
Jessica dan Juan sibuk memeriksa semua keperluan untuk perlombaan hari ini. Keduanya memastikan semua peserta lomba sudah siap dan sudah sarapan sebelum berangkat menuju perlombaan yang di gelar di gedung olahraga di kota itu.
"Kalian sudah siap?" tanya Jessica pada remaja-remaji yang berbaris rapi di depannya. Mereka mengangguk lalu meraih tas mereka. Masuk ke dalam bus dengan teratur.
"Ah, aku duduk di sini, ya, Zii?" Zen melirik kursi kosong di sebelah Zia, gadis itu tidak menjawab dia hanya mengangguk pertanda membolehkan Zen duduk di sana.
"Zii," panggil Arfan yang duduk di kursi belakang Zia. Zia berdiri lalu memutar tubuhnya menghadap Arfan, "Ada apa?"
"Aku tadi melihat Kak Hendra, apa kau juga melihatnya?" tanya Arfan memastikan kalau ia benar-benar melihat sosok Hendra tadi.
Mahendra atau lebih akrab sapa Hendra, pria yang berusia 26 tahun itu adalah anak bungsu dari Guru tercinta mereka, Hendra baru saja pulang dari luar kota, ia mengikuti perlombaan tingkat nasional tahun ini dan berhasil meriah piala dan mendali emas.
"Aku tidak melihatnya, apa kau melihatnya, Zen?" tanya Zia pada Zen yang sedang sibuk membaca buku panduan di tangannya.
"Kak Hendra maksudnya? Aku dan Bagas tadi bertemu dengannya di rumah Guru." Zen menutup bukunya lalu menatap Arfan, keduanya memikirkan hal yang.
Zen berdiri lalu membukuk, "Apa Kak Hendra masih mencintai Kak Jessica?" bisiknya pada Arfan. Arfan diam lalu melirik Zia.
"Menurutmu Kak Jessica mencintai Tuan Aldy atau tidak? bisik Arfan pada Zia. Gadis itu membeku, ia mulai faham apa yang dipikirkan oleh kedua temannya ini.
"Apa yang kalian diskusikan, bus akan jalan, duduklah dengan rapi," ucap Jessica yang baru masuk ke dalam bus. Zen berdiri lalu kembali duduk di samping Zia, keduanya menatap Jessica dengan pemikiran yang sama.
"Aku harap semua akan baik-baik saja kedepannya," bisik Zen pada Zia. Zia mengangguk, "Aku harap begitu."
Jessica kembali mengecek peserta lomba, memastikan semuanya sudah naik ke dalam bus, "Sudah lengkap, tapi dimana Juan?"
Jessica mengedarkan pandangannya mencari si kulit putih Juan, sayangnya pria itu tidak ada di dalam bus. "Huh, kemana dia, menyusahkan orang saja." Jessica turun lalu mencari Juan ke dalam perguruan.
Pria itu terlihat sedang bicara serius dengan seorang pria bertubuh tinggi dan tegap, Jessica melebarkan matanya, memastikan dia tidak salah melihat orang.
"Ah, sejak kapan Kak Hendra pulang?" Jessica berlari masuk ke dalam bus setelah melihat Juan dan Hendra mengakhiri percakapannya.
"Kak Jess, aku duduk di sini, ya," ucap Juan sambil menunjuk kursi kosong di samping Jessica. "Hmmm, duduklah," jawab Jessica namun matanya fokus pada layar Hp di tangannya.
"Senior Hendra menitip salam untuk Kak Jess," ucap Juan ragu, pria itu bahkan mengalihkan pandangannya agar tidak menatap mata tajam milik Jessica.
"Hmmm," jawab Jessica yang masih sibuk dengan Hpnya, ia melirik ke arah Juan lalu menepuk pundak pria itu pelan, "Kau sebenarnya ada untuk siapa, hah?" tanya Jessica sambil mendaratkan tepukan yang cukup keras di pundak Juan.
"Ah, sakit, Kak," keluh Juan lalu menepis tangan Jessica, "Aku hanya menyampaikan salam saja, aku tetap mendukung Kak Aldy, sumpah," sambungnya.
Jessica diam, pikirannya entah melayang kemana, ia bahkan tidak sadar kalau Hp di tangannya sudah jatuh dan tergeletak di bawah kakinya.
Juan memungut benda tipis itu, meletakkannya di atas tas Jessica. "Kak Jess," panggilannya setelah bus melaju menuju jalan raya.
__ADS_1
Jessica sadar, ia mencari benda tipis di tangannya tadi, "Hpku mana, Juan?" tanya pada Juan.
