Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
1. Sial!


__ADS_3

Aldy merebahkan tubuh Jessica dengan hati-hati di atas kasur yang ditaburi begitu banyak kelopak mawar, membentuk cinta. Ia menatap wajah lelah Jessica, merapikan anak-anak rambut wanita itu.


"Kau pasti sangat lelah, ya? Sampai kau tidur sepulas ini." Aldy membuka jas yang ia kenakan lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah 15 menit. Aldy keluar dengan wajah yang sudah segar. Ia pun masuk ke ruang ganti dan keluar setelah penampilannya sempurna.


Aldy menatap jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul 18.15. Aldy pun beralih menatap Jessica. Ia ingin membangunkan wanita itu, namun ia mengurangkan niatnya. Karena kasian pada Jessica.


Aldy merebahkan dirinya di samping Jessica. Jantungnya mulai berdetak lebih kencang ketika melihat wajah tenang di depannya ini. Karena tidak ingin menganggu tidur Jessica. Aldy memutuskan untuk turun dan mengambil makan malam untuk sang istri tercinta.


"Tuan Muda, ada yang Anda butuhkan?" tanya Kepala pelayan tersenyum.


"Tolong siapkan makan malam untuk Jessica. Satu lagi, buatkan dia susu coklat hangat favorit-nya." Aldy melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Rasanya ia tidak sanggup jika harus jauh-jauh dari wanitanya.


"Jess!" teriak Aldy memanggil nama Jessica.


"Jessi, kau di mana?" Aldy mulai panik. Ia melangkah dengan cepat menuju kamar mandi.


"Jess, apa kau di dalam?" Aldy memegang gagang pintu. Terkunci, berarti Jessica sudah bangun dan berada di kamar mandi sekarang.


15 menit kemudian. Pintu kamar mandi terbuka. Jessica mengeluarkan kepalanya, seolah-olah sedang memastikan keadaan.


"Hei, kenapa mengintip seperti itu?" Aldy menatap Jessica heran. Ia memegang pintu, memaksa agar pintu kamar mandi itu terbuka sempurna.


"Jangan dorong! Awas, aku mau keluar!" ucap Jessica.


"Keluarlah, kenapa harus dibuat susah," jawab Aldy lalu tersenyum kecut.


"Ya, maksudku, kau minggir dulu, Sayang. Aku mau ke ruang ganti." Jessica menatap Aldy. Tatapannya sedikit tajam, namun redup di mata Aldy.


"Keluarlah! Kau tinggal keluar, terus berjalan menuju ruang ganti, susahnya di mana? Dan apa hubungannya dengan aku yang berdiri di sini?" proses Aldy.


Aldy memasang wajah polos yang begitu menggemaskan. Entah, sejak kapan pria dingin itu bertingkah seperti ini.


"Ayolah, jangan pancing aku untuk berteriak dan marah-marah padamu. Perutku sedang tidak enak, jadi kumohon, kembalilah ke kamar dan biarkan aku memakai bajuku," pinta Jessica.


Aldy pun mengalah. Ia keluar lalu berjalan menuju kasur dengan langkah yang begitu malas.


Setelah mengganti baju dan juga membenarkan rambutnya, barulah Jessica keluar dari ruang ganti. Wanita itu terlihat sedang menahan sesuatu. Ia memegangi pinggang dan perutnya yang terasa begitu sakit.


"Kau kenapa?" tanya Aldy khawatir.


Aldy bangun lalu berlari ke arah Jessica. Menatap mata Jessica dan mengulangi pertanyaannya.


"Kau kenapa, Sayang. Apa kau sakit?"


"Tidak apa, ini sudah biasa." Jessica tersenyum. Mengisyaratkan dirinya baik-baik saja.


"Jangan berbohong seperti itu. Aku tau kau sedang mengelabuiku. Katakan, ada apa?!"


Aldy terlihat begitu khawatir. Ia meraih tubuh Jessica, memeluk wanita itu erat.


"Aku tidak apa-apa. Hanya saja...."


"Hanya saja apa?!" potong Aldy dengan nada sedikit membentak.

__ADS_1


Aldy melanggarkan pelukannya. Ia Menatap Jessica tajam.


"Katakan, jangan suka berbelit-belit seperti ini!" lanjutnya. Masih dengan mata yang menatap ke arah netra Jessica.


"Aku sedang datang bulan. Oleh sebab itu, pinggang dan perutku sakit."


Jessica menunduk. Ia tak pernah mengatakan hal konyol seperti ini, kecuali pada Aldy.


"Oh, Tuhan....kenapa harus sekarang?!" teriak Aldy lalu mengacak rambutnya frustasi.


"Kau kenapa?" tanya Jessica bingung.


"Tak apa, sudahlah, lupakan saja!" Aldy mengangkat tubuh Jessica secara paksa. Membaringkan wanita itu di atas kasur lalu ikut berbaring di dekatnya.


Aldy memeluk Jessica erat dengan tangan yang menempel pada perut Jessica.


"Singkirkan, ini geli." Jessica mengangkat tangan Aldy memindahkannya ke bagian pinggang.


Aldy tidak terima. Ia kembali memindahkan tangannya ke arah perut Jessica.


Ish, susah sekali untuk menang darinya! (Jessica)


Tok....tok....


Ketukan pintu menyadarkan keduanya. Aldy melepas pelukannya pada Jessica lalu berjalan ke arah pintu.


"Maaf, Tuan. Ini makan malamnya," ucap Kepala pelayan lalu memberikan nampan yang ia pegang pada Aldy.


