
Ken mendekatkan wajahnya pada Keisha, ia mengamati Dokter Galak yang sedang fokus pada es krim di tangannya itu.
Ken hanya bisa menelan ludahnya, ia kembali memundurkan wajahnya karena hal negatif sudah menghantui pikirannya.
Ken benar-benar tergoda pada bibir Keisha yang sedang bersentuhan dengan es krim cokelat itu.
"Tidak, kau harus tahan, Ken," ucap Ken tak sadar. Keisha menatap ke arah Ken.
"Kau kenapa? Jika ingin ke toilet, pergilah! Jangan menahan seperti itu, tidak baik," ucap Keisha sambil membersihkan bibirnya yang belepotan.
"Ti-tidak. Aku tidak ingin ke toilet." Ken mengelus tengkuknya. Matanya menatap ke arah lain, menghindari tatapan curiga Keisha.
"Lalu? Kenapa kau bilang tahan-tahan tadi? Apa yang kau tahan?" Keisha memajukan wajahnya.
Pikiran Ken semakin liar. Spontan ia mendorong wajah Keisha menjauh dari wajahnya.
"Jangan dekat-dekat, aku takut mengecewakanmu," ucap Ken dengan tangan yang beralih menggenggam jemari Keisha.
"Kau kenapa,sih? Mengecewakanku bagaimana maksudmu?"
"Sudah, jangan dibahas lagi!" Kini tangan Ken sibuk merapikan rambut Keisha yang tidak pernah terikat.
"Ayo, aku penasaran! Katakan, Ken!" Keisha menatap mata Ken dalam.
"Kau mau tau? Apa kau yakin?" Goda Ken.
"Katakanlah!"
"Emm, itu...ah. Tidak, memalukan saja," jawab Ken yang sangat malu jika harus mengatakan pikiran nakalnya.
"Apa?" Keisha kembali mendekatkan wajahnya, membuat Ken benar-benar kewalahan.
"Kei, mundur! Jangan biarkan aku mengecewakanmu, mundurkan wajahmu. Aku mencintaimu, mundurkan sekarang!" Ken terus mendorong wajah Keisha dengan jari telunjuknya.
"Kenapa, sih? Ada apa dengan wajahku?" Keisha memegang wajahnya, ia mencari cermin kecil di dalam tasnya.
"Tidak kenapa-kenapa, kau kenapa, sih?" Ia kembali masukkan cermin itu lalu menatap mata Ken tajam.
"Kau kenapa?"
"Aku ke kamar mandi dulu, tunggu di sini!" Ken berjalan dengan cepat. Ia membasuh wajahnya dengan air lalu mengusapnya kasar.
"Kau harus lebih berhati-hati ketika bersamanya. Kau mencintainya, 'kan?" ucap Ken pada dirinya sendiri.
Ia kembali setelah berhasil mengusir pikiran nakalnya itu.
"Kau kenapa sebenarnya? Jangan membuatku khawatir seperti ini." Keisha menatap wajah dan rambut Ken yang sedikit basah.
"Tidak ada. Aku tidak kenapa-kenapa." Ken tersenyum menandakan ia baik-baik saja.
"Kau serius?" Keisha merapikan rambut Ken yang berantakan. "Jangan berbohong padaku." Matanya menatap Ken penuh makna.
"Aku mencintaimu, Kei. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak pantas padamu, sebelum kau sah menjadi istriku." Ken kembali tersenyum, tangannya mengelus kepala Keisha lembut.
"Memang apa yang akan kau lakukan? Jangan-jangan..." Keisha menatap Ken tajam.
"Tidak, bukan itu. Buang jauh-jauh pikiranmu itu! Aku tidak akan melakukannya padamu, percayalah!" Ken menyentil jidat Keisha pelan.
"Memang apa yang ku pikirkan?" tanya Keisha.
"Kei, sudahlah! Jangan bahas lagi! Sekarang kita keluar saja. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan lagi," jawab Ken mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Hmmm, aku tidak ingin jalan-jalan lagi. Kita pulang saja atau kita pulang ke rumah Mama? Bagaimana? Aku ingin bertemu Tata adikmu." Keisha memasang wajah imutnya.
Ken mengelus dada, "Huh, tenang, Ken. Jangan mulai lagi pikiran kotormu itu!" gumam Ken.
Ken menyetujui permintaan Keisha. Ia mengajak Keisha keluar dari mall. Kini mobilnya sudah meluncur membawa keduanya menuju kediaman keluarga Can Candra.
