
Sore Sabtu. Sepulang dari perusahaan, Aldy langsung melajukan mobilnya untuk menjemput Jessica. Tuan Muda itu ingin mengajak Jessica untuk berkencan dan makan malam bersama.
Ken pun melakukan hal yang sama, ia bersiap lalu menjemput Keisha, Dokter Galak pujaan hatinya.
Aldy terus tersenyum, ia bangga karena menang berdebat dengan Jessica tadi siang. Aldy dan Jessica berdebat masalah kencan dan makan malam. Jessica tidak ingin berkencan layaknya pasangan kekasih pada umumnya, ia lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama Kamila dan Ibu, sekaligus melepas rindu pada keduanya.
Sedangkan Aldy, ia ingin berkencan dan makan malam di luar. Ia ingin mengajak Jessica untuk jalan-jalan dan menikmati suasana kota di saat malam harinya.
Tentu saja, Aldy yang menang dalam hal ini. Ia berhasil mengalahkan Jessica dengan ocehannya dan rayuan ngombal yang membuat Jessica geli dan muak saja.
30 Menit perjalanan. Aldy sampai di depan kontrakan Jessica. Kontrakan itu terlihat sepi, seolah-olah tidak ada siapa-siapa di dalamnya.
Aldy menghubungi Jessica. Memberi tahu kalau ia sudah di depan dan menunggu sejak tadi.
"Iya-iya. Aku akan mengunci pintu dulu, kau berhentilah bicara dan berkicau terus!" jawab Jessica yang sudah lelah mendengar ocehan Aldy.
Jessica mengunci pintu kontrakannya, ia berjalan dan membuka gerbang kontrakan lalu menutup dan menguncinya.
"Kau lambat sekali!" ucap Aldy ketika Jessica masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
"Iya-iya. Aku lambat, aku tuli, aku galak, aku tidak manis. Iya, aku tau itu. Kau berhentilah menyebut semua kekuranganku!" Jessica menyadarkan kepalanya. Ia pusing menghadapi sikap Aldy yang berubah drastis setelah menjadi kekasihnya.
"Maaf, kau tidak lambat, kau tidak tuli, kau memang galak dan kau sangat cantik dan manis." Aldy memiringkan tubuhnya menghadap Jessica. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita di sampingnya itu.
"Sudah, jangan membujukku dengan cara murahanmu itu! Sekarang jalan saja, jika tidak! Biar aku yang mengemudi!" Jessica membalas tatapan Aldy tajam. Kepalanya berdenyut, pusing dengan tingkah Aldy.
"Ya-ya." Aldy menyalakan mobil, melajukannya menuju jalan raya.
Suasana hening, Jessica memejamkan matanya. Mencoba untuk menikmati perjalanan ini.
30 menit kemudian. Keduanya sampai di sebuah mall. Aldy menggenggam erat tangan Jessica. Berjalan dengan mengikuti langkah kaki Jessica.
"Kau masih marah?" Aldy menghentikan langkahnya, menatap wajah dingin di sampingnya.
Jessica menggeleng, "Tidak. Aku tidak marah."
"Lalu? Kenapa wajahmu sedingin ini, hum?" tanya Aldy.
"Wajahmu saja sedingin itu, aku mengikuti ekspresimu!" Jessica mengusap wajah Aldy. "Nah, 'kan. Tanganku saja ikut dingin setelah menyentuh wajahmu." Canda Jessica.
Aldy tersenyum tipis. "Baiklah, aku suka, aku tidak perlu cemburu karena wanitaku seperti ini," gumam Aldy.
Keduanya masuk dan berkeliling. Aldy mengajak Jessica untuk melihat beberapa baju, celana dan sepatu. Ia memaksa wanita itu untuk memilih dan membelinya, tentunya Aldy-lah yang akan membayar semuanya.
"Sungguh, aku tidak terlalu membutuhkannya." Jessica meletakkan jaket yang Aldy berikan padanya. Ia menatap mata Aldy dalam.
"Aku tau, kau sangat mencintaiku. Tapi bukan begini juga, aku akan membelinya jika aku butuh, simpan saja, kita bisa memberinya pada orang yang membutuhkan," ucapnya seraya tersenyum manis.
"Bolehkah aku menciummu?" bisik Aldy. Ia menatap Jessica lalu tersenyum jahil pada Serigala Betina itu.
"Oh, jadi kau menyogokku, begitu?! Sayang sekali, aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menciumku! Termasuk kau!" Jessica menjulurkan lidahnya pada Aldy. Ia berjalan meninggalkan pria tampan berwajah dingin itu.
"Hahaha, aku akan mendapatkan! Lihatlah!" Aldy menyusul Jessica yang sudah meninggalkannya. Ia meraih tangan Jessica, menggenggamnya erat.
