
Jessica memejamkan matanya, rasa lelah menghampiri tubuh Serigala Betina itu. Malam ini, malam terakhir mereka menginap di gedung olahraga ini karena besok adalah hari penutupan sekaligus pengumuman pemenang pada semua jenis perlombaan.
"Aku saja bisa selelah ini, bagaimana dengan mereka yang bertanding setiap harinya," gumam Jessica sambil melirik ke arah Zia dan yang lainnya yang sudah tidur tanpa mengganti baju mereka.
Rasa lelah sangat terlihat di wajah gadis-gadis itu. Mereka sudah memberikan yang terbaik untuk perguruan. Bahkan Bagas dan Zia rela bertanding melawan yang bukan menjadi lawannya, demi menyelamatkan nama baik perguruan.
Tahun ini memang sangat banyak peserta lomba, membuat para panitia lomba sedikit kewalahan. Bahkan banyak dari mereka yang hampir angkat tangan karena menghadapi semua protesan dari masing-masing Dojo.
Banyak peserta yang bertanding dengan yang bukan lawannya. Bagas yang memiliki berat tubuh 47 Kg harus bertanding dengan orang dewasa yang hampir memiliki berat tubuh 55 Kg.
Bagas hampir saja menangis waktu itu, ia bahkan menatap Jessica dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Jessica, Juan dan Hendra selalu mendampingi mereka, ketiganya selalu memberi support pada junior-junior kebanggaan mereka itu.
Hendra bahkan tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan isi dompetnya, ia memberi setiap murid cokelat dan juga es krim setiap malamnya.
Juan juga tidak mau kalah, ia juga rela mengeluarkan uangnya untuk mentraktir para peserta lomba akhir pekan nanti.
Berbeda dengan Jessica, Serigala Betina itu tidak perlu mengeluarkan uang. Cukup duduk dengan tenang dan tersenyum saja sudah menjadi hadiah paling berharga bagi para peserta.
"Kak Jess," panggil Zia yang baru saja bangun. Gadis itu membuka ikat rambutnya, mencium bau badannya yang sangat menyengat.
"Kau bangun," jawab Jessica namun matanya masih terpejam.
"Aku mau mandi, Kak. Apa boleh?" tanya Zia ragu. Gadis itu menatap sekeliling, semua sudah tidur dengan posisi yang tidak karuan. Bahkan kepala dan kaki bertemu di satu tempat yang sama.
"Kau berani?" Jessica bangun, bermaksud hendak menemani Zia untuk ke kamar mandi.
"Aku berani, Kak Jess tidur saja." Zia meraih handuk dan juga peralatan mandinya. Ia mengintip ruang sebelah yang sudah sepi, "Mungkin semua tidur karena kelelahan," gumam Zia lalu beranjak menuju kamar mandi.
Jessica menatap punggung Zia, dia khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis itu nantinya. Jessica mengikat rambutnya lalu meraih Hp dan keluar dari ruangan. Ia berlari mengejar Zia yang sudah berbelok menuju kamar mandi.
"Zii," panggilnya membuat gadis itu berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Jessica.
"Kak Jess, kenapa di sini?"
"Masuklah, Kak Jess akan menunggumu di sini," ucap Jessica lalu duduk di sebuah kursi panjang yang digunakan untuk mengantri. Ia menatap ke arah kamar mandi pria yang masih terlihat ramai di sebelah sana.
Zia masuk, ia merasa lebih lega karena ada Jessica di depan. "Setidaknya ada yang menemaniku di sini."
Jessica menatap jari manisnya, sekilas ia tersenyum ketika melihat cincin manis yang menghiasi jari itu. Ya, Jessica sudah mengambil keputusan untuk menjawab perasaan Aldy sesuai dengan perasaan yang ia rasakan.
"Jess," panggil Hendra yang sudah duduk di samping Jessica. Jessica kaget, segera ia menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Hendra.
Pria itu menatap wajah Jessica, hampir 7 tahun ia mencintai Serigala Betina itu. Namun, Serigala itu tidak pernah menjawab perasaannya sampai saat ini.
Mungkin sudah menjawab, tapi Hendra belum puas dengan jawaban itu, begitu lebih tepatnya.
"Audi Jessica. Apa kau lupa dengan perasaanku padamu? Kenapa belum menjawabnya sampai sekarang?" tanya Hendra. Laki-laki itu tau kalau Jessica sedang lelah, tapi hatinya jauh lebih lelah karena belum mendapatkan jawaban dari Jessica.
"Bukankah aku sudah menjawabnya? Apa kau yang lupa dengan jawabanku, Kak?" jawab Jessica dengan nada yang sedikit tinggi.
