
Roy
Sebelum baca part ini, Author akan mengingat siapa Roy.
Roy, laki-laki yang dibayar Jelita (Jeje) untuk memberikan cek pada Jessica di Cafe. Ingat?
Roy, laki-laki yang pernah menghina Jessica 5 tahun yang lalu. Jessica menghajarnya sampai pingsan di pinggir jalan. Ingat?
Dan mau tau lagi, sebenarnya siapa sih Roy itu?
_____________
"Dokter, pasien sudah sadarkan diri," ucap seorang perawat. Keisha menoleh lalu memberikan isyarat, "Aku akan kesana, sebentar lagi." Kira-kira begitu arti isyarat yang ia berikan.
Perawat itu mengangguk lalu kembali ke kamar pasien. Selang beberapa menit Keisha muncul, "Silahkan Dok, ini pasiennya," ucap sang perawat.
Keisha berjalan ke arah pasien, langkahnya terhenti ketika mengetahui siapa pria yang berbaring lemah di sana.
Hatinya berteriak memaki pria itu, matanya tidak rela menatap wajah itu, namun sebagai seorang Dokter, Keisha harus profesional, bukan?
Keisha membuang semua perasaan yang menghantuinya, ia memeriksa keadaan Roy layaknya Dokter pada umumnya.
Semoga dia tidak mengenalku. Keisha.
"Semua baik-baik saja, detak jantungnya sudah normal. Hanya butuh sedikit istirahat saja," ucap Keisha pada perawat yang bertugas menjaga Roy (pasien).
Seketika ingatan Roy melayang ketika mendengar suara Keisha. Rasanya tidak ada jarak antara dirinya dan Dokter cantik tadi.
Roy menatap punggung Keisha yang sudah menghilang di balik pintu rumah sakit, matanya sedikit berbinar. Namun ada rasa bersalah di hatinya, meninggalkan orang yang menyayanginya hanya karena wanita yang tidak mencintainya sama sekali, itulah kebodohan yang sudah Roy lalukan beberapa tahun yang lalu.
Roy memutuskan hubungannya dengan Keisha tanpa alasan apapun, sebagai seorang wanita. Keisha pasti butuh penjelasan, kenapa Roy tiba-tiba memutuskan hubungan dengannya.
Namun, Roy si FakBoy itu tidak pernah memberika penjelasan pada Keisha sampai detik ini.
"Sungguh dalam hatiku, aku sangat menyesal pernah menyia-nyiakan dan meninggalkanmu," gumam Roy. Wajah manis Keisha memenuhi pikirannya, saat-saat manis bersama wanita itu kembali terbayang, melayang begitu saja di pikiran Roy.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba muncul dan sudah berdiri di samping ranjang Roy.
"Ah, kau, aku baik-baik saja." Roy menatap wajah Jelita, wanita itu sungguh membuat Roy tergila-gila padanya. Bahkan membuat Roy masih mencintainya sampai detik ini.
"Kamu sudah makan?" Jelita melirik ke arah semangkuk bubur yang masih utuh, belum di makan sedikit pun.
"Aku tidak berselera."
__ADS_1
"Makan, ya." Jelita meraih bubur itu lalu menyuapi Roy dengan hati-hati. Roy menerima suapan dari Jelita dengan senang hati.
"Maafkan aku, Roy, gara-gara aku, kamu jadi begini," ucap Jelita penuh penyesalan.
"Hust, ini sudah menjadi kewajibanku, untuk menjaga dan melindungimu." Roy meraih tangan Jelita, menggenggamnya erat. Jelita tersenyum, ia merasa sangat beruntung memiliki Suami seperti Roy.
Pernikahan Jelita dengan Roy memang tidak diketahui oleh siapapun, bahkan Jelita tidak pernah membayangkan dirinya dan Roy akan menikah dan berumah tangga seperti sekarang.
Roy memutuskan untuk menikahi Jelita dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan dengan Jelita.
Menurut Jelita, ini tidak terlalu buruk. Ia lebih senang jika ada Roy di sampingnya seperti sekarang ini. Dan lebih sakit, jika ia masih mengejar-ngejar Aldy yang tidak pernah melirik ataupun memandangnya selama ini.
"Apa kamu tidak menyesal menikah denganku?" tanya Jelita. Ia menatap wajah Roy lekat.
