
Jessica menggeliat sambil tersenyum samar. Ia berusaha mendorong dan menjauhkan wajah Aldy dari wajahnya. Namun, suaminya itu malah memeluknya lebih erat dan terus menghujani bibirnya dengan kecupan singkat.
Akhirnya, Jessica terpaksa membuka matanya yang masih terasa berat. Ia menatap ke arah jam dinding sebelum menatap ke arah suaminya, Tuan Aldyan Pranata Yoga.
"Ini masih pagi, Sayang. Kenapa membangunkanku sepagi ini?" tanya Jessica karena jam masih menunjukan setengah 6 pagi.
"Bangunlah, aku ingin berolahraga bersama denganmu." Aldy melanggarkan pelukannya. Tangan kanannya beralih merapikan rambut-rambut yang menutupi wajah Jessica.
"Baiklah, tapi 15 menit lagi, ya?"
Kini Jessica yang memeluk tubuh Aldy erat. Rasanya ia belum rela untuk bangun dan keluar sepagi ini. Aldy hanya bisa menggeleng melihat kelakuan istrinya itu, wanita galak itu kadang berubah menjadi wanita manja yang sangat haus kasih sayang pada Aldy.
Aldy membalas pelukan Jessica. Ia menarik selimut sampai menutupi tubuhnya dan juga tubuh Jessica.
"Hmmm, tadi mau olahraga, sekarang sudah kembali menarik selimut rupanya?" celoteh Jessica sambil membuka matanya menatap wajah Aldy.
"Apa? Kenapa selalu menatapku seperti itu? Kau ingin apa, hah?!" lanjut Jessica.
"Cium, apa lagi yang aku inginkan dari istriku," jawab Aldy sejujurnya.
"Baiklah, kau ingin dimana? Di sini? atau di sini?" Jessica menunjuk bibir dan juga pipi Aldy lalu tersenyum misterius.
"Ah, aku tau! Kau pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak padaku, ya?" tebak Aldy yang sudah mengetahui gelagat aneh Jessica.
Jessica tersenyum lalu memegang pipi Aldy gemas.
"Hahahaha, kau sangat sulit untuk di kalahkan!" ucap Jessica lalu mendaratkan satu kecupan pada pipi kanan Aldy.
"Oh, tidak! Kau harus menambahnya sekarang juga. Berikan di sini! dan juga di sin!"
Aldy menunjuk pipi kiri dan juga bibirnya. Mengisyaratkan Jessica untuk melakukan hal yang sama di sana.
"Tidak, Sayang. Bagunlah! Bukannya kita mau berolahraga bersama?" tolak Jessica dengan cara yang cukup lembut.
"Ayo, berikan dulu!" Aldy menatap Jessica, seolah-olah dirinya tidak bersemangat sebelum Jessica melakukan apa yang ia inginkan.
"Baiklah."
Jessica kembali mendekati wajah Aldy. Ia menatap netra coklat pria itu tulus dengan penuh cinta dan kasih sayang. Jessica menutup mata Aldy dengan tangan kanannya lalu mencium pipi dan juga bibir Aldy lembut.
Sebelum Aldy menyerang balik, Jessica sudah menjauhkan wajah dan juga dirinya. Ia takut Aldy ataupun dirinya lepas kendali sepagi ini.
"Ayo! Bangunlah!"
Jessica berdiri di atas kasur sambil menarik-narik tangan Aldy, agar pria itu bangun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Aldy yang melihat hal itu tertawa kecil. Ia tidak menyangka Jessica memiliki sifat kekanakan seperti ini.
Akhirnya, setelah acara tarik menarik selesai. Keduanya keluar dari kamar mereka, lengkap dengan jaket dan juga sepatu yang memiliki warna dan model yang sama.
"Selamat pagi, Tuan Muda, Nona Muda," sapa Laras yang sedang menyapu di halaman depan Villa Kamboja.
Jessica tersenyum dan membalas sapaan dari Laras. Berbeda dengan Aldy yang bahkan mulai menampakkan sisi berbedanya saat berhadapan dengan orang lain, selain Jessica.
Keduanya mulai berlari kecil, menjauh dari Villa Kamboja. Udara yang sejuk pagi itu menambahkan semangat Aldy dan Jessica untuk berlari lebih kencang lagi.
Semakin jauh, Aldy menoleh ke arah Jessica yang fokus pada jalan di depan. Aldy merasa waktu yang ia dan Jessica lalui sangatlah lambat, tidak seperti hari-hari sebelum dia dan Jessica menikah.
Setelah cukup jauh. Jessica berhenti tepat di atas sebuah jembatan. Ia menarik nafas lalu melirik ke arah Aldy sedang menatapnya.
"Bisakah tidak menatapku semenit saja?" tanya Jessica lalu menerima botol air yang Aldy berikan untuknya.
"Tidak, mataku bahkan akan gatal jika tidak menatapmu, walau hanya semenit saja." Aldy duduk di pinggir jembatan lalu menarik tangan Jessica untuk duduk di dekatnya.
"Sudah kubilang, tidak baik minum sambil berdiri! Kau harus ingat itu!"
Aldy meminta botol yang ada di tangan Jessica lalu meneguk isinya sampai menyisakan beberapa tetes air di sana.
"Lihatlah itu!"
