Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Perasaan Aldy?


__ADS_3

Sebelum jam makan malam di rumah utama, tepatnya di dalam ruang keluarga. Ibu dan Kamila sedang memancing Aldy agar ia bicara tentang perasaannya pada Jessica.


"Jika memang iya, katakan saja, Kak." Kamila terus memancing Aldy agar laki-laki itu mengeluarkan suaranya.


"Kak Jess itu orangnya cantik, baik hati, tidak sombong dan pemberani. Laki-laki mana yang tidak jatuh cinta padanya." Kamila tak henti-hentinya membahas tentang Jessica pada Aldy dan Ibunya. Masih banyak hal yang ia katakan tentang Jessica, bahkan ia menceritakan pada Ibu, kejadian pembegalan yang terlihat konyol di matanya.


"Ibu, apa Ibu tau. Kak Ken saja gemetar jika berhadapan dengan Kak Jess. Tatapan tajamnya membuat mata Kak Ken sakit," ucap Kamila, ia sesekali menatap Aldy yang belum terpancing juga dengan ucapannya sejak tadi.


"Apa Jessica sudah punya calon suami?" Pertanyaan dari ibu membuat Kamila bersemangat, ini saatnya untuk memancing Kak Aldy begitu yang ada di pikirannya.


"Hmmm...mungkin sudah, Bu." Kamila memasang sedikit nada kecewa. Ibu juga ikut bermain dengan Kamila, ia memasang wajah yang tidak kalah kecewa setelah mendengar jawaban dari putrinya.


Kamila sibuk menebak-nebak seperti apa kriteria laki-laki yang Jessica sukai. "Mungkin seorang TNI, pasti sangat cocok dengan Kak Jess. Tubuh yang tinggi dan tegap, huh...cocok sekali." Kamila membayangkan seorang anggota TNI berdiri di samping Jessica. "Huh...sempurna." gumamnya.


"Bagaimana seorang Dokter, atau Pilot. Hmmm...bagaimana jika guru karate?" Kamila menyebut semua profesi kecuali pengusaha atau sejenisnya. Ini sengaja ia lakukan agar Aldy terpancing, namun hasilnya tetap Zonk.


Aldy tidak bergeming, ia masih fokus pada beberapa Email yang sudah masuk ke Hpnya. Ia mendengar semua omong kosong dari Ibu dan juga adiknya. Bagi Aldy, mendapatkan perhatian dari Jessica itu sangatlah sulit, jangankan perhatian. Bicara secara terbuka dengan Jessica saja sangat sulit baginya. Untuk saat ini Aldy tidak percaya sedikit pun dengan apa yang Kamila katakan tadi, pasalnya Jessica bukanlah tipe wanita yang cepat terbuka pada lawan jenisnya apa lagi sampai ia memiliki calon suami, itu terdengar begitu konyol di telinga Aldy.

__ADS_1


"Sudah omong kosongnya?" Aldy menatap Ibu dan Kamila secara bergantian, membuat keduanya kehilangan semangat lagi untuk mengetahui perasaan Aldy yang sebenarnya.


"Jika aku menyukainya, apa yang akan Ibu lakukan untukku dan jika aku tidak menyukainya apa Ibu akan memaksaku untuk menyukainya?" tanya Aldy dengan sorot mata tajamnya, tapi sorot mata itu ia tunjukan hanya untuk Kamila tidak pada Ibunya.


Kamila yang mendapat tatapan tajam langsung bersembunyi di balik punggung ibu. "Ibu, bisa-bisa Kakak tidak memberi ku uang jajan bulan ini," bisik Kamila pada Ibu.


"Sudahlah, lupakan masalah perasaan. Sekarang kita makan, ibu sudah tidak tahan lagi menahan lapar," ucap ibu mengalihkan pembicaraan, sebenarnya ia tidak lapar sama sekali tapi terpaksa mengatakan lapar agar Aldy dan Kamila segera pergi ke meja makan.


"Ayo, Bu, Ila juga sudah lapar." Kamila keluar dari persembunyiannya. Sekilas melirik ke arah Aldy yang masih menatapnya.


"Jaga bicaramu, jika Jessica tau kau sudah membicarakannya seperti tadi. Maka, jangan harap kau masih bisa mendapatkan kasih sayang darinya lagi." Aldy berjalan keluar dari ruang keluarga sambil menarik tangan Ibu, membiarkan Kamila mematung sendirian disana.


----------


Di meja makan.


Lagi-lagi Kamila merasakan ada hal yang kurang di sisinya, sudah dua malam ia lewatkan tanpa Jessica. Wanita itu sudah kembali ke rumah belakang sejak sore tadi, setelah itu dia tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi sampai makan malam selesai.

__ADS_1


"Kak." Kamila menatap ke arah Aldy yang berjalan meninggalkan ruang makan. Laki-laki itu tidak menjawab atau pun memutar badannya menghadap Kamila. Ia tetap berjalan keluar dari ruang makan lalu kembali ke kamarnya.


"Ibu...apa Kakak sedang marah padaku?" tanya Kamila penuh ketakutan, ini untuk pertama kalinya setelah sekian lama Aldy tidak pernah mengabaikan panggilannya.


"Dia tidak marah padamu, hanya sedikit kesal saja. Besok pasti sudah tidak kesal lagi, percayalah!" Ibu mengelus kepala Kamila lembut, lalu mengajak gadis itu keluar dari ruang makan.


"Menurut Ibu, apakah Kak Jess akan marah kalau mendengar ucapanku tadi?" Kamila benar-benar tidak sadarkan diri, semangat yang begitu menggebu membuatnya hilang kontrol tadi.


"Tidak, Ibu rasa Jessica tidak akan marah padamu." Ibu terus menyakinkan Kamila sampai Gadis Manja itu terlelap dalam pangkuan Ibunya.


"Huh...manja sekali," ucap Aldy yang mengintip dari celah pintu kamar Kamila. Ia benar-benar sudah kehabisan gaya jika harus menghadapi sikap manja Kamila.


-------


Hai Kakak" yang cantik dan Tampan...


Author harap sejauh ini kalian suka dengan cerita ini😊

__ADS_1


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan ataupun dalam alur ceritanya.😊


Salam manis dari Author ingusan😊


__ADS_2