Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Aku Percaya Padamu


__ADS_3

Setelah makan malam selesai. Kamila kembali ke kamarnya untuk mengerjakan beberapa tugasnya. Sedangkan Ibu, ia di dapur, mengontrol para pelayan yang sedang membersihkan peralatan makan.


Berbeda dengan Aldy dan Jessica. Aldy mengajak Jessica untuk duduk di taman utama. Rumah utama begitu terlihat indah di waktu malam. Taman bunga yang terhampar luas, dan juga lampu-lampu taman yang menambah keindahan taman utama setiap malamnya.


Aldy membantu Jessica untuk berpindah duduk menuju kursi taman. Ia pun ikut duduk di samping Jessica. Keduanya masih diam, menikmati indahnya suasana taman utama.


Angin malam itu cukup dingin. Jessica yang mengunakan baju lengan panjang ditambah jaket Levis hitam pun masih merasakan dinginnya angin malam itu.


"Ingin bicara apa?" tanya Jessica mengakhiri keheningan yang cukup lama.


Aldy menoleh, ia menatap mata Jessica. Aldy memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Ia bangun lalu berdiri di belakang kursi taman.


"Permisi," ucapnya sambil mengangkat rambut Jessica dari belakang. Aldy memasangkan kalung emas yang bertamburan berlian kecil di leher Jessica.


Jessica sedikit heran. Ia memegang kalung yang sudah berada di lehernya itu. Padangan Jessica kini menatap ke arah Aldy yang sudah kembali duduk di sampingnya.


"Kalung ini, dimana kau mendapatkan?" tanya Jessica. Ia menatap mata Aldy. Mata itu bahkan membalas tatapannya dengan begitu redup dan indah.


Aldy menarik nafas panjang. "Aku membelinya setelah kau menjualnya," jawabnya.


Jessica mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan maksud Aldy.


"Aku tidak mengerti," ucap Jessica jujur.


Aldy memiringkan tubuhnya menghadap Jessica. Ia meraih kedua tangan Jessica, menggenggamnya erat.


"Apa kau sudah siap dengan semuanya? Aku akan menjawab semua hal yang ingin kau ketahui malam ini juga." Aldy menatap Jessica. Matanya beralih menatap tangan Jessica, lalu mengecup punggung tangan Jessica lembut.


"Hmmm, aku bingung. Aku ingin tau semuanya. Tapi aku takut, takut kalau aku tidak kuat menahan kenyataan yang pahit yang pernah kulalui dulu," jawab Jessica sambil menundukkan kepalanya.


Aldy bergeser mendekati Jessica. Ia melepaskan tangan kiri Jessica, kini tangan kanannya memegang dagu Jessica. Sedangkan tangan kirinya masih menggenggam tangan kanan Jessica.


"Baiklah, aku akan menyembunyikan semua hal yang akan melukai hatimu. Jika kau tidak ingin mengetahuinya, maka aku juga akan menyembunyikan semua hal itu darimu," ucap Aldy.


Jessica menegakkan kepalanya. "Apa kau sangat mencintaiku? Tapi aku....."


"Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu. Bahkan aku tidak pernah jatuh cinta sebelum aku bertemu denganmu," potong Aldy. Pria itu terus tersenyum pada Jessica, membuat Jessica merasa begitu nyaman berada di dekatnya seperti saat ini.


"Benarkah? Jika dipersenkan? Seberapa persen?" Jessica tertawa kecil.


"Hahahaha, hanya 65%." Aldy ikut tertawa ketika melihat wajah kecewa Jessica.


"Tidak, aku bercanda. Aku mencintaimu 1000%," sambungnya.

__ADS_1


"Hahaha, memang ada 1000%?" tanya Jessica bingung.


"Astaga, kau benar-benar hilang ingatan, ya?" Aldy refleks mencium pipi Jessica untuk yang pertama kalinya.


Jessica terbengong ia menatap Aldy lalu memegang pipinya.


"Kau menciumnya?! Aaaaa, kenapa menciumku!" Jessica memukul lengan Aldy. Wanita itu merengek karena tidak ada laki-laki yang pernah mencium pipinya sebelum Aldy.


"Hahaha. Sedikit saja, bagaimana jika di sini?" Aldy menunjuk bibir Jessica, membuat Jessica semakin memukul lengannya keras.


"Jaga sikap ada, Tuan!" Jessica menggeser tubuhnya menjauhi Aldy. Ia menatap Aldy tajam. Mengingatkan Aldy akan Jessica si Serigala Betina yang menakutkan.


"Hahahaha, mendekatlah! Bukankah Audi ingin menanyakan sesuatu?" Aldy yang bergeser mendekati Jessica. Ia merangkul bahu Jessica yang bersandar pada kursi taman.


"Hemmm, mau menanyakan sesuatu? jika tidak...."


"Mau!" potong Jessica sambil melirik Aldy sekilas.


Pria itu tersenyum. "Baiklah, tanyakan saja. Apapun itu! Aku akan menjawabnya, kecuali hal itu akan menyakitkan hatimu, maka aku tidak akan menjawabnya, sampai kapanpun!"


"Emmm, sebenarnya kenapa aku bisa di rumah ini, dan kenapa aku bisa menjadi kekasihmu seperti sekarang ini?" tanya Jessica.


"Jawabannya sederhana. Kau datang ke kehidupanku dan Kamila. Kau membawa sejuta semangat baru dalam diri Kamila. Kau menyayangi Kamila layaknya kau menyayangi adikmu sendiri. Hingga suatu hari, kau jatuh sakit. Dan di saat itulah, aku pertama kali mulai menyukaimu." Aldy menoleh ke arah Jessica yang kini menjadikan lengannya tempat bersandar.