"Tidak bisa lebih dari ini?" Aldy mengayunkan tangannya dan tangan Jessica.
"Tidak! Hanya orang spesial yang akan mendapat lebih!" Jessica melirik beberapa barang di samping kiri dan kanannya.
"Ah, jadi aku bukan orang spesial?" Aldy berhenti, membuat Jessica ikut berhenti.
"Hmmm, maksudku, kau spesial tapi bukan bagian dari hidupku," jawab Jessica sambil melepaskan tangannya dari genggaman Aldy. Ia memegang kaos putih polos di depannya.
"Baiklah, kita majukan saja pernikahannya, bagaimana?" Aldy ikut memegang kaos itu. Ia menatap mata Jessica.
"Kau suka ini?"
"Tidak, aku hanya teringat pada seseorang karena kaos ini." Kini Jessica yang meraih tangan Aldy. Menyeret Aldy untuk ke tempat lain.
__ADS_1
"Jess, apa kau benar-benar mencintaiku?" Aldy melirik sekilas, ia kembali fokus pada game di depannya.
"Kau meragukanku?" Jessica pun ikut melirik.
"Tidak, aku hanya ingin tau."
"Oh."
Keduanya sudah lelah berkeliling, tangan Aldy menenteng beberapa tas belanjaan. Ia berhasil memaksa Jessica untuk membeli baju, jaket, sepatu dan celana pilihannya.
Aldy mengajak Jessica untuk keluar dari mall. Ia melajukan mobil untuk pulang ke rumah Keluarga Pranata.
"Kau rindu Kamila dan Ibu, 'kan?" tanya Aldy.
"Sangat, apa kita akan makan malam bersama mereka?" Jessica melirik Aldy yang masih fokus mengemudi.
Aldy tersenyum, "Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku tau kau ingin itu."
"Terimakasih, aku bahagia hari ini. Sekali lagi, terimakasih."
______________
Kamila teriak histeris ketika melihat kedatangan Aldy dan Jessica. Gadis itu berlari sambil melompat-lompat ke arah Jessica. Ia memeluk tubuh Jessica erat, tidak ingin melepaskannya.
"Hei, hei! Lepaskan!" Aldy menarik paksa tubuh adik manjannya itu. Ia menatap Kamila dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Aaaaa, aku rindu Kak Jess. Hampir satu bulan aku tidak pernah bertemu dengannya." Kamila kembali mendekati Jessica.
"Kak Jess tidak rindu padaku?"
"Huh, dia sangat merindukanmu! Dia bahkan rela berdebat dengan Kakakmu yang tampan ini, hanya untuk makan malam bersama denganmu!" Aldy menaikkan nadanya. Nadanya terdengar cemburu pada adik kandungnya sendiri.
Ibu menggandeng tangan Jessica. Ia mengajak calon menantunya untuk meninggal Aldy dan Kamila yang masih beradu tatap.
"Hehehe, maaf, ya, Nak. Mereka berdua memang begitu," ucap Ibu dengan tangan yang masih menggandeng tangan Jessica.
Ibu langsung menganjak Jessica menunju ruang makan. Aldy dan Kamila menyusul setelah menyadari Jessica dan Ibu tidak ada di dekat mereka.
"Ayolah, Jess, duduk di sini," ucapnya lembut.
Jessica menarik nafas pelan. "Menurut saja, jika tidak, ini pasti akan lebih lama," gumamnya lalu pindah duduk di samping Aldy.
Aldy melirik Jessica. "Kenapa aku sangat takut kau hilang dari hidupku, aku harap, ini hanya ketakutanku saja. Aku benar-benar takut itu terjadi," bisik Aldy lirih.
Seketika Jessica diam, ia juga merasa takut jika Aldy menghilang dari hidupnya. Aldy meraih tangan Jessica di bawah meja makan. Ia menggemam tangan kanan Jessica erat.
"Tidak mungkin aku makan dengan tangan kiri, lepaskan tanganku," bisik Jessica agar Ibu dan Kamila tidak curiga.
Alih-alih melepas, Aldy malah ingin menyuapi Jessica. Tangan kanan Jessica tetap ia genggam di bawah meja makan.
Ibu dan Kamila menatap keduanya sambil tersenyum tipis.
"Kakak! Lepaskan tangan Kak Jess! Lihatlah! Kak Jess tidak leluasa untuk makan!" ucap Kamila yang melihat tangan Aldy yang masih menggenggam tangan Jessica erat.
"Biarkan saja. Kau kenapa? Kau cemburu karena Kakak tampanmu ini tidak pernah menyuapaimu lagi? Sini! Buka mulutmu!" jawab Aldy dengan tersenyum tipis di bibirnya.
Ia kembali menyodorkan makanan di depan mulut Jessica, sayangnya, Jessica tidak pernah menerima suapan darinya.
