
Jessica berdiri di depan pintu utama, wanita itu berniat untuk menyambut kepulangan Aldy, dan sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira pada pria itu.
Jessica mulai meremas-remas jarinya. Hampir setengah jam ia menunggu, namun Aldy belum sampai juga. Akhirnya, Jessica memutuskan untuk masuk dan langsung naik ke kamarnya.
Ia membuka laci, lalu meraih Hpnya, dan langsung menghubungi Aldy, suaminya. Sayangnya, nomor Aldy tidak aktif, Jessica pun beralih menghubungi Ken. Berharap pria itu bisa memberi sedikit kabar tentang suaminya.
Ken pun sama. Ia tidak dapat dihubungi sama sekali. Jessica kini mulai merasa ada yang tidak beres dengan Aldy dan juga Ken. Tidak biasanya kedua pria itu tidak memberi kabar apapun pada dirinya.
"Mungkin mereka sedang meeting, Jess. Atau ada urusan penting yang sangat mendadak. Oleh sebab itu, Aldy ataupun Ken tidak sempat menghubungimu," ucap Jessica pada dirinya sendiri. Jessica menatap jam tangannya. Waktu sudah menunjukan jam 6 sore.
Jessica terus menatap layar Hpnya. Berharap Aldy menelepon balik, atau mengirim pesan singkat padanya. Namun nihil, Aldy sama sekali tidak memberikan kabar apapun pada Jessica.
Jessica yang dilanda rasa khawatir langsung berlari keluar dari kamarnya. Ia menatap sekeliling rumah utama. Sepi, tidak ada siapapun kecuali dirinya dan beberapa pelayan.
Kamila dan Ibu sedang berkunjung ke kediaman keluarga Candra. Hanya tersisa Jessica seorang di sana.
Jessica melangkahkan kakinya menuju rumah belakang. Ia menatap beberapa kamar yang berjejer rapi di sana, lalu mencari di mana letak kamar Laras. Hanya Laras lah yang bisa menemaninya saat ini.
Tok....tok...tok.....
Jessica mengetuk pintu kamar Laras sambil mencoba menenangkan perasaannya. Tidak lama, pintu itu terbuka, dan langsung menampakkan sosok Laras di sana.
"Nona Muda, apa yang anda lakukan di sini?" tanya Laras sedikit gugup dan canggung.
"Tidak ada, aku hanya ingin memintamu untuk menemaniku di rumah utama. Aku kesepian di sana," jelas Jessica tersenyum.
"Tapi....Tuan Mu---"
"Sudahlah, dia belum pulang. Mungkin akan pulang nanti malam. Sekarang kau ikut dan temani aku di sana."
Jessica langsung menarik tangan Laras dan mengajak wanita itu untuk memasuki rumah utama.
Laras hanya bisa patuh saja. Ia pun menurut ketika Jessica mengajaknya masuk ke dalam dapur utama untuk mengambil beberapa camilan.
"Bagaimana dengan cincinnya? Apa kau suka?" tanya Jessica yang mencoba menenangkan hati dan pikirannya.
"Saya sangat suka, Nona. Dan saya berterimakasih karena Nona sudah memberikannya pada saya."
Laras tersenyum canggung. Bagaimana pun ia merasa tidak enak jika harus sedekat ini dengan Jessica. Apalagi saat Jessica mengajaknya untuk makan malam bersama. Rasanya ia benar-benar tidak pantas untuk mendapatkan semua itu.
"Ras, kumohon temani aku makan malam. Ibu dan Kamila akan pulang satu jam lagi, sedangkan Tuan Aldy, aku sendiri tidak tahu kapan dia akan pulang. Kumohon, temani aku makan malam, aku lapar," pinta Jessica pada Laras.
Gadis itu berpikir sejenak. Dia sebenernya kasihan pada Jessica, namun bagaimana dengan pekerjaannya? Jelas-jelas saja ia akan melanggar aturan rumah utama jika sampai dirinya mengikuti kemauan Jessica.
"Baiklah, Nona Muda. Saya akan menemani Nona, dan saya sudah siap menanggung semua akibatnya."
"Maafkan keegoisanku, Ras."
"Tidak apa, bagi kami, kesehatan dan juga kebahagiaan Nona Muda adalah hal yang paling utama. Nona makanlah, Saya akan menemani Nona," ucap Laras tersenyum.
Gadis itu memperhatikan raut wajah Jessica, jelas sekali tergambar di wajah itu kecemasan dan juga kekhawatiran yang begitu mendalam.
Usai makan malam bersama, Laras meminta izin untuk kembali ke rumah belakang, karena Ibu dan juga Kamila sudah pulang dari rumah keluarga Candra. Jessica pun mengizinkan Laras, dan berterimakasih pada gadis itu karena sudah menemani dirinya sejak tadi.
