
Sesuai yang ia katakan pada Aldy sore tadi. Jessica dan Jack sudah sampai di rumah sakit kota. Keduanya masuk untuk melihat keadaan Naomi.
Sayangnya, Naomi masih terbaring lemah dengan mata yang masih terpejam.
"Bibi, Audi datang lagi. Bukalah matamu, Bi." Jessica menatap lekat-lekat wajah pucat Naomi.
Wajah Naomi mengingatkan Jessica pada Ibunya. Jessica mengelus pipi Naomi pelan. Bayangan Ibunya sungguh jelas di wajah pucat itu.
"Bibi, bangunlah! Anak-anak membutuhkanmu. Kumohon, bangunlah, Bi." Jessica terus mengelus pipi Naomi. Berharap wanita itu merasakan sentuhan tangannya dan membuka matanya.
"Bibi tidak lelahkah tidur terus?" Jessica melirik Jack sekilas, ia kembali menatap wajah pucat Naomi.
"Baiklah, Bi. Audi akan menemani Bibi di sini."
"Jack, kau pulanglah! Kak Jess akan tetap di sini, menemani Bibi Naomi." Jessica menatap Jack. Ia tau, Jack pasti tidak akan membiarkannya sampai menginap di rumah sakit. Ditambah lagi kondisi ruangan yang ditempati Naomi tidak luas dan tidak nyaman.
"Kita makan malam dulu, ya, Kak." Jack membalas tatapan Jessica. "Ayo! Kak Jess tidak boleh lemah, apalagi sampai tidak makan." Jack menarik tangan Jessica, mengajak wanita itu untuk keluar dari ruang rawat Naomi.
Keduanya tidak mampir ke kafe atau restoran. Jessica mengajak Jack untuk makan bakso di pinggir jalan dekat rumah sakit kota. Ia tidak ingin ke kafe karena jarak kafe sangat jauh dari rumah sakit kota.
"Kita makan di sini saja, kau setuju?" Jessica duduk di sebuah kursi kayu panjang lalu disusul oleh Jack yang duduk di sampingnya.
Jack menatap sekitar, "Bersih."
"Ya, Kak Jess tidak mungkin mengajakmu makan di tempat kotor!" Jessica memesan bakso biasa, ia melirik Jack sekilas.
"Kau mau bakso apa?" tanyanya.
"Aku sama seperti Kak Jess saja," jawab Jack sambil mengeluarkan Hpnya.
"Kak Aldy menanyakan Kak Jess. Kenapa Hp Kak Jess tidak dapat dihubungi?" Jack melirik Jessica dengan senyum curiga.
"Ini." Jessica menggoyangkan Hpnya yang mati di depan wajah Jack. "Mati, Kak Jess lupa mengecasnnya."
"Permisi, Mbak, Mas. Ini pesanannya." Seorang laki-laki meletakkan dua mangkuk bakso di atas meja. Jack tersenyum lalu mengambil kedua mangkok itu, ia meletakkan satu di depan Jessica dan satu lagi depannya.
"Makanlah." Keduanya makan dengan tenang. Sesekali Jack melirik Jessica. Ia tersenyum ketika melihat Jessica yang sedang mengunyah baksonya.
__ADS_1
"Jangan lirik Kak Jess seperti itu!" Jessica membuka tutup botol mineral, meminumnya sampai setengah.
"Hehehe, aku senang wanita seperti Kak Jess." Jack ikut membuka air minumnya. Ia kembali meletakkan botol itu setelah meminum setengah isinya.
Keduanya kembali menuju rumah sakit. Jessica meminta Jack untuk pulang, namun Jack tidak langsung pulang, ia menukar Hpnya dengan Hp Jessica.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu, Kak," ucap Jack sebelum keluar dari ruang rawat Naomi. Jessica hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Pasti Aldy yang memintanya," gumam Jessica. Jessica keluar dari ruang rawat Naomi, ia berjalan menuju toilet umum.
Serigala Betina itu menunduk ketika melewati ruang rawat lain. Orang-orang di depan ruangan itu terlihat begitu cemas, mengintip lewat jendela kaca untuk melihat keadaan di dalam ruangan.
Ada juga yang teriak histeris ketika mendengar kabar buruk tentang keluarga mereka yang berada di dalam sana.
Jessica mempercepat langkahnya. Ia segera mencuci tangan dan wajahnya ketika sampai di toilet umum.
"Kasian sekali mereka," gumam Jessica saat baru saja keluar. Pandangannya tertuju pada dua anak kecil yang duduk sambil menangis dengan pakaian yang tidak karuan. Jessica ingin mendekat, namun langkahnya terhenti karena tidak enak pada wanita hamil yang duduk di samping kedua anak itu.
Akhirnya, Jessica memutuskan untuk kembali ke ruang rawat Naomi.