"Kapan? Apakah itu jawaban untukku? Katakan Jess! Katakan dengan sejujurnya." Hendra mengontrol dirinya, ia tau kalau Jessica memang tidak pernah mencintainya, wanita itu hanya menganggap sebagai kakak, tidak pernah lebih.
"Apa, Kak? Apa yang ingin kau dengar lagi? Apa kau ingin mendengar wanita ini menolakmu. Aku rasa kau tidak pantas untuk ditolak, aku sudah memberikan cara terbaik untuk menjawabnya, kenapa meminta cara terburuk lagi, sekarang." Jessica mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Ia dan Hendra memang sudah dekat sejak awal Jessica masuk ke perguruan, tapi entah sejak kapan jarak diantara mereka mulai tercipta. Mungkin sejak Hendra menyatakan perasaannya, atau mungkin sejak Jessica menamparnya?
Hendra tidak sengaja melihat cincin yang tersemat di jari manis Jessica, ia beralih menatap wajah Jessica.
"Maaf, maaf jika aku terlalu egois. Aku hanya mementingkan perasaanku tanpa bertanya perasaanmu untuk siapa sebenarnya. Lanjutkan, aku selalu mendukung setiap langkahmu." Hendra berdiri, meninggalkan Jessica yang mulai dihantui tanda tanya di kepalanya.
"Kenapa seperti ini, cinta benar-benar membuatku gila, aku tidak suka ini." Jessica mendengkus kesal. Ia menatap punggung Hendra yang mengecil dan hilang beberapa detik kemudian.
"Kak Jess." Zia memegang pundak Jessica, membuat wanita itu sedikit kaget.
"Ah, kau. Sudah selesai?" Jessica berdiri lalu merangkul bahu Zia, ia tersenyum seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
"Haduh." Arfan dan Zen saling menetap satu sama lain. Keduanya sudah melihat Hendra dan Jessica dari tadi. Di satu sisi keduanya suka melihat Hendra dan Jessica, di sisi lain mereka bisa melihat Jessica lebih bahagia jika bersama Aldy.
"Jodoh tidak akan pernah tertukar," gumam Zen. Arfan hanya mengangguk lalu meninggalkan Zen yang masih mematung di depan kamar mandi.
______
Lelah mereka terbayar setimpal. Mereka kembali menduduki peringkat pertama dan juga juara berturut-turut selama 4 tahun ini.
Jessica dan Juan tersenyum, "Aku bangga pada mereka dan juga padamu, Kak Jess," ucap Juan sambil melirik Jessica yang berdiri di sampingnya.
"Kak Jess," Zia berlari dengan memegang satu piala berukuran besar, 3 mendali emas dan 1 perak. Gadis itu memeluk Jessica erat, "Terimakasih, Kak Jess," ucapnya dengan air mata yang sudah tidak terbendung.
"Hai, jangan menangis. Mereka akan mengejekmu nanti." Jessica mengelus kepala Zia lembut, menatap gadis itu hangat.
"Senior Hendra mana?" tanya Bagas, Arfan dan Zen. Ketiganya memamerkan mendali emas yang mereka kalungkan.
"Tersenyum semua," teriak Hendra. Pria itu datang dengan kamera di tangannya. Semua menoleh lalu tersenyum sambil menunjukkan piala dan mendali mereka.
"Tolong foto kami," pinta Hendra pada seorang pria yang berdiri di dekatnya. Pria itu tersenyum lalu mengambil kamera di tangan Hendra.
"Di sini, Kak," teriak para junior. Mereka meminta Juan dan Hendra berfoto tepat di samping Jessica. Jessica hanya menanggapi dengan senyum tipis, membuat Juan dan Hendra mendekat lalu berdiri menghimpit Jessica di tengah-tengah mereka.
"Cisss."
"Sempurna."
____________
Semua masuk ke dalam bus dengan teratur. Jessica dan Juan sibuk mengurus piagam-piagam para juara. Keduanya bahkan turun naik ke dalam bus untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Ah, badanku sakit. Tolong pijat, Zii," pinta Zen pada Zia yang sibuk dengan Hpnya.
Zia menoleh, "Kau kira badanmu saja yang sakit, badanku juga sakit. Cepat pijat lenganku, nanti ku pijat lengan dan bahumu." Zia meletakkan Hpnya lalu membentang tangannya tepat di depan wajah Zen.
"Hei, kau dulu," protes Zen.
"Jika tidak mau, ya, sudah. Aku bisa minta tolong pada yang lain nanti." Zia menarik tangannya lalu kembali sibuk dengan Hpnya.
