
Keberadaan Jack masih menjadi misteri, polisi sudah menebar tim ke seluruh penjuru kota, bahkan sudah sampai luar kota. Para anggota Geng Motor pun sudah menyebar kemana-mana, bukan hanya Polisi ataupun Geng Motor Jack saja yang turun tangan. Tapi, ada beberapa orang suruhan Jessica dan Aldy, namun hasil yang mereka dapatkan sama, yaitu Zonk.
"Bagaimana ini, hampir satu minggu kita mencari Jack. Tapi, kita tidak menemukan Jack ataupun menemukan sebuah petunjuk tentang keberadaannya," ucap Yosi.
"Menurutmu, siapa yang melakukan ini pada Jack?" tanya Andre. Pria itu meluangkan waktunya beberapa hari ini untuk ikut mencari Jack.
"Menurutku, kejadian ini sudah direncanakan beberapa bulan terlebih dahulu. Mereka mengatur tempat untuk menyembunyikan Jack, mungkin tempat yang tidak jauh dari sini. Tapi, kita ataupun orang lain tak dapat menjangkaunya ataupun yang tidak pernah kita duga," timbal Martin.
"Ada satu tempat di kota ini yang tidak dapat dijangkau oleh orang banyak," sahut salah seorang geng motor Andre.
"Tapi, aku tidak yakin Jack ada disana," imbuhnya. Yosi dan Martin menatapnya bersamaan, meminta penjelasan atas ucapannya.
"Hmmm...begini, tempat itu berada pinggir kota. Kita harus melewati berbagai macam jalanan, baru bisa sampai disana." Yosi semakin bingung, ia menebak-nebak daerah mana yang dimaksud.
"Katakan saja, dimana lokasi persisnya!" Martin dan Andre sudah menatap dengan tajam.
"Hehehe, didekat kawasan sungai M. Bukankah disana ada sebuah gubuk kosong yang sudah tua, temanku pernah masuk ke dalam sana. Katanya didalam gubuk itu ada pintu yang menuju lorong bawah tanah," ucapnya.
Semua saling menatap, berpikir sejenak. "Tidak ada salahnya kita mencari kesana." Yosi memasang helmnya, menyalakan motor hendak meluncur ke lokasi.
"Sebaiknya kita bersama tim pencarian saja, tidak baik jika masuk kesana tanpa ada jaminannya," ucap Martin.
"Kita jalan saja, nanti tim menyusul." Andre dan Martin memakai helmnya lalu menyusul Yosi yang sudah meluncur terlebih dahulu.
Butuh waktu sekitar 1 jam setengah untuk sampai dikawasan sungai M. Mereka sampai sekitar jam 11:16 , itupun belum sampai di gubuk yang dimaksud. Mereka harus berjalan kaki dan melewati aliran air sungai untuk sampai disana.
"Aku merasakan hawa yang berbeda disini," ucap Martin sambil menatap sekitar.
"Sepertinya sudah terjadi perkelahian hebat beberapa hari yang lalu," sambungnya. Yosi juga merasakan hal yang sama, ia bisa merasakan ada beberapa hal yang janggal ditempat ini.
"Kita tunggu sampai orang suruhan Kak Jess datang, mereka sedang diperjalanan," ucap Yosi.
Sekitar 15 Menit Kemudian, muncullah dua orang laki-laki berbadan tegap dan tinggi. Salah satu dari mereka tidak memiliki rambut, alias botak.
"Apa kalian yakin, Jack ada disini?" tanya si Botak.
"Kami memang tidak punya bukti tentang keberadaan Jack. Apa salahnya kita masuk dan mencari Jack disana," jawab Yosi sambil menunjuk gubuk tua itu.
__ADS_1
"Aku merasakan aura yang aneh disekitar sini," ucap si rambut pirang yang tak lain teman si botak.
"Sepertinya sudah terjadi pertempuran yang begitu hebat disini, tepatnya didepan gubuk itu." Mereka semua menatap gubuk yang sudah tua dan tak terawat itu.
"Aku juga merasakan hal itu," timbal Yosi dan Martin bersamaan.
"Ayo masuk," ajak Andre.
Jumlah mereka 13 orang, 6 dari geng motor Jack, 5 dari geng motor Andre dan juga Martin, dan 2 orang utusan dari Jessica.
"Darah." Martin memperhatikan percikan darah disekitar pintu gubuk itu.
