
Aldy menatap layar Handphonenya tajam lalu melemparnya asal.
"Kenapa?" tanya Ken yang memperhatikan tingkah Aldy dari kaca mobil.
"Argh..." Aldy mengacak-acak rambutnya kesal, ia ingin marah tapi pada siapa dan kenapa.
"Kau kenapa?" tanya Ken penasaran. Ia mulai melajukan mobil dengan santai agar bisa mengobrol dengan Aldy.
"Juan!" teriak Aldy geram.
"Hahaha...ada apa dengan bocah itu?" tanya Ken. Dia bingung mengapa Aldy tiba-tiba geram pada sepupunya itu.
"Aku akan menginterogasinya nanti!" ucap Aldy. Pria itu menyadarkan kepalanya pada kursi mobil, bayangan Jessica dan Juan melayang dan menari-nari begitu saja dipikirannya.
"Apa yang bocah itu lalukan sebenarnya?" gumam Ken. Ia sama sekali tidak mengerti dan mengetahui apapun.
Aldy menyalakan Handphonenya, melemparnya ke arah Ken.
"Hahaha...kau cemburu?" tanya Ken ketika melihat beberapa foto yang di posting oleh Juan di akun instagramnya, 15 menit yang lalu.
"Bagaimana tidak, aku saja tidak pernah berfoto dan sedekat itu dengannya. Dan Juan, bocah itu bahkan jauh melangkah di depanku." Aldy begitu tenggelam dengan perasaannya pada Jessica, namun masih belum berani mengungkapkan secara langsung pada Serigala Betina itu.
"Tenanglah, mereka hanya berfoto biasa dan bahkan masih mengunakan baju berlatih mereka. Ini sudah biasa...." Ken menggeser dan memperhatikan foto-foto lainnya.
"Sejak kapan Juan menjadi pelatih?" tanya Aldy. Pria itu sangat terganggu dengan kedekatan Jessica dengan Juan.
"Dia hanya membantu saja, sama seperti Jessica." Ken menjelaskan posisinya dan Jessica dulu ketika masih diperguruan.
Aldy mengangguk faham, namun rasa cemburu masih membakar pikirannya.
"Kau ingin marah, ingin protes pada Jessica?" ledek Ken. "Lakukanlah! Pasti Jessica akan mengangga bingung dan dihantui oleh tanda tanya." Ken tertawa ketika membayangkan Aldy yang tiba-tiba mengamuk pada Jessica yang tidak tau apa-apa.
"Ken!"
"Kau dan Juan sama saja!" teriak Aldy kesal.
"Hahaha...bahkan Juan juga bagian dari Yoga Candra. Berarti dia juga bagian darimu jugakan. Tuan Pranata Yoga," ucap Ken mengingatkan siapa Juan Sebenarnya.
"Ah....persetanan dengan cinta membuatku terlihat bodoh dan gila." Aldy kembali mengacak-acak rambutnya geram.
"Cinta butuh perjuangan, Tuan Aldyan Pranata Yoga." Ken mematikan mobil lalu keluar dan disusul oleh Aldy.
"Titipkan salamku pada Juan Candra!" Aldy masuk ke dalam Rumah Utama dengan wajah yang sudah kembali dingin dan mengerikan itu.
"Huh...kau sangat sulit dimengerti." Ken masuk ke dalam mobil pribadinya lalu melajukan keluar dari Rumah Keluarga Pranata.
__ADS_1
_________
Di dalam ruang keluarga, Ibu dan Kamila berbisik mengenai Aldy.
"Kakak kenapa, Bu? Wajahnya terlihat kusut dan begitu kesal?" tanya Kamila pada Ibu yang juga dihantui rasa penasaran.
"Ibu tidak tau, Kakakmu memang begitu. Sulit ditebak suasana hatinya, sebentar marah, sebentar sedih, sebentar bahagia. Ibu sendiri pusing..." Ibu mulai membeber kemana-mana mengenai putra tampan dan dinginnya itu.
"Ah...aku tau kenapa?" Mata Kamila berbinar terang seolah-olah sedang menemukan setumpuk harta karun didepannya.
"Kenapa?" tanya Ibu. Wanita paruh baya itu melirik ke arah layar Handphone Kamila. Keduanya tertawa kecil ketika mengetahui sebab kekesalan Aldy.
"Huh...apa susahnya coba, Dia tinggal bilang. Jessica aku suka padamu, aku mencintaimu." Kamila mempraktekkan kaya berdiri dan bicara Aldy. Ibu terkekeh melihat tingkah konyol Kamila.
"Sekarang ada yang dekat dengan Jessica, dia malah geram dan kesal sendiri," sahut Ibu sambil menahan tawanya.
"Hahaha...sudah ku duga Bu...Suatu saat nanti dia pasti luluh dan membuang gengsinya." Kamila menatap layar Handphone yang masih menampilkan beberapa foto Jessica dan Juan.
"Terlebih lagi, dia cemburu pada keluarganya sendiri," ucap Kamila yang baru menyadari siapa laki-laki yang disamping Jessica itu.
