Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 11 Februari


__ADS_3

11 Februari, tepatnya satu minggu setelah kepergian Naomi.


Akhir pekan tiba, seperti biasa, Jessica pergi untuk melatih dan membantu persiapan ujian untuk sabuk hijau.


Mereka menyambut bimbingan Jessica dengan senang hati. Latihan pagi itu lancar tanpa hambatan sedikit pun.


Sepulang dari latihan. Jessica langsung bersiap karena sudah membuat janji dengan seseorang, dan Aldy akan menemani Jessica siang itu.


Jessica berpakaian seperti biasa, rambutnya ia ikat tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah. Ia mengenakan jaket hitam dan baju kaos berwarna abu polos.


Jessica memang selalu mengenakan jaket dan kaos lengan pendek setiap harinya, wanita itu merasa lebih nyaman dengan pakaian seperti itu.


Jessica berjongkok untuk memakai sepatunya. Ia tersenyum ketika melihat mobil Aldy sudah terparkir di depan gerbang kontrakannya.


"Sudah lama?" tanya Jessica dengan wajah yang berseri.


"Tidak, aku baru saja sampai. Ayo, silahkan masuk, Edelweiss-ku." Aldy membukakan pintu mobil untuk Jessica. Jessica hanya tersenyum lalu masuk ke dalam mobil, duduk di samping kursi pengemudi.


"Sebenarnya mau kemana, umm?" Aldy menyalakan mobil, melajukannya menuju jalan raya.


"Aku akan ke panti, aku ingin bertemu anak-anak, itu saja." Jessica mengeluarkan Hpnya. Ia terlihat seperti sedang membaca sesuatu yang sangat penting.


Aldy melirik sekilas, "Apa ada masalah?"


"Sedikit," jawab Jessica sambil memasukan Hpnya ke dalam kantong jaket.


"Katakan apa masalahnya?" Aldy menatap Jessica karena lampu lalu lintas berwarna merah di depan sana.


Jessica memejamkan matanya, tidak sanggup mengatakan masalah yang sebenarnya. "Anak-anak banyak yang keluar secara diam-diam. Mereka mengemis di jalan raya, aku tidak tau, apa yang menyebabkan mereka melakukan hal itu. Aku sudah meminta para pengurus untuk mengawasi mereka. Tapi, mereka tetap saja melakukan hal itu."


Aldy mengerutkan dahinya. Terdengar begitu aneh di telinga Aldy. Anak-anak berumuran 7-10 tahun mengemis?


Aldy kembali melirik Jessica yang masih memejamkan matanya. Ia menghembuskan nafas pelan.


"Kau yang kuat, ya. Aku yakin kau bisa menyelesaikan masalah ini, Edelweiss-ku," gumam Aldy.


Setengah jam perjalanan. Mereka sampai di daerah kumuh yang terletak jauh dari kota. Aldy keluar terlebih dahulu. Ia membukakan pintu untuk wanitanya.


Keduanya berjalan berdampingan. Aldy mengawasi sekitar. Ia bisa melihat orang-orang suruhannya yang sedang mengawasi dia dan Jessica.


Aldy dan Jessica berdiri di depan panti asuhan yang bercat hijau. Bangunan itu terlihat begitu sederhana, namun bersih dan nyaman.

__ADS_1


Seorang wanita paruh baya keluar, ia menyambut Aldy dan Jessica dengan wajah yang begitu gembira.


Jessica mengedarkan pandangannya. Ia melihat sekelompok anak kecil yang sedang duduk di teras sambil belajar membaca dan menggambar.


"Mari, masuklah, Nona Audi," ucap wanita itu. Ia membawa Aldy dan Jessica menuju ruang tamu berukuran kecil.


Wanita itu mulai menceritakan masalah sebenarnya pada Jessica. "Setelah kepergian Naomi, ada beberapa orang preman datang ke sini, mereka meminta kami untuk melepaskan anak-anak ini pada mereka. Tentu, aku dan yang lainnya bersikeras untuk mempertahankan mereka semua. Dan salah seorang dari preman itu memukuli." Wanita itu menujukan bekas pukulan di bagian lengannya.


"Anak-anak tidak tega padaku, mereka secara diam-diam untuk keluar dan menemui para preman itu. Mereka rela mengemis untuk menyetor uang kepada laki-laki tidak berontak itu," sambungnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kenapa tidak memberitahuku lebih awal?" tanya Jessica dengan wajah yang begitu dingin.


Wanita itu menggeleng, "Aku tidak bisa, mereka semua menutup setiap gang. Kami tidak bisa keluar untuk menelponmu," jawabnya jujur.


Aldy dan Jessica menahan nafas mereka. Keduanya sama-sama terbakar emosi saat ini.


Setelah mendengar penjelasan, Aldy dan Jessica keluar untuk mencari bukti lebih. Mereka ingin melaporkan kasus ini pada pihak yang berwajib.


Jessica meminta Aldy untuk melewati jalan yang berbeda. Jalanan itu memang terlihat ramai tapi jalan ini bukan jalan raya.


