Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Jack & Kamila (5)


__ADS_3

Motor Jack terparkir di halaman rumah utama. Ia melirik sekeliling, rumah itu sangat bersih dan nyaman. Taman utama yang terawat memancarkan keindahannya, bunga-bunga menari ke kanan dan kiri karena tiupan angin pagi yang begitu sejuk.


Jack berjalan, belum sempat ia menekan bel, pintu rumah itu sudah terbuka dan menampakkan wanita paruh baya berdiri di sana.


"Jack, kau di sini, Nak." Ibu membuka pintu semakin lebar, ia tersenyum menatap wajah tampan dan senyum manis Jack.


"Tunggu dulu, Kamila dan Kakaknya masih di ruang makan. Kau bergabunglah ke sana," ucap Ibu lalu meminta kepala pelayan mengantar Jack menuju ruang makan.


Pagi ini, Aldy dan Kamila memang sarapan sangat siang. Tidak seperti biasanya, keduanya bahkan masih mengenakan baju rumah mereka.


Jack menolak untuk bergabung di ruang makan, ia memilih untuk menunggu di ruang tamu saja.


"Maaf, Nona. Seseorang mencari dan menunggu Nona di ruang tamu," ucap seorang pelayan ketika melihat Kamila yang hendak ke luar dari ruang makan. Kamila tersentak, ia benar-benar lupa kalau hari ini ia sudah membuat janji dengan Jack.


"Hmmm, dasar pelupa." Aldy menyentil jidat Kamila pelan, lalu menatap gadis manis di depannya itu.


"Kau mau mendahului Kakakmu ini?" tanyanya sambil melirik ke arah ruang tamu.


Kamila tertawa lalu memeluk Aldy, "Kakak, aku bahkan selalu berdoa agar Kakak mendapatkan apa yang Kakak inginkan. Dan, aku selalu berdoa agar Kak Jess-lah yang menjadi Kakak iparku nanti." Kamila melepaskan pelukannya, ia tersenyum lalu bergegas naik ke kamarnya untuk mengambil tas.


Aldy berjalan menuju ruang tamu, ia masuk lalu duduk di hadapan Jack. Jack sedikit membeku karena belum terbiasa dengan tatapan mata Aldy.


"Hahaha, tenanglah, Jack. Aku tidak akan memakanmu," ucap Aldy namun tatapan dan aura dinginnya masih berputar di sekitar ruangan itu.


Jack menelan ludahnya, ia tidak pernah segemetar ini jika berhadapan dengan siapapun.


"Jack."


"Aku tidak akan menghalangi hubungan kalian. Tapi akan beda lagi, jika Kamila menetaskan satu titik air mata karena ulahmu, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu dengan tanganku sendiri," ucap Aldy lalu tersenyum tipis. "Jagalah dia dengan nyawamu," sambungnya lalu berdiri dan keluar dari ruang tamu.

__ADS_1


Jack keringat dingin, ia tidak menyangka kalau berhadapan dengan Aldy akan seperti ini rasanya. Tubuhnya kaku, tangannya gemetar, jantungnya bahkan berdetak lebih kencang.


"Huh, ternyata Kak Aldy lebih seram dari Kak Jess." Jack menatap jam tangannya, ia teringat pada wanita itu. "Kak Jess pasti sibuk sekarang."


"Jack," panggil Kamila lalu masuk ke dalam ruang tamu, gadis itu duduk tepat di samping Jack. "Ayo, kita jalan sekarang, aku ingin merasakan udara yang sejuk di waktu pagi," ucapnya.


Jack hanya tersenyum lalu berdiri dan susul oleh Kamila. Keduanya menemui Ibu, meminta izin untuk keluar.


"Jaga putri Ibu, Jack," ucap Ibu pada Jack yang sudah menyalakan motornya, Jack tersenyum, "Akan ku jaga dengan nyawaku, Bu," jawab Jack sambil tersenyum, Ibu hanya menggeleng ia sudah tau dari mana Jack mendapatkan kalimat legend itu.


Kamila menghembuskan nafas pelan, dia sendiri yang meminta untuk di jemput dengan motor, tapi dia sendiri yang takut naik motor sekarang. "Ini pasti seru." Kamila meraih helm lalu mengenakannya, gadis itu bahkan tidak bisa menggunakan helm dengan benar, membuat Ibu dan Jack hanya mengeleng kepala ketika melihat Kamila yang kebingungan dengan helm yang ada di kepalanya.


"Hahahaha, sini, biar aku yang pakaian," ucap Jack lalu turun dari motornya. Ia mendekat, membenarkan posisi helm di kepala Kamila. Gadis itu menahan nafasnya, berusaha agar tidak salah tingkah karena jarak diantara dirinya dan Jack sangat dekat saat ini.