Aldy pun berdiri dan mendekat ke arah Jessica. Ia merangkul bahu Jessica sambil menikmati indahnya pemandangan yang terpapar jelas di mata mereka.
Sesaat, suasana sunyi dan hening, tidak ada yang bicara, baik Aldy maupun Jessica. Aldy melirik Jessica yang masih menatap langit dengan senyum manis di bibirnya.
"Apa kau bahagia menikah denganku, Jess?" tanya Aldy.
Jessica menoleh setelah mendengar pertanyaan yang Aldy lontarkan tadi. Ia menatap Aldy sambil memicingkan matanya.
"Apa selama ini aku hanya tersenyum palsu sampai kau harus menanyakan hal itu? Jelas saja aku bahagia denganmu! Kau adalah laki-laki yang aku cintai dan sayangi! Mana mungkin aku tidak bahagia jika selalu bersamamu seperti ini!" jawab Jessica penuh penekanan.
Jessica tidak suka dengan pertanyaan Aldy kali ini. Baginya, menikah dengan Aldy adalah suatu kebahagiaan besar yang Tuhan berikan untuknya.
Aldy langsung memeluk tubuh Jessica. Ia memang bodoh telah menanyakan tentang hal itu. Jelas saja, ia bisa melihat dan merasakan kebahagiaan Jessica, namun masih menanyakan hal itu pada istrinya.
☆☆☆☆☆☆
Matahari semakin naik, membuat Aldy dan Jessica memutuskan untuk kembali ke Villa Kamboja. Saat perjalanan pulang, keduanya bertemu dengan beberapa petani yang hendak menuju sawah mereka. Para petani itu menyapa Jessica dan juga Aldy ramah. Mereka terus tersenyum memandangi kedua pasangan yang mulai menjauh dari hadapan mereka.
Kurang dari setengah jam. Aldy dan Jessica sudah sampai di halaman depan Villa Kamboja. Aldy tidak langsung masuk ke dalam Villa, ia memilih duduk terlebih dahulu di kursi taman yang terletak di taman depan Villa Kamboja.
Berbeda dengan Jessica. Ia masuk untuk mengganti baju dan celana yang ia kenakan. Lalu keluar dan berjalan ke arah dapur.
__ADS_1
"Ras."
Jessica memegang pundak Laras lembut. Membuat Laras tidak terlalu terkejut dengan sentuhan dari tangan Jessica.
"Nona Jessica, apa yang Nona butuhkan?" tanya Laras setelah membalikkan badannya menghadap Jessica.
"Tidak ada, Ras. Aku hanya ingin memberikan ini padamu."
Jessica mengeluarkan cincin berukuran kecil dari saku jaketnya. Ia meraih tangan Laras lalu meletakkan cincin itu di telapak tangan Laras.
"Pakailah, itu tidak muat di jariku. Dan anggap saja, itu kado ulang tahun dariku," ucap Jessica tersenyum.
"Tapi, Nona....."
"Sudahlah, kau harus menghargai pemberianku, jika tidak, aku akan mengadukanmu pada Tuan Aldy!" potong Jessica lalu diiringi tawa kecilnya.
"Aku bercanda, Ras. Pakailah, aku senang sekali jika kau memakainya."
Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang, Laras. Aku juga minta maaf atas apa yang telah Andre lakukan padamu. Cincin itu adalah kado pernikahan yang Andre titipkan untukku. Bukan aku tidak menghargainya, tapi aku rasa, cincin itu lebih cocok jika kau yang memakainya. Aku harap, kau dan Andre akan bersatu kelak dan memperbaiki semua kesalahan yang telah terjadi sebelumnya. (Jessica)
"Nona."
Laras menyentuh punggung tangan Jessica, membuat Jessica tersadar dari lamunannya.
"Apa Nona baik-baik saja?" lanjut Laras.
Jessica tersenyum, menandakan dia baik-baik saja.
"Aku ke depan dulu, Ras. Ingat, kau harus memakainya!" ucap Jessica lalu melangkahkan kakinya menjauhi dapur.
"Terimakasih, Nona," gumam Laras sambil meneteskan air mata.
Laras menyeka air matanya lalu memakai cincin yang Jessica berikan. Pas, cincin itu pas di jari manis Laras, bahkan sangat cantik dan sesuai dengan kulit putih bersih milik Laras.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau tersenyum sebahagia itu?" tanya Aldy lalu menarik tangan Jessica, sampai Jessica duduk di sampingnya.
"Tidak ada, aku sedang bahagia saja. Percayalah, aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu." Jessica tersenyum.
"Baiklah, aku percaya padamu."
Aldy mendekati Jessica, lalu menarik tengkuk wanita itu dan mencium bibir Jessica lembut.
"Astaga, seharusnya aku tidak melihat hal ini untuk yang kedua kalinya. Tuan Muda, anda membuat saya iri dan ingin pulang rasanya dan langsung melakukan hal yang sama pada istri saya!" gumam si pengawal yang sudah melihat kejadian ini sebelumnya. Pengawal itupun mengalihkan pandangannya, bisa-bisa jiwanya memanas jika terus melihat kelakuan sang Tuan Muda yang tidak pernah memandang dimana dia dan istrinya berada sekarang.
Bersambung....
__ADS_1