
Sore Jumat. Sore ini adalah sore terakhir latihan bagi para peserta lomba. Para senior utama berdatangan untuk memberikan dukungan mereka, ada yang datang bersama pasangan mereka dan bahkan bersama buah hati mereka.
Jessica melempar pandangannya ke arah dua sejoli yang sedang berjalan mendekatinya, tangan mereka bertautan satu sama lain, senyum manis terukir di bibir keduanya.
"Bagaimana, apa sudah siap semua?" tanya Ken pada Jessica. Pria itu mengajak Keisha untuk berkunjung sekaligus untuk makan malam bersama Jessica nantinya.
"Hmmm, seperti yang kau lihat." Jessica menunjukkan sekumpulan remaja yang sedang fokus berlatih dengan ekor matanya.
"Kami sangat berterima kasih padamu, Jess. Tanpa kau, apalah jadinya mereka sekarang." Ken tersenyum tulus.
"Sudahlah, aku hanya sedikit membantu. Ini juga hasil didikan Juan dan Lin," jawab Jessica sambil melirik ke arah Juan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Hmmm, Jess," panggil Keisha. Wanita itu memberi isyarat pada Ken agar menjauh. Ken tersenyum lalu melambaikan tangannya pada Keisha dan juga Jessica.
"Ada apa, Kei?"
"Aku tau kau sangat sibuk akhir-akhir ini, dan hari ini, hari terakhirmu di sini,kan?" ucap Keisha membuka pembicaraan.
"Iya, kenapa? Ada yang bisa ku lakukan untukmu?" Jessica menatap Keisha, ia melihat ada harapan di mata Dokter Muda itu.
"Hmmm, bisakah luangkan waktumu nanti malam. Mmm, maksudku, kita makan malam bersama. Ada Jack dan Kamila juga nantinya, dan Aldy tentunya." Keisha memalingkan wajahnya, ia sungguh tidak punya keberanian jika harus menatap mata tajam milik Jessica.
"Terdengar menarik," jawab Jessica sambil tersenyum aneh. "Aku akan bergabung bersama kalian," sambungnya.
Huh, kenapa dia seseram ini, ya.
"Aku tau kau tidak akan menolak ini." Keisha tersenyum bangga karena berhasil melaksanakan misi pertamanya.
"Baiklah, ada sedikit urusan yang harus ku selesaikan dulu." Jessica berteriak memanggil Ken, bermaksud agar pria itu kembali dan menemani Keisha.
"Bagaimana, dia mau?" tanya Ken setelah memastikan Jessica sudah menjauh dari mereka.
"Hahaha, urusan gampang." Keisha tersenyum sombong, "Kita sama-sama wanita, jadi mengerti perasaan satu sama lain," ucap Keisha tidak tentu arahnya.
"Baiklah, wanita memang sulit dimengerti," gumam Ken. Pria itu mengajak Keisha berkeliling dan berkenalan dengan para Junior yang akan mengikuti lomba nantinya.
"Kau keren sekali, Zii." Keisha memandang gadis yang masih berusia 16 tahun dengan takjub. "Sejak kapan kau ikut bela diri?"
"Sejak mereka sering menjahiliku," jawab Zia sambil menunjuk ke arah Zen, Arfan dan Bagas.
"Aku ingin buktikan pada mereka dan juga dunia, bahwa wanita tidak selemah yang pria lihat," sambungnya. Keisha terkekeh ketika mendengar jawaban terakhir Zia, "Hehehe, maaf, maaf."
"Kau mengikuti jejak Jessica, ya?"
"Hmmm, Kak Jess masih sangat jauh di atas kami, sangat jauh. Bahkan dia lebih atas dari Senior Ken dan Juan," jawab Zia.
"Benarkah?" Keisha melirik ke arah Jessica yang sedang sibuk berdiskusi bersama para Senior di tengah lapangan.
"Hmmm, Kak Jess penyumbang Piala dan Penghargaan terbanyak sepanjang perguruan ini berdiri. Kak Jess juara berturut-turut selama 7 tahun, dia Serigala Betina kebanggaan kita semua." Zia benar-benar mengagumi semua hal yang ada pada diri Jessica, semuanya. Mulai dari tatapan, senyuman, tingkah lakunya, kepribadiannya. Bagi Zia semuanya hal yang ada pada Jessica sangatlah istimewa.
"Aku tidak menyangka itu." Keisha menarik nafas panjang untuk memulai misinya, "Hmmm, Zii," panggilnya lalu membisikkan sesuatu pada Zia, gadis itu tersenyum, "Baiklah, Kak," jawabnya mengiyakan permintaan Keisha.
Misi selesai
_________
Jessica mengikat rambutnya seperti biasa, ia menatap pantulannya di cermin berukuran sedang itu.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri, mulutku berusaha menolak agar tidak bertemu lagi denganmu, tapi tubuhku. Ia merasa terpanggil ketika mendengar namamu," gumam Jessica.
