
Sore harinya, di kediaman keluarga Can Candra. Aleta datang bersama para pengawal yang bertugas untuk menjaga semua orang yang termasuk bagian dari Yoga Candra atau bagian dari Pranata Yoga.
Bukan Aleta namanya kalau tidak membuat onar dan resah orang-orang di sekitarnya. Sore ini, di kediaman Can Candra kebetulan kedatangan tamu spesial, yaitu keluarga Keisha yang sedang membahas masalah pernikahan Ken dan Keisha, yang akan dilaksanakan satu minggu setelah pernikahan Aldy dan Jessica. Tepatnya, pada tanggal 15 Maret mendatang.
Aleta yang mendengar Ken akan menikah pun mulai heboh dan ingin mengetahui seperti apa calon istri untuk Kakak sepupunya itu.
Nah, Kalau gini kan enak!
Calon istri Kak Ken terlahir dari keluarga terhormat dan juga terpandang di kota ini! Dia tidak akan menjatuhkan harga diri Can Candra nantinya! (Aleta)
Gadis itu naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan Nathalia, Zuanda dan yang lainnya.
Ia memeriksa setiap kamarnya. Namun, nihil. Tidak ada siapapun di lantai atas kecuali Zuanda yang memang sedang tidak enak badan.
"Tante, Tata dan Juan mana?" tanya Aleta ketika bertemu dengan Mama Juan.
"Mereka pergi ke rumah Aldy sejak tadi siang!" jawab Mama Juan sambil menyuruh Aleta minggir dari hadapannya.
"Ah, aku tidak bertemu dengan mereka tadi! Tante pasti bohong!" sanggah Aleta sambil menatap Mama Juan tajam.
"Terserah! Tante masih banyak urusan! Sebaiknya kamu minggir sekarang juga! Atau Tante akan mengadukanmu pada Jordan!" Ancam Mama Juan karena geram dengan sikap Aleta.
Aleta pun mendengkus kesal. Ia menghentakkan kaki beberapa kali lalu keluar menuju halaman rumah.
"Antar aku ke rumah Bibi Lynda!" ucap Aleta sambil masuk ke dalam mobil yang ia gunakan ke sini tadi.
Pengawal itu hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian masuk dan mengantar Aleta kembali ke kediaman keluarga Pranata.
Sesampainya di sana. Aleta kejutkan dengan kedatangan Mammy, Daddy dan Kakaknya yang datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Mammy....." Aleta berlari ke arah Mammy-nya memeluk sang Mammy erat.
"Mammy kok nggak bilang-bilang kalau Mammy, Daddy dan Kak Fia mau ke sini?" Aleta melirik sang Kakak yang terpaut 3 tahun dengannya lalu tersenyum kecut.
"Iya, soalnya Mammy dan Daddy mau kasih kejutan buat kamu. Eh, tahu-tahunya kamu pergi ke rumah uncle Marleen," jawab sang Mammy sambil menarik Aleta dan Fia untuk masuk ke dalam ruang keluarga.
Kedatangan Mammy dan Daddy Aleta disambut baik oleh Ibu, Nathalia, dan Juan. Sedangkan Aldy dan Kamila belum pulang dan juga belum mengetahui tentang hal ini.
Ibu memang tidak terlalu akrab dengan Mammy Aleta. Ya, karena memang keduanya jarang bertemu dan berkumpul.
Berbeda dengan Aldy. Ia memang akrab dengan Mammy ataupun Daddy Aleta yang juga bergelut di dunia bisnis Keluarga besar Yoga Candra dan Can Candra.
Kepala pelayan mengantar Mammy dan Daddy Aleta menuju kamar tamu, membiarkan mereka melepas lelah dan beristirahat sebentar. Sedangkan Aleta dan sang Kakak diajak oleh Nathalia untuk berjalan-jalan sore di sekitar komplek perumahan.
Keduanya mengiyakan ajakan Nathalia. Mereka pun keluar dengan berjalan kaki, menikmati angin kota yang sedikit menenangkan.
"Jadi benar, Kak Aldy akan menikah bulan depan?" tanya Fia pada Nathalia.
Nathalia mengangguk dan membenarkan ucapan Fia. Ia berhenti lalu menatap kedua kakak beradik itu.
