
Keisha membuka pintu ruangan seorang pasien. Ia tersenyum pada seorang perawat yang menemani pasien kecilnya itu.
"Hallo, selamat pagi jagoan," sapa Keisha sambil mendekat ke arah pasien kecilnya.
"Selamat pagi juga Dokter Cantik," jawab si pasien kecil yang tampan itu.
"Kau sudah makan?" tanya Keisha sambil menatap mangkok bubur yang masih utuh di atas meja.
"Dia tidak mau makan, Dok," jawab si perawat. Keisha mengerutkan dahinya, menatap ke arah pasien kecilnya.
"Kau kenapa, humm? Kenapa tidak mau makan?" Keisha meraih mangkok bubur itu, ia menarik kursi lalu duduk di samping ranjang si kecil tampan.
"Aku mau Mommy dan Daddy," jawabnya dengan nada yang begitu menyedihkan.
Keisha menatap si perawat, "Apa keluarganya tidak pernah datang lagi?"
"Belum, Dok. Tadi malam hanya ada Tantenya saja yang menemaninya," jawab si perawat.
"Hmmm, baiklah. Bagaimana jika Ibu Dokter yang menyuapimu?" Keisha menyodorkan satu sendok bubur ke arah mulut si kecil tampan.
Ia menggeleng. "Tidak, aku mau Mommy dan Daddy," teriaknya.
"Astaga, untuk kamu tampan dan manis. Jika tidak, aku pasti akan memasang wajah mosterku untuk menakutimu!," gumam Keisha sambil menarik nafas dalam, mencoba untuk bersabar.
"Ayo pangeran kecil, buka mulutmu." Keisha kembali menyodorkan sendoknya. Si kecil tampan pun luluh, ia membuka mulutnya lebar-lebar.
"Hap, anak pintar." Keisha mengelus kepalanya lembut. "Lanjut makannya sama suster saja, ya? Ibu Dokter mau cek yang lain." Keisha beranjak keluar dari ruangan itu.
Keisha membaca beberapa data pasiennya, tidak sengaja ia menabrak seorang wanita yang terlihat terburu-buru.
"Maaf, Mbak. Saya tidak sengaja," ucap Keisha sambil merapikan lembaran-lembaran yang berserakan.
"Kalau jalan pakai mata, dong!" Wanita itu pergi begitu saja, meninggalkan Keisha yang masih berjongkok memunguti lembaran-lembaran data pasiennya.
"Dasar! Awas saja nanti kalau ketemu di luar rumah sakit!" Keisha bangun lalu berlari menuju kamar paling ujung. Ia membuka pintu, menyapa ramah pasiennya.
"Bagaimana, tidurmu nyenyak tadi malam?" tanya Keisha. Gadis kecil itu mengangguk seraya tersenyum manis pada Dokter Cantik di depannya.
"Ibumu sudah datang?" tanyanya sambil mengecek infus si gadis kecil.
Gadis kecil itu diam, ia menatap Keisha dengan mata yang berkaca-kaca. "Tidak apa, kau jangan takut, ya! Suster akan menjagamu dengan baik," ucapnya seraya mengelus kepala si manis itu.
Keisha keluar setelah mengecek semuanya. Ia menatap ke arah kamar si pangeran kecil yang tampan. Wanita yang ia tabrak itu pun keluar dari kamar yang sama.
"Itu Mommy-nya? Astaga, anaknya manis dan tampan. Tapi, Ibunya? Ah, sudahlah."
☆☆☆☆☆☆☆☆
Siangnya, Keisha yang baru saja keluar dari ruang rawat sebelah, tidak sengaja mendengar tangisan anak kecil dari kamar si pangeran tampan. Ia pun berjalan mendekati kamar itu, membuka pintu dengan pelan.
"Mommy, ampun, Momm." Pangeran kecil itu terus tenggelam dalam isak tangisnya.
"Hei, apa yang kau lakukannya padanya?!" Keisha mendekat, ia memeluk si pangeran kecil.
"Terserah aku! Dia anakku! Apa urusannya denganmu!" Wanita itu menatap Keisha sinis dengan kedua tangan yang dilipat di dadanya.
