Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Extra Part 1


__ADS_3

Begitu banyak masa indah yang Aldy dan Jessica lewati bersama. Mulai dari masa ngidam yang hampir membuat Aldy kehilangan setengah kewarasannya. Bagaimana tidak?


Jessica selalu meminta hal-hal aneh padanya. Sama seperti apa yang terjadi hari ini. Jessica duduk di pojok ruangan dengan wajah yang ditekuk masam. Ia sedang ngambek karena Aldy belum juga menuruti kemauannya.


Aldy menghembuskan nafasnya pelan, lalu berjalan mendekati Jessica. Ia berjongkok di hadapan istrinya itu, mengelus lembut perut Jessica yang mulai membuncit.


"Sayang, kau ingin apa lagi?" tanya Aldy. Aldy menatap mata Jessica lalu beralih menatap perut wanita itu.


"Aku sudah bilangkan! Aku ingin makan mangga dan makannya harus di atas pohon!"


"Itu berbahaya, Sayang, yang lainnya," bujuk Aldy.


"Tidak mau!"


"Oke-oke, makan mangga, tapi jangan di atas pohon. Kalau kau terjatuh bagaimana? Kasian anak kita."


"Hmmm, baiklah! Tapi makannya di bawah guyuran hujan!"


"Hah? Hujan? Sayang, matahari bahkan sangat menyengat, tidak ada hujan hari ini," ucap Aldy yang hampir gila.


"Terserah! Aku tidak mau tau! Harus makan mangga di bawah guyuran hujan!"


"Baiklah, aku akan menelepon pihak penurunan hujan terlebih dahulu, aku akan meminta mereka menurunkan hujan hari ini juga." Aldy bangkit lalu mengacak rambutnya. Ia meraih Hp dan langsung menghubungi Ken.


"Hallo Ken! Cepat carikan mangga untuk Jessica. Terserah, mangga apapun namanya, beli saja semuanya, semua! Yang muda ataupun yang tua! Satu lagi! Belikan selang panjang lebih panjang dari yang ada di taman utama!" Perintah Aldy pada Ken yang diseberang sana. Aldy langsung memutuskan sambungan telepon, tidak membiarkan Ken menolak perintahnya.


Setengah jam kemudian, mobil Ken terparkir di halaman utama, di samping mobil itu ada mobil buah yang membawa dua keranjang mangga segar. Dan juga seorang pria yang menghantarkan selang yang Ken beli tadi.

__ADS_1


Jessica berlari kecil menuju halaman utama. Ia tersenyum girang melihat begitu banyak mangga di hadapannya.


"Sayang....kenapa hujannya belum turun juga?" tanya Jessica sambil mendongak menatap langit yang sangat cerah.


"Sabar, Sayang! Hujannya masih OTW."


Aldy menatap selang yang Ken beli, lalu memasang selang itu di kran taman utama.


"Kemarilah, Sayang!"


Jessica berlari kecil mendekati Aldy. Sementara Ken menyusul sambil membawakan mangga-mangga yang Jessica pilih.


Aldy menyalakan kran dan langsung menyiram Jessica yang sudah duduk memakan mangganya.


"Ini enak sekali, Sayang." Jessica tersenyum menatap Aldy. Lalu menikmati guyuran hujan buatan yang membasahi tubuhnya.


"Ken! Pegang selang ini! Dan buat hujan yang sama untuk istriku!"


Ken mengangguk lalu menggantikan posisi Aldy. Ia menyirami Aldy dan Jessica, layaknya sedang menyiram bunga-bunga yang sudah rindu dengan air hujan.


☆☆☆☆☆


Aldy menyelimuti tubuh Jessica lalu memeluk wanita itu erat. Tangannya juga mengelus perut buncit Jessica.


"Sayang, apa kau sudah puas sekarang?"


"Iya, terimakasih, Sayang. Terimakasih karena kau sudah sabar menghadapi sikap anehku," jawab Jessica.

__ADS_1


Jessica membalik tubuhnya menghadap Aldy, lalu mencium bibir Aldy lembut.


"Sayang, bisakah aku mendapatkan jatah malamku? Hampir 2 minggu aku berpuasa, tidakkah kau kasihan padaku?" ucap Aldy dengan nada yang dibuat sesedih mungkin.


"Harusnya, aku yang berkata begitu padamu! Tidakkah kau kasian pada aku dan anakmu di dalam sana?!"


Jessica memegangi pipi Aldy. Menatap mata cokelat Aldy penuh cinta.


"Baiklah, aku akan berpuasa lagi, demi istri dan anak-anakku," ucap Aldy. Pria itu menahan nafasnya, ia sedang menekan hasratnya.


"Anak-anak? Memangnya aku mengandung anak kembar, Sayang?" tanya Jessica sedikit kebingungan. Ia mengelus perutnya lalu menatap wajah Aldy yang tersenyum padanya.


"Semoga, aku berharap seperti itu," jawab Aldy tersenyum.


Aldy menurunkan tubuhnya, sampai wajahnya tepat di depan perut Jessica.


"Sayang, kalian apa kabar di sana? Ayah rindu kalian," ucap Aldy pada si cabang bayi yang entah berapa jumlahnya di dalam sana.


"Kami tidak rindu ayah!" sahut Jessica terkekeh.


"Jahat sekali kalian! Kalian ada juga karena usaha keras ayah selama ini."


Aldy ikut terkekeh, ia merasa hasratnya bisa terobati dengan cara ini. Aldy mendongak menatap Jessica, istrinya ternyata sudah mengantuk dan berusaha menahan kantuknya.


"Tidurlah, Sayang."


Aldy kembali naik, ia mendengkap tubuh Jessica, mengelus rambut Jessica sampai Jessica lelap dan terbuai mimpi indahnya. Setelah itu, barulah Aldy memejamkan matanya dan ikut larut pada mimpi indah, yang hampir menjadi nyata.

__ADS_1


__ADS_2