"Terimakasih." Aldy tersenyum tipis. Ia menutup pintu lalu meletakkan nampan itu pada meja berukuran kecil di pojok kamarnya.


Aldy kembal mendekati Jessica. Mengulurkan tangannya, bermaksud agar Jessica bangun dan makan malam bersama dirinya.


"Ayo, sedikit saja. Sayangilah dirimu sendiri," potong Aldy lalu menarik tangan Jessica, menggandeng wanita itu menuju meja di pojok ruangan.


"Ini susu favorite-mu. Minumlah." Aldy menyodorkan segelas susu coklat hangat pada Jessica, lalu tersenyum dan menghujani bibir Jessica dengan kecupan ringan.


Ganas sekali!. (Jessica)


Jessica menutup bibirnya dengan tangan kanannya. Ia menatap Aldy yang sudah siap mendaratkan kecupan lagi padanya.


"Kau lapar atau bagaimana? Jika lapar, makanlah nasi ini. Bukannya malah memakanku!" protes Jessica dengan pipi yang sudah bersemu merah.


"Itu hanya pemanasan saja," jawab Aldy santai. Ia meraih piring lalu mencicipi menu favorite-nya.


"Kau mau coba, Sayang?" Aldy melirik Jessica, wanita itu ternyata memperhatikannya sendari tadi.


"Tidak, kau saja."


"Ayolah, satu suap, ya?" Aldy menyodorkan sesendok nasi pada Jessica. Jessica menggeleng dan enggan membuka mulutnya.


"Jessi, haruskah aku yang menyuapi dengan...."


Segera Jessica melahap nasi yang Aldy sodorkan. Matanya menatap mata Aldy malas. Sungguh, Jessica tidak akan menang jika berlawanan dengan Aldy.


☆☆☆☆☆☆

__ADS_1


Setelah makan malam yang cukup menyebalkan. Jessica pun masuk ke dalam kamar mandi untuk menyikat giginya. Dan sialnya, ia lupa mengunci pintu. Membuat Aldy, suami gilanya itu masuk dan langsung memeluknya.


Ish, sudah seperti cicak yang menempel di dinding saja! (Jessica)


Aldy meraih sikat giginya, lalu merebut pasta gigi dari tangan Jessica. Tangannya kirinya kini merangkul pinggang Jessica erat, sedangkan tangan kanannya mulai menggosok giginya.


Jessica yang sudah selesai menatap ke arah Aldy. Pria itu bahkan membalas tatapannya dengan senyum manis di bibirnya.


Aldy ingin bicara. Namun, ia sadar, kalau dirinya belum selesai dengan urusan sikat giginya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Aldy setelah selesai berkumur-kumur.


"Tidak ada, aku hanya menatap saja. Memang tidak boleh, ya?" Jessica langsung mengalihkan pandangannya.


"Tidak, bukan begitu, aku hanya takut kau pingsan karena terpesona oleh ketampanan suamimu ini," ucap Aldy lalu menarik Jessica ke dalam pelukannya.


"Ini kamar mandi, lepaskan aku!"


Alih-alih melepaskan Jessica, Aldy malah mempererat pelukannya.


"Baiklah, sekarang jalan! Ayo kita keluar!" ucap Jessica yang masih dalam pelukan Aldy.


"Hei, turunkan aku! Aku masih bisa berjalan." Jessica memberontak karena Aldy tiba-tiba menggendongnya keluar dari kamar mandi.


Aldy tidak menjawab apapun. Ia berjalan dengan hati-hati lalu membaringkan tubuh Jessica di atas kasur.


"Tidurlah, besok kita akan pergi ke suatu tempat." Aldy ikut berbaring lalu memeluk tubuh Jessica gemas. Andai saja Jessica tidak datang bulan, ia pasti sudah membabat habis tubuh wanita itu.


Hmmm, pintar sekali kau, ya. Menyuruhku tidur, tapi tanganmu sendiri yang mengangguku. (Jessica)


Jessica menggenggam tangan Aldy erat. "Aku tidak bisa tidur jika tanganmu ini terus berkeliaran ke mana-mana."


"Baiklah, tapi bayar dulu dengan satu ciuman." Aldy menunjuk bibirnya.


Sial, dia sangat pintar dalam hal strategi! (Jessica)


"Ayo!"


"Iya, iya, sabar!"


Jessica mendekat lalu mencium bibir Aldy sekilas. Eh, tidak, bukan sekilas, karena Aldy menarik tengkuk Jessica, dan mulai menyerang wanita itu.


"Kau tidak pandai!" ucap Aldy saat Jessica sudah kehabisan nafasnya.


Plakkk....


Satu tamparan ringan mendarat di pipi Aldy. Jessica menatap Aldy tajam. Ia meraih bantal guling lalu meletakkan bantal itu di tengah-tengah mereka.


"Kau pikir aku ahli dalam hal ini! Wajarlah aku tidak ahli, karena aku baru melakukan hanya denganmu!" ucap Jessica dengan wajah yang memerah menahan marah.


Sial sekali! Sudah jatuh tertimpa tangga lagi! (Aldy)


Jessica membelakangi Aldy. Ia memejamkan makanya, menghiraukan panggilan dari suami gilanya itu.


Bersambung....

__ADS_1


☆☆☆☆☆


Maaf, Ya. Ini aja author minta bantuan dan saran sama yang udah nikah😣 Dan mungkin untuk MPnya akan author skip>< kasianlah pada author muda ini:'(😅


__ADS_2