Ia menatap jaket abu-abu yang tergantung di balik pintu kontrakannya, "Terima kasih karena sudah memberikan semuanya padaku, asalkan kau tau, aku tidak pernah berharap dicintai olehmu. Tapi jika sudah begini, aku sendiri tidak bisa membohongi diriku lagi."
Jessica melangkah keluar, ia mengunci pintu dan juga gerbang kontrakan.
"Kak Jess," teriak Zia dari ujung jalan. Gadis itu berlari mendekati Jessica. "Kak Jess, anak-anak menunggu Kak Jess di lapangan," ucapnya setelah berdiri tepat di depan Jessica.
"Ada apa?" tanya Jessica sambil mengerutkan dahinya. Pasalnya, ia tidak pernah menyuruh anak-anak untuk berkumpul malam ini.
"Ayo, Kak, mereka sudah menunggu sejak tadi," ucap Zia lalu menarik tangan Jessica, menyeret wanita menuju perguruan.
"Zii, Kak Jess ada janji dengan seseorang," ucap Jessica lalu menghentikan langkahnya.
"Ayolah, Kak Jess, ku mohon." Zia memohon dengan wajah yang sangat imut dan mengemaskan. Jessica menghembuskan nafasnya pelan, "Baiklah, Zii."
Mungkin malam ini bukanlah malam yang beruntung bagiku.
Jessica dan Zia melangkah kakinya memasuki perguruan, tempat itu terlihat sangat ramai. Para peserta lomba berkumpul di lapangan, berjejer rapi menunggu kedatangan Jessica.
Jessica melebarkan matanya tidak percaya, ia menatap sekitar. Lapangan itu begitu terlihat indah dengan lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip di sana.
"Makan malam bersamanya di sini saja," ucap Aldy yang sudah berdiri di belakang Jessica.
Jessica membalikan tubuhnya menghadap Aldy, "Kau di sini?"
"Hmmm, Jack dan Kamila juga di sini," jawab Aldy sambil melirik ke arah dua pasangan yang sudah duduk dengan tenang di tengah lapangan.
"Ayo, mereka sudah menunggu sejak tadi, cacing-cacing di perut mereka sudah tidak tahan lagi," sambung Aldy. Pria itu tersenyum menatap mata Jessica yang begitu redup dan indah malam ini.
Malam ini bukan hanya Jessica, Aldy, Ken, Keisha, Jack dan Kamila saja yang akan makan bersama, melainkan semua murid yang akan ikut lomba pun makan bersama mereka malam ini.
Mereka makan dengan daun pisang sebagai piringnya, tentunya daun pisang yang sudah dicuci bersih. Semua berjejer dan berbaris rapi. Menyantap makanan yang ada di hadapan mereka.
Jessica melirik ke arah Aldy dan Kamila, kedua orang yang tidak pernah makan seperti ini. Namun nyatanya, keduanya makan dengan lahap tanpa memperdulikan dimana dan apa yang mereka makan sekarang.
Aku rasa, aku telah salah menilaimu, Tuan Aldy yang tampan.
Jessica kembali menundukkan padangannya setelah puas menatap wajah Aldy yang sedang sibuk mengunyah makanannya.
"Hmmm, kau mau nambah?" tanya Ken pada Keisha yang duduk di hadapannya. Keisha mengangguk lalu melirik ikan bakar yang masih utuh di samping Ken.
"Hahaha, bagaimana. Ini seru,kan," ucap Ken sambil meletakkan ikan itu di atas daun pisang mereka.
"Sangat seru," sahut Kamila yang berada di samping Keisha.
"Hei, jangan ngomong sambil makan!" Ken menatap Kamila tajam, Kamila hanya tersenyum, tidak perduli lagi dengan tatapan tajam dan mematikan Ken. Ia sudah merasa nyaman, selama Jack masih ada di dekatnya seperti sekarang.
"Makanlah," ucap Jack sambil menatap Kamila. Gadis itu tersenyum malu karena mendapatkan tatapan yang begitu hangat dari Jack.
Acara makan malam itu selesai, murid-murid juga sudah bubar dan pulang ke rumah mereka masing-masing untuk istirahat karena besok, mereka akan berangkat menuju perlombaan.
_______
Aldy dan Jessica sama-sama diam dan hanya menjadi pendengar saja. Keduanya masih terlihat canggung untuk memulai bicara seperti biasa.
"Huhuhu, perutku hampir meledak karena kekenyangan," ucap Kamila yang tidak tau malu itu. "Hehehe, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kamila setelah sadar semua mata tertuju padanya. Gadis itu bergerak lalu bersembunyi di balik punggung Jack.
__ADS_1
"Khemm, aku dan Keisha pulang duluan." Ken mengedipkan matanya pada Aldy, memberi isyarat tertentu.