"Sudah, begini,kan enak dilihat." Ibu tersenyum melihat tingkah dua remaja di hadapannya. Jack menyalakan motor. Kamila naik dengan hati yang berdebar kencang, keduanya meninggalkan halaman rumah utama. Bergabung dengan mobil dan motor lainya di jalan raya.


"Hati-hati, Jack. Jangan terlalu ngebut," ucap Kamila yang sudah gemetar dan keringat dingin. Gadis itu terus berdoa agar ia dan Jack bisa selamat sampai tujuan.


________


Jack menutup mata Kamila. Ia membimbing gadis itu untuk berjalan dengan menggenggam tangannya erat.


"Kita mau kemana, Jack? tanya Kamila dengan tangan kirinya meraba benda-benda di sekitarnya.


"Jalan saja, jangan banyak tanya, Manis." Jack terus menuntun Kamila dengan pelan. Keduanya berhenti, "Kita sudah sampai," ucap Jack lalu membuka penutup mata Kamila.


Gadis itu tercengang, ia bahkan menitikkan air matanya haru, "Jack."


Jack mengajak Kamila menuju Markasnya yang sudah dirias dan ditata seindah mungkin. Mawar bertebaran dimana-mana, mulai dari atas meja sampai banyak yang tergeletak dilantai. Kamila berjalan, ia memegang sebuah lukisan berukuran sedang di pojok ruangan.

__ADS_1


"Kau suka?" Jack melangkah mendekati Kamila, tidak disangka, gadis manis itu menghamburkan pelukannya pada Jack. "Terimakasih, Jack." Kamila melepaskan pelukannya, menepis air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.


"Aku mencintaimu, Nona Kamila Pranata Yoga." Jack mengajak Kamila untuk duduk, ia menatap lekat wajah gadis manis di hadapannya itu.


Kamila terdiam, ia sudah kehabisan kata-kata untuk membalas ungkapan Jack. Kamila menatap sekeliling ruangan. Ia terlihat bingung, "Siapa yang melukisnya?" Kamila melirik lukisan yang berada di pojok ruangan tadi.


Lukisan itu menampakkan seorang wanita dengan mata berbinar terang, rambut pirang yang terurai ke bawah, senyum manis yang bisa membuat siapapun menatap lukisan itu akan terserang penyakit diabetes.


"Kau tidak akan percaya jika aku memberi tahu siapa yang melukisnya, percuma," jawab Jack dengan bibir yang sedikit ditarik, membentuk senyum tipis mirip dengan senyuman Jessica.


"Hahaha, aku tau siapa pelukisnya. Dia pasti orang yang tampan, memiliki senyuman yang sangat manis, mata yang hangat, tubuh tegap dan tinggi, iya,'kan?" Kamila meraih pipi Jack lalu mencubitnya keras.


"Auuu." Jack mengelus pipinya.


"Hahahaha, kau sangat manis jika seperti itu," ucap Kamila lalu menambah cubitan ringan di pipi Jack. Jack hanya diam, menikmati cubitan yang bahkan semakin lama semakin tidak ada rasanya itu.


"Sudah puas sekarang? Aku masih punya sesuatu untukmu," ucap Jack sambil meraih tangan Kamila yang masih menempel di pipinya. Jack menepuk tangannya dua kali, membuat setumpuk kelopak mawar jatuh tepat di atas kepalanya dan Kamila.


Kamila mendongak melihat kelopak mawar yang masih berjatuhan di atasnya. Gadis itu tersenyum bahagia ketika melihat Jack berlutut dengan setangkai mawar di tangannya.


"Haruskah aku berlutut seperti di film-film?" tanya Jack untuk menyadarkan Kamila yang masih terbang ke angkasa. Kamila terkekeh lalu mengambil setangkai bunga di tangannya Jack.


"Aku mencintaimu juga, Jack," ucapnya sambil menatap Jack hangat. Jack berdiri, ia menyelipkan bunga kecil di telinga Kamila, "Hahahaha, kau sangat manis."


Yosi dan yang lainnya hanya bisa mengintip dari jendela kecil di ruangan itu, mereka bahkan berebutan agar bisa melihat moment spesial antara Jack dan Kamila.


"Senyum Jack," teriak Yosi dengan tangan memang sebuah kamera, Jack dan Kamila menoleh lalu tersenyum menghadap kamera yang menerobos masuk melalui jendela kecil itu.


"Sempurna," teriak yang lain dari balik dinding ruangan. Jack hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah konyol kawan-kawan yang mengintip di balik tembok sana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2