
Jessica meraih kotak kecil yang tersimpan rapi di dalam lemarinya. Ia berjalan dengan cepat, mengunci pintu dan gerbang kontrakannya.
Sebelumnya, Jessica memesan taksi online. 10 menit perjalanan, ia sudah sampai pada tujuannya.
Wanita dingin itu menatap sebuah toko perhiasan di depannya. Tanpa pikir panjang, Jessica melangkah kakinya ke sana. Ia menarik nafas panjang, membuangnya perlahan lewat mulutnya.
Jessica menjual kalung pemberian Ibunya, ini semua ia lakukan untuk membantu pengobatan Naomi di rumah sakit kota.
Semalam, Jessica mendapat kabar bahwa Naomi dilarikan ke rumah sakit kota, karena sakitnya semakin parah. Wanita 48 tahun itu terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit saat Jessica menjenguknya, tadi malam.
Jessica kembali masuk ke dalam taksi. Ia menggenggam erat uang tunai yang ada di tangannya. Taksi melaju menuju rumah sakit kota. Jessica memejamkan matanya. Tubuhnya terasa begitu lelah karena kurang istirahat sejak kemarin.
Serigala Betina itu tidak pernah memakan apapun sejak tadi pagi. Hanya Naomi dan Naomi yang ada di pikirannya saat ini. Jessica takut kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi untuk kesekian kalinya.
"Nona, Hp Anda berdering sejak tadi," ucap sang supir taksi.
Jessica membuka matanya, ia meraih benda tipis itu, menatap layarnya.
"Hallo, iya, aku akan sarapan. Aku sedang di jalan. Ya, aku akan menghubungimu nanti." Jessica memutuskan sambungan. Ia kembali memejamkan matanya.
"Apa aku harus menceritakan ini pada Aldy?" gumam Jessica. Ia membuka matanya, menatap uang tunai yang masih ia genggam.
"Aku tau, Ibu pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan sekarang."
Rumah Sakit Kota
Jessica membuka pintu ruangan. Ia menatap Naomi yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Jessica mendekat, "Bibi, Audi datang."
Naomi masih memejamkan matanya. Kondisi Naomi semakin lemah, ia bahkan tidak pernah membuka matanya sejak tadi malam.
Jessica keluar, ia menemui dokter yang bicara dengannya tadi malam. Tidak ada tindakan yang bisa Dokter lakukan. Operasi tidak mungkin dilakukan saat kondisi Naomi seperti ini. Jessica lemas, ia tidak bisa membantu apapun selain do'a untuk Naomi.
"Jess." Sebuah tangan kekar menempel di bahu Jessica, membuat Jessica mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan itu.
Jessica bangkit, ia menepis tangan kekar itu dari bahunya. "Kak Hendra ada urusan apa di sini?"
"Aku hanya menjenguk temanku dan aku melihatmu di sini, jadi aku menghampirimu. Kau sendiri? Ada urusan apa di sini?" Hendra menatap wajah Jessica, ia tau kalau wanita itu sedang khawatir pada seseorang.
"Tidak ada." Jessica berjalan meninggalkan Hendra. Ia keluar dari rumah sakit kota.
"Mungkin ini yang terbaik untuk kita."
_________________
"Kau kenapa?" Ken mendekat ke arah Aldy yang terlihat tidak tenang sejak tadi. Pria itu terus mengejek Hpnya, seolah-olah menunggu kabar dari seseorang.
"Aku mengkhawatirkan Jessica. Dia baru saja pulang dari rumah sakit kota. Sebenarnya siapa yang sakit?" tanya Aldy pada Ken.
__ADS_1
Aldy mendapatkan laporan dari orang yang ia kirim untuk menjaga Jessica. Orang itu baru saja melaporkan bahwa Jessica pergi ke toko perhiasan dan langsung meluncur menuju rumah sakit kota.
"Aku tidak tau," jawab Ken. Ken terlihat seperti memikirkan sesuatu. Ia diam sambil menatap wajah Aldy.
"Coba kau tanya, dia pasti menjawabnya. Dan dia tidak mungkin berbohong padamu," sambung Ken.
Aldy menarik nafasnya lalu menatap layar Hpnya. "Semoga dia jujur."
"Ayolah, angkat, Jess. Jangan membuatku khawatir seperti ini," gumam Aldy karena teleponnya tidak kunjung diangkat oleh Jessica.
"Kau tenang, coba aku yang menghubunginya." Kini Ken yang menghubungi Jessica. Namun hasilnya tetap sama, Jessica tidak mengangkat telepon dari Ken.
"Aku tidak bisa seperti ini, kau urus perusahaan! Aku akan menemuinya." Aldy merapikan Jasnya. Ia meraih kunci motornya hendak menemui Jessica.
Namun, belum sempat ia keluar dari ruangannya. Hp Aldy sudah berdering, menampilkan nama pemanggil di sana.
"Hallo, kau kemana saja?!" Aldy menarik nafas lega. Ia kembali duduk di kursinya dengan kepala bersandar di sana.
"Maaf, aku tadi di kamar mandi. Aku juga tidak mendengar Hpku berdering," jawab Jessica di seberang sana.
"Jess."
