Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Terimakasih Dan Maaf


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Jessica belum tertidur juga. Ia menatap ke arah Hpnya yang baru saja mati, hampir dua jaman ia mendengar Aldy mengoceh tadi. Pria itu terus menghubungi Jessica tiap jam. Menanyakan kabar Jessica.


"Kenapa dia seperti ini sekarang?" Jessica meraih benda tipis di atas meja itu, ia menyalakannya. Membuka log panggilan lalu menghitung berapa kali Aldy menghubunginya hari ini.


"Dua puluh empat kali? Huh, memangnya aku akan pergi kemana? Sampai kau terus menanyakan kabarku seperti ini." Jessica memasukkan benda tipis itu ke dalam saku celananya.


Ia memakai jaket berwarna cokelat yang tergantung di belakang pintu kontrakannya.


"Sedikit jalan-jalan malam pasti seru," ucapnya tanpa perduli jam sudah menunjukan setengah sepuluh malam.


Jessica memakai sandalnya, ia mengunci pintu dan gerbang kontrakan lalu berjalan dengan santai.


Beberapa orang menyapa Jessica ketika melewati mereka, Jessica hanya tersenyum tipis. Ia kembali berjalan di temani gelapnya malam.


Langkahnya semakin jauh. Sebelumnya ia mampir untuk membeli minum dan permen karet. Jessica kembali melangkah, ia bahkan sudah sangat jauh dari daerah kontrakannya.


"Lepaskan aku!"


"Tolong........."


Jessica berhenti, ia kembali memperjelas apa yang ia dengar tadi. Jessica menatap lurus jalanan di depannya.


"Tidak ada siapa-siapa, namun dari mana suara tadi? Aku yakin, aku mendengar itu." Jessica memundurkan langkahnya, ia menoleh ke arah jalanan sepi di pertigaan sana.


Jessica mempercepat langkahnya ketika melihat seorang wanita diganggu oleh dua orang pria yang sedang mabuk.


"Lepaskan dia!" Jessica melempar botol minuman di tangannya, botol itu mengenai kepala salah satu dari kedua pria itu.


Pria berambut pirang itu menoleh, sedangkan temannya masih mencengkeram lengan wanita malang itu.


"Lepaskan!" teriak Jessica sambil membuang permen karet yang ia kunyah sejak tadi.


Kedua pria itu saling menatap, "Siapa kau?"


"Lepaskan dia!" Jessica menatap wanita itu, matanya semakin melebar setelah menyadari siapa wanita itu sebenarnya.


"Lepaskan dia!" teriak Jessica yang sudah sampai pada puncak kemarahannya.


Kedua pria itu tidak bergeming, "Kau ingin wanita ini? Serahkanlah dirimu sebagai gantinya," ucap si rambut pirang.


Mereka melepaskan lengan wanita itu, spontan wanita itu berlari ke arah Jessica. Ia bersembunyi di balik punggung tegak Serigala Betina itu.


"Diamlah di sini," ucapnya Jessica. Ia menarik nafas panjang.


"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Jessica pada kedua pria yang sedang kehilangan kesadarannya itu.


"Temani kami," jawabnya sambil tersenyum merendahkan.

__ADS_1


"Oh, menemani kalian? Baiklah." Jessica mendekat, tangannya masih tersimpan rapi di dalam saku celananya.


"Aaaaaa..." teriak si rambut pirang saat satu tendangan keras mendarat di area intinya.


"Kau juga mau?" Jessica memberikan hadiah yang sama pada teman si rambut pirang.


Keduanya bangkit dengan tangan menempel di area inti mereka. Si rambut pirang mendekat, tangannya melayang cepat ke arah wajah Jessica.


"Aaaaaa..." teriaknya lagi ketika Jessica memutar tangannya full sampai badannya mengikuti arah putaran Jessica. Dengan satu ayunan, Jessica membanting tubuh pria itu ke aspal jalan. Ia kembali berteriak ketika tulang-tulangnya bersentuhan dengan aspal.


"Ayo, bangun. Bukankah kau ingin aku menemanimu? Dan kau! Kenapa menjauh, mendekatlah, aku akan bermain dengan rapi." Jessica melangkah, mendekati teman si rambut pirang. Pria itu terus mundur, kepalanya terasa begitu berat akibat pengaruh alkohol yang ia minum.


Belum sempat Jessica memberinya hadiah, ia sudah terjatuh tidak berdaya di atas aspal, sama seperti si rambut pirang.


"Bocah! Usia kalian masih sangat muda, mau jadi apa jika di usia muda saja sudah mabuk berat seperti ini," gumam Jessica, ia melewati si rambut pirang yang sudah tidak sadarkan diri.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Jessica pada wanita malang yang tak lain adalah Zuanda.


"A-aku, aku tidak apa-apa. Terimakasih," jawab Zuanda dengan kepala menunduk dalam. Ia sangat malu jika harus menatap wajah Jessica.


"Sudahlah, ini sudah malam. Dimana mobilmu?" Jessica mengedarkan pandangannya, ia sama sekali tidak melihat mobil Zuanda di sekitar sini.


