
Aldy menatap Jessica redup penuh makna. Tangannya memutar-mutar sendok makan yang ia pegang, Aldy sama sekali tidak berniat untuk melahap makanan di depannya.
"Sayang, kenapa tidak makan? Makanlah!"
Jessica memperhatikan ekspresi wajah Aldy lalu tertawa kecil. Entah apa yang lucu di mata Jessica saat ini.
"Ayo, buka mulutmu! Jangan menatapku terus, memangnya kau bisa kenyang hanya dengan menatapku?" ucap Jessica lalu menyodorkan sesendok nasi pada Aldy.
Laki-laki itu tersenyum seraya mengunyah makanan yang Jessica suapi.
Kau manja sekali rupanya. Tidak disuapi, maka tidak akan makan! (Jessica)
"Lagi." Aldy kembali menatap Jessica, mengisyaratkan diri ingin disuapi lagi.
"Aaa, buka mulutmu bayi besar," ucap Jessica tertawa.
Dengan senang hati, Aldy membuka mulutnya layaknya anak kecil yang sedang ingin dimanja oleh sang Ibu.
☆☆☆☆☆☆
Taman Kota
Jack turun dari motor terlebih dahulu. Ia tersenyum pada Kamila lalu membukakan helm yang dikenakan oleh kekasih manisnya itu.
Setelah itu, keduanya berjalan dengan tangan yang bertautan satu sama lain. Jack sesekali melirik Kamila.
Sikap Kamila hampir mirip dengan Jessica, ia tidak suka diperlakukan secara berlebihan. Gadis itu lebih senang jika diajak berjalan-jalan di taman atau di pantai. Kamila selalu menolak jika Jack mengajaknya untuk berbelanja dan juga menonton bioskop. Bagi Kamila, kebahagiaan itu tidak harus didapatkan hanya dengan kemewahan dan juga kemegahan. Cukup berjalan bersama orang yang kita cintai saja, sudah menjadi kebahagiaan yang besar, menurut Kamila.
"Jack, aku ingin itu," ucap Kamila lalu melirik ke arah permen kapas yang berwarna pink. Sangat cantik dan manis di mata Kamila.
"Baiklah, tunggu di sini." Jack meminta Kamila duduk di kursi taman. Lalu ia beranjak untuk membeli permen kapas untuk kekasihnya itu.
Beberapa menit kemudian, Jack kembali dengan kedua tangan menenteng sesuatu untuk Kamila. Tangan kanan Jack memegang permen kapas, sedangkan tangan kirinya memegang tiga batang coklat jumbo.
"Untukmu," ucap Jack.
Jack memberikan permen kapas itu pada Kamila sambil tersenyum manis. Lalu ia duduk dan meletakkan 3 batang coklat di dekat Kamila.
"Ini untukku juga?" tanya Kamila sambil menatap Jack.
"Iya, untuk siapa lagi? Masa untuk mbak-mbak itu?"
"Terimakasih." Kamila meraih ketiga coklat itu. Ia selalu menerima pemberian Jack dengan senang hati. Walau pada dasarnya, ia mampu untuk membeli lebih dari itu, atau bahkan mampu membeli pabriknya sekalian.
"Kau tidak ingin mencoba ini?" lanjut Kamila lalu menggoyangkan-goyangkan permen kapasnya.
"Tidak, kau saja," jawab Jack tersenyum.
Kamila menatap remaja di sekitarnya. Mereka terlihat sedang mengamati Kamila dan Jack lalu tersenyum tak jelas.
"Jack, ayo kita pergi dari sini," ucap Kamila yang mulai merasa risih.
"Ah, iya? Kau ingin pulang?"
"Ayo!" Kamila berdiri lalu menarik tangan Jack, menjauh dari kursi taman.
__ADS_1
Jack hanya mengalah, ia pun tidak ingin Kamila ngambek atau kecewa pada dirinya. Akhirnya, keduanya meninggalkan taman kota. Dan beralih menikmati suasana indah di taman bunga yang terletak di dekat markas Jack.
Jack mengajak Kamila duduk di atas rumput beralaskan tikar kecil berwarna biru tua.