"Ini, Kak." Juan memberikan Hp itu pada Jessica, "Tadi terjatuh," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa dia akan datang ke perlombaan?" tanya Jessica serius. Juan terlihat berpikir, pria itu belum mengerti siapa yang dimaksud Jessica.
"Kak Hendra, apa dia akan datang?" Jessica memperjelas maksudnya. "Ah, tentu. Senior akan datang untuk memberi dukungan pada anak-anak," jawab Juan. Pria itu terus menggaruk kulit kepalanya walau tidak merasakan gatal di bagian itu.
"Baguslah." Jessica menyadarkan kepala, memejamkan matanya, berusaha menikmati perjalanan ini.
30 Menit kemudian, mereka sampai di sebuah gedung olahraga yang menjulang tinggi itu. Semua masuk dengan teratur, Zia dan Zen berjalan di belakang Jessica, membantu wanita itu untuk mengontrol yang lainnya.
Hari ini, hari pembukaan lomba, perlombaan akan di mulai besok, tepatnya hari Minggu dan akan berakhir pada hari Kamis.
Semua masuk ke dalam ruangan yang sudah disiapkan untuk masing-masing perguruan. Mereka meletakkan tas, mengambil baju putih polos itu lalu memakainya.
Jessica dan Juan sudah sampai di aula terlebih dahulu, sudah banyak murid dari Dojo lain di sana. Mereka terlihat begitu antusias menyambut kedatangan para senior yang akan menemani mereka ketika lomba dilaksanakan.
Semua berbaris rapi, memberi salam hormat pada seorang pria bertubuh tegap dan tinggi yang akan memimpin pemasaran pagi itu. Mata pria itu sangat tajam, ia bisa mengontrol ratusan orang di depannya.
Pemanasan ditutup dengan lari keliling lapangan sebanyak 50 kali putaran. Bagas dan Arfan mengatur nafas mereka, keduanya duduk bersandar di dinding bercat putih itu.
"Lomba tahun ini cukup menantang, tahun kemarin tidak seseru dan semenantang," ucap Bagas pada Arfan. Laki-laki itu hanya mengangguk lalu meluruskan kakinya.
"Kurasa semangatku mulai bertambah sekarang," timbal Bagas setelah melihat Hendra datang lengkap dengan baju dan juga sabuk hitam tebalnya.
"Satu yang kurang, senior Ken. Apa dia tidak akan datang?" Arfan memang cukup dekat dengan Ken, ia termasuk salah satu murid yang mengidolakan senior dingin itu.
"Senior Ken pasti datang, tapi tidak sekarang. Mungkin besok, besok,kan hari Minggu. Senior pasti banyak yang akan datang," jawab Bagas menyemangati teman seperjuangannya itu.
Arfan tersenyum lalu berdiri, ia berjalan mendekati Zia dan yang lainnya. Bagas pun berdiri lalu menyusul langkah besar Arfan.
"Kenapa masih berkumpul di sini?" tanya Jessica pada sekumpulan remaja yang masih meluruskan otot-ototnya itu.
"Hehehe, 5 menit lagi, janji," jawab Zia mewakili semua yang duduk di sampingnya. Jessica menghembuskan nafas pelan, ia juga merasa kelelahan setelah berdiri dan mendengar instruksi dari panitia lomba tadi.
"Baiklah," ucap Jessica lalu ikut duduk dengan kerumunan remaja itu. Semua bergeser, memberi ruang yang lebih luas untuk Jessica duduk.
"Kalian dengar baik-baik, Kak Jess akan tetap di belakang kalian, menang atau kalah itu tidak penting. Yang terpenting, kalian sudah memberikan yang terbaik untuk perguruan dan untuk kami yang sudah membimbing kalian," ucapnya sambil menatap satu persatu dari peserta lomba itu. Mereka tersenyum, "Kami akan membawa hasil yang jauh lebih banyak dari tahun kemarin," jawab Zen semangat.
3 tahun terakhir ini, mereka selalu membawa piala kebanggaan untuk perguruan. Tahun lalu, Zia bahkan menyumbang dua piala sekaligus, gadis itu juga sudah memiliki begitu banyak koleksi mendali emas dan perak di lemarinya. Zia dan Zen memang pasangan favorite, keduanya sama-sama lincah dan kuatnya. Namun Zia jauh lebih dominan dibandingkan dengan Zen. Zen juga tidak kalah hebatnya dengan gadis itu, tahun lalu ia meraih dua mendali emas dan satu perak. Dalam catatan sejarahnya, ia tidak pernah mendapatkan perunggu ketika mengikuti lomba tiap tahunnya.
