Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
10. Tidak Pernah Puas


__ADS_3

Usai berolahraga dan mandi pagi bersama. Aldy memutuskan untuk sarapan bersama Jessica di dalam kamar saja. Ia tidak mengizinkan istrinya itu sampai turun ke lantai bawah. Apalagi Kamila sudah pulang ke rumah utama, bisa fatal urusannya.


"Sayang, kau tetaplah di kamar, ya. Jangan ke mana-mana. Di bawah ada Kamila dan juga yang lainnya, kau tau, 'kan sebahaya apa gadis-gadis planet itu?" ucap Aldy lalu mengecup kening Jessica dua kali.


"Iya, aku faham. Dan, mana mungkin aku mau keluar dalam keadaan seperti ini! Lihat ini, ini, dan ini!" Jessica menunjuk beberapa tanda merah di sekitar lehernya lalu menatap Aldy sinis.


"Gadis-gadis itu pasti akan bertanya tentang ini, jika mereka sampai melihatnya!" lanjut Jessica sambil berusaha menutupi hasil karya Aldy.


"Hahahaha, ini bukti, bukti kalau aku sangat mencintaimu," ucap Aldy lalu tertawa kecil.


"Hmmm, kau selalu benar suamiku, kau tidak pernah salah. Terimakasih atas cinta dan bukti yang kau berikan untukku sepagi ini."


Jessica menekuk wajahnya, pasti hari ini akan menjadi hari yang paling membosankan dalam hidup Jessica. Karena dirinya tidak diizinkan ke mana-mana oleh sang suami tampannya ini.


"Aku akan menemanimu, jadi jangan khawatir, kau tidak akan bosan jika bersamaku di sini," ucap Aldy yang mengerti arti raut wajah Jessica.


"Tapi janji, kau tidak akan memintanya lagi padaku. Sungguh, tubuhku terasa remuk karena ulahmu!"


"Tapi kau menikmatinya, 'kan?" Aldy tersenyum miring.


Ya, sekarang aku benar-benar mengakui kepintaran bicaramu, Sayang. Kau sangat sulit untuk dikalahkan! (Jessica)


Aldy terus tertawa kecil sambil melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar. Ia menoleh sejenak ke arah Jessica, lalu membuka pintu dan menghilang di balik pintu itu.


Aldy menatap sekitar, rumah utama sudah tidak sesepi semalam. Kini Ibu dan Kamila sudah pulang, lengkap dengan Aleta dan juga Fia, kakaknya.


"Kakak," sapa Kamila tersenyum.


Aldy hanya menanggapinya dengan senyum tipis lalu berjalan menuju dapur. Aldy meminta kepala pelayan untuk menghantarkan sarapan ke kamarnya nanti, dan ia juga meminta kepala pelayan untuk melarang keras gadis-gadis planet itu untuk naik ke lantai atas. Apalagi sampai mendekati kamarnya, dan Jessica.


Aleta yang mendengar percakapan Aldy dengan kepala pelayan pun mulai dihatui rasa penasaran.


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kami dilarang naik ke atas? Dan kenapa Kak Aldy dan Kak Audy sarapan di atas? Kenapa tidak di bawah seperti biasa?" gumam Aleta.


Aleta menatap punggung Aldy yang sudah menaiki tangga, dan hendak kembali ke dalam kamarnya. Ia menggigit jari telunjuk sambil melamun, memikirkan apa alasan Aldy dan Jessica yang sebenarnya.


"Hei, ayo sarapan! Kami sudah lama menunggumu di meja makan!" ucap Kamila sambil menepuk pundak Aleta cukup keras, membuat Aleta tersadar dan langsung menoleh ke arahnya.


"Kak Ila, sebenarnya apa yang terjadi pada Kak Aldy dan Kak Audy? Kenapa mereka sarapan di atas? Kenapa tidak di bawah saja bersama kita, seperti biasa?" tanya Aleta lengkap dengan wajah polosnya.