"Tunggu sebentar," ucap Jack lalu beranjak mendekati seorang pria yang berdiri di pinggir taman.
Setelah mengobrol dengan pria itu, Jack pun kembali sambil menenteng kanvas, lengkap dengan cat dan kuasnya.
"Hahahah, kau mau apa?" tanya Kamila.
"Melukis, melukis bidadari surga." Jack membenarkan posisi kanvas lalu menatap ke arah Kamila tanpa berkedip.
Kamila tidak bertanya lagi, kini ia sibuk membuka coklat dan menikmatinya. Sesekali Kamila memperhatikan Jack yang sudah sibuk dengan cat dan kuasnya.
Awas saja kalau jelek dan tidak mirip denganku! Eh, tapi, Jack, kan memang pandai melukis, bahkan dia pernah melukisku sebelum ini. (Kamila)
Kurang dari setengah jam, Jack sudah selesai dengan lukisannya. Ia pun menunjukkan hasilnya pada Kamila, kekasih manisnya.
"Ya, Tuhan....ini indah sekali," ucap Kamila memuji keindahan lukisan Jack. Lukisan itu bahkan memilih daya tarik yang sangat luar biasa bagi Kamila.
"Wow, lukisannya cantik sekali, Kak. Kakak pelukis ternama, ya?" ucap seorang gadis berambut hitam pekat, yang entah siapa dia.
Ish, kenapa mereka selalu menggangu dan menghancurkan suasana! (Kamila)
"Bukan, ini bukanlah apa-apa," jawab Jack lalu tersenyum ramah.
Kamila menatap Jack tajam. Ia kesal sendiri melihat sikap ramah yang Jack tunjukan pada gadis berambut hitam itu.
"Kamila." Jack menarik tangan Kamila pelan. Menahan gadis itu agar tidak pergi meninggalkannya.
Si gadis berambut hitam pun merasa tidak enak pada Kamila. Ia meminta maaf lalu pergi meninggalkan Jack dan Kamila.
"Jangan ulangi lagi!" jawab Kamila masih dengan raut wajah tidak suka.
"Janji."
Karena hari sudah mulai petang, Jack pun memutuskan untuk mengajak Kamila makan terlebih dahulu. Lalu mengantar gadis itu pulang ke kediaman keluarga Pranata.
"Kamila," panggil Jack saat Kamila hendak masuk ke dalam rumah utama.
"Iya, kenapa?" Kamila menoleh.
"Aku minta maaf untuk yang tadi," ucap Jack meminta maaf lagi.
"Sudahlah, tidak apa. Aku saja yang berlebihan menanggapinya." Kamila tersenyum lalu membalas lambaian tangan dari Jack.
"Hati-hati di jalan."
☆☆☆☆☆☆
Villa Kamboja
Malam mulai larut, namun dua insan yang berada di dalam Villa Kamboja itu belum tertidur juga. Aldy dan Jessica saling menatap lalu tertawa secara bersamaan.
Jessica sudah tidak tahan lagi. Ia terus menertawai wajah tampan suaminya yang sudah berubah menjadi wajah cantik yang menggelikan untuk dilihat.
__ADS_1
"Sayang, di mana Hpku?" tanya Jessica pada Aldy. Jessica membuka semua laci, mencari di mana Aldy menyembunyikan Hpnya.
"Sayang, kau sembunyikan di mana? Aku ingin memotretmu." Jessica mendekati Aldy lalu menatap mata pria itu. Ia kembali tertawa sambil memegangi perutnya.
Seketika, ada suatu bayangan dan juga suara tawa yang sama memenuhi pikiran Jessica. Bayangan itu terus melintas diiringi dengan gelak tawa seorang wanita dan pria.
Jessica beralih memegang kepalanya dan langsung menghentikan tawanya.
"Sayang, kau kenapa?" Aldy meraih tubuh Jessica. Memeluk wanita itu dengan tangan kanannya mengelus lalu memijit pelan kepala Jessica.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya Aldy mulai khawatir.