"Kumohon, kalian berdua berhentilah menilai orang hanya dari latar belakang mereka. Coba kalian lihat sisi lain dari orang tersebut. Terutama hatinya, karena hatinya akan menggambarkan semua sikapnya. Kak Jess memang bukan dari kalangan orang atas. Namun, ayah dan ibunya orang baik-baik. Dan asal kalian tau! Hati Kak Jess itu sangat lembut! Aku yakin, Aleta cukup tau tentang hal itu!" ucap Nathalia dengan mata yang masih memandang keduanya.
__ADS_1
Fia yang mendengar itupun merasa tidak enak pada Nathalia. Ia cukup tau bagaimana sikap sang Mammy dan Adiknya yang sering memandang seseorang dari latar belakang mereka.
Berbeda dengan Aleta, ia malah menanggapi ucapan Nathalia dengan senyum tipis yang tidak bisa diartikan maknanya.
Ketiganya kembali berjalan menuju taman yang terletak tidak jauh dari kediaman keluarga Pranata. Dan berdiam cukup lama di sana.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Malamnya, Dokter Lukman datang untuk memeriksa keadaan Jessica di kediaman keluarga Pranata.
Kedatangan Dokter Lukman menimbulkan banyak tanda tanya di kepala Mammy Aleta. Ia terus memperhatikan langkah sang Dokter sampai Dokter Lukman masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu.
Mammy Aleta pun semakin bingung ketika melihat Ibu dan Aldy ikut masuk ke dalam kamar Jessica. Ia melangkah mendekati kamar itu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Kamila yang berjalan ke arahnya.
"Apa yang Bibi lakukan di sini?" tanya Kamila sambil menaikkan alisnya menatap Mammy Aleta.
"Siapa yang tidur di kamar ini?" Mammy Aleta balik bertanya dengan kedua tangan dilipat di dadanya.
"Sebaiknya Bibi jangan di sini. Bisa-bisa Kak Aldy mengamuk nanti pada Bibi," ucap Kamila memberi saran terbaik untuk Mammy Aleta.
Mammy Aleta tidak mau kalah. Ia tetap berdiri di sana sampai Kamila masuk ke dalam kamar Jessica.
Sebenarnya siapa yang sakit? Ah, sebaiknya aku tanya saja langsung pada Aleta! Dia pasti tau siapa yang sakit di dalam sana. (Mammy Aleta)
Mammy Aleta pun berjalan menjauhi kamar Jessica. Ia berjalan menuju halaman utama, dimana para remaja sedang berkumpul di sana.
Malam ini, sebagian dari Keluarga besar Yoga Candra dan Can Candra sedang berkumpul untuk makan malam bersama di kediaman keluarga Pranata.
Syla dan Sakila memiliki silsilah yang sama dengan dengan Aldy. Keduanya adalah sepupu Aldy. Namun, Ibu mereka memilih untuk memutuskan hubungan dengan Keluarga besar Yoga Candra karena suatu alasan yang tak jelas.
Sedangkan Hizwan, dia adalah putra satu-satunya dari Hermawan Putra Candra yang masih memiliki silsilah keturunan yang sama dengan Aldy dan Kamila.
Mammy Aleta mendekat, ia memanggil Aleta. Mengisyaratkan ada sesuatu hal penting yang harus dibicarakan sekarang juga.
Aleta pun mundur lalu menemui sang Mammy yang sudah menunggunya di taman utama. Keduanya duduk di bangku taman yang cukup jauh dari kerumunan remaja-remaja itu.
"Apa kau tau, siapa orang yang tidur di kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu itu?!" tanya Mammy Aleta langsung pada intinya.
Aleta berpikir sejenak, bingung harus mengatakan apa pada sang Mammy.
"Hei! Kenapa diam! Mammy sedang bicara denganmu!" ucap sang Mammy dengan nada sedikit meninggi.
"Calon istri Kak Aldy!" jawab Aleta pelan.
"Calon istri?"
Ya, Aku memang sudah tau Aldy akan menikah, tapi dengan siapa? Apa dengan anak teman bisnisnya atau dengan rakyat jelata seperti istrinya Marleen? Ah, jangan sampai! (Mammy Aleta)
"Mammy!" teriak Aleta karena sang Mammy tidak kunjung merespon ucapannya sejak tadi.
"Eh, iya, apa?" jawab Mammy Aleta.