"Buka mulutmu!"
"Tidak!"
"Buka!"
"Tidak!" Jessica menatap mata Aldy tajam. Ia memutar tangan Aldy, membuat Aldy melepaskan tangannya.
"Sudah kubilang, kau tidak bisa menindas dan memaksaku seenak jidatmu!" Jessica meraih sendokmya di tangan Aldy, ia menyuap nasi dan lauk di hadapannya.
__ADS_1
"Lihatlah! Suatu hari nanti, kau akan memintaku untuk mencium dan menyuapaimu," bisik Aldy. Jessica kembali menatapnya tajam. Aldy hanya terkekeh, ia melanjutkan makannnya yang tertunda.
Dering Hp Jessica memecahkan keheningan di ruang makan itu. Ibu dan Jessica sudah selesai dengan ritual makan mereka. Berbeda dengan Aldy dan Kamila. Keduanya masih menikmati makanan di hadapan mereka.
"Angkat, Nak. Siapa tau penting," ucap Ibu karena mendengar Hp Jessica berdering untuk kedua kalinya.
Jessica melirik Aldy sekilas, ia bangun dan menjauh untuk menerima panggilan dari Hendra.
"Hallo, ada apa?"
"Tidak ada, aku hanya ingin memberi tahu, besok tidak ada latihan pagi, hanya ada latihan sore untuk sabuk putih sampai sabuk hijau," jawab Hendra di seberang sana.
"Baiklah, aku akan melatih sore besok." Jessica hendak mematikan telepon, namun Hendra sudah memutuskan sambungan terlebih dahulu.
"Hmmm, laki-laki memegang begitu, sangat sulit dimengerti." Jessica memasukkan Hpnya ke dalam saku celana. Ia hendak membantu membereskan meja makan, namun Aldy menyeretnya untuk keluar dari ruang makan.
"Siapa?"
"Yang mana?" Jessica menatap wajah dingin Aldy.
"Yang menelpon!"
"Oh, bukan siapa-siapa," jawab Jessica datar.
"Siapa namanya?"
"Mahendra? Apa dia? Em, kenapa diam!" Aldy menetap lekat-lekat wajah Jessica. Ia bergeser mendekati Jessica.
"Iya." Hanya itu yang keluar dari mulut Jessica.
"Oh, ada apa? Jadi benar dia yang menelpon?" Aldy masih menatap Jessica.
"Kau bisa dengar sendiri!" Jessica menyerahkan Hpnya. Ia memutar rekaman yang ditersimpan secara otomatis ketika menelepon dengan seseorang.
"Kau terlalu cemburu, jujur, aku tidak suka itu," ucap Jessica jujur.
"Maaf, aku benar-benar takut kehilanganmu."
"Kau tidak percaya padaku? Harus dengan cara apa agar kau percaya padaku?" Jessica menunduk. Ia merasa bahagia karena Aldy mencintainya. Namun ia juga risih dengan sifat Aldy yang sangat pencemburu.
"Ti-tidak, aku percaya padamu, Jessi. Tapi entah kenapa, aku sangat tidak suka jika ada pria lain yang tersenyum ataupun bicara padaku, kecuali aku." Aldy meraih tangan Jessica. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
"Setidaknya kurangilah sifat cemburumu itu!" Jessica menatap ke arah lain. Ia menahan tawanya karena melirik ekspresi wajah Aldy.
"Hmmm, kau tertawa, ya?"
Aldy menggelitik Jessica pelan. "Iya-iya. Ampun, sudah, sudah! Aldy stop!"
"Tidak!"
"Hahaha, stop!"
"Sudah!"
"Geli!"
"Tidak, rasakan ini. Berani-beraninya kau menertawakanku!" Aldy terus menggelitik kaki dan perut Jessica, sampai-sampai Jessica berguling-guling di atas rumput taman karena merasa begitu geli.
Ibu dan Kamila menghembuskan nafas pelan. Keduanya mengintip dari jendela kecil di halaman rumah utama. Mereka terus memperhatikan Aldy dan Jessica yang tertawa sambil mengacak-ngacak rambut satu sama lain.
"Kau menginap, ya, ya, ya?" Aldy mengulurkan tangannya.
"Pulang saja." Jessica menyambut uluran tangan Aldy. Ia membersihkan jaketnya yang kotor akibat berguling-guling tadi.
"Menginap!"
"Antar aku pulang!" Jessica menatap Aldy tajam. Matanya seolah-olah ingin membelah tubuh Aldy.
__ADS_1
"Tidak!" Aldy tetap memaksa agar Jessica menginap di rumah Keluarga Pranata.
" Baiklah. Aku akan menginap." Keduanya masuk ke dalam rumah utama, Aldy naik untuk masuk ke kamarnya, sedangkan Jessica diantar menuju kamar tamu di lantai bawah.