
Jack menarik nafas dalam, membuangnya perlahan lewat mulutnya. Ia melangkahkan kakinya pelan menuju pintu utama.
"Jack." Suara Jessica benar-benar membuat Jack kaget. Ia seperti maling yang tertangkap basah oleh pemilik rumah saja.
"Kak Jess, kukira siapa," jawab Jack. Ia mengelus dadanya yang masih berdebar karena kaget.
"Kau kenapa mengendap-ngendap seperti maling?" Jessica mendekati Jack, menatap matanya, mencari jawaban di sana.
"Mana maling?" sahut Kamila yang tiba-tiba muncul dari taman utama.
"Kau di sini?" Kamila menatap Jack yang terlihat gugup. Ia tersenyum aneh.
"Hei, hei, ingat sanksimu!" ucap Kamila karena Jack menatapnya lebih dari lima detik.
"Sanksi?" Jessica mengerutkan dahinya tidak mengerti. Ia menatap Jack dan Kamila secara bergantian.
"Iya, sanksi, Kak. Jack harus menjalani sanksinya karena ketahuan......" Kamila menghentikan ucapannya karena Aldy berdiri di belakang Jessica. Ia tidak mau Kakaknya mengetahui aib pacarnya itu.
"Oh, yang itu," jawab Jessica. Ia tau apa dimaksud Kamila walau gadis itu menghentikan ucapannya.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?"
Aldy menatap ketiga orang di hadapannya itu tajam.
Jack membeku, "Matilah aku," gumamnya.
"Ti-tidak ada, Kak." Kamila mengedipkan matanya pada Jessica, mengajak Jessica untuk kompromi.
"Ayo, kapan kita berangkat?" ucap Jessica mengalihkan pembicaraan.
"Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Aldy untuk yang kedua kalinya. Ia menatap Jack dan Kamila tajam. "Katakan!"
"Itu, anu...., itu, Jack," jawab Kamila sambil memutar otaknya mencari alasan.
"Jack ketahuan nonton film dewasa," bisik Jessica pada Aldy. Aldy tersenyum tipis, membuat Jack keringat dingin.
"Lain kali, ajaklah calon kakak iparmu ini," ucapnya. "Agar aku bisa menyikat dan membersihkan otakku secara langsung!" sambung Aldy.
"Huhuhu, privasiku. Matilah aku," gumam Jack.
"Apa yang kalian lakukan di sana? Kenapa tidak mengajak Jack untuk masuk?" ucap Ibu. Wanita paruh baya itu muncul dengan sarung tangan yang sudah kotor. Ibu, Jessica dan Kamila baru saja selesai menanam bunga di taman utama.
"Ayo, ajak Jack masuk!"
"Gantilah baju kalian, aku dan Jack akan membicarakan sesuatu," ucap Aldy pada Kamila dan juga Jessica.
Kamila menatap Jack iba. Ia takut Kakak tersayangnya yang tampan dan dingin itu akan menghakimi Jack.
Ibu, Jessica dan Kamila masuk ke dalam rumah utama. Sementara Jack dan Aldy masih di halaman utama. Aldy mengajak Jack menuju kolam ikan di samping rumah utama.
"Duduklah!"
"Jack," panggil Aldy pada Jack yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"I-iya. Ada apa, Kak?" jawab Jack gugup dengan keringat dingin yang bercucuran.
"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?" Aldy menatap Jack, ia bisa melihat Jessica dan Kamila di mata pria 21 tahun itu.
"Katakanlah, Kak. Aku akan melakukannya," jawab Jack serius.
"Jaga Jessica dan Kamila. Aku percaya padamu, jaga dua wanita itu dengan nyawamu." Aldy melempar pandangannya pada ikan-ikan hias yang begitu cantik di dalam kolamnya.
Entah kenapa, akhir-akhir ini Aldy merasa ia dan Jessica akan dipisahkan. Entah siapa yang akan memisahkannya, tapi, begitulah yang dirasakan hati Aldy.
Ia takut jika tidak bisa menjaga Jessica dan Kamila. Walau ia tau, Jessica pasti bisa menjaga dirinya, tidak butuh para pengawal yang selama ini ia kirim untuk memastikan keamanan Jessica, kekasih atau calon istrinya itu.
Keduanya diam, Aldy larut pada perasaannya, sedangkan Jack, pria itu merasa ada sesuatu yang janggal pada calon kakak iparnya itu.
__________________
Rencana awal gagal. Aldy membatalkan jalan-jalan bersama Jack dan Kamila. Hati Aldy seolah-olah mengatakan akan terjadi sesuatu pada Jessica nantinya. Oleh sebab itu, ia tidak akan membiarkan Jessica untuk keluar pagi itu.
"Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranmu, umm?" Jessica meraih tangan kanan dan kiri Aldy yang duduk di hadapannya, menggegamnya erat.
"Apa kau merasakan apa yang kurasakan?" Aldy menatap mata Jessica dalam dengan tangan yang masih digenggam oleh Jessica.
"Apa maksudmu?"
"Entah mengapa, akhir-akhir ini aku merasa akan dipisahkan denganmu. Kau akan menjauh dariku, itu yang aku rasakan." Mata Aldy mulai redup, ada kaca-kaca yang akan retak di sana.
"Aku akan tetap di sini, percayalah!" Jessica terus mengelus punggung tangan Aldy, mencoba menenangkan pria tampan dan dingin itu.
"Jess, apa kau mencintaiku?" Entah berapa kali Aldy menanyakan hal itu pada Jessica. Ia tidak pernah puas jika Jessica belum menjawab pertanyaannya.