Jessica dan Aldy keluar. Keduanya mengamati sebuah gubuk yang dipenuhi oleh wanita dan pria yang sudah tidak berotak.


Gadis kecil itu terus berlari ke arah Jessica di seberang sana. Jessica pun ikut berlari ke arahnya karena sebuah mobil hendak menabrak tubuh gadis kecil itu.


"Bibi...," teriak gadis itu ketika Jessica mendekapnya dan menyelamatkannya dari mobil tadi.


Aldy menahan nafasnya, hampir saja wanitanya dalam bahaya. Belum selangkah Aldy mendekati Jessica.


Tiba-tiba sebuah mobil hitam berkecepatan tinggi melaju ke arah Jessica dan gadis kecil itu.


"Awas Jess!!!!" Jessica menoleh dan mendekapnya gadis kecil itu. Ia mengambil langkah mundur namun,


Braak....


Tubuh Jessica melayang dengan gadis kecil yang masih dalam pelukannya. Jessica sadar, ia hendak melindungi kepalanya, sayangnya, ia lebih mementingkan gadis kecil itu, Jessica melindungi tubuh gadis itu agar tidak bersentuhan dengan aspal jalan.


Mata Jessica terasa begitu berat, ia memejamkan matanya dengan tubuh yang sudah berlinang darah.


Aldy masih mematung, ia mengerjapkan matanya tidak percaya. Aldy berlari ke arah Jessica dengan sejuta rasa bersalah.


Ia menatap wajah Jessica yang sudah dipenuhi oleh darah. Tanpa aba-aba, semua orang suruhan Aldy mendekat. Mereka langsung mengambil tindakan, mereka menyebar untuk menangkap si pelaku.

__ADS_1


Mobil ambulance melaju dari arah yang sama. Jessica dan gadis kecil itu dibawa menuju rumah sakit terdekat.


Sementara Aldy, ia ikut masuk ke dalam ambulance. Mobilnya sudah diurus oleh beberapa orang suruhannya tadi.


_________________


Rumah Sakit


Penampilan Aldy sudah tidak karuan. Rambutnya berantakan, baju dan jaketnya dipenuhi darah dari Jessica. Ia duduk lalu berdiri, begitu seterusnya.


Aldy mengutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia gagal menjaga wanitanya.


"Aldy." Ibu, Kamila dan Ken mendekat ke arah Aldy. Ketiganya langsung meluncur setelah mendapat kabar buruk tentang Jessica.


Mata Kamila sudah tidak berbentuk lagi, ia menangis dari rumah sampai ke sini. Gadis itu memeluk Ibu, ia tidak kuat dengan kenyataan yang pedih ini.


"Kak Jess." Isak tangis Kamila terus terdengar, kini ia tenggelam pada dada bidang Kakaknya.


"Ila, kau kekuatan Kakak. Berhentilah menangis, Kakak tidak kuat mendengarnya." Aldy mengecup lembut kening adiknya.


Kamila mendongak dengan air mata yang masih mengalir, membasahi pipinya. Aldy menyeka air mata berharga adiknya itu.


"Jangan nangis lagi, kau berdoalah untuk Jessica. Doakan yang terbaik untuknya!"


Malam mulai tiba, Ken, Keisha dan Jack datang lagi. Ken membawakan baju ganti dan juga makanan untuk Aldy, Ibu dan Kamila.


Aldy dan Kamila tidak pernah memakan sesuatu. Keduanya terus mengintip keadaan di dalam sana. Jessica masih terbaring lemah dengan begitu banyak alat yang menempel di tubuhnya. Dan Dokter juga tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke dalam sana untuk sementara waktu.


"Maaf, aku tidak bisa menjagamu, maafkan aku," gumam Aldy. Pria itu terus mendoakan yang terbaik untuk Jessica. Ia menempelkan telapak tangannya pada dinding kaca itu. Butiran bening mengalir dari mata tajamnya.


Ken dan Keisha saling menatap, keduanya dapat merasakan kesedihan yang begitu dalam pada diri Aldy.


Sedangkan Ibu dan Kamila sudah dibawa pulang oleh Jack. Aldy meminta dua wanita itu untuk istirahat, sedangkan ia sendiri tidak pernah istirahat ataupun makan sejak tadi.


Jauh di sebuah ruangan. Hendra meninju dan menendang samsak dengan sekuat tenaga. Ia mengamuk sejadi-jadinya.


"Pria kaya itu memang membawa sial dalam hidupmu, Jess." Hendra terus meninju samsak itu sekeras-kerasnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan membiarkan Jessica terluka atau sakit untuk yang kesekian kalinya.


"Aku mungkin bisa menghapus perasaanku padamu, namun tidak dengan janjiku pada Ibu untuk menjaga dan melindungimu seperti adikku sendiri." Hendra menendang samsak itu sampai seluruh tembok ruangan bergetar. Ia terjatuh karena tidak bisa mengontrol emosinya. "Sial......."


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2