"Oh, itu. Kak Aldy dan Kak Jess sedang membuatkan keponakan untuk kita, jadi kau jangan naik, dan mengganggu mereka, mengerti!"


Aleta mengangguk, itu tandanya ia mengerti dengan ucapan Kamila tadi.


"Aletaaa.....Ilaaaa," teriak Ibu dari ruang makan.


Aleta dan Kamila saling menatap, lalu bergegas menuju ruang makan, sebelum Ibu memarahi mereka. Semua sudah berkumpul di meja makan, kecuali Aldy dan Jessica. Dan terpaksa, Ibu dan yang lainnya harus sarapan tanpa kedua orang itu.


☆☆☆☆☆


Sementara di kediaman Can Candra. Keisha membuka matanya, lalu berusaha menggerakkan otot-ototnya yang terasa begitu kaku. Sayangnya, Keisha kesulitan bergerak karena tangan kekar milik Ken masih memeluk tubuhnya erat.


"Honey." Begitulah keduanya saling memanggil sejak tadi malam.


"Honey!" Keisha mencubit hidung Ken gemas. Membuat pria itu terpaksa membuka matanya dan langsung menatap ke arah Keisha.


"Ada apa, Honey? Aku masih mengantuk," jawab Ken lalu mempererat pelukannya.


"Honey, bangunlah! Ini sudah jam enam empat lima. Kita harus mandi, sarapan, dan juga berkemas. Bangunlah, bisa-bisa kita tertinggal pesawat nantinya."


Keisha terus berusaha melepaskan dirinya. Ia tidak terbiasa tidur sampai sepagi ini, apalagi belum mandi di jam segini.

__ADS_1


"Honey! Bangun! Jika kau tidak bangun, maka aku tidak akan melakukannya denganmu nanti malam!" Ancam Keisha dengan wajah yang dibuat-buat kesal.


"Melakukan apa, Honey?" Ken balik bertanya. Ia melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah Keisha.


"Kau tidak ingin melakukan apa, Honey? Bicaralah dengan jelas agar aku mengerti maksudmu!" lanjut Ken, masih dengan mata yang menatap ke arah Keisha.


"Ah, sudahlah! Aku malas berdebat denganmu!" Keisha memalingkan wajahnya. Bisa-bisanya ia kalah hanya karena pertanyaan sederhana yang Ken lontarkan.


Melihat Keisha mengambek, dan membelakanginya. Ken pun langsung memeluk istrinya itu dari belakang. Mempererat lalu membalik tubuh Keisha agar menghadapnya.


"Jangan ngambek seperti itu, sekarang tersenyumlah, tersenyum, Honey!" Ken menghujani wajah Keisha dengan kecupan lembut. Membuat Keisha geli, dan tertawa karena kelakuannya.


"Sudah, sudah! Sekarang lepaskan aku, aku mau mandi! Lihatlah ini sudah jam tujuh pagi! Semua orang pasti sudah menunggu kita di meja makan!" ucap Keisha menjelaskan.


Ken pun terpaksa melepas Keisha lalu bangun dari tidurnya.


"Honey, sebaiknya kau yang mandi terlebih dahulu. Aku akan mengemasi barang-barang kita," ucap Keisha memberi saran agar Ken lah yang mandi terlebih dahulu. Sedangkan dirinya akan mengemasi barang-barang yang mereka akan bawa untuk pergi berbulan madu hari ini.


"Tidak, sebaiknya kau yang mandi duluan!" tolak Ken sambil menyeret koper besar ke depan lemari mereka.


"Baiklah! Aku akan membantumu setelah aku selesai mandi."


Keisha beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan Ken mulai membuka lemari lalu memasukkan beberapa potong pakaiannya dan juga pakaian Keisha ke dalam koper.


Usai mandi dan ganti baju. Keisha langsung menghampiri Ken yang sudah selesai mengemas dan merapikan kamar.


"Mandilah, Honey! Aku akan menunggumu di sini," ucap Keisha sambil menyisir rambutnya di depan cermin.