"Harap jaga sikap Anda! Ini rumah sakit, bukan rumah Anda!" Keisha menatap si pangeran kecil. Menyeka air matanya, "Apa kau baik-baik saja? Apa yang dia lakukan padamu?"
"Mommy mencubit dan memukulku, Dok." Pangeran kecil itu menatap Keisha sendu. Butiran bening kembali mengalir di pipinya.
"Mommy mau kemana?" tanyanya pada wanita yang berwajah kecut itu. Wanita itu menoleh lalu melempar selembar foto pada si pangeran kecil.
"Menemui Daddy-mu. Bukankah kau mau Daddy?" jawabnya lalu beranjak keluar dari ruang rawat si pangeran.
Keisha memungut foto yang tergeletak di lantai. Pikirannya sedikit hancur ketika melihat siapa orang di foto itu. Keisha menatap si pangeran kecil, mengerutkan dahinya lalu menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Ini Daddy-mu?" tanya Keisha sambil menyodorkan foto itu pada si pangeran.
"Bukan, dia bukan Daddy-ku," jawabnya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Kau yakin?" Keisha menatapnya. Mengelus kepalanya lembut.
"Iya, dia bukan Daddy. Tadi Mommy menyuruhku untuk mengakui dia sebagai Daddy, tapi aku menolaknya. Oleh sebab itu, Mommy memukul dan mencubitku," jawabnya polos.
Keisha memalingkan wajah, "Cih, taktik yang sangat hebat. Aku sanjung keberanianmu. Sayangnya, aku juga tidak sebodoh yang kau kira."
"Ibu Dokter mengenal orang ini?" Si pangeran kecil menatap Keisha.
"Tidak, Ibu Dokter tidak mengenalnya," jawab Keisha berbohong.
"Aku kira Ibu Dokter mengenalnya." Pangeran kecil itu meremas foto itu, melemparnya ke sudut ruangan.
"Baiklah, Ibu Dokter akan meminta suster untuk menemanimu, kau istirahatlah!" Keisha tersenyum lalu keluar dari ruang rawat VIP yang ditempati si pangeran kecil yang tampan itu.
"Cih, kau kira aku akan tertipu." Keisha memeriksa data si pangeran kecil. "Jelas saja di sini golongan darahnya AB, sedangkan Ibunya memiliki golongan darah A. Otomatis golongan darah ayahnya B, tidak mungkin O!" gumam Keisha kesal.
Ia menyalakan Hpnya lalu menghubungi seseorang. "Hallo, golongan darahmu O, 'kan?" tanya Keisha langsung pada intinya.
"Iya, golongan darahku O. Memang kenapa?" Ken mengerutkan dahinya. Tidak mengerti maksud pertanyaan Keisha, yang tiba-tiba menanyakan golongan darahnya.
"Tidak ada, nanti malam aku ingin bertemu denganmu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Keisha memutuskan sambungan sebelum Ken menjawab ucapannya.
"Dasar Ular Sawah! Berani-beraninya kau ingin menipuku, belum tau? Aku ingin memiliki racun yang begitu mematikan!" Keisha memasukkan Hpnya. Ia berjalan menuju toilet hendak membasuh dan menenangkan semua syarafnya.
Sesuai permintaan Keisha. Kini Ken dan mobilnya sudah menunggu wanita itu di depan apartemennya.
Keisha berjalan ke arah Ken, ia menenteng tas kecil berwarna hitam kesayangannya.
"Sebenarnya mau kemana? Dan ada apa?" tanya Ken sambil membukakan pintu untuk Keisha.
Keisha diam, enggan untuk menjawab pertanyaan Ken. Mobil melaju tak tentu arah, Ken melirik Keisha sekilas. Ia memutar otaknya mencari cara dan kata-kata terbaik yang akan dilontarkan pada Dokter Galak di samping itu.
Mobil itu menepi. Ken masih bingung, mengapa Keisha menyuruhnya untuk berhenti di pinggir jalan seperti ini.
