
5 jam perjalanan. Kini Ken dan Keisha sudah sampai di sebuah pulau yang terletak jauh dari perkotaan. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan ini membuat Keisha tertidur pulas dengan kepala bersandar pada pundak Ken.
Ken melirik ke arah Keisha yang masih tertidur di pundaknya. Ia pun memutuskan untuk menggendong Keisha, dan membawa Keisha masuk ke dalam Villa Tulip, Villa terbesar di pulau ini.
Usai menidurkan Keisha. Ken kembali melangkah keluar dari Villa. Ia mengambil alih kopernya dari tangan salah seorang pelayan Villa. Lalu kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam Villa.
"Kau pasti sangat lelah, Honey. Sampai kau tidur sepulas dan se-nyaman ini." Ken membaringkan tubuhnya di samping Keisha. Ia menatap wajah Keisha tanpa berkedip.
Karena lelah, Ken pun ikut tertidur dengan tangan yang memeluk pinggang ramping Keisha.
Sorenya. Keisha terbangun terlebih dahulu. Pandangannya langsung tertuju pada jendela Villa yang terbuka dan menampakkan pemandangan yang begitu indah dan memanjakan matanya. Beberapa menit kemudian, pandang Keisha sudah beralih menatap wajah tenang Ken. Pria itu masih tertidur sambil memeluk tubuh Keisha layaknya memeluk sebuah bantal guling.
Dengan perlahan dan hati-hati, Keisha mengangkat tangan kekar Ken yang melingkar di atas perutnya. Lalu bangun, dan berjalan mendekati jendela.
"Indah sekali," gumam Keisha takjub.
Ia sudah tidak tahan lagi melihat pemandangan di depannya ini. Ingin rasanya Keisha keluar dari Villa ini lalu berlarian di pinggiran pantai yang begitu indah itu.
"Honey," panggil Keisha membangunkan Ken. Keisha menusuk-nusuk pipi Ken lalu menggoyang-goyangkan tubuh pria itu.
"Honey, bangunlah. Honey....." rengek Keisha manja. Ia terus berusaha membangunkan Ken, kakinya bahkan sudah tidak sabar untuk bermain air dan juga pasir pantai.
Ken yang sebenarnya sudah bangun tetap pada posisinya, ia sedang pura-pura tidur, dan ingin melihat bagaimana tingkah Keisha jika dirinya sedang tertidur. Padahal hanya pura-pura tidur.
"Honey!" Keisha mulai manyun, dan mendaratkan ciuman pada Ken, lalu menggigit bibir Ken dengan gemas. Hal itu membuat Ken langsung membuka matanya lebar-lebar.
"Hah! Bangun juga!" ucap Keisha tersenyum kecut.
"Ayo, berhentilah pura-pura tidur! Aku tau kau hanya berpura-pura dari tadi, Honey! Sekarang bangunlah, dan temani aku jalan-jalan di sana!" Keisha menunjuk ke arah jendela Villa yang masih terbuka.
"Beri dulu aku upah! Baru aku akan menemanimu!" jawab Ken tersenyum licik.
"Pelit! Suami pelit! Suami perhitungan!" celoteh Keisha dengan muka yang ditekuk masam.
"Baiklah, jika kau tidak ingin menemaniku! Maka aku akan meminta pria lain untuk melakukannya," lanjut Keisha lalu berjalan mendekati pintu kamar.
"Satu langkah kau keluar dari kamar ini. Maka aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu!" Ken balik mengancam.
Keisha pun diam, ia terpaksa menghentikan langkahnya. Hatinya sedikit terluka karena mendengar nada ancaman dari Ken. Keisha menunduk menatap lantai, air matanya sudah membendung, dan siap untuk menetes.
Ken bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan mendekati Keisha, lalu memeluk tubuh Keisha dari belakang.
"Aku tidak akan mengizinkan pria manapun menemanimu! Bahkan hanya untuk menatapmu! Aku tidak suka itu! Dan satu lagi! Jangan ulangi ucapanmu tadi! Aku......"
"Maafkan aku," potong Keisha masih dengan kepala yang tertunduk. Ia tau, dirinya juga salah dalam mengambil bahan ancaman, dan candaan.