"Apa aku boleh bergabung." Seorang pria dengan wajah tampan dan lesung pipinya duduk tepat di samping Jessica. Jessica menggeser tubuhnya, mepet dengan tubuh Zia. Zia yang mengerti dengan kondisi Jessica ikut bergeser agar Jessica nyaman.
__ADS_1
"Kak Hendra," panggil Zia. Gadis itu mundur agar bisa melihat wajah Hendra yang terhalang oleh tubuh tegap Jessica.
"Hai, Zii," sahut Hendra sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Zia.
"Kak Hendra sudah janji akan memberiku cokelat,kan jika Kak Hendra pulang." Zia berdiri setengah membungkuk lalu duduk di samping kanan Hendra.
Hendra menarik rambut Zia yang terikat rapi, "Kau selalu menagih rupanya, tidak pernah berubah."
"Baiklah, 5 menit sudah berlalu. Sekarang masuk dan siapkan diri kalian untuk latihan bersama nanti siang," ucap Jessica lalu berdiri, wanita itu bahkan tidak pernah menatap wajah pria yang duduk di sampingnya tadi.
"Serigala Betina itu masih galak rupanya," gumam Hendra lalu ikut berdiri dan memerintahkan murid-muridnya itu untuk istirahat dan bersiap-siap.
__________
Malamnya, Jessica merapikan ruangan, memberi sekat pembatas untuk wanita dan pria. Ia merapikan tas-tas yang menumpuk menjadi satu itu, "Kau sudah selesai?" tanyanya pada Zia yang baru saja masuk ke dalam ruangan dengan handuk yang masih menempel di kepalanya.
"Antriannya sangat panjang, Kak. Tahun ini pesertanya cukup banyak, berbeda dengan tahun kemarin," jawab Zia sambil mengoleskan lotion di tubuhnya.
"Baguslah, lebih banyak saingan maka lebih menantang." Jessica membuka ikat rambutnya, menyisir dengan pelan rambut lurusnya itu.
"Zii, senior Mahendra mencarimu," panggil seorang gadis manis yang mengenakan baju berwarna pink polos itu. Zia menoleh lalu mengikat rambut, ia berjalan ke luar dari ruangan.
Zia berjalan menuju aula, diikuti oleh si manis berbaju pink tadi. "Zia datang," ucapnya setelah berdiri di samping Hendra.
"Ah, kau dari mana saja, Kakak sudah lama mencarimu." Hendra memberikan dua batang cokelat pada Zia. "Ambillah, ini tebusan untuk janjiku beberapa bulan yang lalu," ucapnya dengan senyum manis, menampakkan lesung pipinya.
"Terimakasih, Kak." Zia menatap dua batang cokelat panjang itu, "Ini untukku semua?" tanyanya.
"Iya, untukmu." Hendra menarik rambut Zia yang terikat rapi lalu meninggalkan gadis itu. Ia kembali setelah beberapa menit dengan dua batang cokelat di tangannya, "Titip untuk Jessica," ucapnya sambil memberikan cokelat itu pada Zia.
Zia diam, ia menatap laki-laki berusia 26 tahun yang ia sudah anggap seperti kakak kandungnya sendiri. "Baiklah, Kak." Zia tersenyum lalu kembali ke dalam ruangan.
Zia menatap Jessica yang sedang berbaring sambil memainkan Hpnya, ia mendekat lalu duduk di samping Jessica.
"Kak Jess," panggilnya lalu memberikan dua batang cokelat panjang itu pada Jessica, Jessica melirik dan meletakkan Hpnya.
"Dari siapa?" Jessica bangun, agar bisa bicara dengan Zia lebih nyaman. "Hmmm, anu...dari Kak Hendra," ucap Zia. Gadis itu bahkan tidak berani menatap mata Jessica.
Jessica mengambil cokelat itu, membukanya lalu berteriak memanggil yang lain. "Makanlah, jangan malu-malu," ucapnya pada kerumunan remaja itu. Zia tersenyum, ia tau kalau Jessica memang selalu menghargai pemberian orang, tidak pernah menolak walau sebenarnya ia tidak nyaman dengan pemberian itu.
"Aku memang tidak salah mengidolakan Kak Jess," gumam Zia lalu memasukkan sepotong cokelat kecil ke dalam mulutnya. Ia menatap Jessica yang menggigit cokelat itu sedikit demi sedikit, sangat terlihat kalau Jessica memang tidak berniat untuk memakannya, tapi ia terpaksa karena merasa tidak enak pada Zia dan juga si manis berbaju pink yang menatapnya sejak tadi.
Bersambung....
__ADS_1