"Baiklah, putar tubuhmu." Zen memiringkan tubuhnya menghadap Zia.
"Hahahaha, cepat-cepat. Di sini, yang ini," ucap Zia sambil menunjuk lengan dan kepalanya.
__ADS_1
"Kau sakit badan atau sakit kepala," tanya Zen yang sudah mulai sibuk memijat lengan Zia.
"Dua-duanya."
"Hmmm." Zen memijat dengan baik dan benar. Ia berlarih memijat kepala Zia, melepas ikat rambut gadis itu. "Rambutmu bau, kau tidak pernah keramas?"
"Kau gila, itu gedung untuk perlombaan bukan rumahku. Bahkan untuk mandi saja aku harus mengantri, jika lama akan digedor oleh yang lain. Bagaimana aku bisa keramas dengan baik dan benar," jawab Zia sambil mencium rambutnya.
"Ini harum, Zen. Ciumlah!" Zia menaruh rambutnya tepat di depan hidung Zen, Zen menggosok hidungnya karena geli.
"Zii, jangan! Singkirkan rambutmu," teriak Zen, membuat semua mata menatap ke arah mereka.
"Hehehehe, maaf." Wajah keduanya memerah karena melihat Hendra dan Juan menatap ke arah mereka juga.
Hendra duduk tepat di samping kursi Zia dan Zen. Dia duduk sendiri, karena semua kursi sudah penuh kecuali kursi ini, dan mungkin Hendra akan duduk bersama Jessica nantinya. Serigala Betina itu belum naik, ia masih sibuk dengan beberapa urusan dengan panitia lomba.
10 menit kemudian. Jessica naik ke dalam bus sambil memakai jaket berwarna abu-abu, pemberian dari Aldy.
Ia melirik semua kursi, dan ternyata sudah penuh semua kecuali kursi di samping Hendra.
"Duduklah di sini, Jess." Hendra melirik kursi di sampingnya. Jessica menatap Zia, sayangnya gadis itu sedang sibuk memijat bahu Zen. Jadi dia tidak sadar kalau Jessica sedang membutuhkan bantuannya.
Dengan terpaksa Jessica duduk di samping Hendra. Hendra hanya diam, laki-laki itu sudah melupakan semuanya, melupakan rasa cintanya pada Jessica demi kebahagiaan Jessica sendiri.
Kadang kita harus mengikhlaskan dia bersama dengan orang yang membuat dia bahagia. Walaupun berat dan perih rasanya, tapi jauh akan lebih sakit dan perih lagi jika kita memaksa dia untuk mendampingi kita tanpa ada kebahagiaan sedikit pun terpancar dari wajahnya.
Jessica menyadarkan kepalanya, memejamkan matanya, melemaskan semua otot-ototnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang yaitu Aldy. Ia ingin menatap wajah tampan itu dari dekat, tapi sayangnya, jarak dan waktu tidak mengizinkannya untuk itu.
Jessica tertidur, tanpa sadar, kepalanya beralih jatuh di bahu Hendra. Hendra yang sedang sibuk dengan Hpnya pun menoleh.
"Kau pasti lelah, tidurlah. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan mengganggumu lagi. Melihatmu tersenyum saja aku sudah bahagia, apalagi aku bisa melihatmu tertawa lepas. Sayangnya, bukan aku orang yang bisa membuatmu tersenyum dan tertawa sebahagia itu. Semoga kau bahagia dengannya, Audi Jessica." Hendra menatap wajah Jessica yang sangat tenang, wanita itu terlihat sangat lelah sehingga tidur dengan pulas dan tenang seperti itu.
Sementara semua penghuni bus diam, dan melirik ke arah Jessica dan Hendra. Juan terlihat sedikit terkejut, namun ia yakin kalau Jessica benar-benar tidak sadar jika kepalanya sedang menyandar pada Hendra.
"Huhuhu, aku harap semua baik-baik saja kedepannya," gumam Zia. Gadis itu bahkan tidak sadar kalau tangannya menggenggam erat tangan Zen yang sudah tertidur.
Bersambung....
♡♡♡♡
**Sejauh ini author harap kakak" suka dengan cerita ini. Ngomong" cerita ini udah masuk final loh, tinggal beberapa Episode lagi akan tamat. Jadi, aku akan sedikit lambat Upnya. Mau semedi dulu😂 Ngehalu setinggi-tingginya😁
Cuman itu aja, See You Next Video😁 eh, next chapter maksudnya😘😙
Salam hangat dari author ingusan.
Yang mau berteman?
Bisa follow Ig / Fb author😀
Ig : Chamand4_
Fb : Icha Annisa Amanda**
__ADS_1