Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Ada Apa Dengan Jessica?


__ADS_3

Pagi-pagi sekali di rumah utama. Semua orang sudah duduk di meja makan kecuali Jessica. Wanita itu masih di kamarnya. Jessica baru saja selesai mandi dan mengenakan pakaiannya.


Aldy menatap ke arah kamar Jessica. Tidak lama, pintu kamar itu terbuka dan menampakkan wanita dengan Kaos hitam dan juga jaket berwarna hitam pekat.


"Selamat pagi," sapa Jessica ceria. Ia berjalan dengan penuh semangat ke arah meja makan.


"Audi!" Aldy menatap Jessica khawatir, dengan langkah yang begitu cepat, ia berjalan ke arah Jessica, lalu membantu Jessica untuk berjalan.


"Aku baik-baik saja," ucap Jessica setelah duduk di kursi makan.


Aldy tidak merespon apapun. Ia membalik piring Jessica, menaruh setumpuk roti di sana.


"Menurut saja, Kak. Kak Aldy sangat khawatir pada keadaan Kak Audi sekarang. Dia takut jika kau Audi terpeleset lalu terjatuh, bukankah begitu, Kak?" ucap Kamila sambil mengoleskan selai cokelat pada rotinya.


"Iya, seperti itu," jawab Aldy seadanya.


Ia menatap Kamila dan Ibu secara bergantian.


"Aku dan Ken akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Emm, ini sangat mendadak, Bu. Jadi, aku sangat berharap pada Ibu dan Kamila untuk---"


"Jangan khawatir, Nak. Audi pasti aman di rumah ini," potong Ibu. Ia tau, putranya pasti khawatir pada Jessica. Ia pasti takut terjadi sesuatu ketika dirinya tidak berada di samping Jessica nantinya.


"Makasih, Bu," ucap Aldy sambil tersenyum.


Aldy menggigit rotinya beberapa kali. Ia meraih gelasnya yang berisi air putih.


"Aku ada urusan sebentar. Kau lanjut saja sarapannya bersama Ibu dan Kamila. Aku akan kembali, setelah itu, kita akan mengunjungi Bibi Noami, oke?" Aldy bangun lalu mengelus kepala Jessica.


Jessica hanya tersenyum sambil mengangguk kepalanya pada Aldy.


Kini hanya tertinggal Ibu, Kamila dan Jessica saja di ruang makan. Sementara Aldy kembali ke kamarnya.


Setelah sarapan. Kamila berangkat ke kampus seperti hari-hari sebelumnya. Sedangkan Ibu pergi ke halaman utama untuk menyiram bunga-bunga kesayangannya.


Lain halnya dengan Aldy dan Jessica. Keduanya masuk ke dalam mobil yang disiapkan oleh Ken sebelumnya. Sesuai dengan yang Aldy katakan tadi, ia akan mengajak Jessica untuk mengunjungi makam Naomi dan makam kedua orangtua Jessica. Walau tidak sesuai janjinya, karena hari ini bukan akhir pekan seperti yang Aldy janjikan semalam.


Aldy memajukannya karena nanti sore ia dan Ken sudah tidak di kota ini lagi.


Mobil itu melaju keluar dari halaman rumah utama. Aldy dan Jessica duduk di kursi belakang dengan Ken yang menjadi pengemudinya.


Pria itu bahkan tidak pernah bicara dengan Jessica. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, mereka bahkan sering berdebat hanya karena masalah yang sepele atau bahkan hal yang tidak masuk akal.


"Lebih cepat lagi, Ken!" ucap Aldy yang memang sedang mengejar waktu.


Ken mempercepat laju mobilnya, matanya menatap lurus dan fokus pada jalanan di depannya.


Setengah jam perjalanan. Mereka sampai di sebuah pemakaman. Ken membukakan pintu untuk Aldy. Lalu Aldy membukakan pintu untuk Jessica.


Kali ini Aldy mengalah, ia membiarkan Jessica berjalan tanpa kursi roda. Ia dan Ken terus mengawasi langkah Jessica. Takut Jessica tersandung lalu terjatuh yang akan berakibat fatal pada otaknya nantinya.