__ADS_1
"Mammy mikirin apa? Humm!!! Jangan pikirkan yang tidak-tidak tentang Kak Audy! Semua orang berpihak padanya, terutama Bibi Lynda dan Kak Kamila! Keduanya sangat menyayangi Kak Audy! Dan Mammy harus tau juga! Kak Audy kemarin menyelamatkan nyawaku sampai mengorbankan kesehatannya sendiri! Oleh sebab itu, ia jatuh sakit sekarang!" ucap Aleta panjang lebar sambil menatap mata sang Mammy.
Cih, mereka selalu seperti itu! Menikah dengan orang yang tidak selevel dengannya! Apa istimewanya, sih, wanita bernama Audy itu sampai semua orang berpihak padanya! (Mammy Aleta)
Mammy Aleta pun bangun dan meninggalkan Aleta begitu saja. Ia berjalan masak ke dalam rumah utama lalu melangkah menuju dapur, mencari seseorang yang bisa berbagai informasi tentang kekasih yang akan dinikahi Aldy.
Mammy Aleta bertanya kepada kepala pelayan dan juga pelayan lainnya. Namun, mereka semua tidak menjawab pertanyaan itu. Dengan alasan, Aldy tidak ingin menceritakan pada siapapun tentang kehidupan pribadi Jessica.
"Menyebalkan! Semua orang memuji dan menyukai wanita itu! Bahkan kedua anakku juga menyukainya!" gerutu Mammy Aleta sambil berjalan menuju ruang makan.
Semua orang sudah duduk di meja makan dengan tenang. Mereka menatap satu sama lain, mencari keberadaan sang Tuan Muda yang tidak pernah menampakkan dirinya sejak tadi.
"Bibi, Kak Aldy mana?" tanya Aleta pada Ibu yang baru saja duduk di kursinya.
"Kakak kalian ada urusan penting, nanti juga akan bergabung. Sekarang kalian makanlah terlebih dahulu!" jawab Ibu sambil melirik ke arah Mammy Aleta yang memasang muka masamnya.
Mereka pun mulai makan malam tanpa Aldy dan Jessica.
Sementara di dalam kamar Jessica. Aldy duduk di pinggir kasur sambil memegang semangkuk bubur, ia menyuapi Jessica penuh kasih sayang.
"Sudah." Jessica menggeleng saat Aldy kembali menyodorkan satu sendok bubur di depan mulutnya.
"Sekali lagi, ya!" Bujuk Aldy agar Jessica menghabiskan buburnya.
"Aku sudah kenyang, bagaimana jika kau saja?" Jessica merebut mangkuk itu dari tangan Aldy.
"Aaaaa, buka mulutnya!" ucapnya sambil menyodorkan sesendok bubur pada Aldy.
Aldy menggeleng. Namun pada akhirnya, ia pun membuka mulutnya karena tidak mau mengecewakan wanita di depannya.
Jessica terus menyuapi Aldy sampai bubur itu tidak tersisa sedikit pun. Sedangkan Aldy hanya tersenyum memandang wajah bahagia kekasihnya.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Jessica sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kau cantik!" jawab Aldy tulus dengan bibir yang tersenyum manis pada Jessica.
"Jangan menggombal! Aku tidak akan termakan gombalanmu itu!" Jessica mengalihkan pandangan, memandang ke pojok ruangan.
Kenapa dia setampan dan semanis itu?!
(Jessica)
"Hei, apa yang kau lihat di sana! Aku di depanmu! Bukan di sana! Jika kau ingin melihat, maka menataplah ke sini! Jangan malu-malu seperti itu!" goda Aldy dan berhasil membuat Jessica salah tingkah.
"Apa, sih! Sebaiknya keluar sekarang!" ucap Jessica. Namun, matanya masih menatap ke arah lain.
"Hahaha, baiklah aku akan keluar. Kau istirahatlah! Jika belum mengantuk, aku akan meminta Kamila menemani nanti." Aldy bangun lalu mengelus kepala Jessica lembut.
"Good Night, Edelweiss-ku, " sambungnya lalu keluar dari kamar Jessica.
Jessica menatap kepergian Aldy dengan senyum tipis di bibirnya.
__ADS_1
Good Night too, Tuan tampan. Eh, sejak kapan aku memanggilnya seperti itu? Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Atau memang aku hanya mengakui ketampanannya saja? Ah, sudahlah! Apapun itu, intinya dia memang tampan dan baik hati. Dan mungkin aku sudah mulai jatuh cinta padanya. (Jessica)