"Kau kenapa, humm?" Ken menoleh ke arah Keisha. Ia memperhatikan raut kesal yang sangat jelas tergambar di wajah cantik Keisha.
"Kita ke kafe, aku lapar." Keisha memejamkan matanya. Pusing, hal itu yang ia rasakan sekarang.
"Oke-oke."
10 menit perjalanan. Keduanya sudah sampai di sebuah kafe. Ken memilih meja pojok kiri sebagai tempat duduk mereka, sedangkan Keisha hanya diam dan mengikuti langkah Ken.
Ken bahkan memesankan makanan favorite Keisha. Dokter galak itu hanya diam dengan kedua mata yang menatap lurus ke arah Ken.
"Kei, kau kenapa?" tanya Ken lembut sambil mengusap punggung tangan Keisha.
Keisha masih enggan untuk bicara. Ken terus bertanya, namun Keisha tetap diam. Akhirnya Ken menyerah setelah pesanan mereka sampai. Keduanya makan tanpa ada yang bicara. Keisha masih sama, diam dengan mata yang menatap ke arah Ken.
Ken mengajak Keisha untuk pulang setelah makanan dan minuman mereka habis. Keisha tidak menolak, ia mengikuti langkah Ken dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan.
"Ya, Tuhan. Mengapa wanita sangat sulit dipahami seperti ini?" Ken melirik Keisha yang duduk di sampingnya dengan ekspresi wajah yang masih sama, tidak berubah sedikit pun.
Mobil Ken melaju meninggalkan parkiran kafe. Pikiran Ken mulai kacau, ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Keisha.
"Berhenti!" Keisha memegang pundak Ken, membuat pria itu berhenti tepat di pinggir taman kota yang mereka lewati.
Keisha membuka pintu mobil, ia keluar lalu disusul oleh langkah besar Ken.
"Ken." Keisha duduk di sebuah kursi taman bercat putih. Ia menoleh ke arah Ken yang duduk di sampingnya dengan raut wajah yang begitu cemas.
"Seberapa besar kau percaya padaku?" tanya Keisha. Matanya beralih menatap langit malam yang begitu menenangkan.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Ken masih belum paham dengan pertanyaan Keisha. Ia mengikuti tatapan Keisha, menatap langit malam yang dihiasi bintang-bintang.
"Jika ada seorang laki-laki datang padamu, lalu dia mengatakan bahwa dia pacarku dan aku bahkan sudah hamil anaknya, apa kau akan percaya padanya?" Keisha menoleh ke arah Ken. Menatap mata Ken dalam.
"Tentu saja, tidak. Aku akan menyelidikinya dan bertanya langsung padamu." Ken meraih kedua tangan Keisha. "Aku percaya padaku, wanitaku tidak seperti itu."
"Bagaimana jika itu dibalik. Ada seorang wanita yang datang padamu, lalu mengaku sebagai istriku dan Ibu dari anak-anakku, apa kau akan percaya padanya, tanpa kau bertanya terlebih dulu padaku?" tanya Ken.
"Itu benar-benar terjadi, Ken. Dan aku masih percaya padamu." Keisha menyodorkan foto yang ia pungut di sudut ruangan tadi.
"Darimana kau mendapatkannya?" Ken meremas foto itu, melemparnya ke tong sampah.
"Dia benar-benar datang padaku. Dia mengaku, kau adalah ayah dari anaknya." Keisha tersenyum tipis.
"Lalu? Kau percaya begitu saja padanya?" Ken mengepal tangan kirinya. Geram dengan tingkah laku wanita itu.
"Tidak, bukankan aku sudah bilang? Aku tidak mudah percaya pada perkataan seseorang. Apa lagi orang itu, orang yang tidak jelas asal-usulnya." Keisha tertawa licik. "Dia ingin menipuku, Ken. Dia mengaku anak dengan golongan darah AB itu adalah anakmu. Mana mungkin! Kau memiliki golongan darah O, sedangkan Ular Sawah itu memiliki golongan darah A! Dia pikir aku sebodoh itu?!"
"Ular Sawah?"
