
Seperti hari-hari biasanya. Kamila dan Elis selalu mengunjungi kafe favorite mereka di saat waktu renggang, seperti saat ini. Keduanya duduk di meja paling pojok, meja favorite mereka sudah ditempati oleh orang lain terlebih dahulu.
Kamila memesan beberapa menu makanan, perutnya terasa begitu lapar dan memberontak ingin segera makan. Akhir-akhir ini, Kamila tidak pernah makan dengan teratur. Sarapan di waktu siang, makan siang di waktu sore, untuk makan malam, Kamila selalu ketiduran di saat jam makan malam.
"Mill, kau yakin akan makan sebanyak ini?" Elis mengerutkan dahinya, menatap begitu banyak menu di atas meja mereka.
"Tidak, aku tidak akan menghabiskan sendiri. Kan ada kau, kau harus membantuku menghabiskannya!" jawab Kamila santai. Tangannya mulai menarik piring, mencicipi lalu melahap makanan di depannya dengan tenang.
Elis menatap makanan itu, ia bingung, bingung harus memulai dengan makanan yang mana.
"Baiklah, kita mulai dari sayur saja, setelah itu daging dan sedikit nasi." Elis menarik semangkuk sup, ia mencicipinya. "Memang top."
Keduanya makan dengan tenang, Kamila menggelus perutnya yang sudah terisi banyak makanan dan minuman. Begitu pula dengan Elis, ia tidak percaya kalau Kamila dan dirinya mampu menghabiskan makanan sebanyak itu.
Keduanya duduk dan mengobrol santai. "Hmmm, Mill. Bagaimana kabar Kak Jess?" tanya Elis sedikit ragu.
"Ah, Kak Jess. Aku sangat merindukannya. Kak Jess dan Kak Aldy...." Kamila berhenti, ia lupa, kalau Aldy menyuruhnya menjaga privasi keluarga dengan baik. Tidak bercerita tentang hubungan Aldy dan Jessica pada siapapun.
"Itu, Kak Aldy dan Kak Jess...." Kini otak Kamila mulai buntu, ia bingung harus mengatakan apa pada Elis.
"Sudahlah, Mill. Kau tidak perlu bingung seperti itu, privasi tetaplah privasi. Aku mengerti, sudahlah," ucap Elis yang mengerti alasan Kamila menghentikan ucapannya.
Elis mengajak Kamila untuk pulang. Kamila pun menyetujui ajakan Elis. Namun, saat keduanya hendak keluar, mereka bertemu dengan Jack di pintu masuk. Jack datang untuk melihat keadaan kafenya sekaligus mengecek pemasukan hari ini.
"Kau di sini, Jack?" Elis menatap Jack dan Kamila bergantian lalu melambaikan tangan pada keduanya.
"Liss, Elis!" panggil Kamila namun diabaikan oleh Elis.
"Kau ingin pulang?" tanya Jack.
Kamila mengangguk, "Hmmm, jika kau ingin bicara, besok saja," jawabnya.
"Hari ini, sebentar saja, boleh?" Jack menarik tangan Kamila, mengajaknya untuk masuk ke dalam kafe. Jack mengajak Kamila menuju taman kecil di belakang kafe. Keduanya duduk berhadapan dengan meja kecil di tengah-tengah mereka.
Jack menatap Kamila, karena terlalu semangat, ia lupa akan menyatakan apa pada Kamila tadinya.
"Mau bicara apa?" Kamila membuka suara karena Jack terus menatapnya tanpa bicara sepatah katapun.
Jack menggaruk kepala. "Aku lupa mau bicara apa," ucapnya dengan cengengesan.
Kamila memutar bola matanya. Matanya menatap ke arah Hp Jack yang terletak di atas meja.
Ia meraih benda tipis itu, "Buka!" pinta Kamila karena Hp Jack mengunakan kata sandi.
"Kamila," jawab Jack. Namun Kamila tidak peka dengan sandi yang baru saja Jack sebutkan.
"Buka!" Kamila menyodorkan benda itu pada Jack. Ia geram karena Jack belum membukanya juga.
"Kamila, sandinya Kamila..." Jack meraih benda tipis itu, mengetik nama Kamila sehingga Hp itu terbuka.
"Oh, kenapa tidak bilang dari tadi," ucap Kamila yang mulai sibuk mengotak-atik Hp Jack.
