Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Bulan dan Bintang (Serba Dua)


__ADS_3

Malam minggu, tepatnya jam 08:00. Di kediaman keluarga Ken, pesta meriah diadakan. Pesta ulang tahun Mama Ken yang ke-49. Tidak banyak orang yang hadir, hanya kerabat terdekat seperti keluarga Pranata, Can Candra dan beberapa kerabat dekat Yoga Candra.


Malam itu, Nathalia dan Kamila terlihat begitu manis dan cantik dengan balutan gaun selutut berwarna biru muda. Keduanya terlihat seperti putri di dalam dunia dongeng.


Aldy dan Ken juga tidak kalah tampannya, keduanya memakai setelan jas dan kemeja yang sama. Begitu memikat bagi siapapun yang menatap mereka.


Berbeda dengan dua wanita galak yang duduk di pojok ruangan, keduanya sama-sama berpakaian sederhana. Jessica berpakaian seperti biasa, Jaket Levis selalu menutupi tubuh tegapnya itu. Sedangkan Keisha memakai gaun pesta berwarna hitam polos, cukup terlihat sederhana tapi mewah jika di pakai oleh wanita cantik seperti Keisha.


"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Jessica," ucap Keisha membuka pembicaraan diantara keduanya.


Jessica tersenyum. "Senang juga bertemu dengan Anda, Dokter Keisha."


"Owh ya, apa kita bisa bertukar nomer Hp?" Keisha menyalakan Hpya, memberikan pada Jessica.


"Tentu saja." Jessica mengetik nomernya lalu mengembalikan benda tipis itu pada Keisha.


"Hmmm, apa kau calon istri Tuan Aldy?" tanya Keisha ragu. Jessica terdiam, menarik nafas panjang untuk menjelaskan siapa dirinya yang sebenarnya.


"Ah, ternyata di sini rupanya." Suara Ken mengagetkan keduanya. Keisha menatap Ken kesal begitu pula dengan Jessica.


"Owh, Tidak. Serigala Galak dan Dokter Galak bertemu." Ken tertawa dengan nada jahilnya.


"Sudahlah Jessica, jangan pedulikan Es Batu Balok ini." Keisha memalingkan wajahnya, tangannya sudah meraih tangan Jessica hendak pergi dan memilih tempat duduk yang lebih aman dan nyaman.


"Oh...Ayolah Dokter Galak, kau tidak ingin memperkenalkan aku pada temanmu itu." Ken mengedipkan matanya genit pada Keisha. Keisha mendengkus kesal.


"Khemm...dia Ken, si Es Batu Balok." Keisha memperkenalkan Ken pada Jessica, yang sebenarnya sudah kenal sejak dulu.


"Aku sudah mengenalnya, bahkan setiap hari bertemu dengannya." Jessica menatap Ken tajam. Ken hanya tersenyum tipis lalu beralih menatap Keisha.


"Astaga, aku lupa. Diakan sekretaris Tuan Aldy yang tampan," ucap Keisha sambil tersenyum malu.


"Tapi dingin..." sahut Jessica. Keisha tertawa seolah-olah membenarkan perkataan Jessica.


"Khemm..." Entah sejak kapan Aldy berdiri di belakang Jessica dan Keisha. Jessica sedikit terkejut, berbeda dengan Keisha yang langsung gugup dan salah tingkah dibuatnya.


"Maaf, Tuan," ucap Keisha gugup, sekarang wajah tampan dan dingin itu sudah berada di depannya, berdiri tepat di samping si Es Batu Balok itu.

__ADS_1


"Manis juga calon istrimu, Ken." Aldy memperhatikan Keisha, wanita itu memang terlihat manis malam ini.


Jessica geli, ingin tertawa ketika mengetahui bahwa Keisha-lah calon istri untuk Ken.


"Tapi Galak..." sahut Ken. Aldy tertawa sambil menatap ke arah Jessica, wanita itu terlihat berbeda dengan polesan make up tipis di wajahnya.


"Dua pasangan yang sempurna..." teriak Kamila dan Nathalia. Keduanya mendekati empat orang dewasa yang berdiri di pojok ruangan itu.


"Kak Aldy dan Kak Jessica," ucap Kamila dengan mata yang berbinar terang.


"Kak Ken dan Kak Keisha," sahut Nathalia semangat.


Ken dan Aldy saling menatap, bingung bagaimana cara mengatasi kedua adiknya ini.


Ah, kalian memang nyamuk pengganggu.