Mama dan Nathalia menyambut kedatangan Keisha hangat. Nathalia menggandeng Keisha, mengajaknya menuju ruang keluarga.
"Bagaimana kabar Kak Keisha?"
"Kabarku, baik. Bagaimana denganmu?" Keisha menatap gadis manis di depannya. Wajah Nathalia hampir mirip dengan wajah Ken. Bahkan mata dan bibir mereka sama.
"Aku baik," jawab Nathalia. Ia tersenyum aneh lalu menarik nafas panjang.
"Bagaimana rasanya jadi Dokter di usia muda?"
"Apa pasiennya tidak cerewet?"
"Bagaimana dengan prakteknya?"
"Bagaimana dengan pasien atau dokter tampan lainnya?"
"Apa Kakak pernah bertemu dengan hantu di rumah sakit?"
"Terus, bagaimana rasanya melihat darah?"
"Apa Kakak punya jarum suntik?"
"Bagaimana caranya menguntik pasien yang benar?"
"Bagaimana cara menangani pasien yang cerewet, atau yang takut pada jarum suntik?"
Keisha menelan ludahnya, ia menatap Nathalia. "Aku harus menjawabnya dari mana?"
"Aku hanya bertanya, Ma." Nathalia menatap ke arah Ken yang baru masuk dan langsung duduk di samping Keisha.
"Ya, kau bertanya. Tapi pertanyaanmu selalu membuat orang bingung harus menjawab dari mana," sahut Ken yang sudah hafal dengan tingkat laku adiknya yang selalu bertanya dalam satu tarikan nafas.
"Hehehe."
Mama dan Nathalia mengobral santai dengan Keisha. Sementara Ken keluar untuk membantu Papanya di ruang kerjanya.
"Jadi bagaimana?" tanya Mama.
"Keisha dan Ken sudah membicarakannya. Ken akan mengurus rumah terlebih dahulu, katanya." Keisha dan Mama terus mengobrol masalah perjodohan yang sudah berubah status itu.
"Mama juga sudah membicarakannya dengan Mamamu," Mama Ken mengelus punggung tangan calon menantu idamannya dengan lembut.
"Memang kapan, Ma?" tanya Nathalia yang hanya menjadi pengedar sejak tadi.
"Bulan Maret," jawab Mama singkat.
"Kenapa tidak Februari saja?" Nathalia sudah mulai lagi.
"Tata! Jangan buat calon kakak iparmu pusing!" Mama menatap Nathalia, mengisyaratkan gadis itu untuk pergi.
"Ya-ya. Tata mau nonton drakor saja. Kak Keisha suka? Jika iya, kita bisa nonton bersama. Bagaimana?"
"Drakor? Kakak suka. Tapi nontonnya tidak sekarang, ya." Keisha menatap ke arah Mama. Meminta bantuan untuk menghadapi tingkah Nathalia.
"Baiklah, tapi kapan-kapan kita nonton, ya, Kak?" ucap gadis itu sebelum ia melangkah kakinya keluar dari ruang keluarga.
__ADS_1
Keisha dan Mama menghembuskan nafas lega, keduanya saling menatap lalu tertawa kecil.
Mama mengajak Keisha untuk berkeliling di rumah megah dan mewah itu. Keduanya berjalan ke lantai atas, di sana hanya ada beberapa ruangan. Sepertinya kamar dan ruang kerja Papa Ken, pikir Keisha.
Mama berjalan ke arah sebuah ruangan di pojok sana, "Ini kamar Ken dulu," ucapnya sambil membuka pintu kamar.
Kamar itu masih terawat walau Ken sudah tidak di sana lagi. Keisha mengikuti langkah kaki Mama yang sudah masuk ke dalam kamar bercat hitam dan putih itu.
"Kei." Mama duduk di kasur empuk, ia menepuk ruang kosong di sampingnya. Mengisyaratkan agar Keisha duduk di sana.
Keisha duduk di samping Mama, ia mengamati wajah wanita paruh baya itu. Wajahnya seolah-olah sedang menerawang kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Ken, dulu dia tidak seperti ini. Dia periang dan ramah, senyum selalu terlukis di wajahnya," Mama melirik ke arah Keisha. "Sayangnya, semua pudar setelah kematian Pranata. Dia paman Ken, Ayah Aldyan Pranata Yoga."