"Jawab pertanyaanku jujur, aku tidak ingin kau berbohong walau satu kata!" Aldy menatap Ken. Ken tersenyum, memberi dukungan pada Tuan Mudanya.
"Ya, aku akan jujur. Sejak kapan aku membohongimu," jawab Jessica. Wanita itu menarik nafas dalam, mencoba menebak hal apa yang akan ditanyakan oleh kekasihnya itu.
"Siapa yang sakit?"
"Bi-bibi Naomi, Bibi Naomi sakit, sekarang dia dalam masa kritis. Aku tidak bohong," jawab Jessica dengan ekspresi wajah yang mulai berubah.
"Terus, kenapa kau pergi ke toko perhiasan. Apa hubungannya?"
"Aku menjual kalungku untuk membantu biaya rumah sakit," jawab Jessica sejujurnya. Ia menahan nafasnya, mencoba untuk menguatkan dirinya.
"Jess, kau bisa meminta bant...."
"Tidak, biarkan aku melakukan ini untuk Bibi Naomi, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain dia," potong Jessica. Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya.
"Aku ingin istirahat, aku akan menghubungimu lagi nanti," ucap Jessica.
"Biaklah, istirahatlah! Jangan lupa makan siang! Aku mencintaimu!" Aldy memutuskan sambungan sebelum Jessica mengomel padanya. Ia meletakkan Hpnya lalu menatap ke arah Ken.
"Bisakah kau dapatkan kalung itu kembali?" Mata Aldy menatap Ken penuh harap. Ken tersenyum tipis, ia menyalakan Hpnya lalu menghubungi seseorang.
"Kau akan mendapatkan kembali, 15 menit lagi," ucapnya pada Aldy.
"Kau memang bisa diandalkan." Aldy kembali fokus pada pekerjaan yang tertunda. Begitu pula dengan Ken, Es Batu Balok itu kembali duduk di kursinya. Keduanya mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
__ADS_1
Sorenya. Aldy meminta Ken untuk mengantar menemui Jessica. Jarak antara perusahaan dan kontrakan Jessica cukup jauh, butuh waktu 25-30 menit untuk sampai di sana.
Jalanan cukup ramai dan macet sore itu. Aldy menyandarkan kepala, sesekali ia menoleh ke arah luar jendela mobil.
"Tumben seramai ini," gumam Ken. Ia memperhatikan Aldy dari kaca mobil, "Kau sudah tidak sabar, ya?" Goda Ken pada Tuan Mudanya itu.
"Kau diam saja, jalan! Lihat lampu merah sudah berubah!"
Ken tersenyum tipis, ia kembali fokus pada kemudi di depannya.
10 menit kemudian. Keduanya sudah sampai di depan kontrakan Jessica. Seperti biasa, Aldy menghubungi Jessica, memberi tahu kedatangannya.
"Astaga, selalu seperti ini. Datang tak diundang." Jessica merapikan rambutnya. Ia membuka gerbang lalu menghampiri mobil Aldy.
"Masuklah!" ucap Aldy dari dalam mobil.
"Kita mau kemana?" Jessica mengetuk-ngetuk kaca mobil. Ia masih berdiri dan mematung tanpa ada niatan untuk masuk.
"Masuklah, Jess!" Kini Ken yang angkat bicara. Ia keluar lalu membukakan pintu mobil untuk Jessica.
"Apa harus seperti ini baru kau mau masuk?" Ken menatap Jessica sambil tersenyum tipis.
"Ken! Beraninya kau tersenyum pada Edelweiss-ku!" teriak Aldy dari dalam mobil.
Jessica masuk dan duduk di samping Aldy. "Ada apa, humm?"
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat wajahmu dari dekat." Aldy tersenyum dengan mata yang terus menatap wajah Jessica.
"Biaklah, kita mau kemana?" tanya Ken yang hanya menjadi obat nyamuk keduanya.
"Tidak kemana-mana. Kita akan pulang sekarang," jawab Aldy setelah puas menatap wajah Jessica.
"Kau jauh-jauh ke sini hanya untuk melihatku?" tanya Jessica tidak percaya.
Aldy mengangguk, "Iya, sekarang aku sudah puas melihatmu. Kau masuklah! Aku dan Ken akan pulang." Aldy terus tersenyum. Ia menarik rambut Jessica sebelum wanita itu keluar dari mobilnya.
"Aku akan ke rumah sakit bersama Jack nanti malam," ucap Jessica sambil menutup pintu mobil.
"Bagaimana jika sekarang dengan aku?" Aldy keluar dari mobilnya. Ia menatap wajah Jessica redup.
"Hmmm, kau istirahatlah! Lihat, kemeja dan jasmu saja belum kau ganti." Jessica menepuk-nepuk pipi Aldy pelan sambil tersenyum tipis.
"Jangan bilang kau cemburu pada Jack!" sambungnya sambil mencubit pipi Aldy.
"Iya, aku cemburu!" jawab Aldy jujur.
"Astaga, sudahlah! Sekarang masuk dan pulanglah!" Jessica mendorong tubuh Aldy, pria itu mengalah lalu masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"30 menit perjalanan hanya untuk menatap wajah saja," gumam Ken. Ia menyalakan mobil lalu melajukannya menuju jalan raya.
Bersambung....