"Sebaiknya kita hubungi polisi, aku yakin semua ini ada hubungan dengan Jack," ucap Andre. Si Rambut Pirang langsung menghubungi tim pencarian, ternyata mereka sudah sampai dikawasan sungai, tinggal meluncur ke gubuk saja.
Martin dan Yosi memeriksa keadaan sekeliling gubuk, keduanya menemukan begitu banyak percikan darah dibatu ataupun di dedaunan.
"Martin, Yosi," panggil Andre.
Bukan hanya Martin dan Yosi saja yang menoleh, tapi juga 9 orang lainnya menoleh dan menghampiri Andre.
"Iya, aku ingat betul. Ini jam tangan milik Jack." Yosi mengambil jam tangan itu memperlihatkannya dengan jelas, betul saja itu memang jam tangan milik Jack.
"Kita langsung masuk saja ke dalam gubuk itu," ucap Martin dan Yosi bersamaan.
"Kita tunggu sampai polisi datang saja," jawab si Botak.
5 Menit Kemudian, tim pencari dan beberapa polisi sudah sampai. Mereka menyiapkan senjata.
"Ayo masuk, Pak," ucap Yosi yang sudah tidak sabaran lagi.
Baru saja membuka pintu gubuk, mereka sudah di buat kaget. Seseorang dengan wajah yang sudah dipenuhi memar bekas tinju dan bagian tubuh sudah dipenuhi oleh luka bekas sayatan pisau tajam.
"Morgan." Martin tidak percaya, kalau laki-laki itu adalah Morgan sepupunya. Wajah tampan Morgan memang sudah tak terlihat karena begitu banyaknya bekas tinju.
"Dia sudah tiada," ucap salah seorang polisi yang sudah memeriksa detak jantung dan juga nafas Morgan.
"Morgan," teriak Martin. Ia benar-benar tak menyangka sepupunya itu sudah tiada, ditambah lagi dalam kondisi yang sangat memilukan ini.
__ADS_1
Mereka membawa tubuh Morgan keluar dari dalam gubuk, sedang si Botak dan si Rambut Pirang masih didalam bersama para polisi dan tim pencari.
Suasana di dalam gubuk itu terlihat berbanding terbalik dengan suasana di luarnya.
Didalam sana, banyak senjata tajam yang sudah dicat oleh darah merah yang begitu segar. Pistol, berang tergeletak dimana-mana.
Polisi membuka sebuah pintu yang berada di pojokan gubuk, pintu itu menuju sebuah ruang bawah tanah, persis seperti yang dikatakan salah seorang teman Andre tadi.
Dibawah sana begitu gelap dan sunyi, para polisi bisa mencium bau busuk yang begitu menyengat. Mereka menyalakan senter agar bisa melihat dengan jelas.
"Ini diluar dugaan," ucap salah seorang polisi ketika melihat beberapa potong tubuh manusia di atas sebuah meja panjang.
Potongan itu terlihat seperti bagian paha dan lengan seorang pria. Disebelahnya ada dua jari tengah yang sudah terpisah dari telapak tangan.
"Geledah semua ruangan," perintah seorang polisi.
Mereka menemukan beberapa koleksi pistol zaman dahulu, dan juga beberapa jenis pisau yang begitu tajam di dalam sebuah lemari kayu.
Setelah satu jam menggeledah, mereka tak menemukan satupun petunjuk tentang keberadaan Jack. Tapi malah menemukan satu kasus terbaru, yang mungkin akan mengarahkan mereka pada Jack.
Sementara di luar gubuk sana.
"Kau yang sabar, Tin," ucap Andre.
"Dia Morgan, Ndre, kau taukan seperti apa Morgan itu. Dia tak pernah terlibat dengan perkelahian dengan siapapun, tapi sekarang. Kau lihat apa yang terjadi padanya?" Martin menatap Jenazah Morgan yang sudah dibawa oleh para tim pencarian.
"Siapapun pelakunya, aku akan membalasnya dengan balasan yang setimpal." Darah dan Emosi Martin memanas, bukan hanya kasus Jack saja yang ada dipikiranya tapi juga kasus Morgan sekarang.
Bersambung....
_________
Semoga suka😍
Jangan tanya Bang Jack kemana ya😢
Author pun sudah kangen sama tingkah Bang Jack dan Kamila😢
__ADS_1