Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Kau Kuat!


__ADS_3

Aleta membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya lalu mencari sosok yang telah menolongnya.


"Kak Audi?" ucapnya sambil melempar selimut yang menutupi tubuhnya. Aleta berlari keluar dari kamarnya.


Ia naik ke lantai atas, mencari keberadaan kamar Jessica. Sayangnya, di kamar atas kosong, kamar itu tidak ditempati oleh siapapun. Aleta pun kembali berlari menuruni tangga. Ia menatap ke arah kamar yang terletak di dekat ruang tamu. Aleta berlari ke sana.


Ia mematung di depan pintu.


Apa Kak Audi ada di kamarnya sekarang? Apa aku tidak mengganggunya? (Aleta)


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nathalia yang berdiri di belakang Aleta. Ia menatap Aleta tajam.


"Aku ingin berterimakasih pada Kak Audi," jawab Aleta dengan nada yang begitu rendah. Ia tau, dirinya telah salah menilai Jessica.


"Kak Jessica tidak ada di dalam. Dia sudah dilarikan menuju rumah sakit kota! Ini semua....ah, sudahlah! Percuma bicara denganmu!" Nathalia merapikan pakaiannya lalu beranjak meninggalkan Aleta yang masih mematung di depan pintu kamar Jessica.


"Tata, tunggu! Kau mau kemana? Aku ikut!" Aleta berlari mengejar Nathalia dengan wajah yang mulai panik.


Nathalia tidak perduli akan ucapan Aleta. Ia tetap melangkah keluar dari rumah utama.


"Tata, kumohon. Aku ikut denganmu," pinta Aleta. Ia menatap Nathalia penuh harap.


"Hmmm, baiklah. Tapi kumohon, jaga sikapmu di depan Kak Jessica nantinya. Kak Jess masih dalam masa pemulihan, jadi, aku harap kau juga tidak berbicara seenak jidatmu!" Natalia masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh para pengawal.


Pengawal itu membawa Nathalia dan juga Aleta menuju rumah sakit kota.


Kak Aldy pasti akan marah dan mengamuk pada kita semua (Nathalia)


13 menit perjalanan. Mereka sudah sampai di rumah sakit kota. Nathalia menghubungi Kamila, menanyakan dimana Jessica dirawat.


Dasar bodoh! Kenapa dia menelepon Kak Kamila! Tanyakan saja pada wanita yang duduk manis itu! (Aleta)


Nathalia dan Aleta masuk ke dalam sebuah lift yang akan mengantarkan mereka menuju ruang rawat Jessica.


Nathalia terus berdoa untuk keselamatan Jessica. Ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada wanita itu.


Aleta melirik Nathalia sekilas. Ia penasaran dengan sosok yang dipanggil Kak Jessica oleh Nathalia.


Apakah Kak Jessica dan Kak Audi itu satu orang atau bagaimana? (Aleta)


Keduanya keluar dari lift. Mereka melangkah dengan cepat menemui Kamila dan Ibu yang sedang menunggu di depan ruang rawat Jessica.


"Bagaimana, Bu?" tanya Nathalia khawatir.


"Ibu juga belum tau. Jessica belum sadarkan diri sejak tadi," jawab Ibu lemah. Ia bersandar pada pundak Kamila yang bahkan butuh sandaran saat ini.


"Aku tidak tau harus mengatakan apa pada Kak Aldy nantinya," gumam Kamila.


Ia menyeka air matanya. Rasa takut, khawatir, dan kesal bercampur menjadi satu.


Keempatnya menatap ke arah pintu ruangan yang sudah terbuka.


"Bagaimana, Dok?" tanya Ibu yang langsung berlari ke arah Dokter Lukman.


"Nona Jessica sudah siuman. Keadaannya memburuk, Nyonya," jawab Dokter Lukman lemah.


Ibu dan Kamila menghembuskan nafas berat.


Dokter Lukman mengajak Ibu menuju ruangannya. Ia menjelaskan keadaban Jessica sekarang. Ibu hanya menjawab ucapan Dokter Lukman dengan anggukan dan senyuman saja.