Awalnya ia membuka Instagram, WhatsApp dan Game Online Jack. Kamila teringat sesuatu, ia beralih membuka galeri Hp Jack.
Ekspresi wajah Kamila berubah, ia melempar benda tipis itu ke arah Jack. Beruntung Jack menangkapnya sebelum terjatuh ke tanah.
"Kau menjijikkan." Kamila menatap Jack tajam. Wajahnya mengeluarkan ekspresi sangat jijik ketika menatap wajah Jack.
Jack bengong, ia tidak tau apa yang Kamila maksud. "Kau kenapa?" tanya Jack benar-benar tidak mengerti.
"Itu punya siapa?" Kamila bertanya dengan nada yang ditinggikan. Ia terus menatap Jack tajam dengan ekspresi wajah yang sama.
__ADS_1
"Apa?"
"Itu, punya siapa video yang menjijikkan itu?" Kamila melirik Hp yang Jack letakkan di atas meja.
"Video apa?" Jack menyalakan Hpnya. Ia melongo karena video dewasa yang diputar di layar Hpnya.
Jack segera menghapus video itu. Ia mengelus tengkuknya. Bingung harus mengatakan apa pada Kamila, pacarnya.
"Punya siapa?" tanya Kamila. Tangannya mencubit keras tangan Jack, membuat Jack meringis kesakitan.
"Auuu, ini bukan punyaku," jawab Jack. Ia menatap punggung tangannya yang membiru karena cubitan keras Kamila.
"Bukan punyamu! Kau kira aku bodoh, hah! Itu Hpmu! Itu pasti punyamu tidak mungkin punyaku atau punya orang lain." Kamila berdiri ia mencubit lengan Jack keras.
"Katakan! Punya siapa?" Kamila menambah level cubitannya karena Jack masih diam, belum menjawab pertanyaannya.
"Aku tidak berbohong, itu bukan punyaku. Itu punya Yosi dan anak-anak lainnya," jawab Jack setelah mengingat siapa orang terakhir yang meminjam Hpnya.
"Kau bohong!" Kamila menyentil jidat Jack cukup keras.
"Aku tidak berbohong! Itu memang bukan punyaku." Jack menghalangi tangan Kamila yang hendak menyentilnya lagi.
"Percayalah! Itu bukan punyaku," ucap Jack dengan nada yang begitu lembut.
Kamila menghembuskan nafas pelan, ia kembali duduk di kursinya. Namun, matanya masih menatap Jack tajam.
"Kau pasti pernah menonton itu, 'kan?"
Jack diam, ia mengelus tengkuknya. Menggaruk kepalanya walau tidak gatal sama sekali.
"Kau pernah menonton, 'kan?" Kamila menatap Jack tajam, memojokkan Jack.
"Iya-iya. Aku pernah menontonnya tapi...."
"Mata dan otakmu harus dicuci dan disikat bersih." Kamila menarik rambut Jack geram, ia terus menariknya, semakin lama semakin keras.
"Sakit! Aku janji tidak akan menonton lagi. Sakit! Lepaskan, Ila." Jack terus meringis kesakitan.
"Sejak kapan kau menonton video seperti itu?" Kamila kembali duduk. Ia belum lupa dengan masalah video itu rupanya.
"Katakan!"
"Sejak SMA. Tapi, aku tidak menontonnya setiap hari, aku tidak bohong." Jack menutupi wajahnya dengan tas Kamila, menghindari sentilan atau tarikan rambut dari Kamila.
"Menjijikkan sekali!"
"Kapan terakhir kau menonton lagi?" Kamila menarik tas yang menutupi wajah Jack. Jack kembali mengelus tengkuknya.
"Kapan?"
"2 hari yang lalu," jawab Jack jujur.
Kamila kembali menyentil jidat Jack. "Mata dan otakmu kotor, sini! Akanku bersihkan. Akan kubelah lalu sikat dengan bersih."
Ya, Tuhan.
Apa cuma aku yang kena marah seperti ini? Apa Yosi? Martin? Andre? Apa mereka kena marah juga jika pasangan mereka tau?
"Apa yang kau pikirkan, hah?" Kamila memukul Jack dengan tasnya. Ia mengamuk sejadi-jadinya pada Jack.