Ketiganya sampai di depan makam Naomi yang memang berada di sebelah makam kedua orangtua Jessica.


Jessica menatap ketiga makam itu tidak percaya. Rasanya ada suatu benda tajam yang menyayat hatinya, meninggalkan luka yang begitu dalam dan menyakitkan.


Jessica, Aldy dan Ken berdoa untuk ketenangan ketiga orang yang sangat Jessica sayangi. Setelah berdoa dan terdiam beberapa saat. Aldy mengajak Jessica untuk pulang.

__ADS_1


Sayangnya, langkah mereka terhenti ketika mereka bertemu dengan Hendra yang juga sedang mengunjungi makam sang Ibu, yang tak lain adalah guru tercinta Jessica.


Hendra menatap Jessica redup. Ingin rasanya ia marah dan juga memeluk Jessica saat ini juga. Namun, ia menahan dirinya saat menyadari ada Ken dan Aldy di samping kanan dan kiri Jessica.


Hendra menarik nafas panjang, menghembuskan secara perlahan melalui mulutnya. Ia melangkah meninggalkan mereka tanpa bicara satu patah katapun.


Setelah Hendra menjauh. Jessica berbalik menatapnya.


"Dia siapa?" tanya Jessica pada Aldy dan Ken.


Keduanya saling menatap. "Nanti saja, kita bicarakan kapan-kapan. Sekarang kita pulang dulu," jawab Aldy mengalihkan pembicaraan.


Jessica menatap Aldy curiga.


"Ada yang kau sembunyikan dariku?"


"Tidak, aku akan menceritakannya. Tapi nanti!" Aldy menatap Jessica, meyakinkan bahwa ia tidak sedang menyembunyikan sesuatu.


"Baiklah."


Akhirnya ketiganya berjalan ke arah parkiran. Meninggalkan pemakaman itu dengan pemikiran mereka masing-masing.


Sementara Hendra. Pria itu sempat mendengar pertanyaan Jessica tadi. Ia bingung, sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Jessica.


"Apa mereka melukaimu, Jess?" gumam Hendra sambil menatap mobil yang sudah keluar dari area pemakaman.


☆☆☆☆☆☆


Aldy dan Ken langsung meluncur menuju perusahaan setelah mengantar Jessica pulang ke kediaman keluarga Pranata. Sebelumnya Aldy sempat memeluk Jessica erat, ia benar-benar takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan nantinya.


Sedangkan Aldy. Ia sering tersenyum dan juga mulai menghilangkan tatapan tajamnya saat berpapasan dengan para staf sekretarisnya.


"Tuan Aldy dan Tuan Ken berubah drastis, ya?" ucap salah seorang pegawai yang baru saja bertemu dengan Ken.


"Begitulah, ketika seseorang sudah mengenal cinta," sahut si pegawai lainnya.


Masih pagi sekali mereka sudah mulai bergosip dengan Aldy dan Ken sebagai topik utamanya.


"Apa kalian masih ingat dengan wajah Nona Muda?" tanya seorang pegawai yang baru saja bergabung.


"Hmmm, aku sih sudah lupa. Tapi kalau tatapannya, aku masih ingat. Matanya tajam, setajam pedang. Rasanya tubuhku hampir terbelah saat matanya menatapku waktu itu," sahut si pegawai lainnya.


Keduanya mulai terdiam saat seorang sekretaris Aldy melewati mereka.


"Ini tempat berkerja! Bukan tempat bergosip!" ucapnya sambil menatap mereka tajam.


"Astaga, Tuan Muda sudah berubah. Tapi kaki tangannya masih tetap sama, bahkan mereka tambah menyeramkan sekarang," gumam para pegawai itu sambil bubar dan kembali fokus pada pekerjaan mereka masing-masing.


Sementara di rumah utama. Jessica duduk di taman samping sambil memasukkan kakinya ke dalam kolam ikan. Ia tertawa kecil saat ikan-ikan itu mulai menggigit kakinya.


"Hahahaha, ini geli sekali," ucapnya sambil terus tertawa kecil.


