
Yosi memperhatikan wajah Jack yang murung, ia dan yang lainnya terus memperhatikan Jack yang duduk di pojok ruangan. Jack menyendiri, tidak ingin satu orang pun mendekatinya.
Yosi bingung, dengan langkah berat, ia memberanikan dirinya mendekati Jack.
"Kau kemana?" tanya Yosi, ia duduk tepat di samping Jack.
Jack diam, ia bahkan tidak menoleh sama sekali pada Yosi. "Ini semua karena ulahmu!" ucapnya setelah mengingat pemilik video di Hpnya.
"Ulahku?" Yosi mengerutkan dahinya, tidak mengerti maksud tuduhan Jack.
"Iya, ulahmu dan ulahmu juga...ulah kalian semua!" teriak Jack pada kawan-kawannya. Mereka membeku, bingung, sebenarnya apa yang terjadi pada Jack, pikir mereka.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Yosi kembali bertanya, mewakili pertanyaan yang lain.
"Kau yang nonton, 'kan tadi malam! Kenapa tidak kau hapus, bodoh!" Jack mengacak rambutnya, ia frustasi karena Kamila benar-benar menjauh darinya.
Yosi menatap kawan-kawannya, meminta bantuan pada mereka.
"Maksudmu video itu, bukankah kau akan menontonnya?" Yosi mengalihkan padangannya setelah Jack menatapnya tajam.
"Tidak! Otakmu di mana, hah?" Jack memukul Yosi dengan majalah di depannya. Dia geram, geram karena Kamila yang tidak kunjung menbalas atau mengangkat teleponnya.
"Jack, salah kami di mana? Bukannya kau tidak pernah marah karena video apapun? Tapi, kenapa kau sekarang marah? Ada apa sebenarnya?" Yosi meringis karena Jack terus memukulnya. Kawan-kawan yang lainnya hanya diam, menikmati dan menonton amukan Jack.
"Apa kau tau? Gara-gara video bodoh itu Kamila tidak mau bertemu denganku lagi! Ini semua gara-gara video bodohmu!" teriak Jack frustasi.
Yosi menggaruk kepalanya, "Apa Kamila menemukannya di Hpmu?"
"Iya, ini semua karena kau tidak menghapusnya!" Jack sudah terlihat lelah. Ia tidak memukul Yosi lagi, melainkan mengetuk-ngetuk meja dan tembok secara bergantian.
"Kau senasib dengan Martin," gumam Yosi.
"Martin? Minta anak itu kemari!" perintah Jack pada kawan-kawan yang menjadi penonton sejak tadi.
"Ba-baiklah, Jack." Mereka menghubungi Martin, meminta pria tampan itu untuk datang ke markas Jack.
_____________
Jack menunggu Kamila di kafe miliknya yang menjadi tempat favorite Kamila dan Elis. Namun, hampir 2 jam Jack menunggu. Kamila dan Elis tidak menampakkan batang hidungnya juga.
"Apa dia masih marah dan jijik padaku?" Jack menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Hari ini ia akan meminta maaf sesuai saran yang diberikan oleh Martin tadi malam.
Sore harinya. Jack masih di kafe, berharap Kamila akan datang setelah kuliahnya selesai. Namun hasilnya tetap sama, Kamila dan Elis tidak berkunjung ke kafenya hari ini.
__ADS_1
Dengan langkah berat, Jack keluar dari kafe. Ia menancapkan gasnya untuk kembali ke markas.
Jack menutup gerbang markas, menguncinya rapat. Terlihat kawan-kawannya sudah menunggu kedatangan Jack, mereka menatap wajah lesu Jack, tau apa yang Jack rasakan saat ini.
"Kau bisa mencoba lagi besok." Mereka menghibur Jack, namun yang dihibur sama sekali tidak tertarik pada hiburan mereka.
Dering Hp Jack membisukan suasana yang ribut itu. Jack menatap layar Hpnya sekilas, ia tersenyum lebar ketika melihat nama pemanggil yang tertera di sana.
"Hallo, aku minta maaf. Aku janji tidak akan menontonnya lagi, aku janji padamu," ucap Jack. Ia bahkan sudah keringat dingin karena Kamila tidak mengucapkan sepatah katapun.
"Ayolah, Kamila. Kau bisa menamparku, mencubit, menjabak atau memukulku. Tapi kumohon, jangan abaikan aku seperti ini." Jack menatap layar Hpnya. Masih terhubung, namun Kamila belum bersuara juga sejak tadi.
"Hmmm, aku memaafkanmu. Tapi, kau harus menjalankan sanksi terlebih dahulu," jawab Kamila setelah diam cukup lama.
"Sanksi apa? Apapun sanksinya, aku akan menjalankannya." Jack menarik nafas lega. Ia tersenyum seolah-olah sudah mendapatkan satu tumpuk harta karun.
"Kau tidak boleh memegangku! Tidak boleh menatap wajahku lebih dari lima detik," jawab Kamila sambil tersenyum aneh di seberang sana.
"Ah, kenapa? Adakah sanksi lainnya?" Tawar Jack. Ia tidak bisa jika harus menjalankan sanksi yang Kamila berikan tadi.
