Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Season 2 Audi Jessica (2)


__ADS_3

Selama perjalan pulang. Jessica terus memalingkan wajahnya, melipat kedua tangannya di dada.


Aldy melirik Jessica sekilas. Ia sangat gemas dengan ekspresi wajah Jessica saat ini.


Ternyata gini, ya. Kalau si galak sedang ngambek, hiks, wajahnya seperti anak kecil saja! Aku ingin menggigit pipinya sekarang juga. (Aldy)


"Apa! Kenapa melirikku dan senyum-senyum seperti itu?!" Jessica masih melipat kedua tangannya di dada dan matanya masih menatap ke luar jendela mobil.


"Hahahaha, ayolah, ngambeknya jangan lama-lama." Aldy menarik tubuh Jessica, ingin memeluk wanita itu.


Namun, Jessica mengunci tubuhnya. Ia bahkan tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya.


Apa? Sekuat itukah tenaganya! Dia tidak bergerak sama sekali jika aku menariknya. (Aldy)


"Maaf, aku janji, aku tidak akan mengulangi lagi. Audy, maaf," ucap Aldy dengan nada yang dibuat menyesal.


Pandai sekali kau merayu, ya! (Jessica)


"Tidak! Aku tidak akan memaafkanmu!" Jessica melirik sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Ayolah, kumohon. Apa harus aku memohon sambil menangis padamu?" ucap Aldy.


Jessica ingin tertawa. Namun, dengan sekuat tenaga ia mencoba menyembunyikan tawanya.


"Harus! Menangislah!" Jessica kembali melirik Aldy. Pria itu bahkan sudah mengatur mimik wajahnya dengan sempurna.


Hahaha, apa dia akan menangis? (Jessica)


"Audy, maaf. Hiks, aku tidak bisa menangis, aktingku gagal kali ini." Aldy menarik tubuh Jessica sekuat tenaganya, memeluk Jessica erat dengan sangat gemas.


"Hmmm, maafkan aku, tidak! Ayo, maafkan aku!" Aldy semakin mengeratkan pelukannya. Tangannya juga sibuk menarik-narik rambut Jessica.


"Curang! Lepaskan aku! Kau mau membunuhku, hah!" Jessica mencoba bernafas. Pelukan Aldy sangat erat, membuat Jessica kewalahan untuk menghirup udara.


"Tidak. Maafkan aku, aku tidak bermaksud membunuhmu," ucap Aldy sambil melonggarkan pelukannya.


"Bagaimana, kau masih marah padaku?" lanjutnya. Kini ia melepaskan Jessica, lalu membenarkan ikat rambut wanita itu.


Dia yang mengacak, dia pula yang repot membenarkannya sekarang! Dasar, pria tidak ada kerjaan! (Jessica)

__ADS_1


Sabar, Ken. Mereka berdua tidak menganggap kau ada di sekitar mereka. Dunia ini hanya memilik mereka. Kau dan yang lainnya hanya menumpang saja! (Ken)


"Audy!" Aldy menggoyangkan tubuh Jessica, membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Iya, iya! Aku memafkanmu! Puas!"


Mendengar itu, Aldy kembali memeluk Jessica gemas. Ia menusuk-nusuk pipi Jessica sambil tersenyum manis.


Segila inikah orang yang jatuh cinta? (Jessica)


Acara peluk-pelukkan berakhir saat mobil sport merah Aldy terparkir di halaman rumah utama. Aldy keluar terlebih dahulu, berniat membukakan pintu untuk Jessica. Sayangnya, Jessica sudah keluar saat dirinya baru saja memutari mobil itu.


Ketika aku ingin romantis, dia sendiri yang merusak momennya! (Jessica)


"Masuk dan istirahatlah! Aku dan Ken akan kembali ke perusahaan." Aldy masuk ke dalam mobilnya. Ia membuka kaca mobil lalu menatap punggung Jessica yang berjalan mendekati pintu utama.


Huf...Awas kau nantinya, ya. 7 hari lagi kau akan menjadi milikku seutuhnya. Hahahaha, aku akan menggigit pipi dan bibirmu itu setiap harinya! (Aldy)


Aldy menyadarkan kepalanya sambil senyum-senyum tak jelas. Ia bahkan mulai tertawa kecil saat mengingat momen makan siang yang sangat bersejarah dalam hidupnya itu.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" Ken menoleh ke belakang. Memastikan Aldy baik-baik saja.


"Semoga Anda selalu bahagia, Tuan."


"Aku harap begitu."


☆☆☆☆☆☆☆☆☆


Malam ini, suasana meja makan terasa sangat berbeda bagi Jessica. Ia melirik ke arah kursi yang biasa Aldy duduki, kosong. Kursi itu tidak berpenghuni, karena Aldy dan Ken belum pulang dari perusahaan sampai saat ini.


Jessica pun mulai menguap makanannya. Walau ia tidak berselera sama sekali. Jessica memasukan makanan dengan pelan tapi pasti, sampai semua makanan yang ada di piringnya habis. Setelah itu, Jessica pamit untuk meminum obatnya di kamar. Ia pun tidak keluar lagi setelah itu.