☆☆☆☆☆☆☆☆


Aldy dan Ken langsung membereskan barang mereka. Keduanya menyerahkan semua urusan pada kaki tangan mereka. Aldy terus berdoa untuk Jessica di jalan. Ia tidak henti-hentinya berdoa dan berjanji akan menjaga Jessica dengan seluruh nyawanya.

__ADS_1


Ken yang melihat hal itupun tersentuh. Ketulusan Aldy dalam mencintai Jessica tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Bahkan jika dibandingkan dengan ketulusannya pada Keisha. Aldy jauh di atasnya.


1 setengah jam perjalanan. Keduanya sudah sampai di rumah sakit kota.


Aldy berjalan dengan cepat menuju ruang rawat Jessica. Di depan ruangan itu masih ada Kamila, Nathalia, Aleta dan Ibu. Mereka masih di luar karena Dokter Lukman tidak menginginkan siapapun untuk masuk ke dalam ruang rawat Jessica.


"Ibu." Aldy dan Ken mendekati Ibu dengan aura dan wajah dingin mereka.


Keduanya menatap, Kamila, Nathalia dan Aleta tajam penuh kemarahan dan kekesalan. Walau keduanya tau, ini bukan salah Aleta. Karena Aleta memang murni tenggelam dan tidak bisa berenang. Namun satu hal yang membuat keduanya murka, dimana para pelayan dan orang yang ia amanahkan untuk menjaga Jessica saat itu?!


"Bagaimana, Bu? Apa Jessica baik-baik saja?" tanya Aldy sambil menatap ke arah ruang rawat Jessica.


Ibu tersenyum, namun senyumnya bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang berarti kita harus mendoakan yang terbaik untuk Jessica.


Aldy yang mengerti arti senyuman itu langsung mengacak rambutnya. Ia mendekat ke arah ruang rawat Jessica. Menempel wajah dan telapak tangannya pada dinding kaca ruangan.


Mata Aldy terus menatap ke arah Jessica yang terbaring lemah. Ia terus berdoa dalam hatinya untuk Jessica, mendoakan hal yang paling terbaik untuk kekasih pujaan hatinya itu.


"Kau kuat Jess! Kau wanita yang kuat! Cepatlah pulih agar aku bisa berbicara dan bercanda lagi denganmu," gumam Aldy.


Ia mundur beberapa langkah. Aldy meminta Ken untuk mengantar Ibu dan ketiga gadis itu untuk pulang. Sementara ia akan tetap di sini untuk menjaga Jessica, walau hanya dari luar ruangan saja.


Ken menuruti perintah Aldy. Ia mengajak Ibu dan juga ketiga gadis itu untuk pulang. Ketiganya menurut tanpa membantah sepatah katapun.


Ya, Tuhan. Selamatkanlah uang jajanku bulan ini dan bulan depan. (Kamila)


Ya, Tuhan. Selamatkanlah aku dari cengkeraman buas Kak Ken dan Kak Aldy. Aku datang ke indonesia untuk berkunjung dan berlibur, bukan untuk dihukum atau sejenisnya. (Aleta)


Aleta dan Nathalia masuk ke dalam mobil yang akan dikemudi oleh para pengawal. Sedangkan Ibu dan Kamila langsung masuk ke mobil Aldy yang akan dikemudikan oleh Ken sendiri.


Suasana di dalam kedua mobil itu sangat dingin dan mencekam. Terutama di dalam mobil Aldy yang dihuni oleh Ken, si beruang kutub utara.


Kurang 15 menit perjalanan. Kedua mobil itu sudah terparkir rapi di halaman utama. Ken membukakan pintu untuk Ibu dan Kamila. Dengan langkah yang begitu cepat, ia masuk dan langsung mencari kepala pelayan dan orang-orang yang ia tugaskan untuk menjaga Jessica.


Ya, Tuhan. Aku masih butuh pekerjaan ini, tolong selamatkan nasibku dan juga nasib yang lainnya. (Kepala Pelayan)


Tak disangka-sangka. Ken malah berubah drastis. Ia mengamati wajah-wajah di depannya dengan mata yang begitu sedup dan senyum tipis di bibirnya.