"Dia Juan, Bu, Juan Candra." Kamila terkekeh ketika mengingat wajah tampan dan kulit putih Juan.
"Astaga, anak ingusan itu ingin bersaing dengan Kakaknya." Ibu menggelengkan kepala tak percaya, dua orang putra dari keluarga besar Yoga bersaing untuk mendapatkan hati Jessica si Bodyguard cantik dan terpercaya itu.
"Khemm, sudah puas tertawanya?" Aldy menatap Kamila tajam dari ambang pintu. Kamila langsung bergeser lalu bersembunyi dibalik tubuh Ibu.
"Ayo makan! Aku sudah lapar!" Aldy berjalan menuju ruang makan sambil menunggu kedua wanita itu keluar dari ruang keluarga.
Suasana meja makan sepi, hening hanya terdengar suara sendok yang sedang tawuran dengan piring. (Canda sedikit)
Aldy tidak menghabiskan makanan, pria itu pergi begitu saja tanpa bersuara atau pamit terlebih dahulu.
"Astaga, orang cemburu sangat menakutkan, dia cemburu pada siapa, kesal pada siapa dan yang kena imbasnya siapa?" gerutu Kamila. Gadis itu menatap punggung Kakaknya yang baru saja menghilang di balik pintu ruangan.
"Sudah, jangan terus-terusan mengejek Kakakmu, bisa-bisa dia marah dan tidak memberikanmu uang jajan bulan ini," ancam Ibu. Kamila diam seribu bahasa, ia kembali fokus pada makanan didepannya. Menelannya dengan susah payah.
__________
Jessica duduk di atas kasur, telinganya bosan mendengar notif baru di Handphonenya. Ia meraih benda pipih itu, menyalakanya lalu meluncur ke sebuah aplikasi yang sudah memberi banyak notifikasi baru.
"Juannn!" teriak Jessica geram.
"Apa yang laki-laki ini lakukan. Kenapa tidak memberi tahuku terlebih dahulu!"
"Astaga, bagaimana kalau Ken dan Aldy melihatnya? Argh, Juan Bodoh!"
__ADS_1
Jessica melempar Handphonenya kesal, bisa-bisa Aldy dan Ken akan menjadikan foto itu sebagai bahan candaan terbaru mereka, pikir Jessica.
Jessica keluar dari kamar, mencari tempat yang nyaman untuk melampiaskan kekesalannya.
"Tidak Tuan Muda. Tidak Jessica, keduanya sama saja. Sama-sama membuat orang bingung...." gerutu Kepala Pelayan. Ia memperhatikan Jessica yang sedang melempar batu-batu kecil secara sembarangan.
"Awas Kau Juan!"
"Aku tidak akan memaafkanmu!"
Jessica melempar batu terakhir cukup keras, membayangkan batu itu tepat mengenai wajah tampan Juan.
"Edelweiss," panggil Aldy. Jessica menoleh, mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Kenapa Edelweiss?" tanya Jessica bingung.
"Ya, kau sama seperti Edelweiss. Hanya tumbuh di tempat tertentu, untuk bertemu dan menatapmu pun butuh perjuangan yang berat," jawab Aldy serius. Pria itu duduk disamping Jessica.
"Bukankah Edelweis hanya tumbuh di daerah pegunungan, dan bahkan dia dilarang untuk dipetik, dilindungi oleh undang-undang," ucap Aldy serius. Jessica hanya terdiam, membaca arah pembicaraan Aldy.
"Kau bisa membelinya, mereka juga banyak dibudidayakan," sahut Jessica.
"Aku ingin yang Asli, yang butuh perjuangan untuk melihat dan menatapnya," bantah Aldy.
"Sama sepertimu, banyak Jessica KW diluar sana. Tapi aku hanya ingin yang Asli, yang menguras tenaga dan emosi hanya untuk bicara normal dengannya," sambung Aldy.
"Hahaha, kau sedang menggombal?" Jessica tertawa setelah menyadari maksud Aldy.
"Tidak, aku serius!"
"Bahkan kau lebih sulit didapatkan dari pada Edelweiss sekalipun." Mata coklat Aldy menatap Jessica redup, mengalirkan semua perasaan yang selama ini ia pendam.
"Hohoho...apakah ini mimpi. Ah sudahlah Jess, ini hanya mimpi," gumam Jessica.
"Tidak, ini bukan mimpi untukmu. Tapi kaulah yang menjadi mimpi untukku, kau hanya sebatas mimpiku." Aldy bangun beranjak meninggalkan Jessica dengan seribu tanda tanya dikepalanya.
"Ada apa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan sampai ia sekesal itu?" tanya Jessica pada dirinya sendiri. Ia belum menyadari seberapa besar Aldy mencintainya dan saat ini sedang cemburu padanya.
"Ah, laki-laki memang begitu. Sudahlah Jess, jangan dipikirkan."
Bersambung.....
_________
Wkwkwk Jessica memang nggak peka😂
__ADS_1
Jadi Aldy harus sabar menanti dan menunggu sampai Serigala Betina itu sadar akan cinta yang ia berikan😁