"Mobilku dibengkel, aku kemari untuk mengambilnya, tapi mereka menghalangi jalanku tadi," jelas Zuanda dengan kepala yang masih menunduk.


"Ayo, ikut aku. Aku akan mengantarmu pulang." Jessica mengulurkan tangannya. Zuanda menatap tangan Jessica, ia ragu untuk meraih tangan itu.


Sementara itu, Jessica mengajak Zuanda untuk membeli air minum terlebih dahulu.


"Kak Jess," panggil Jack. Ia turun dari motornya lalu berjalan ke arah Jessica dan Zuanda yang duduk di depan warung sederhana.


"Mana kunci? Pinjam sebentar." Jessica meraih kunci dan helm Jack. Ia menatap ke arah Zuanda.


"Kau bawa helm lagi?" tanya pada Jack.


Jack menganguk lalu menujuk helm di atas motornya. "Siapa, Kak?" Jack melirik Zuanda dengan ekor matanya.


"Kau tidak perlu tau," jawab Jessica sambil memasang helm dan membenarkan rambutnya.


Zuanda menatap Jessica, Serigala Betina itu bahkan sudah terlihat seperti seorang pria ketika sudah menaiki motor Jack.


Zuanda bingung, bagaimana cara memakai helm yang benar. Seumur hidupnya, ia tidak pernah naik motor. Dan ini untuk pertama kalinya.


Jack yang melihat itu membantu Zuanda, "Sama seperti Kamila saja," gumam Jack setelah helm itu sudah terpasang di kepala Zuanda.


Jessica menyalakan motor, ia menghampiri Zuanda dan Jack yang masih berdiri di depan warung.


"Naiklah, aku akan mengantarmu, jangan khawatir. Aku tidak akan melukaimu," ucapnya pada Zuanda.

__ADS_1


Zuanda menarik nafas panjang, jantung berdetak kencang ketika sudah duduk di atas motor itu.


Jessica menancapkan gas, motor hitam itu melesat dengan cepat. Jessica tidak bicara sepatah katapun, ia menatap lurus jalanan yang sudah sepi di depannya.


"Alamat?" tanya Jessica singkat.


"Pe-rumahan A-anggrek," jawab Zuanda dengan gugup.


Jessica kembali menancap gas, tidak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di depan gerbang rumah megah itu. Seorang satpam berjalan ke arah keduanya, ia mengerutkan dahinya ketika melihat Nonanya pulang tengah malam begini.


"Terimakasih." Zuanda menatap mata tajam Jessica.


"Sekali lagi, terimakasih. Dan maaf, maaf aku telah menyinggung perasaan hari itu," sambungnya dengan badan yang mulai bergetar.


Jessica tersenyum, "Sudahlah, aku sudah lupa dengan hal itu." Ia kembali mengenakan helmnya. Ia menganggukkan kepalanya pada Zuanda dan juga satpam yang masih terbengong itu.


Motor itu melesat degan kecepatan tinggi. "Balas dendam tidak akan memuaskan hatiku berbeda dengan tersenyum dan memaafkan, kedua hal itu jauh lebih baik bagiku," gumam Jessica.


Jessica menguasai jalanan yang sepi itu, ia semakin menambah kecepatannya saat motor itu memasuki daerah sekitar kontrakannya.


"Aku titip motor, ya, Kak Jess," ucap Jack ketika menelepon beberapa menit yang lalu.


Jessica memasukan motor itu ke dalam kontrakannya, ia membuka kunci kamar lalu menatap ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Mataku kenapa, ya? Sejak tadi tidak mengantuk-ngantuk," gumam Jessica dengan tangan yang sibuk mengotak-atik layar Hpnya.


Jessica cekikikan ketika melihat foto yang dikirim oleh Aldy siang tadi. "Siapa yang mengambil foto ini?"


Jessica juga menonton video yang sama. Foto dan video itu menampilkan Aldy dan Jessica dengan wajah yang dipenuhi oleh lipstik. Bibir Aldy bahkan merah karena polesan lipstik menempel di sana.


"Hahahaha, aku hampir saja lupa dengan momen ini," ucap Jessica. Matanya masih fokus pada foto-foto itu.


"Kenapa aku senekat itu, ya? Hahahaha, dan dia? Kenapa dia tidak menolak saja." Jessica meletakkan benda tipis itu saat matanya sudah mulai mengantuk.


Jessica memejamkan matanya, ia larut dalam tidur dan mimpi indahnya.


Bersambung...


☆☆☆☆☆☆☆


Assalamu'alaikum Kakak" yang bek hati.


Sejauh ini, author ucapkan banyak-banyak terimakasih pada kakak" yang sudah membaca dan mengikuti novel MSB sampai sejauh ini.


Dan author juga minta maaf karena begitu banyak typo yang bertebaran. Author selalu baca 3/4X sebelum di Up. Tapi kembali lagi, Author juga manusia biasa bukan komputer yang bisa bekerja dengan sempurna dan cepat😁


Jadi, harap maklumnya, ya, dengan typo" di novel MSB (Mencintai Serigala Betina) eh salah😂 Mencintai Seorang Bodyguard🙏🙏

__ADS_1


Selamat bermalam minggu😙 salam dari Author ingusan😙🙏


__ADS_2