"Bahkan aku tidak pernah menyesal karena sudah mencintaimu sampai detik ini." Roy mengelus kepala Jelita lembut. Ia tersenyum penuh kehangatan pada wanita itu.
Haduh, kau tidak dapat dimengerti Roy. (Author)
Jauh di toilet sana. Keisha melepas bajunya lalu menggantinya dengan baju biasa.
"Kenapa kau muncul setelah sekian lama menghilang?" Keisha menatap bayangan di cermin, mencoba mengukir senyum manis di bibirnya.
"Huh, persetanan dengan cinta sangat menyakitkan." Keisha merapikan pakaiannya lalu beranjak keluar dari rumah sakit.
"Huh, berendam air hangat pasti menyenangkan." Keisha membuka pintu apartemennya, meletakkan semua barang-barangnya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Keisha tenggelam pada pemikirannya, tiba-tiba saja. Bayangan si Es Batu Balok memenuhi pikirannya.
"Huh, Es Batu Balok...."
"Beruang Kutub ini memang pintar sekali, di saat-saat seperti ini bayangannya pun bermunculan."
"Es Batu Balok, bisakah kamu menemaniku?" gumam Keisha. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merindukan tingkah laku Ken yang sangat gila dan konyol itu.
Keisha keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar, ia melirik ke arah jam dinding.
"Delapan malam."
"Apa Es Batu Balok itu masih berkerja sekarang?" tanya Keisha pada dirinya sendiri.
"Ah, mungkin sudah pulang." Keisha meraih Hp, ini untuk pertama kalinya ia meminta pada Ken untuk menemaninya keluar.
"Hallo," ucap Keisha sedikit kaku.
__ADS_1
"Kenapa, ini sudah malam. Jangan mengajakku untuk ribut malam-malam begini," jawab Ken judes.
"Ken," panggil Keisha lemah.
Ken mengerutkan dahinya tidak percaya, "Kau memanggilku?" tanya Ken memastikan.
"Bisakah temani aku makan malam, sekali saja," pinta Keisha. Ken diam, mungkin ia sedang menebak-nebak niatan Keisha.
"Kumohon, malam ini saja." Keisha mulai memelas. Ken tersenyum, "Baiklah, mau makan di mana?"
"Aku ikut kau aja, kemana pun kau membawaku," jawab Keisha pasrah lalu memutuskan sambungan.
Ken mendegkus kesal, ia meraih jaket dan topi lalu berjalan keluar dari apartemennya.
Tidak butuh waktu yang lama, Ken sudah tiba di apartemen Keisha. Ia menunggu di dalam mobil, selang beberapa menit. Keisha berjalan berhampiri Ken lalu masuk ke dalam mobil.
"Mau makan di mana?" tanya Ken ketika mobil sudah di jalan raya. Keisha tidak menjawab, wanita itu masih termenung sambil menatap ke luar jendela.
"Dokter Galak, apa ada masalah?" Ken melirik sekilas.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah," ucap Keisha berbohong. Sebenarnya ia masih memikirkan tentang Roy.
"Baiklah, aku tidak memaksa. Kau bisa bercerita kapan saja, aku akan mendengarkanmu." Ken turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Keisha. Keisha hanya tersenyum lalu berjalan di samping Ken.
Keduanya duduk di bagian kiri sedikit pojok, tepat disitulah banyak pasangan yang sedang kasmaran.
"Aku makan apa yang kau makan," ucap Keisha sebelum mendapat pertanyaan dari Ken. Ken hanya bisa tersenyum bingung.
"Baiklah, kelihatannya malam ini aku akan menjadi pelampiasanmu saja," gumam Ken namun masih bisa di dengar oleh Keisha.
"Maafkan aku, Ken, aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya kaulah yang mampu menghiburku saat ini." Keisha menunduk, ia juga tidak mau mempermainkan perasaan Ken.
"Hmmm, santailah, aku sudah biasa." Ken memegang dagu Keisha, menatap mata yang penuh dengan kekecewaan itu. "Aku akan menunggumu sampai kau membuka hati untukku," sambungnya di iringi senyuman manis.
"Terimakasih, Es Batu Balok..." Keisha tersenyum lalu menatap Ken hangat.
Aku tidak tau apa masalahmu, tapi aku bisa melihat dengan jelas. Kau sangat membutuhkan seseorang untuk bersandar. Dan aku ada di sini untukmu.
_____________
Selamat membaca kak๐
Semoga suka๐๐
__ADS_1