"Kalian tau salah kalian semua di mana?" ucap Ken sambil tersenyum miring.


Mereka kembali menelan ludah saat melihat senyum miring Ken. Kepala pelayan menunduk, ia cukup tau dan sadar akan kesalahannya.


"Kalian mendengarku atau tidak!" teriak Ken namun wajahnya masih tenang dan matanya tetap redup.


"I-iya, Kami Tau, Tuan," jawab mereka bersamaan.


"Baiklah, kalian aku beri dua pilihan. Pertama, kalian kembali dan bereskan semua barang-barang kalian lalu pergi dari rumah ini! Kedua....." Ken menyerah selembar kertas pada Kepala pelayan. "Itu yang kedua!" sambungnya.


Mereka saling menatap. Tidak mungkin mereka memilih hukuman pertama yang akan merugikan hidup mereka. Dan hukuman kedua pun. Apa mereka bisa melakukan?


"Jika kalian memilih yang pertama, maka berbaliklah dan kemasi barang-barang kalian. Dan jika kalian memilih yang kedua, tetaplah di sini dan kerjakan sekarang juga!" Ken menetap wajah mereka satu persatu. Semua pelayan maupun kepala pelayan tetap diam di tempat mereka. Mengartikan mereka memilih hukuman yang kedua.


"Baiklah, lakukan sekarang hukuman kalian!" perintah Ken lalu meninggalkan semuanya menuju halaman utama.


Ken meminta beberapa orang kepercayaannya untuk mengawasi para pelayan yang sedang menjalankan hukuman mereka. Sedangkan dirinya sendiri kembali ke rumah sakit kota untuk menemani Aldy menjaga Jessica.


☆☆☆☆☆☆☆☆


Di hari yang sama. Zia di larikan menuju rumah sakit kota karena terserang penyakit demam berdarah dan juga cacar air. Gadis itu terlihat begitu pucat dengan seluruh tubuh yang bentol-bentol.


Zen dan Bagas datang untuk menjenguk Zia yang sudah dilarikan sejak tadi siang. Keduanya berjalan dengan cepat. Tanpa mereka sadari, mereka berpapasan dengan Ken yang baru saja sampai di rumah sakit kota.


Berbeda dengan Ken. Ia melihat Zen dan Bagas, namun tidak berpikiran untuk menyapa keduanya. Yang ada pikirannya hanya kesehatan dan keselamatan Jessica saat ini.

__ADS_1


Zen dan Bagas sampai di depan ruang rawat Zia yang berada di lantai dasar rumah sakit. Ruang rawat berukuran kecil dengan fasilitas sederhana, berbeda dengan ruang rawat Jessica yang sangat aman dan nyaman dengan fasilitas terbaik dan mahal.


"Zii," panggil Zen yang berdiri di samping ranjang rumah sakit. Remaja itu menatap wajah pucat Zia lalu merapikan anak rambut gadis itu.


"Kalian di sini?" Zia membuka matanya karena merasakan sentuhan tangan Zen. Ia menatap Zen dan Bagas secara bergantian.


"Zii, kamu yang kuat, ya?" ucap Bagas dengan wajah khawatirnya.


"Hehehe, maafkan aku yang membuat kalian khawatir seperti ini. Aku baik-baik saja. Kalian jangan khawatir lagi, ya?" Zia tersenyum lalu meraih tangan Zen dan Bagas. Menatap keduanya redup dan penuh kasih sayang.


"Kalian tetaplah ikut ujian. Jangan pikirkan aku, aku baik-baik saja. Aku akan menyusul kalian tahun depan," ucap Zia dengan bibir yang berusaha tersenyum.


"Zii, kau yakin?" Bagas menatap wajah Zia dengan redup dan penuh kasih sayang juga.


"Iya, aku yakin, kalian jangan khawatir lagi padaku!" Zia terus menetap keduanya.


"Ar mana? Apa dia tidak menyayangiku lagi?!" Zia melepas tangan keduanya. Ia menatap langit ruangan lalu memejamkan matanya.