Sekitar jam 11 malam. Naomi membuka matanya dan mendapati Jessica yang tidur di samping ranjangnya dengan posisi yang sangat tidak nyaman.
Beberapa menit kemudian, Naomi kembali tertidur dengan tangan yang menempel pada punggung tangan Jessica.
_____________
Jam 05.57 Jessica terbangun karena mendengar nafas Naomi yang tidak beraturan. Saking paniknya, Jessica berlari dan berteriak memanggil Dokter.
Para Dokter masuk ke dalam ruang rawat Naomi, mereka meminta Jessica untuk keluar dan menunggu di luar saja.
Jessica keluar dengan langkah yang begitu berat. Kini, ia yang mengintip dari jendela kaca, sama seperti yang ia lihat tadi malam.
Jessica ingin menangis saat melihat Naomi menghembus nafas terakhirnya. Para Dokter saling menatap satu sama lain, mereka melihat ke arah Jessica dengan raut wajah yang tidak bisa Jessica artikan lagi.
Jessica ambruk, ia bersandar pada dinding ruangan. Memeluk lututnya dan menangis dalam diam.
Sebuah tangan kekar menyentuh lutut Jessica. Ia berjongkok lalu menarik Jessica dalam pelukannya.
__ADS_1
Jessica menatap wajah tampan yang mendekapnya, pria itu tersenyum menguatkan Jessica. Ia mengelus kepala Jessica lalu kembali mendekap wanitanya.
Jessica menahan isak tangisnya. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Aldy. Pria itu datang bahkan tidak perduli waktu, demi Jessica.
"Aku merasakannya lagi." Aldy semakin mempererat pelukannya. Ia mengelus kepala Jessica, membiarkan wanita itu melepas semua bebannya saat ini.
"Kau tidak sendiri, aku, Ibu, Kamila dan Jack masih ada untukmu." Aldy melepas Jessica dari dekapannya. Ia menyeka butiran bening yang mengalir dari mata wanita itu.
"Kau bisa, kau kuat!" Aldy menatap mata Jessica. "Tuhan tidak akan mengujimu melebihi kemampuanmu." Ia tersenyum, mencoba untuk menguatkan wanitanya yang sedang rapuh.
Sekilas, Jessica tersenyum tipis. Ia pun menyeka air matanya. "Kau benar, aku tidak boleh cengeng. Aku juga harus menguatkan orang lain nantinya."
Aldy merapikan ikatan rambut Jessica. Ia tersenyum tipis dengan mata yang terus memandang Jessica.
"Dokter, bisakah kami masuk?" ucap Aldy pada seorang Dokter yang baru saja keluar dari dalam ruang rawat Naomi.
Dokter itu tersenyum tipis lalu mempersilahkan Aldy dan Jessica untuk masuk.
"Bibi, kau sangat rindu dengan Ibu, ya? Kau ingin bertemu dengannya? Sampaikan salamku pada Ibu, aku merindukannya," gumam Jessica lirih. Ia menatap wajah pucat Naomi yang sudah ditutupi oleh kain putih.
Jessica mengangkat kain itu. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Naomi lalu mengecup kening Naomi lembut. "Istirahatlah, Bi. Kau yang tenang di sana."
Jessica melirik Aldy sekilas, Ia kembali menutup wajah Naomi dengan kain putih itu. Jessica menjauh, ia menghubungi Jack agar pria itu membawakan Hpnya.
Tidak butuh waktu lama, Jack datang dengan wajah yang begitu cemas. Ia menatap ke arah Aldy dan Jessica.
"Ini, Kak." Jack menyerahkan Hp Jessica. Ia beralih menatap seorang wanita yang sudah tidak bernyawa di atas ranjang rumah sakit itu.
"Kak Jess." Jack menatap mata Jessica, mata dan pipi Jessica mengisyaratkan wanita itu sudah menangis. Ia beralih menatap Aldy.
"Dia kuat, Jack. Kau jangan khawatir," bisik Aldy.
Ia menyuruh Jack untuk tidak khawatir pada Jessica, tapi dirinya? Justru Aldy-lah orang yang paling khawatir saat ini. Namun ia berusaha untuk tenang di hadapan Jessica dan Jack.
Jessica menghubungi beberapa orang, meminta mereka untuk mengurus pemakaman Naomi nantinya.
Jessica, Aldy dan Jack meninggalkan rumah sakit. Aldy mengantar Jessica untuk mengurus pemakaman Naomi dan menemui anak-anak yang selama ini Naomi urus.
__ADS_1
Mereka menangis sejadi-jadinya ketika mendengar kabar tentang kepergian Noami. Jessica memeluk dan menenangkan mereka, padahal dirinya juga butuh semangat dan juga ketenangan saat itu.