Aldy dan Ken memilih untuk pergi, dari pada harga diri mereka jatuh karena omongan kedua adik gilanya ini.


"Yah, pergi." Nathalia menatap punggung Aldy dan Ken yang sudah menjauh, mereka berdua berbaur dengan keluarga Yoga Candra dan Can Candra.


"Rencana gagal." Kamila mendengkus kesal. Sebenarnya ia dan Nathalia sudah mempersiapkan rencana untuk menyatukan dua pasangan yang masih terlihat menutup perasaan mereka masing-masing.


___________


Ken menarik tangan Keisha, membawanya menuju taman di samping rumah.


"Lepaskan tanganku! Es Batu Balok! Lepaskan." Keisha terus berteriak pada Ken. Ken hanya tersenyum, mengabaikan teriakan Keisha.


"Es Batu Balok! Dasar beruang kutub!" Keisha berhasil melepaskan tangannya. Ia menatap Ken tajam.


"Apa! Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ken dengan sorot mata yang tidak kalah tajamnya. Keisha mencakar wajah Ken, sampai pria itu meringis kesakitan.


"Khemm, rasakan itu. Dasar pria dingin!" ucapnya lalu meninggalkan Ken yang masih mematung di samping taman.


Ken memegang wajahnya yang terasa sedikit perih, namun berbeda dengan hati dan jantungnya. Jantungnya berdebar begitu kencang ketika jaraknya dan Keisah lumayan dekat tadi.


Sedangkan di taman belakang. Jessica menatap bunga-bunga yang berayun ke kanan dan kiri karena tertiup oleh angin malam. Jari-jarinya menyentuh bunga-bunga tadi, "Kalian cantik sekali."

__ADS_1


"Sama sepertimu," sahut Aldy yang sudah berdiri di samping Jessica. Jessica menoleh, "Sejak kapan Anda di sini?"


"Sejak kau memanggilku untuk ke sini." Jawaban dari Aldy membuat Jessica sedikit bingung, pasalnya ia tidak pernah memanggil Aldy untuk menghampiri dirinya.


"Aku tidak pernah melakukan itu," bantah Jessica. Aldy hanya tersenyum tipis, pria itu mundur beberapa langkah. Ia bisa melihat wajah Jessica yang tidak nyaman ketika dirinya berada di samping Jessica.


"Kau suka bunga?" Aldy menatap punggung Jessica. Wanita itu berbalik, "Aku suka, tapi tidak semua bunga." Jessica tersenyum.


"Lalu, bunga apa yang kau suka?" tanya Aldy penasaran. Jessica tidak langsung menjawab, wanita itu berjalan lalu duduk di bangku taman, disusul oleh Aldy.


"Aku suka bunga Edelweis." Jessica menatap langit malam yang begitu indah. Bintang-bintang bersinar terang, seolah-olah mengerti perasaannya saat ini.


"Aku akan membawakannya untukmu." Aldy mengikuti ke mana mata Jessica, ia tersenyum ketika melihat seuntai senyum tipis di bibir Jessica.


"Hahaha, kau sangat pandai menggombal," ucap Jessica di iringi oleh tawa kecilnya.


"Kau tidak tertipu rupanya." Aldy ikut tertawa. Ada rasa bahagia menyelip di hatinya, ia melirik ke arah Jessica yang masih menatap langit penuh arti.


"Apa Anda suka bintang?" Jessica melirik Aldy sekilas.


"Tidak, aku lebih suka bulan." Aldy menunjuk bulan yang begitu indah, sempurna ketika purnama.


"Kenapa?" Kini Jessica sudah beralih menatap bulan yang sempurna itu. Ia tersenyum lalu menatap wajah tampan milik Aldy, dua-duanya terlihat sempurna.


"Entahlah, aku lebih suka bulan. Aku rasa, bulan juga suka padaku." Aldy tertawa ketika menyadari hal konyol yang baru saja ia katakan.


"Mungkin begitu," sahut Jessica lalu tertawa kecil. Keduanya masih bicara tentang bulan dan bintang, meng-ibaratkan Jessica sebagai bulan dan Aldy bintangnya.


Ku mohon, berhentilah berdebar secepat ini.


Bersambung.....


_____________


Note:


Anaphalis Javanica / Bunga Edelweis : bunga yang hanya bisa tumbuh di dataran tinggi dengan ketinggian di atas 2000 meter dari permukaan laut.

__ADS_1


Semoga suka😊


Maaf kalau kata-kata Author terlalu alay dan lebay😂


__ADS_2