Jessica tidak menjawab apapun. Ia membalas pelukan Aldy erat. Membenamkan wajahnya pada dada bidang Aldy yang tidak ditutupi apapun.
"Wah, kau pintar sekali rupanya, ini hanya modus saja, 'kan? Agar kau bisa memelukku?" Goda Aldy.
"Tidak, aku hanya teringat sesuatu, membuat kepalaku kembali berdenyut sakit," jelas Jessica yang masih dalam pelukan Aldy.
"Kau ingat apa, Sayang?"
"Momen indah, saat aku berhasil menjahilimu, kau rela memakai lipstik hanya demi melihatku tertawa, kan?" Jessica mendongak menatap mata coklat Aldy.
"Aku tidak salah, 'kan? Aku mengingatnya," lanjut Jessica lalu kembali membenamkan wajahnya pada dada Aldy. Memainkan jari-jarinya di sana.
"Kau ingin menggodaku?" tanya Aldy.
Jessica segera menghentikan jari-jarinya, ia tidak tau hal itu dapat membangkitkan gairah seorang laki-laki.
"Ti-tidak, aku tidak bermaksud," jawab Jessica gugup.
Aldy tersenyum melihat wajah merah Jessica lalu mengecup bibir Jessica singkat. Kecupan Aldy menyisakan warna merah pada bibir Jessica, itu disebabkan oleh lipstik yang menempel pada bibir Aldy.
"Hahahah, bibirmu sangat menggoda, Sayang," ucap Aldy lalu kembali mencium bibir Jessica.
Setelah beberapa menit, Jessica mendorong dada Aldy lembut. Mengingatkan mereka belum bisa melakukan hal lebih, karena Jessica masih dalam keadaan menstruasi.
Aldy pun sadar, ia segera menjauh dari Jessica. Sebelum terjadi hal yang tidak dirinya dan Jessica inginkan.
Aldy duduk di sofa pojok ruangan. Ia menyadarkan kepalanya, mendongak menatap langit-langit kamar. Setelah dirinya tenang, barulah Aldy berjalan mendekati Jessica.
"Kau tidurlah terlebih dahulu, aku akan membersihkan wajahku ini. Kau tega melihatku tidur dengan wajah seperti ini?" ucap Aldy lalu beranjak menuju kamar mandi.
Aldy menatap pantulan wajahnya lalu teriak tak karuan. Betapa kagetnya Aldy melihat wajah tampannya berubah menjadi wajah banci yang menjijikkan.
Dengan kasar Aldy membasuh wajahnya lalu menuang sambun muka sebanyak-banyaknya. Ia mengira Jessica hanya memoleskan sedikit saja, tapi Aldy salah. Istrinya itu benar-benar memanfaatkan kesempatan kali ini, untuk membalas kejahilan yang sering ia lakukan pada Jessica, istrinya.
Setelah wajah Aldy bersih dan kering. Ia pun keluar dari kamar mandi sambil memikirkan cara untuk membalas kejahilan Jessica.
Sayangnya, Jessica sudah tertidur pulas di atas kasur, membuat Aldy tidak tega menjahilinya. Aldy pun ikut berbaring di samping Jessica. Ia mengelus kepala Jessica lembut, membenarkan posisi kepala Jessica agar Jessica lebih nyaman dalam tidurnya.
Setengah jam berlalu, Aldy masih menatap Jessica dengan tangan yang masih mengelus kepala istrinya itu. Entah kenapa, rasa kantuk Aldy menghilang secara tiba-tiba. Aldy pun memutuskan untuk mengecek beberapa email yang sudah masuk sejak tadi sore. Ia membuka laci lalu mengambil Hpnya.
Sesaat, Aldy kembali menoleh ke arah Jessica yang semakin tertidur pulas. Ia mengarahkan kamera pada wajah Jessica lalu mengambil beberapa potret wajah Jessica.
Aldy tersenyum puas. Ia pun membatalkan niatnya untuk mengecek email. Aldy kembali menaruh Hpnya di dalam laci lalu memeluk tubuh Jessica gemas.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, Aldy mulai mengantuk dan tertidur sambil memeluk tubuh Jessica dengan erat.
Bersambung....