
Jessica keluar dari kamar mandi dengan langkah yang begitu pelan. Tubuhnya sudah mati rasa saat ini. Ia bahkan sudah tidak kuat lagi melayani Aldy yang tidak ada habisnya.
"Apa! Sekarang kau bisa tersenyum secerah itu setelah mendapatkan keinginanmu! Kau menuduhku tidak pernah puas, nyatanya kau sendiri yang tidak ada ujung pangkalannya!" ucap Jessica dengan mata menatap ke arah netra coklat Aldy tajam. Tatapan Jessica langsung menusuk mata dan tepat mengenai hati Aldy.
Aldy hanya menanggapi dengan senyuman, lalu ia berjalan mengikuti langkah Jessica menuju ruang ganti.
"Sayang." Aldy menyentuh bahu Jessica lembut. Memainkan rambut lurus Jessica yang masih basah.
"Kumohon, jangan lagi! Kau tidak kasihankah padaku? Tubuhku ini sudah mati rasa karena ulahmu! Dan lihat ini, kenapa sebanyak ini?" Jessica menunjuk leher dan juga dadanya, lalu memegang kepalanya yang tidak pusing ataupun gatal. Hanya saja ia bingung, harus dengan cara apa ia menutupi semua jenjak cinta di bagian lehernya ini.
"Hahahaha, aku senang melihatmu mengomel, dan menatapku seperti itu, aku jadi teringat dengan Jessica si Serigala Betina yang sudah berubah menjadi kucing jinak," celoteh Aldy lalu memeluk dan mengangkat tubuh Jessica gemas.
Jessica hanya bisa menghela nafas panjang. Dan juga harus banyak bersabar menghadapi sikap suami tampan dan gilanya ini.
Jessica menatap semua baju yang ada di dalam lemarinya. Tidak ada satu pun baju yang mendukung dirinya hari ini.
"Lalu bagaimana dengan ini? Tidak mungkin, kan aku keluar dengan begitu banyak tanda cinta ini? Aaaaa, Sayang.....tolong aku....." teriak Jessica yang hampir frustasi dengan semua ini.
"Sayang.... Bantu aku! Jangan hanya tertawa, dan melihatku dari situ saja!" teriak Jessica lalu membanting tubuhnya ke atas sofa di dalam ruang ganti.
"Oke-oke, aku minta maaf, Sayang. Aku minta maaf karena semua itu menjadi beban bagimu, aku benar-benar minta maaf." Aldy berjongkok di dekat sofa. Ia meraih tangan Jessica lalu menarik wanita itu untuk duduk.
"Tatap mataku!" pinta Aldy lembut.
Jessica langsung mengikuti kemauan pria itu. Jessica menatap netra coklat Aldy yang penuh cinta dan kasih sayang untuknya.
Cukup lama, keduanya hanya diam. Semua mengalir dari tatapan mata mereka. Tatapan Jessica sesuai dengan tatapan milik Aldy, keduanya terus bersitatap sampai Jessica tenang, dan bernafas lega.
"Kau bisa menggunakan sweater yang aku belikan waktu itu. Bukannya itu menutup sampai bagian lehermu, kan?"
Aldy membuka lemari lalu menatap sweater yang masih tergantung rapi di sana.
"Cobalah, aku yakin ini membantu," ucap Aldy tersenyum meyakinkan Jessica.
Jessica meraih sweater itu, lalu melirik Aldy yang masih berada di dalam ruang ganti. Jessica mendorong tubuh Aldy keluar, laki-laki itu pasti akan kumat jika melihat Jessica berganti baju. Hal itu membuat Jessica terpaksa mengusirnya terlebih dahulu.
Usai memakai sweater yang Aldy sarankan. Jessica pun langsung berjalan keluar dari ruang ganti. Ia membawa handuk berwarna putih di lengannya, lalu mengeringkan rambutnya di depan cermin.
"Sayang, boleh aku membantumu?" ucap Aldy menawarkan dirinya untuk membantu Jessica.
Jessica melirik sekilas, lalu tersenyum manis.
"Boleh, sangat boleh," jawab Jessica.
Aldy pun mendekat. Ia meraih handuk itu, lalu mengeringkan rambut Jessica dengan telaten. Setelah rambut Jessica hampir kering, Aldy pun beralih menyisiri Jessica. Ia melakukannya sambil tersenyum menatap pantulan wajah cantik istrinya di cermin.
"Sudah, sekarang beri aku imbalannya," ucap Aldy lalu menunduk, dan mencium pucuk kepala Jessica.