Ken tidak menjawab apapun. Ia melangkah menuju kamar mandi dengan senyum yang mengembang saat berpapasan dengan Keisha.


Kurang dari lima belas menit. Ken keluar dari dalam kamar mandi, ia melirik ke arah Keisha lalu berjalan menuju ruang ganti sambil tersenyum.


"Astaga, mau ganti baju saja susah sekali!" gumam Keisha.


"Selamat pagi, Kak Ken, Kakak ipar," sapa Nathalia yang sudah lengkap dengan tas dan juga seragam sekolahnya.


"Selamat pagi juga. Kau sudah sarapan?" tanya Ken pada adik kesayangan itu.


Nathalia mengangguk lalu tersenyum pada keduanya. Ia berlari menuju halaman depan setelah mendapat panggilan khusus dari Mamanya yang berada di depan sana.


"Ayo, kita akan sarapan berdua saja. Yang lain sudah selesai sarapan," ucap Ken lalu melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Benar saja, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Hanya ada Ken dan Keisha saja.


Ya, mana mungkin mereka akan menunggu kita. Lihat saja, ini sudah setengah delapan! Semua orang pasti sudah sibuk dengan urusan mereka masing-masing! (Keisha)


Keduanya mulai sarapan dengan hening. Sesekali mereka saling melirik satu sama lain. Lalu kembali menunduk setelah tatapan mereka bertemu.


Setelah sarapan. Ken menyempatkan dirinya untuk memeriksa email-email perusahaan. Takutnya Aldy belum juga memeriksanya. Beruntungnya Ken, ternyata semua email sudah dibalas oleh Aldy, membuat pikirannya menjadi tenang, dan dia bisa menikmati bulan madunya tanpa harus memikirkan pekerjaan yang sudah dibebankan pada sang Tuan Muda. Beruntung sekali Ken karena memiliki Boss seperti Aldy.


Satu jam sebelum penerbangan. Ken mengajak Keisha jalan-jalan terlebih dahulu. Keduanya berjalan, dan mencari hiburan di sekitar bandara. Ya, walaupun tidak ada yang menghibur di sana. Tapi keduanya sudah berasa terhibur hanya dengan berjalan sambil bergandengan tangan.


☆☆☆☆☆


Jam 09.03


Jessica menatap Aldy yang masih terlihat sibuk dengan Hpnya. Pria itu memang menemani Jessica, namun ia lebih fokus pada beberapa email yang baru saja masuk dan harus Aldy baca sekarang juga.


"Sayang," panggil Jessica manja. Jessica merasa dirinya dicueki oleh suaminya itu.


"Sabar, Sayang. Satu email lagi, setelah itu, aku akan menemanimu!" jawab Aldy.


Aldy benar-benar tidak bisa melewatkan ini, ia juga tidak bisa menyerahkan semua ini pada Ken ataupun pada sekretaris yang lainnya.

__ADS_1


"Hmmm, baiklah."


Jessica membuka laci lalu mengambil Hpnya. Ia membuka akun Instagram barunya, karena yang lama sudah dihapus oleh Aldy, suami gilanya.


@Zia_16 : Kak Jess, aku rindu Kak Jess. Kapan Kak Jess akan berkunjung ke sini lagi? Kami rindu dan juga butuh semangat dari Kak Jess😷


Jessica menarik nafas dalam. Jangankan untuk berkunjung ke perguruan, untuk keluar dari rumah utama saja ia harus meminta izin pada Aldy, dan juga harus dikawal oleh 3 pengawal. Merepotkan, bukan?


Jessica membalasnya. Ia juga menyatakan kalau dirinya rindu dengan gadis itu, dan masalah berkunjung, Jessica tidak berjanji apakah dia dapat berkunjung atau tidak. Tergantung dengan izin dari si Suami Tampannya.


"Sayang, maaf. Aku benar-benar tidak bisa mengabaikan email-email itu. Maafkan aku, tersenyumlah, jangan tekuk wajahmu seperti itu!"