"Ampun, aku mengaku salah, aku tidak akan mengulanginya lagi." Jack menatap mata Kamila, memohon dengan senyum manis yang bisa meluluhkan Kamila.
__ADS_1
Bagaimana jika aku selingkuh? Pasti bukan hanya Kamila yang mengamuk, Kak Aldy dan Kak Jess pasti membabat habis diriku.
"Tidak, aku tidak mengampunimu! Mana Hpmu? Sini! Aku ingin memeriksanya lagi!" Kamila menatap Jack tajam. Jack menyodorkan benda tipis itu pada Kamila.
Semoga sudah terhapus semuanya.
Kamila mengotak-atik Hp Jack. Ia membuka semua aplikasi, membuka semua file yang ada di galeri Jack.
Kamila mencubit tangan Jack keras. Ia menghapus semua koleksi Jack. Tidak perduli itu semua video penting atau tidak.
"Apa untungnya bagimu, hah? Kau menjijikkan sekali!" Kamila melempar Hp itu pada Jack. Lagi-lagi ia menyentil jidat Jack keras.
"Bukan aku saja, banyak orang yang menonton itu, bukan hanya aku." Jack meratapi nasibnya, tangan, lengan, jidat dan kepalanya sudah berdenyut kesakitan akibat amukan dari Kamila.
"Aku tidak perduli! Itu urusan mereka! Dan kau! Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi! Aku jijik!" Kamila berdiri, ia meraih tasnya hendak meninggalkan Jack.
Ya, Tuhan.
Ini baru ketahuan nonton, 'kan?
Kamila lebih galak dari Mamaku. Mama saja tidak pernah menghukumku karena masalah nonton film dewasa. Lagi pula, aku sudah dewasa, umurku sudah 21 tahun......Arghh......
"Kamila....tunggu....Heii." Jack mengejar Kamila yang sudah pergi meninggalkannya. Gadis itu dengan cepet keluar dari kafe, ia menancap gasnya, bergabung dengan mobil lainnya di jalan raya.
___________
"Kau kenapa?" tanya Aldy. Ia duduk di samping adik tersayangnya itu.
Kamila menatap wajah Aldy, "Apa Kakak pernah menonton film dewasa?" tanya Kamila polos.
Aldy mengerutkan dahinya ketika mendengar pertanyaan Kamila. "Kau menontonnya?" Aldy balik bertanya.
"Tidak! Aku tidak menontonnya! Itu sangat menjijikkan!" Kamila meraih jus apelnya, meminumnya sampai habis.
"Lalu?" Aldy bergeser, ia ingin tau. Apa sebenarnya yang terjadi pada adiknya.
"Tidak ada, aku hanya menanyakan saja pada Kakak." Kamila kembali menatap wajah Aldy. "Bagaimana? Kakak pernah menontonnya?"
"Tidak!"
"Syukurlah, jika Kakak pernah! Aku akan membelah kepala Kakak dan mengikatnya sampai bersih," ancam Kamila.
Gadis ini kenapa? Apa Jack yang ketahuan monoton film itu?
________
Jessica menarik telinga Jack keras, membuat pria itu meringis kesakitan.
"Kau apakan Kamila, hah? Kenapa dia jijik padamu dan tidak ingin bertemumu lagi? Apa yang kau lakukan?" Jessica menatap Jack tajam. Jack terus mengelus tengkuknya, membuat Jessica semakin geram.
"Aku, aku tidak melakukan apa-apa padanya, sumpah!" Jack diam sejenak. "Dia menemukan video dewasa di Hpku," sambungnya dengan wajah yang malu.
Jessica menepuk jidat sendiri, ia menatap Jack lalu menyentil jidat Jack pelan. "Lain kali, periksa dulu Hpmu sebelum dibuka oleh orang lain!"
Huhuhu...Kak Jess saja mengerti.
"Sudah, aku tidak ingin mendengar laporan lagi tentangmu. Sekarang pulang!" Jessica mendorong tubuh Jack sampai pria itu berada di depan gerbang kontrakannya.
"Begini memang, cinta butuh perjuangan," gumam Jack. Ia tidak menyangka kalau Kamila akan melaporkannya pada Jessica.
Bersambung...
__ADS_1
♡♡♡♡♡
Nah...nah...yang pernah nonton?😂