Aldy tersenyum, ia mengelus pipi Jessica. "Aku tau, kau tidak akan membiarkan orang lain untuk menyentuh kulitmu seperti ini, 'kan?" Aldy beralih mengelus kepala Jessica.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau seperti ini. Kau sangat cepat cemburu, cepat marah dan juga cepat lemah lagi." Jessica membalas tatapan Aldy, sangat jelas raut khawatir di wajah pria itu.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti. Intinya aku tidak suka pria lain tersenyum, bicara atau bahkan menatapmu. Aku benar-benar tidak suka itu, apalagi dia sampai menyentuhmu." Aldy menggeser tubuhnya menjauhi Jessica, mengambil posisi paling aman agar ia bisa mengontrol dirinya.
Sementara Jack dan Kamila sudah berada di pantai yang terletak kota B. Keduanya menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam untuk sampai di pantai yang indah dan damai itu.
Pasir putih dan langit biru menambah keindahan pantai yang dikelilingi oleh bukit-bukit kecil yang indah.
"Mau bermain dengan air?" Jack menggandeng tangan Kamila. Keduanya berjalan di atas pasir putih tanpa menggunakan alas kaki.
"Kau suka?" Jack melirik sekilas. Kamila tetap diam, ia menikmati angin pantai yang kencang namun sangat sejuk.
Ombak kecil menerpa kaki Jack dan Kamila, keduanya terus berjalan dan larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
"Kau kenapa, humm?" Jack menghentikan langkahnya, ia menatap lekat-lekat wajah Kamila yang berdiri di sampingnya.
"Kau tidak suka?"
"Tidak, Jack. Aku hanya kepikiran Kak Jess dan Kak Aldy." Kamila duduk di atas pasir putih itu, lalu disusul oleh Jack.
"Kau khawatir pada mereka?" tanya Jack lembut.
__ADS_1
Kamila mengangguk, "Iya, aku sangat khawatir. Aku rasa, Kak Aldy lebih mengekang Kak Jess sekarang. Kau tau, dia bahkan meminta Kak Jess untuk membatalkan jalan-jalan bersama hari ini. Aku takut, takut Kak Jess akan risih dengan sifat Kak Aldy. Takut Kak Jess menjauhi Kak Aldy karena merasa terkekang." Kamila menatap lurus hamparan laut di depannya.
"Hei, kau tenang saja. Aku sangat faham dengan sifat Kak Jess. Dia tidak mungkin meninggalkan Kak Aldy hanya karena merasa terkekang. Kak Jess tidak seperti itu. Dia akan tetap di sekitar orang-orang yang ia sayangi dan menyayanginya. Percayalah! Kak Jess dan Kak Aldy baik-baik saja." Jack menatap Kamila. Raut wajah gadis itu sangat terlihat berbeda, ia terlihat sangat khawatir pada Aldy dan Jessica.
"Kalian berdua di sini?" Jack dan Kamila menoleh ke arah pemilik suara serak dan berat itu.
"Kak Ken? Kak Keisha? Kalian ternyata," ucap Kamila dengan nada yang sudah tidak karuan.
"Kakak kalian mana?" tanya Keisha pada Jack dan Kamila. Keduanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaan dua pasangan romantis itu.
Ken dan Keisha mengunakan baju couple berwarna putih dengan tulisan kecil berwarna hitam. Ken mengenakan jaket hitam dan juga kaca mata hitam yang ia pegang.
Baju, jaket dan sepatu mereka sama. Keduanya bahkan terlihat seperti adik kakak, bukan seperti pasangan kekasih.
"Aku mau seperti itu," bisik Kamila pada Jack. Jack bingung, ia menaikkan satu alisnya karena tidak mengerti maksud Kamila.
"Aku mau seperti Kak Ken dan Kak Keisha," sambung Kamila namun masih berbisik di dekat telinga Jack.
Jack memperhatikan keduanya. Ia baru sadar akan menampilkan pasangan di depannya itu.
"Baiklah, kita akan membelinya nanti," jawab Jack dengan berbisik juga.
"Kalian berdua! Aku memakai ini karena terpaksa! Jadi, kalian jangan berbisik-bisik seperti itu!" Ken menatap Jack dan Kamila tajam. Keduanya menciut, tidak berani bersuara ataupun tertawa.
"Ooo, jadi terpaksa, ya. Kau terpaksa." Keisha mencubit perut Ken, membuat Ken merintih kesakitan.
"Tidak-tidak. Aku tidak terpaksa, sayang," jawab Ken sambil berusaha melepaskan cubitan Keisha.
"Apa! Kau memanggilku apa?" Keisha semakin mengeraskan cubitannya.
"Tidak, aku tidak memanggilmu," elak Ken.
"Jangan berbohong!"
"Aku tidak berbohong, Kei." Ken menghembuskan nafas lega karena Keisha sudah melepas cubitannya.
"Susis," bisik Kamila pada Jack.
"Susis?" Jack kembali mengerutkan dahinya bingung.
"Iya, jika menikah maka Kak Ken Susis. Suami takut istri, seperti nyanyian Kang Sule." Kamila dan Jack langsung terkekeh. Keduanya diam setelah mendapat tatapan tajam dari Ken dan Keisha.
"Pasangan serasi, pria dingin dan wanita galak," gumam Jack.
"Kau bicara apa!" Keisha menatap Jack tajam. Ia mempersiapkan kukunya untuk mencakar wajah Jack.
"Astaga, kabur....." Jack menarik Kamila. Keduanya berlari menjauhi Ken dan Keisha.
"Galak sekali," ucap Jack dengan nafas yang belum beraturan.
"Siapa yang galak?" Suara Keisha membuat Jack dan Kamila merinding. Keduanya berbalik dan benar saja, Ken dan Keisha sudah berdiri di belakang mereka.
"Habislah kita."
__ADS_1
Bersambung....