Aldy mematikan Hpnya, lalu meletakkan benda pipih itu di atas meja. Ia berjalan mendekati Jessica, dan langsung memeluk tubuh Jessica.


"Sayang, maaf." Aldy mengira Jessica marah padanya. Tapi Aldy salah, Jessica ternyata sedang memikirkan bagaimana caranya agar dirinya bisa berkunjung lagi ke perguruan.


"Iya, Sayang. Aku tidak apa-apa, kau sudah selesai?" tanya Jessica tersenyum.


"Sudah. Apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa wajahmu seperti itu, hmmm?"


Aldy merebahkan tubuhnya lalu menjadikan paha Jessica sebagai bantalnya.


"Ini." Jessica menyerahkan Hpnya pada Aldy. Ia memperlihatkan beberapa pesan dari Zia dan juga anak-anak yang lainnya.


"Kau ingin kembali mengajar?" Aldy mematikan Hp Jessica. Lalu mendongak menatap wajah Jessica.


"Aku, aku sebenarnya ingin. Tapi tidak apa jika kau tidak mengizinkannya." Jessica menunduk membalas tatapan Aldy.


"Latihan pada hari apa saja?"


"Sore kamis dan minggu pagi, kadang minggu sore," jawab Jessica tersenyum.


"Akan kupertimbangkan. Sekarang tersenyumlah, aku tidak bisa melihat wajahmu ditekuk seperti itu, aku merasa, aku sudah gagal membuatmu bahagia bersamaku," ucap Aldy tersenyum.


Jessica membalas senyum Aldy dengan tangan mengelus lembut kepala suaminya itu. Jessica mencium-cium pipi dan juga bibir Aldy gemas. Entah sejak kapan Jessica bertingkah seperti ini.


"Sayang, kau jangan menggodaku, kau belum puas dengan yang tadi pagi?" ucap Aldy menuduh Jessica.


"Hiks, yang tidak pernah puas itu kau, Sayang! Kenapa kau malah menuduh diriku!" Jessica seketika manyun. Tidak terima dengan tuduhan Aldy yang mengatakan dirinya tidak puas dengan ritual beberapa jam yang lalu.


"Hahahaha, aku tidak menuduh. Faktanya memang seperti itu!" ucap Aldy tetap dengan tujuan menuduh Jessica.


"Baiklah, beruntungnya kau memiliki istri se-sabar diriku. Coba yang lain, kau pasti sudah dicincang dan dijadikan makanan harimau lapar!" jawab Jessica sambil memalingkan wajahnya.


"Kau berpaling saja itu sudah sakit, Sayang! Lebih sakit dari dicincang dan dijadikan makanan harimau lapar!" ucap Aldy dengan nada yang cukup rendah.


Aldy bangkit lalu duduk menghadap Jessica. Pria itu tidak rela melihat wajah Jessica berpaling dari hadapannya.


"Maafkan aku, aku hanya bercanda. Baiklah, aku mengaku, akulah yang tidak pernah puas. Akulah suami yang tidak pernah puas dengan tubuh istriku sendiri. Aku akui itu." Aldy mengalah.


"Hahahaha, kenapa kau semewek ini? Mana tatapan tajam dan aura dinginmu itu? Mana? Aku tidak pernah melihatnya lagi?"


"Aku tidak akan menampakkan jika sedang bersamamu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku menyayangimu, Jess." Aldy memeluk Jessica lalu membanting tubuh mereka ke atas kasur, dan berguling-guling di sana.


"Bisakah kita mengulangi yang tadi pagi?"


"Tidak!"


"Satu ronde saja."


"Nanti malam saja, kau mau membuat tubuhku hancur, dan menjadi bubur?!" Jessica menatap Aldy dengan wajah yang memelas.

__ADS_1


"Aku bercanda. Aku tidak akan menyakitimu, aku tidak rela itu terjadi."


__ADS_2