Sementara di ruang keluarga. Kamila sedang mengerjakan tugasnya. Ditemani Ibu yang sedang menonton acara di sebuah channel YouTube. Sedangkan Aleta dan keluarganya sudah pamit pulang tadi sore. Mereka akan kembali lagi saat hari pernikahan Aldy dan Jessica dilaksanakan minggu depan, tepatnya tanggal 08 Maret mendatang.


Kamila menutup laptopnya, setelah semua tugasnya selesai. Ia beralih menyalakan Hpnya untuk menanyakan kabar Jack hari ini.


Sayangnya, Jack sedang tidak aktif di aplikasi berwarna hijau. Kamila ingin menelepon. Namun, ia malu jika harus menelepon di dekat sang Ibu. Akhirnya, Kamila memutuskan untuk menghubungi Jack saat ia sedang di kamarnya saja. Dan sekarang, Kamila memilih menemani Ibu untuk menonton channel favorite-nya


"Ibu, Ila?" sapa Aldy yang baru saja pulang dan langsung masuk ke dalam ruang keluarga setelah melihat ada Ibu dan Kamila di sana.

__ADS_1


"Jessica mana?" lanjutnya sambil menatap ke arah pintu kamar Jessica yang berseberangan dengan ruang keluarga.


"Tadi dia pamit untuk minum obat, dan mungkin sudah tidur sekarang," jawab Ibu.


"Bagaimana perusahaan? Semuanya sudah stabil, 'kan?" lanjut Ibu bertanya. Ia mematikan Hpnya lalu meletakkan di atas meja.


"Tenang saja, Bu. Perusahaan baik-baik saja, ini bukan masalah besar. Lagipula, Ken sudah menyelesaikannya sampai ke akar-akarnya." Aldy bersandar pada sofa. Ia melepas Jasnya, lalu melempar jas kotor itu pada pangkuan Kamila.


"Kakak!" teriak Kamila yang terkejut karena jas Aldy menutupi layar Hpnya.


"Taruh di belakang!" Aldy tersenyum miring. Sudah lama ia tidak memerintahkan Kamila seenak maunya. Ia pun berniat untuk melakukan hal itu, sebelum nanti Jessica lah yang akan memenuhi semua kebutuhannya, sebagai seorang istri.


Kamila berdiri. Ia meraih tas Aldy dan juga menenteng jas pria itu. Kamila berjalan menuju ruang laundry, meletakkan jas sang kakak di dalam keranjang baju khusus untuknya.


Setelah itu, Kamila naik ke atas untuk menaruh tas Aldy. Sebelumnya, ia sudah meminta kunci kamar pada pria itu. Selama hidupnya, Kamila jarang masuk ke kamar ini. Kecuali saat Aldy mengizinkan untuk numpang mandi atau saat Aldy menyuruhnya mengambil sesuatu di dalam sini.


"Hallo kak Jess." Kamila meletakkan tas Aldy di tempat biasa. Ia berjalan mendekati sebuah lukisan indah yang di pajang tepat di dekat meja belajar sang Kakak.


"Kak Jess cantik sekali di sini," gumam Kamila saat matanya fokus mengamati lukisan itu. Lukisan itu sudah lama terpanjang di kamar Aldy, tepatnya satu bulan sebelum Jessica mengundurkan dirinya sebagai Bodyguard Kamila.


Setelah puas mengamati lukisan yang memanjakan mata itu. Kamila pun keluar dan mengunci kembali kamar Aldy. Ia menuruni tangga lalu berjalan menuju ruang keluarga.


Sesampainya di sana. Kamila tidak melihat Aldy dan Ibu. Kamila pun menatap ke arah pintu kamar Jessica yang terbuka. Ia berlari ke sana, pasti Ibu dan Kakaknya ada di dalam sana, pikir Kamila.


"Kak Audy?!" Kamila mendekat ke arah Ibu dan Aldy yang sedang duduk menenangkan Jessica yang baru saja bermimpi buruk. Jessica menangis di dalam pelukan Aldy. Untuk pertama kalinya ia terlihat se-cenggeng ini.


"Apa yang terjadi, Bu?" tanya Kamila sambil memperhatikan sekeliling kamar Jessica.


Baik-baik saja, tidak hal-hal aneh yang mencurigakan!


Ibu tidak menjawab. Ia meraih segelas air putih dia atas nampan yang di bawa oleh seorang pelayan. Ibu menyodorkan air minum itu pada Aldy, bermaksud agar Aldy yang memberi Jessica air itu.


Aldy pun melepas Jessica dari pelukannya. Menyeka air mata wanita itu, lalu menyodorkan segelas air padanya. Jessica menerima air itu dengan senyum tipis di bibir. Ia mengembalikan gelas pada Aldy setelah meminum isinya sampai tandas.


"Kau tidurlah. Jangan takut, aku ada di sini." Aldy mengelus kepala Jessica. Membantu wanita itu untuk kembali tidur ke atas kasurnya.


Aaaa, Kak Aldy sangat menyayangi Kak Jessica. Bahkan sayangnya pada Kak Jessica lebih besar daripada rasa sayangnya padaku. (Kamila)


Setelah Jessica kembali tidur. Barulah Aldy dan Ibu keluar dari kamar itu. Keduanya saling menatap. Sebenarnya apa yang terjadi pada Jessica? Dan dia mimpi apa?! Pertanyaan itulah yang menghantui pikiran Aldy dan Ibu sekarang, membuat keduanya kesulitan untuk memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2