"Anda ingin memberi mereka makan?" tanya Kepala Pelayan yang ditugaskan untuk menjaga dan menemani Jessica.


"Boleh," jawab Jessica sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Kepala Pelayan itu menyerahkan toples kaca yang berisikan makanan ikan. Jessica meraih toples itu, membukanya lalu memasukkan tangannya.


Ia melempar butiran lalu ikan-ikan di dalam kolam berenang ke arah makanan yang dilempar Jessica.


Jessica sengaja menjatuhkan makanan itu di sekitar kakinya. Kini para ikan itu mulai berkumpul di kaki Jessica. Mereka bahkan mulai menggigit-gigit kaki Jessica.


"Hahahaha, ini geli sekali." Jessica mulai mengangkat kakinya.


"Emmm, Mbak. Boleh minta tolong?" Jessica menatap kepala pelayan yang berdiri tidak jauh darinya.


Kepala pelayan itu tersenyum. "Anda ingin apa, Nona?"


"Tidak, aku hanya ingin Mbak duduk di sini. Maksudku, Mbak duduk di dekatku dan menemaniku," ucap Jessica sambil tersenyum.


"Baiklah." Kepala Pelayan itu mendekat lalu duduk di samping Jessica.


Jessica bahkan memintanya untuk memasukkan kakinya ke dalam kolam ikan. Sama dengan yang sedang Jessica lakukan.


Kepala pelayan itu mulai tertawa kecil saat ikan-ikan di dalam kolam menggigit kakinya.


Kenapa aku sangat senang melihatnya tertawa. Ah, bagaimana pun. Dia seorang wanita paruh baya yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Pasti semua orang akan senang ketika melihat ia tersenyum dan tertawa seperti ini. Andai saja Ibu masih hidup, mungkin usianya sama seperti Mbak ini. (Jessica)


Jessica termenung beberapa saat. Ada bayangan indah yang menari-nari di kepalanya.


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya kepala pelayan khawatir.


Seketika Jessica tersadar lalu berusaha tersenyum pada sang kepala pelayan.


"Ah, aku baik-baik saja. Hanya saja kepalaku sedikit berat dan pusing," jawabnya.


Kepala pelayan itu berdiri lalu mengajak Jessica untuk masuk ke dalam rumah utama. Jessica menurut, dengan langkah pelan ia mencoba berjalan.


Sayangnya Jessica tidak kuat. Kepala pelayan itu mendekat lalu memapah Jessica menuju rumah utama.


Ibu yang melihat Jessica masuk langsung berlari menghampiri Jessica dan si kepala pelayan.


"Apa yang terjadi, Mbak?" tanya Ibu khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku hanya ingin istirahat saja," jawab Jessica.


Ibu berteriak memanggil pelayan lainnya. Mereka datang dengan wajah yang begitu panik.


"Antar Jessica menuju kamarnya!"


Dua orang mendekat lalu mengantar Jessica sampai kamarnya. Sedangkan si kepala pelayan dan Ibu sudah masuk ke dalam ruang keluarga untuk membicarakan sesuatu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?!" Ibu menatap wajah sang kepala pelayan.


"Saya tidak tau, Nyonya. Nona Jessica menyuruh saya untuk duduk di dekatnya lalu memasukan kaki ke dalam kolam ikan, sama seperti yang ia lakukan. Setelah itu Nona melamun, seperti sedang menerawang sesuatu," jawab si kepala pelayan jujur.


Ibu menghembuskan nafas pelan.


"Jangan sampai Jessica terpeleset ataupun terjatuh! Kalian harus pastikan lantai di rumah Ini tidak ada yang basah. Atau pastikan semuanya aman untuk kondisi Jessica saat ini!"


Kepala pelayan itu tersenyum. "Anda tenang saja, Nyonya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Tuan Muda dan Nona Muda," jawabnya tulus.

__ADS_1


"Terimakasih, Mbak." Ibu tersenyum menatap wajah si kepala pelayan. Begitu pula dengan si kepala pelayan yang tersenyum sambil menatap wajah Ibu.


__ADS_2