"Kak Jess, maafkan aku, aku tidak bisa pulang untuk menemani Kak Jess makan malam. Maaf, Kak."
Kamila memeluk tubuh Jessica erat. Bagaimana pun ia saat menyayangi wanita itu. Kamila tidak tega jika melihat Jessica bersedih apalagi sampai makan malam sendirian.
"Sudahlah, Ila. Kak Jess mengerti, kau tidak perlu meminta maaf seperti itu."
"Kak Jess naik dulu, Kak Jess ingin istirahat," lanjut Jessica lalu melepaskan dirinya dari pelukan Kamila.
"Istirahatlah, Kak. Mungkin Kak Aldy akan pulang tengah malam. Karena ada beberapa kendala di anak cabang tadi," ucap Kamila mencoba menenangkan pikiran Jessica.
Jessica mengangguk mengerti, lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.
☆☆☆☆☆☆
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Jessica masih terjaga sambil memegangi Hpnya. Ia terus menatap layar Hp itu, berharap Aldy atau Ken menghubungi dirinya.
Jarum jam terus berputar, tidak terasa, kini jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Dan Jessica sudah tertidur satu jam yang lalu, dengan tangan memeluk bantal guling yang berada di sampingnya.
Suara langkah kaki seseorang membuat Jessica terbangun dari tidurnya. Ia menatap ke arah pintu kamar yang akan terbuka, dan benar saja, pintu terbuka dan Aldy langsung melangkah memasuki kamar.
__ADS_1
"Sayang." Jessica bangkit dan langsung berlari ke arah Aldy. Ia memeluk tubuh Aldy erat, walau Aldy tidak membalas pelukannya.
Cukup lama, Jessica pun melepas pelukannya. Matanya menatap netra cokelat Aldy sendu, namun pria itu malah menatapnya dengan tatapan yang Jessica sendiri tidak tau artinya.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Jessica dengan nada sedikit kecewa. Ia mundur beberapa langkah dari Aldy.
Sementara Aldy, pria itu tidak menjawab apapun. Ia malah melangkah menuju kamar mandi tanpa menatap ke arah Jessica yang butuh penjelasan darinya.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap seperti itu padaku? Apa aku sudah membuat kesalahan? Tapi apa?" gumam Jessica. Jessica melangkahkan kakinya menuju ruang ganti, berniat untuk menyiapkan baju ganti untuk Aldy.
Sejenak, Jessica menatap ke arah kemeja putih yang baru saja Aldy lepas. Dan Jessica baru sadar, kemeja itu terlihat kusut, berbeda dengan kemeja bekas lainnya.
Jessica meraih kemeja yang sudah di letakkan di keranjang cucian itu. Ia menatapnya penuh tanda tanya.
"Apa yang terjadi padamu, Sayang? Kenapa ada bau parfum wanita di kemeja ini? Dan kenapa ini terlihat seperti....."
Jessica menghentikan ucapannya. Ia yakin, Aldy tidak akan melakukan hal itu. Jessica sangat yakin dan percaya pada Aldy, suaminya.
Jessica kembali meletakkan kemeja itu, tanpa memikirkan hal-hal negatif tentang suaminya.
15 menit berlalu, Aldy keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya dengan handuk kecil. Ia membuka pintu ruang ganti, dan langsung mengambil pakaian yang sudah Jessica siapkan, tanpa berbicara atau menatap Jessica.
Jessica hanya bisa menahan nafasnya, ia tidak ingin menjadi wanita lemah. Dirinya harus tegar seperti dulunya.
Setelah Aldy rapi, barulah Jessica kembali mendekati pria itu. Jessica bahkan tidak memanggilnya dengan panggilan seperti biasa.
"Jelaskan padaku! Apa yang sudah terjadi?!" tanya Jessica pada Aldy yang sudah memposisikan dirinya di atas tempat tidur.
"Aku ada urusan mendadak tadi, terus ada meeting dengan beberapa klien. Hpku mati dan tertinggal di perusahaan," jelas Aldy singkat padat dan jelas.
"Hmmm, baiklah. Entah kau jujur atau tidak padaku, tapi asal kau tau, aku...."
Jessica tidak melanjutkan lagi ucapannya. Ia berbaring di tepi kasur, sangat jauh dari Aldy.
"Lalu, bagaimana dengan kemejamu? Meeting apa yang sampai membuat kemejamu sekusut itu? Dan klien mana yang telah menempelkan dirinya padamu, sampai bau parfumnya menempel begitu lekat pada dirimu?" tanya Jessica tenang, dengan mata yang sudah terpejam.