Jessica menoleh. "Bukankah kau akan menjaga wanitamu! Kau tidak akan melakukan hal yang tidak pantas padanya, bukan?!" ucap Jessica sambil mengelap keningnya dengan ujung baju yang ia kenakan.


"Kau mengingat kata-kata itu?" Aldy begitu terkejut mendengar ucapan Jessica tadi. Ia menatap mata Jessica.


"Entahlah, tiba-tiba saja kata-kata itu ada di otakku," jawab Jessica dengan tangan yang beralih mengelap pipinya.


"Hahahaha, sangat lucu! Aku bahkan pernah mencium keningmu sebelum ini." Aldy menarik-narik rambut Jessica sambil tertawa kecil.


"Jangan mengacau! sekarang aku ingin menanyakan tentang kalung ini! Dimana Emmm, tuan, ah dimana kau mendapatkannya?!" tanya Jessica.


"Kalung itu." Aldy diam sejenak. Mencoba mengingat sesuatu.


"Begini, kau menjual kalung itu pada tanggal tiga februari lalu. Kau menjualnya untuk membayar biaya rumah sakit seseorang. Dan aku, aku membelinya setelah sejam kau menjualnya di toko perhiasan," jawab Aldy sesuai kenyataan.


"Biaya rumah sakit siapa?"


"Bibi Naomi," jawab Aldy sambil menarik kepala Jessica agar bersandar lagi di lengannya.


"Siapa dia?" Jessica menatap wajah Aldy yang berjarak sangat dekat dengan kepalanya.

__ADS_1


"Orang yang kau sayangi," jawab Aldy sambil menatap lurus bunga-bunga yang bergoyang karena tiupan angin malam.


"Dimana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya?!" tanya Jessica.


"Dia sudah bahagia sekarang." Aldy mengecup kepala Jessica lalu mencubit-cubit pipi Jessica dengan tangan kanannya.


"Kapan-kapan kita berkunjung dan menemuinya, ya? Bolehkah? Aku juga ingin bertemu Ibu dan Ayah?" Jessica sedikit mendongak ke arah Aldy. Tatapan mereka bertemu, membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang.


"Kau mengingatnya Jess?"


"Tidak, aku hanya merasakannya. Bisakah, aku ingin berkunjung dan mendoakan mereka?" jawab Jessica.


Antara sadar dan tidak. Jessica mulai menyadarkan kepalanya di dada bidang Aldy. Aldy tidak menolak, ia bahkan merubah posisinya agar Jessica nyaman.


"Ini hanya firasatku saja. Aku sudah merasakan hal ini ketika masih di rumah sakit. Aku mulai sadar, bahwa ayah dan ibuku memang sudah tidak ada lagi di sekitarku." Air mata Jessica mulai menetes. Dengan segera ia menyekanya lalu mengangkat kepalanya dari dada Aldy.


"Aku hanya ingin kehidupan yang baru. Tanpa ada satupun orang yang datang dan menggangguku dari masa lalu," ucapnya sambil menatap wajah Aldy. Dengan beraninya, Jessica mengarahkan tangannya untuk memegang pipi Aldy.


"Aku percaya padamu, mungkin saat ini aku tidak mengingat sedikit pun tentangmu. Tapi, aku tidak masalah dengan semua itu. Aku akan mulai mengenalmu saat ini, mengenal Tuan Aldy yang baik hati dan sangat menyayangiku." Jessica mengakhiri ucapannya dengan tawa kecil yang begitu indah.


"Aku mencintai Jess!" Aldy menarik tubuh Jessica. Memeluk Jessica erat.


"Aku mungkin akan mencintaimu juga, tapi nanti." Jessica kembali tertawa kecil dalam pelukan Aldy.


Keduanya berpelukan cukup lama. Sampai Jessica yang terlebih dahulu melepaskan dirinya dari pelukan erat Aldy.


Aldy mengajak Jessica untuk masuk ke dalam rumah utama. Ia mengangkat tubuh Jessica. Mendudukkannya di atas kursi roda lalu mendorong Jessica masuk ke dalam rumah utama.


Jessica hanya tersenyum tipis dengan kedua pipi yang bersemu merah. Jessica menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Heh, kau kenapa?" tanya Aldy heran.


"Ah, tidak apa-apa," jawab Jessica sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Hahahaha, kau kenapa, emmm?" Aldy terus menggoda Jessica.


Keduanya sudah sampai di depan kamar Jessica. Aldy berhenti, ia pun berjongkok di hadapan Jessica.


"Tidurlah, akhir pekan nanti aku akan mengajakmu untuk berkunjung menemui Bibi Noami dan Calon mertuaku." Aldy tersenyum tipis. Sedangkan Jessica terus menutup wajahnya yang sudah memerah seperti udang rebus.


"Hahaha. Tidurlah, Edelweiss-ku." Aldy bangun lalu mengelus kepala Jessica lembut.


Aldy menaiki tangga dengan begitu bahagia. Ia membalikkan badannya, menatap ke arah kamar Jessica.

__ADS_1


Tuhan, aku percaya padaMu. Dan aku sangat bersyukur karena kau telah menghadirkan Jessica di tengah-tengah kami. Aku sungguh bersyukur atas hal itu. Aku percaya takdirMu adalah yang terbaik untuk kami. Aldy


__ADS_2