"Hei, Arfan sedang latihan tambahan bersama senior Len. Dia akan datang nanti malam bersama Kak Hendra dan juga anak-anak lainnya. Kami tetap menyayangimu, sampai kapan pun!" jawab Zen sambil tersenyum manis.


"Terimakasih, Zen, Bagas. Aku juga menyayangi kalian!"


Keduanya keluar saat Ibu dan Ayah Zia datang. Mereka memang sudah sangat akrab dengan Zen, Bagas dan Arfan. Namun karena mereka sedang di rumah sakit, keduanya hanya menyapa dan langsung pamit pulang saja.


Sementara di ruang rawat Jessica. Wanita itu kembali membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan penuh tanda tanya di otaknya.


"Di mana Ibu dan Kamila?" gumam Jessica. Ia menoleh ke arah dinding ruangan yang sebagian terbuat dari kaca.


Jessica tersenyum saat melihat Aldy di luar sana yang sedang menatap ke arahnya. Aldy yang melihat itupun ikut tersenyum gembira. Ingin rasanya ia masuk lalu menemui Jessica sekarang juga.


"Ken!" Aldy menoleh ke arah Ken. Ia mengisyaratkan pada Ken bahwa dirinya ingin masuk dan bertemu dengan Jessica.


Ken pun mengangguk lalu berjalan ke arah ruangan Dokter Lukman. Ken menyampaikan niatan Aldy pada Dokter Lukman. Dokter Lukman hanya mengangguk lalu tersenyum menatap Ken.


Ken langsung keluar lalu menemui Aldy dan meminta Aldy tidak berlama-lama di dalam sana. Aldy mengangguk, mengerti maksud ucapan Ken.


"Audi." Aldy langsung menyeret sebuah kursi dan duduk di samping ranjang Jessica.


Ia menatap wajah Jessica hangat lalu meraih tangan Jessica, menggenggamnya erat.


"Maafkan aku yang tidak bisa ada di sisimu tepat waktu. Aku janji, setelah ini, aku akan selalu di sisimu. Tidak akan jauh darimu lagi," ucap Aldy pelan namun masih bisa didengar oleh Jessica.


"Ini bukan salahmu, dan juga bukan salah Aleta. Gadis itu membutuhkan bantuanku, dan aku, aku tidak mungkin membiarkannya mati karena kehabisan nafas," ucap Jessica dengan suara yang masih lemah.


"Hust....Jangan bicara lagi. Cukup tersenyum saja tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi!" Aldy menatap mata Jessica lalu mengecup punggung tangan wanita itu.


"Aku benar-benar gila dibuatmu. Sungguh gila setelah aku jatuh cinta padamu," gumam Aldy.


Setelah merasa puas memandang wajah Jessica, Aldy pun keluar karena tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang kekasih. Ia dan Ken pulang sebentar lalu kembali lagi untuk menjaga Jessica sampai keesokan harinya.


Bersambung....


☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Assalamu'alaikum akak- akak semua.


Author ada sedikit informasi mengenai jadwal Update novel ini. Ada yang bertanya, kemarin author kemana saja? Kenapa baru Up sekarang?


Jadi begini, Author sudah masuk sekolah sejak senin lalu. Dan karena sekolah Author cukup berat dan menguras kepala, jadi Author putuskan untuk fokus pada sekolah saja. Dan masalah Update, author akan tetap Up namun pada sore Sabtu sampai dengan malam senin saja. Tentunya dengan beberapa chapter seperti minggu ini. Intinya Author tidak Up pada hari Senin-Jum'at. Seperti yang Author katakan. Author akan up mulai dari sore Sabtu-Malam Senin, Okey😉


Itu aja pemberitahuan dari Author. Dan author mohon pengertian dan juga dukungannya untuk sekolah Author. Smoga dimudahkan dan dilancarkan. Aamiin😊


Sekian. Terimakasih. Dan Assalamu'alaikum, salam hangat dari Author ingusan.

__ADS_1


Icha Annisa Amanda🍂 Edhe^08😅


__ADS_2