"Ada."
"Kau pergilah! Pergi sejauh-jauhnya dari hidupku!" jawab Kamila pura-pura. Ia menahan nafasnya, takut Jack mengiyakan sanksinya yang satu ini.
"Tidak, aku pilih yang pertama saja. Aku tidak mau jauh-jauh darimu!" jawab Jack dengan keringat dingin mengalir di tubuhnya.
"Aku ingin tau, seberapa takut kau kehilangan aku," ucap Kamila. Ia meletakkan Hpnya, berjalan ke atas kasur dan merebahkan dirinya di sana.
Sementara Jack, pria itu tersenyum, namun senyumnya tidak manis, senyumnya terlihat begitu pahit, sama seperti kopi tanpa gula.
"Bagaimana?" tanya Yosi ketika melihat ekspresi wajah Jack.
"Ada sanksinya," jawab Jack lesu. Ia berbaring di atas kursi bambu panjang, memejamkan matanya.
"Apa sanksinya?"
"Aku tidak boleh memegangnya, tidak boleh menatapnya lebih dari lima detik. Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Wajahnya selalu menghantui pikiranku hari ini. Dan dia? Dia tidak ingin aku menatapnya lebih lama," jawab Jack dengan mata yang masih terpejam.
Yosi tersenyum tipis. Satu sisi ia bahagia melihat Jack seperti ini, satu sisi ia kasihan pada Jack. Ia tau boss sekaligus temannya itu pasti sangat menyayangi Kamila, pacar pertamanya.
Mereka membisu, membiarkan Jack larut dalam tidurnya.
______________
__ADS_1
Siangnya, Jack kembali datang ke kafenya. Ia bisa melihat dua gadis yang sedang menyeruput jus mereka.
"Kamila," sapa Jack. Ia duduk di kursi samping Kamila. Menatap gadis pujaanya itu.
"Ingat sanksimu!" Suara Kamila terdengar begitu dingin, ia mulai mewarisi sifat Aldy dan Jessica.
Jack menundukkan pandangan, "Iya-iya. Aku ingat sanksiku." Ia tersenyum masam. Kini mata Jack menatap wajah Elis yang duduk di hadapannya.
"Hei! Lihatlah! Matanya menatapku." Lapor Elis pada Kamila. Kamila menarik telinga Jack lalu menyentil jidatnya pelan.
"Astaga, aku selalu salah di matamu," keluh Jack dengan tangan memegang telinganya.
"Ya! Kau memang salah! Selalu salah di mataku!" Kini mata Kamila sibuk mengamati tubuh Jack.
"Mana Hpmu?" tanyanya dengan tatapan sinis.
"Huhuhu, mana Kamilaku yang manis dan lemah lembut itu?" Jack menyodorkan Hpnya pada Kamia.
Kamila yang tau sandinnya langsung mengobrak-abrik isi Hp Jack. Elis dan Jack membisu, keduanya memperhatikan ekspresi wajah Kamila. Kamila tersenyum aneh, ia mencoba menyembunyikan tawanya.
"Itu tontonan yang pantas untukmu, Jack, say...." Kamila menghentikan ucapannya, ia berdehem untuk menetralkan suasana hatinya.
Kamila mengembalikan Hp Jack. Ia menatap ke arah lain, tertawa kecil.
"Serius saja? Kau menyuruhku menonton kartun seperti ini?" Jack menatap Kamila dengan wajah yang ditekuk.
"Hei, hei! Ingat sanksimu!" Kamila mengusap wajah Jack kasar. Ia mencubit pipi Jack cukup keras.
"Ya ampun. Sampai kapan sanksi ini berlaku?" tanya Jack dengan menunduk, matanya menatap sepatunya di bawah sana.
"Sampai bulan Maret!" Kamila menarik gelasnya, meminum jusnya sampai tandas.
"Ila, sekarang baru tanggal tujuh Januari. Kau tega padaku? Aku tidak bisa menatapmu! Aku tidak bisa memegangmu! Satu minggu, ya, ya?" Jack menggeser kursinya, mendekati Kamila.
"Ah, ayo, Mill. Kita masih ada tugas, 'kan?" Elis mengedipkan matanya, memberi isyarat pada Kamila.
Jack menari tangan Kamila yang baru saja bangun dari duduknya. Kamila menatap tangan Jack tajam.
"Ingat sanksimu! Jika tidak mau, pilihlah sanksi kedua!" Kamila tertawa kecil di dalam hatinya. Ia puas menjahili Jack seperti ini.
"Tidak, aku tidak akan menjauh darimu, selamanya!" Jack melepas tangan Kamila. Lebih baik ia menjalani sanksi pertama dari pada sanksi keduanya yang bisa menghancurkan hidupnya.
Kamila dan Elis tertawa kecil setelah keduanya cukup jauh dari Jack. "Rencana kita berhasil." Kamila dan Elis bergegas untuk keluar dari kafe.
__ADS_1
Maaf, Jack. Aku benar-benar senang melihatmu seperti itu. Aku merasa begitu berharga, kau bahkan sangat takut jika aku menjauh darimu. Aku suka ini. Maaf, ya, Jack. Kamila
Bersambung.....