"Iya, dia hanya Ular Sawah tanpa bisa. Berani-beraninya ingin mengelabui Ular Kobra di depannya!" Keisha tertawa kecil dengan ujung bibir kiri yang ditarik.
"Baiklah-baiklah. Kau memang ular yang sangat mematikan." Ken menarik kepala Keisha, membuat kepala itu bersandar di pundaknya.
"Begini, sebentar saja." Keisha menatap wajah tampan Ken. Perlahan, kedinginan di wajah itu memudar sejak datangnya Keisha dalam hidup Ken.
"Ken, aku ingin bertemu Jessica. Bagaimana jika kita ke rumah sakit sekarang?" Keisha melirik jam tangannya. "Masih setengah sembilan."
"Apa Jessica masih bangun? Kasian dia, dia butuh istirahat," jawab Ken.
"Hmmm, baiklah. Besok saja, tapi janji, besok kau akan menemaniku menjenguknya!" Keisha mengangkat kepalanya karena malu pada orang yang berlalu lalang di depan mereka.
"Iya, aku janji, sayang." Ken langsung menutup mulutnya, sadar akan kesalahan yang baru saja ia buat.
"Tidak apa, jika kau nyaman, katakanlah!" Keisha menarik tangan Ken, mengajak pria itu untuk masuk ke dalam mobil lalu menghantar untuk pulang.
Sementara di rumah sakit tempat Jessica di rawat. Aldy, Kamila, Ibu dan Jack saling menatap. Mereka bingung harus mengatakan apa pada Jessica.
"Bagaimana? Apa kalian tau dimana keluargaku?" tanya Jessica untuk yang kedua kalinya.
"Begini, Nak." Ibu menarik nafas dalam, mendekati Jessica. "Audi, kami adalah keluargamu, lambat laun kau akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padamu."
"Kata suster, aku mengalami kecelakaan, apa itu benar?" Jessica menatap Jack dan Aldy secara bergantian. Ia beralih menatap Kamila yang masih berdiri di samping ranjangnya.
Semua menarik nafas panjang, membuangnya secara bersamaan.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi nanti, ya. Sekarang kau tidur, pejamkan matamu," jawab Aldy seraya mengelus kepala Jessica lembut.
Kenapa pria ini sangat baik padaku? Apa benar dia calon suamiku? Dan gadis itu, aku merasa begitu dekat dengannya. Jessica
Ibu menatap Jessica dan Aldy. Putranya itu sangat mencintai Jessica. Semuanya terlihat dari kasih sayang dan kesabaran Aldy dalam menghadapi sikap Jessica seharian ini.
Ibu, Kamila dan Jack meninggalkan keduanya. Membiarkan Jessica tertidur karena elusan lembut tangan Aldy.
"Takdir Tuhan sangatlah Indah. Apa yang Dia tetapkan, itulah yang terbaik bagi makhlukNya. Mungkin Tuhan ingin Jessica melupakan semua kesedihaannya selama ini. Melupakan bagaimana rasanya hidup tanpa kedua orangtua, melupakan semua penderitaan yang ia rasakan saat diusir oleh Paman dan Bibinya, melupakan bagaimana rasanya kehilangan orang berharga seperti Gurunya dan Bibi Naominya. Tuhan tau apa yang terbaik untuk Jessica, biarkanlah semuanya berjalan sesuai takdir hidup Jessica. Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya, saat ini dan selamanya." Ibu menatap lurus ruang rawat Jessica, tangannya mengelus lembut pundak Jack dan Kamila.
"Sebaiknya kita pulang," ucap Ibu pada keduanya. Jack dan Kamila mengangguk, menyetujui ajakan Ibu.
"Cepat sembuh Kak Jess," ucap Kamila sebelum melangkahkan kakinya menjauh dari ruang rawat Jessica.
**Bersambung....
☆☆☆☆☆☆☆☆
Semoga suka. Dan untuk Jessica, alurnya udah Author siapin jauh sebelum menulis season 2. Kalau kakak ngk suka, ngga apa", suka tidak suka adalah hak kakak" semua😘
__ADS_1
Salam manis dari Author ingusan😘💋**