makan Kamila. Jelas sekali di sana tertera nama lengkap Kamila.
"Kamila Pranata Yoga." Tanpa sadar Jack mengeluarkan suara ketika membaca nama yang tertulis di kartu mahasiswa itu. Spontan Kamila meraih kartu itu dan memasukkan secara asal ke dalam tasnya.
Kenapa aku harus meletakkannya di sana, semoga Jack tidak sepeka yang ku kira. Bisa-bisa ini akan menjadi masalah besar kedepannya.
Beberapa menit Jack hanya terdiam, ia tidak asing dengan nama Pranata Yoga. Seolah-olah nama itu selalu terngiang di kepalanya, tapi ia lupa siapa yang memiliki nama yang sama dengan Kamila itu.
"Jack." Kamila memberanikan diri untuk bersuara. Jack masih tenggelam dalam pemikirannya, membuat ia tidak mendengar panggilan Kamila tadi.
Karena tidak menemukan jawaban pada memori ingatannya, Jack mengeluarkan Hpnya lalu membuka Google.
__ADS_1
Jack menatap Kamila cukup lama, sesekali beralih menatap foto seseorang di layar Hpnya.
"Jika dibandingkan seperti ini, kalian berdua memang mirip, mata coklat, alis hitam, semuanya mirip." Jack belum percaya kalau apa yang ia lihat ini adalah nyata.
"Apa maksudmu Jack, aku mirip siapa?" tanya Kamila, ia pura-pura tidak mengerti. Padahal ia sudah tau apa maksud pembicaraan Jack.
"TUAN ALDYAN PRANATA YOGA, seorang pengusaha terkenal. Siapa yang tidak mengenalnya, pengusaha yang berbakat di segala bidang. Terlebih-lebih dia orang yang tampan."
Jack sendiri sudah mengenal Aldy sejak ia masih duduk dibangku SMA. Sejak bergelut di bidang bisnis ia mulai mengenal beberapa pebisnis terkenal termasuk Aldy. Bahkan Jack sendiri mempunyai keinginan yang begitu besar untuk bertemu dengan Aldy.
"Dia...dia kakakku." Kamila berpikir untuk membuka semuanya sekarang. Cepat atau lambat Jack pasti akan mengetahui identitas pribadinya.
"Lalu Kak Jess? Kenapa Kakakku bisa bersamamu?" tanya Jack penasaran, pasalnya ia mengira kalau Jessica dan Kamila ada hubungan darah. Ternyata sama sekali tidak.
"Apa kau akan pergi meninggalkanku setelah kau mengetahui semua tentang diriku?" Kamila tidak menjawab pertanyaan Jack, ia malah bertanya balik.
"Tidak, sama sekali aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sampai sekarang masih berjuang untukmu. Berjuang mendapatkan kepercayaan dari Kak Jess, dan mungkin bukan hanya dari Kak Jess saja. Dari Tuan Aldy dan Tuan Ken juga," ucap Jack dengan penuh senyuman.
"Bukan hanya mereka bertiga saja, satu orang lagi." Kamila tersenyum seolah-olah memberi dukungan pada Jack.
Jack berpikir sejenak, "Tentu saja, aku akan mendapatkan kepercayaan juga darinya," ucapnya penuh dengan senyuman tulus di bibirnya.
Mereka tidak berbicara sepatah katapun lagi, semua mengalir melalui tatapan mata mereka.
"Khemm..." Suara deheman dari Jessica membuat keduanya kaget, mereka menatap Jessica bersamaan. "Sejak kapan kak Jess disini?" Begitulah arti tatapan mereka.
"Sudah diskusinya?" tanya Jessica. Pura-pura tidak mengetahui saja begitu pikirnya.
"Sudah...sudah selesai Kak Jess." Seketika Jack hilang kendali, ia kembali pada settingan awal ketika berhadapan dengan Jessica.
Huh...di depan Kak Jess kau bisa semanis itu.
__ADS_1
"Kamila, masuk ke dalam mobil, ada yang ingin Kak Jess bicarakan dengan Jack," ucap Jessica, ia memandang Kamila tajam. Membuat Kamila langsung patuh pada perintahnya.
Kini hanya ada Jack dan Jessica saja di meja itu. Jack sudah mulai gugup, takut Jessica akan melarang atau bahkan mencegahnya untuk mendekati Kamila.
"Ada apa Kak Jess?" Jack memberanikan diri untuk mulai bicara. Ada sedikit ketakutan di wajahnya.
"Apa kau sudah tau siapa Kamila sebenarnya?" Jessica bertanya balik.
"Hmmm...aku tidak sengaja membaca kartu mahasiswanya tadi," jawab sejujurnya saja Kak Jess benci orang yang berbohong, begitu yang ada di pikiran Jack sekarang.
"Lalu, apa kau akan menyerah?" Jessica Memastikan sekali lagi yang ia dengar tadi tidak salah adanya.
"Walau Tuan Aldy dan Tuan Ken tidak memberi kepercayaan padaku, aku akan tetap menjaganya dengan seluruh nyawaku." Jack benar-benar serius dengan perasaan pada Kamila.
"Berjuanglah, Kak Jess ada dibelakang mu." Jessica menepuk pundak Ken pelan, mengalirkan semangat lewat tepukan pelan itu.
"Kak Jess, terimakasih..." Jack tidak menyangka hari ini Jessica sudah membuka jalannya menuju Kamila.
Kak Jess sudah...sekarang Tuan Ken. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak pernah bertemu dengannya, bagaimana dia bisa percaya pada ku? Huhu...cinta butuh perjuangan. Jack
_______
Apa yang mereka bicarakan sebenarnya, apa Kak Jess tidak mau aku dekat dengan Jack lagi.
"Huh...Kak Jess, ku harap kasih sayangmu tetap sama pada Jack nantinya. Ku mohon jangan benci pada Jack, jangan jauhi dia. Tidak apa-apa jika Kak Jess tidak mempercayainya, tapi ku mohon jangan jauhi Jack." Kamila menatap Jessica, mata coklatnya di penuhi oleh harapan yang begitu besar pada Jessica.
"Apa yang kau bicarakan Gadis manis, mana mungkin Kak Jess menjauhi Jack. Dan soal kalian, berjuanglah! Kak Jess ada di belakang kalian berdua." Jessica mengukir senyum manis di bibirnya.
"Terimakasih, Kak Jess." Pelukan hangat mampir di tubuh Jessica.
"Sudah, lepaskan Kak Jess sekarang!" Jessica merasa sesak nafas ketika pelukan itu semakin erat.
__ADS_1
"Hehehe, maaf," ucap Kamila dengan senyuman yang begitu manis.
Bersambung...