"Ah, aku akan mengantarmu pulang," ucap Jack pada Kamila. Ke-empat makhluk itu meninggalkan Aldy dan Jessica di sana.
Aldy menatap Jessica, "Jess," panggilnya lalu mendekat ke arah Jessica. Jessica diam, tidak bergerak sedikit pun.
Aldy membalik tubuhnya menghadap Jessica, ia menatap dengan lekat wajah wanita yang sudah membuatnya tergila-gila itu.
"Aku ingin mengatakan sesuatu," ucap Aldy serius. Ia menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan pelan lewat mulutnya.
"Jess, aku yakin kau sudah tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya." Aldy berhenti, ia menatap wajah Jessica yang tiba-tiba berubah.
"Aku tidak pantas untukmu," jawab Jessica. Wanita itu memiringkan tubuhnya menghadap Aldy. "Kita beda."
"Jess, Aku Mencintaimu. Aku tidak pernah menilai seperti apa latar belakangmu. Aku mencintaimu apa adanya, bukan ada apanya." Aldy meraih tangan Jessica, menggegamnya erat.
"Aku Mencintaimu, Jess. Sangat Mencintaimu."
Jessica berdebar, ia tau kalau hatinya memang menginginkan pengakuan langsung dari Aldy. Tapi entah kenapa ia belum sanggup untuk mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan saat bersama Pria dingin dan tampan itu.
"Kembalilah Jess, kembali bersamaku, menjadi pendamping hidupku." Aldy mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari dalam saku celananya.
"Aku tidak bisa, aku tidak bisa mendampingimu. Carilah wanita yang memang pantas untuk bersanding denganmu." Jessica menarik tangannya, ia berdiri hendak pergi meninggalkan Aldy.
"Jess, setidaknya berikan aku jawab yang memang murni dari hatimu, bukan dari egomu." Aldy menarik tangan Jessica, membuat wanita itu kembali duduk di hadapannya.
"Aku Mencintaimu, Jess."
"Ambillah ini, pakai jika kau memiliki rasa yang sama denganku. Dan buang saja jika kau tidak memiliki sedikit pun rasa yang sama seperti yang ku rasakan saat bersamamu." Aldy mengerahkan kotak kecil itu pada Jessica, "Aku akan menunggu jawaban darimu."
Jessica menatap kotak kecil yang berada di tangannya itu, ia punya seribu alasan untuk menolak Aldy dan ia juga punya seribu alasan untuk menerima Aldy. Wanita itu benar-benar bingung jika harus menghadapi masalah seperti ini.
"Ayo pulang, kau harus istirahat,kan." Aldy bangun lalu menarik tangan Jessica.
"Aku antar pulang." Aldy terus menggegam tangan Jessica, ia berjalan di samping wanita itu. Jessica hanya diam, hatinya berteriak ingin menolak, namun tubuhnya rela jika harus bersama dengan Aldy selamanya.
Keduanya berjalan tanpa ada yang bicara, Aldy merasa lega karena bisa mengungkapkan isi hatinya. Pria itu memang bukan tipe Pria romantis yang bisa merangkai kata-kata manis untuk meluluhkan hati wanita, tapi ia punya aura dan juga senyum tipis yang bisa membuat wanita meleleh ketika melihat senyum tipis di bibirnya.
Jarak antara kontrakan Jessica dan perguruan memang tidak jauh, tidak butuh waktu yang lama. Keduanya sudah berdiri di depan gerbang kontrakan itu.
"Istirahatlah, semoga sukses untuk lombanya," ucap Aldy lalu melepaskan tangan Jessica. Jessica tidak menjawab, wanita itu hanya menatap Aldy lalu tersenyum tipis.
"Aku akan setia menunggu jawabanmu." Aldy menatap punggung Jessica yang sudah masuk ke dalam kontrakan itu. Jessica membalik tubuhnya, ia membawa Jaket Levis tebal di tangannya.
"Pakailah, udara malam ini sangat dingin," ucapnya lalu memberikan jaket itu pada Aldy, wanita itu tau Aldy ke sini mengendarai motor bukannya mobil.
Aldy tersenyum lalu meraih jaket di tangan Jessica, "Terima kasih."
"Hmmm, hati-hati di jalan," ucap Jessica lalu memutar tubuhnya, ia berjalan dengan sedikit cepat, membuka pintu kontrakannya lalu masuk dan meninggalkan Aldy yang masih mematung di depan gerbang sana.
**Bersambung....
\=\=\=\=\=\=\=\=
Assalamu'alaikum Kakak-kakak, Alhamdulillah Author sempetin buat nulis. Walaupun nggak bisa Update seperti biasa, Author usahain akan tetap Update tapi tidak akan menentu kapan dan berapa Chapternya. Sekali lagi mohon pengertiannyaš
Salam Manis dari Author ingusanā„š**
__ADS_1