__ADS_1
"Jangan ulangi lagi!" Ken memutar tubuh Keisha pelan. Tangan kekarnya memanggangi kedua pipi Keisha, dengan mata yang menatap netra Keisha penuh makna.
"Aku juga minta maaf. Aku tidak bermaksud mengancammu, aku hanya terbawa suasana tadi. Berjanjilah, kau tidak akan meninggalkanku, dan mencari pria lain selain aku," lanjut Ken dengan nada yang begitu lembut dan rendah.
"Aku berjanji."
Keduanya kembali tersenyum. Ken merapikan rambut Keisha lalu mengikat rambut itu dengan gelang karet yang berada di tanganya.
"Ayo, bukannya kau mau bermain?" Ken tersenyum lalu menggenggam tangan Keisha erat. Seolah-olah tidak ingin wanita itu menjauh dari dirinya. Apalagi sampai mencari pria lain di luar sana.
Keduanya berjalan mendekati pantai yang memiliki pemandangan yang sangat indah. Keisha melepaskan tangannya dari genggaman Ken, lalu berlari ke arah pasir yang masih basah karena sapuan ombak beberapa detik yang lalu.
"Honey, kemarilah!" panggil Keisha.
Ken pun mendekat, walau sebenarnya ia sangat malas untuk bermain air dan pasir.
Keisha mengukir namanya di atas pasir. Lalu ia melirik ke arah Ken sekilas. Dan mengukir nama Ken tepat di samping namanya.
"Aku mencintaimu, Kei. Aku sangat mencintaimu," ucap Ken lembut lalu mencium punggung tangan Keisha.
"Tetaplah bersamaku sampai kita menua bersama," lanjutnya tersenyum.
"Sejauh ini, aku kadang sering meragukan cintamu, tapi aku tau, aku salah dalam hal itu. Kau ternyata sangat mencintaiku, dan kau sangat takut kehilanganku. Aku juga mencintaimu, My Handsome Husband."
Keduanya saling memeluk dan menyalurkan kenyamanan dan kehangatan pada tubuh mereka masing-masing. Pelukan itu bahkan tidak terlepas sampai matahari terbenam dan bumi mulai gelap.
☆☆☆☆☆☆
Usai bermain dan menikmati suasana sunset yang begitu indah. Ken mengajak Keisha untuk kembali ke Villa Tulip. Ia terus menggenggam jemari Keisha erat. Tidak perduli dengan begitu banyak mata yang menatap ke arah mereka sambil tersenyum tidak jelas.
Sesampainya di kamar, Ken dan Keisha langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri mereka. Kamar mandi yang awalnya dingin menjadi begitu panas karena ulah kedua makhluk yang berbeda di dalam sana. Keduanya saling memandang dengan nafas yang tidak beraturan.
"Kau akan menjadi milikku seutuhnya, Honey." Ken mengangkat tubuh Keisha, membawa wanita itu keluar dari dalam kamar mandi, lalu membaringkannya di atas kasur yang akan menjadi saksi cinta mereka malam ini.
Dinginnya malam tidak terasa pada permukaan kulit kedua makhluk itu. Keduanya saling menatap lalu mengatur nafas mereka yang hampir tidak terkontrol lagi.
"Tidurlah, terimakasih untuk semuanya, Honey. Aku mencintaimu, akan terus mencintaimu." Ken menarik selimut sampai selimut itu menutupi tubuh polos mereka. Lalu Ken mempererat pelukannya pada tubuh Keisha, istrinya itu sudah tertidur dengan wajah yang tersenyum bercampur lelah.
☆☆☆☆☆☆
Kediaman Keluarga Pranata.
15 menit sebelum makan makan dimulai. Jessica turun terlebih dahulu dari kamarnya, ia tersenyum saat Kamila menyapanya dan langsung menempel seperti cicak di badannya.
"Kak Audy? Kak Aldy mana?" tanya Aleta sambil berjalan mendekati Jessica dan Kamila.
__ADS_1
"Kak Aldy? Dia masih mengurus beberapa dokumen di kamar. Ada apa?" jawab Jessica lalu balik bertanya pada Aleta.
"Tidak ada, aku hanya ingin menunjukan ini pada Kak Aldy." Aleta memperlihatkan sekilas kertas yang ia pegang, lalu memeluk kertas itu gemas.