"Imbalan? Oh, ada udang di balik batu rupanya." Jessica menatap pantulan wajah Aldy, lalu tersenyum pada pria itu.
Jessica bangkit dan langsung menghujani pipi dan juga bibir Aldy dengan kecupan yang begitu tulus.
"Sudah, sekarang bisakah kita turun untuk sarapan. Aku lapar," ucap Jessica sambil merapikan kemeja Aldy.
__ADS_1
"Ayo, Sayang." Aldy merangkul pinggang Jessica lalu tersenyum manis pada istrinya itu.
"Selamat pagi, Kakak Ipar," sapa Kamila ceria. Gadis itu sudah menunggu Aldy dan juga Jessica sejak tadi.
"Kakak Ipar?" Aldy dan Jessica saling menatap. "Tidak buruk, panggil saja seperti, aku suka mendengarkannya," lanjut Aldy.
Ketiganya berjalan bersama menuju ruang makan. Kamila berjalan di samping kiri Jessica, sedangkan Aldy di sama kanan istrinya.
Usai sarapan bersama. Kamila langsung pamit untuk ke kampus, begitu pula dengan Aldy. Hari ini ia harus pergi ke perusahaan, karena begitu banyak dokumen yang harus dirinya baca, dan tanda tangani.
Aldy mengecup kening Jessica lembut, lalu memeluk wanita itu erat. Padahal ia hanya ke perusahaan, tapi perpisahan mereka layaknya orang yang tidak akan bertemu lagi nantinya.
"Jaga dirimu, Sayang," ucap Aldy lalu melepas Jessica dari pelukannya. Pria itu berjalan dengan ragu, lalu kembali menoleh pada Jessica.
"Pergilah, Sayang. Aku akan tetap di sini, aku tidak akan ke mana-mana." Jessica tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Aldy.
Huh, kenapa serumit ini?! Dia hanya pergi ke perusahaan. Nanti sore juga dia pulang, tapi kenapa dia setakut itu? Dia kira aku akan kabur, dan pergi darinya?! (Jessica)
Jessica berjalan masuk ke dalam rumah utama. Lalu langsung naik, dan berdiam diri di dalam kamarnya.
☆☆☆☆☆☆
Jam 10. 42
Jessica keluar dari kamar, ia benar-benar tidak betah jika hanya berdiam diri di dalam sana. Jessica menuruni tangga sambil menatap ke arah ruang tamu, dan juga ruang keluarga. Sepi, tidak ada siapa di lantai bawah.
Jessica melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia tersenyum lalu menyapa beberapa pelayan yang berada di sana.
"Mbak, ada yang bisa aku bantu?" tanya Jessica yang sudah berdiri di depan meja koki.
"Baiklah." Jessica pun keluar dari dapur lalu berjalan menuju taman samping rumah utama. Jessica duduk di kursi taman, lalu mengeluarkan Hpnya, dan mulai sibuk dengan benda pipih itu.
Jessica menonton beberapa cuplikan film action barat, lalu memutuskan untuk menonton film itu.
"Nona Muda, ini jus jeruk kesukaan Anda." Seorang pelayan meletakkan segelas jus jeruk segar di dekat Jessica lalu tersenyum pada wanita itu.
"Eh, terimakasih, ya, Mbak," jawab Jessica tersenyum. Ia menyedot jus itu walau sebenarnya dirinya tidak pernah memesan jus ini sebelumnya.
Tidak terasa. Jam sudah menunjukan pukul 12.46. Jessica pun sudah mulai mengantuk dan menguap. Ia pun kembali masuk ke dalam rumah utama, dan langsung naik ke kamarnya.
Satu jam kemudian. Seorang pelayan mengentuk pintu kamar Jessica. Ia mengingatkan pada Jessica untuk bangun, dan makan siang.
Namun Jessica yang masih mengantuk tidak menghiraukan panggilan si pelayan. Ia tetap tidur dengan memeluk bantal gulingnya.
Dering Hpnya membuat Jessica terbangun. Ia meraih benda pipih yang ia letakkan di bawah bantalnya.
"Hallo, Ada apa, Sayang?" tanya Jessica pada suaminya yang menelepon.
"Sayang, bangun dan makan sianglah! Kau belum makan siang, kan? Bangunlah. Jika kau tidak bangun, aku akan pulang untuk membangunkanmu!"
"Baiklah, aku sudah bangun, dan akan makan siang. Kau juga jangan lupa makan, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanmu sampai kau lupa dengan kesehatanmu."
"Aku sudah makan tadi. Sekarang kau makanlah....aku merindukanmu......"