Keisha diam, ia menunggu Mama melanjutkan ceritanya.
"Setelah itu, Ken dan Aldy berubah. Keduanya menjadi dingin dan tidak pernah tersenyum lagi. Aldy dan Ken semakin terpuruk ketika Sintiya mengalami tekanan jiwa dan harus berobat ke negara S." Mama menatap Keisha, "Sintiya, dialah wanita yang melahirkan Aldy dan Kamila. Dia Ibu mereka," ucap Mama yang mengerti arti tatapan dari Keisha.
"Di saat itu, datanglah seorang wanita. Dia membawa cinta palsu untuk Ken. Ken pernah mengajaknya ke rumah ini. Ken yang terpuruk tidak menyadari cinta palsu yang selalu di dekatnya. Keduanya menjalin kasih sampai dua bulan lamanya. Aldy-lah yang memisahkan mereka karena melihat wanita itu di sebuah club malam dengan pria tua." Mama menarik nafas panjang.
"Ken semakin menjadi, ia pergi dari rumah dan memilih tinggal di apartemen sampai sekarang. Mama dan Mamamu sudah sepakat atas perjodohan ini, jauh sebelum Ken dan wanita bodoh itu menjalin hubungan." Ia kembali melirik ke arah Keisha.
Dokter itu tersenyum, "Aku mengerti, kenapa Ken seperti ini. Tapi Mama tenang saja, Ken tidak pernah menyakitiku. Bahkan untuk melakukan hal yang tidak pantas saja, dia bisa menahan dirinya," ucap Keisha.
Keisha menatap sekeliling kamar. Semua benda yang ada di kamar itu berwarna hitam dan putih. Hitam dan putih itu terpisah jauh, seperti meja putih di pojok kiri kamar dan lemari hitam besar di pojok kanan kamar.
"Apa Ken pernah mengajakmu ke apartemennya?" tanya Mama ragu.
"Tidak. Ken-lah yang selalu menjemputku," jawab Keisha cepat.
"Memang kenapa, Ma?" tanyanya.
"Tidak, Mama hanya ingin bertanya. Apakah apartemennya bersih atau seperti tempat sampah," jawab Mama dengan bibir yang menahan tawa.
"Hehehe, Kei juga ingin tau itu." Keisha dan Mama cekikikan tak karuan. Keduanya memikirkan hal yang sama.
"Tetaplah berada di samping Ken. Jangan tinggalkan dia, apapun yang terjadi." Mama menatap mata hitam Keisha. Ia bisa melihat wajah putranya di sana.
"Keisha akan tetap bersamanya, apapun yang terjadi." Keisha tersenyum ketika Mama memeluknya hangat.
"Tolong kembalikan Ken yang dulu, Mama rindu dia yang dulu," pinta Mama pada Keisha.
"Memang Ken kemana? Ken masih tetap di sini. Ken yang mana yang harus dikembalikan?" sahut Ken yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
Keisha menatap Mama, "Tidak ada, kau kenapa di sini?"
"Ini kamarku, seharusnya akulah yang bertanya padamu dan Mama, kenapa kalian di sini? Aku lelah mencari kalian di bawah." Ken mendekat lalu duduk di samping Keisha.
Ia membuka gelangnya, mengikat rambut Keisha dengan gelang itu. "Begini lebih cantik," ucapnya setelah mengikat rambut Keisha rapi.
"Ayo, kita ke bawah saja!" sambung Ken dengan kedua tangannya menarik tangan Keisha dan Mama.
______________
Ken membuka pintu mobil, mempersilakan Keisha untuk keluar. "Istirahatlah, jangan pikirkan apapun. Aku hanya cinta padamu, tidak akan terbagi pada siapapun, percayalah!" Ken tersenyum meyakinkan Keisha.
"Hmmm, bisakah jangan ulang lagi kata-kata itu? Kau sudah mengulanginya lebih dari seribu kali."
"Kau menghitungnya? Aku saja tidak menghitungnya sejak tadi, jika kau menghitungnya, kenapa tidak meminta bantuanku, agar kau tidak salah menghitung seperti ini." Ken kembali tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya, "Jangan mematung! Masuklah."
Keisha tersentak, dengan cepat ia melangkah, menjauh dari mobil Ken. "Hmmm, aku harap begitu. Kau tidak akan membaginya, walau dengan hewan peliharaanmu sendiri!"
__ADS_1
Bersambung...