"Hei, apa itu?! Aku ingin melihatnya! Berikan padaku!" ucap Kamila, lalu bangkit dan mengejar Aleta. Keduanya terus saling mengejar, Aleta mempertahankan kertas yang ada di tangannya. Sedangkan Kamila berusaha merebut kertas itu dari Aleta.
"Astaga, mereka selalu bertingkah seperti kanak-kanak. Yang satu sudah kuliah, dan yang satu sudah duduk di bangku SMA. Tapi tingkah keduanya sama saja dengan anak SD dan TK."
Jessica hanya bisa menggeleng samar melihat kedua gadis yang terus saling mengejar. Layaknya Tom and Jerry.
Brukk....
Aleta dan Kamila langsung terdiam. Tanpa sengaja keduanya menabrak Aldy yang baru saja turun dari tangga. Keduanya mundur dan saling menarik. Lalu mereka bersembunyi di balik sofa yang Jessica duduki.
"Sayang, sudahlah. Kamila dan Aleta tidak sengaja. Kemarilah, duduk di sini," ucap Jessica lalu menepuk tempat kosong di sampingnya.
Aldy mendekat, masih dengan tatapan yang cukup tajam. Ia menatap Aleta dan Kamila lalu beralih menatap Jessica dengan tatapan yang berbeda.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa main kejar-kejaran di dalam rumah? Bagaimana tadi Ibu atau Kak Jessica yang kalian tabrak, hemm?! Jangan ulangi lagi! Sekarang keluar dari persembunyian kalian! Keluar!" ucap Aldy pada kedua gadis yang masih bersembunyi di belakang sofa.
Keduanya keluar sambil menundukkan kepala mereka. Kamila ataupun Aleta sama-sama takutnya jika Aldy sudah memberi peringatan seperti ini.
"Apa yang kau pegang?" tanya Aldy pada Aleta.
Gadis itu mengangkat kepalanya lalu menyerahkan kertas yang ia amankan sejak tadi.
Aldy tersenyum tipis ketika membaca tulisan di kertas itu. Ia kembali melipatnya, lalu memasukkan ke dalam saku celananya.
"Tenang saja, mereka akan hadir di tengah-tengah kita, secepatnya," ucap Aldy pada Aleta.
Aleta kini tersenyum sambil melilit-lilit ujung baju yang ia kenakan. Berbeda dengan Kamila, ia malah saling menatap dengan Jessica. Keduanya tidak mengerti kemana arah pembicaraan Aldy dan juga Aleta.
"Maaf, Tuan Muda. Nyonya Besar sudah menunggu anda dan juga Nona Muda di meja makan," ucap sang kepala pelayan memberitahu.
"Ayo, Sayang." Aldy tersenyum lalu meraih tangan Jessica, menggandeng Jessica menuju ruang makan.
"Hiks, so sweet-nya," gumam Aleta sambil menarik-narik lengan Kamila gemas.
"Lepaskan! Apa yang kau lakukan? Gadis centil!" Kamila menepis tangan Aleta kasar, lalu meninggalkan gadis itu menuju ruang makan, menyusul langkah Aldy dan Jessica.
Setelah makan bersama, dan mengobrol dengan Ibu. Aldy dan Jessica kembali naik ke kamar mereka. Aldy mendekati Jessica yang sedang menggosok giginya. Pria itu memeluk Jessica sambil berbisik lembut pada wanita itu.
"Aku ingin menagih yang tadi pagi," bisik Aldy untuk yang kedua kalinya.
"Iya, iya, aku dengar, dan aku masih ingat. Sekarang lepaskan dulu. Aku belum selesai menggosok gigiku!"
__ADS_1
Aldy tidak bergerak sama sekali. Ia tetap memeluk Jessica. Tidak perduli dimana dan lagi apa istrinya sekarang.
Belum 30 detik Jessica meletakkan sikat dan pasta giginya, Aldy sudah menyerangnya dengan mencium lembut bibirnya. Dan pada akhirnya, ritual itu kembali terjadi untuk yang kesekian kalinya. Keduanya menyatu dengan dasar cinta dan juga kasih sayang yang melebur menjadi satu dalam diri mereka.