__ADS_1
Sambungan telepon langsung terputus. Jessica menatap layar Hpnya, belum apa-apa suaminya itu sudah rindu padanya, namun hal itulah yang membuat Jessica merasa berharga dan begitu dicintai oleh Aldy, suaminya.
☆☆☆☆☆☆
Hari mulai sore, dan rumah utama pun sudah ramai karena kehadiran Kamila dan juga Nathalia. Kedua gadis itu heboh menceritakan tentang drama korea terbaru yang akan mereka tonton sore ini.
Tidak lama setelah kepulangan Kamila, mobil hitam milik Aldy kini terparkir di halaman utama. Pria itu keluar dari mobilnya dengan tersenyum manis. Bahkan rasa lelahnya memudar ketika melihat istrinya berdiri di depan pintu utama, menyambut kedatangannya.
"Kau pasti lelah, Sayang. Biar aku yang bawa berkas-berkas itu," ucap Jessica sambil meraih tas dan juga beberapa berkas penting yang Aldy pegang.
Keduanya naik ke dalam kamar mereka, dengan Jessica yang berjalan di belakangnya Aldy sambil memegang tas dan juga beberapa berkas tadi.
Sesampainya di kamar. Aldy langsung membuka jasnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Jessica langsung menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.
Beberapa menit kemudian. Aldy keluar, dan langsung berjalan menuju ruang ganti. Ia tersenyum pada Jessica yang sedang merapikan beberapa baju di dalam lemarinya.
"Sayang, ada yang ingin aku katakan," ucap Jessica setelah Aldy keluar dari ruang ganti.
"Katakanlah." Pria itu memeluk tubuh Jessica, ia sungguh rindu dengan tubuh istrinya itu.
"Aku tidak ingin ada pelayan yang masuk ke dalam kamar kita. Maksudku, biarkan saja aku yang merapikan dan membersihkan semuanya. Boleh, kan?" ucap Jessica dengan tangan kanan mengelus punggung tangan Aldy yang menempel di perutnya.
"Kau tidak lelah?"
"Tidak, aku bahkan tidak punya kegiatan selama kau pergi. Aku hanya tidur dan merapikan beberapa pakaian saja. Sedangkan yang lainnya sudah dikerjakan oleh para pelayan tadi," jelas Jessica.
"Baiklah. Lakukan saja, tapi jangan sampai kau lelah atau sampai sa....."
"Tidak akan sakit, Sayang. Aku hanya membersihkan kamar, tidak mungkin akan lelah dan sampai sakit," potong Jessica.
"Baiklah. Aku lupa, aku punya sesuatu untukmu, tunggu di sini!" Aldy melepas pelukannya lalu berlari keluar dari kamar.
5 menit kemudian. Aldy kembali sambil membawa sebuah bingkisan. Ia menyerahkan bingkisan itu pada Jessica.
"Apa ini?"
"Buka saja, tapi kau harus memakainya! Berjanjilah!" Aldy menatap Jessica sambil tersenyum miring.
"Aku akan membukanya terlebih dahulu, baru akan berjanji untuk memakainya," jawab Jessica membalas senyum licik Aldy.
"Tidak boleh, berjanji dulu, baru kau boleh membukanya!"
"Baiklah, janji." Jessica mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Aldy lalu tersenyum kecut.
Jessica membuka bingkisan itu sambil menebak-nebak apa isinya. Saat sudah terbuka dan melihat isinya. Jessica langsung menatap wajah Aldy yang sudah bersinar, itu artinya dia menang dan berhasil menjahili Jessica.
"Kutarik janjiku! Aku tidak mau memakai ini, Sayang. Kau saja yang pakai!" Jessica menatap lingerie berwarna hitam pekat di tangannya, lalu melempar lingerie itu ke arah Aldy.
"Aku bisa masuk angin dan kedinginan memakai pakaian itu, kau tidak kasihan padaku?!" lanjut Jessica dengan wajah yang ditekuk masam, semasam-masamnya.
Aldy memungut lingerie yang tergeletak di dekat kakinya lalu melangkah mendekati Jessica.
"Kau tidak akan kedinginan dan masuk angin, Sayang. Aku ada di sini, aku akan memelukmu hangat, tenanglah, kau akan baik-baik saja," ucap Aldy penuh rayu.
__ADS_1
Pria itu terus membujuk Jessica agar Jessica mau memakai lingerie yang ia berikan. Dan pada akhirnya, Jessica lah yang mengalah, dan menuruti kemauan Aldy yang tidak bisa dibantah oleh siapapun itu.
Bersambung.....