Aldy diam tidak menjawab apapun, atau melakukan apapun untuk menjelaskan semuanya pada Jessica. Hal itu membuat rasa kecewa pada diri Jessica semakin bertambah.
Ya, Tuhan....
Jessica kembali mencoba memejamkan matanya. Walau hati dan pikirannya sudah tidak karuan lagi saat ini. Namun, mata Jessica kembali terbuka saat Aldy turun dari kasur dan melangkah mendekati pintu kamar.
"Kau mau kemana?" tanya Jessica pada Aldy yang sudah memegang gagang pintu.
"Bawah, aku akan tidur sana!"
"Baiklah, kalau begitu, izinkan aku untuk keluar dari rumah ini sekarang juga!" Jessica bangkit dari tidurnya lalu merapikan rambutnya.
"Kau mau kemana? Ini tengah malam!"
"Apa perdulimu padaku! Aku tidak peduli ini malam atau tengah malam. Setidaknya aku ingin keluar dari sini, dan menenangkan hati dan pikiranku!"
Jessica melangkah mendekati pintu, namun Aldy langsung mengunci pintu itu dan berdiri di sana.
"Apa? Kenapa menghalangiku?! Minggirlah dan jangan halangi lagi langkahku!"
Aldy tetap diam. Ia kini menatap netra Jessica yang sudah membendung air matanya. Jika wanita ini bukan Jessica, ia pasti sudah menangis sejak tadi.
Aldy melirik jam dinding, jam kini sudah menunjukan pukul 23.58.
"Baiklah, jika itu yang kau mau, keluarlah!" Aldy membuka pintu kamar lalu memberikan jalan keluar untuk Jessica.
Jessica menatap Aldy sejenak lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Dorrr....
"Happy Birthday, Sayang......"
Aldy langsung memeluk tubuh Jessica dari belakang, ia mengangkat tubuh itu, memeluknya gemas.
Benarkan, Kalian semua sedang mengerjaiku! Baiklah, terima pembalasan dariku! (Jessica)
"Sayang. Sayang, apa yang terjadi?!" Aldy menahan tubuh Jessica yang sudah lemas dalam pelukannya. Kini dirinyalah yang dilanda kecemasan dan kekhawatiran pada Jessica.
__ADS_1
Kamila dan Keisha mendekat. Begitu pula Ken yang sudah mengeluarkan Hpnya untuk menghubungi dokter Rhani.
"Sayang, maafkan aku. Ini semua usulan dari Ken! Ken.....kau harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu pada istriku! Aku akan membunuhmu, Ken!" teriak Aldy pada Ken. Pria itu mengangkat tubuh Jessica, dan hendak membawa Jessica masuk ke dalam kamar.
"Prank...." teriak Jessica tepat di hadapan wajah Aldy, membuat pria itu langsung pucat pasi.
"Bercandamu tidak lucu, Sayang!"
Aldy menurunkan Jessica dari gendongannya.
"Hei, kau kira bercandamu yang tadi itu lucu, hah! Aku tau, kau sedang merencanakan sesuatu untukku, oleh sebab itu, aku juga mulai merencanakan balasan untukmu," jawab Jessica tertawa kecil.
"Khemm, bisakah tiup lilin dan potong kuenya sekarang? Aku sudah tidak tahan lagi melihat semua ini," ucap Kamila yang mulai cemburu dengan tingkah kedua pasangan di depannya.
"Hehehe, baiklah."
Jessica mendekat lalu memejamkan matanya berdoa. Ia meminta dibarakahkan umur dan rizkinya. Dan tidak lupa juga ia meminta agar keluarga barunya selalu dirahmati dan dilindungi oleh sang Pencipta.
Setelah itu, barulah Jessica meniup lilin dan juga memotong kue berukuran sedang itu.
"Sudah, sekarang kalian masuk dan tidur. Aku dan Jessica juga ingin tidur!" Aldy memeluk Jessica erat. Lalu mengisyaratkan agar Kamila, Ken, dan Keisha kembali ke kamar mereka masing-masing.
Huhuhu, aku hampir saja kehilangan nyawaku tadi, beruntunglah Jessica hanya pura-pura saja, jika benar? Maka habislah aku dimakan oleh Tuan Aldy tadi. (Ken)
Setelah ketiga orang itu menjauh. Barulah Aldy menggendong Jessica untuk masuk ke kamar mereka.
"Bagaimana aku bisa tau aku sedang mengerjaimu?" tanya Aldy saat Jessica sudah ia baringkan di atas tempat tidur.
"Hahahaha, aku sudah curiga saat kau bilang ingin ke bawah dan tidur di sana."
"Aku pun langsung mengerti tujuanmu. Kau pasti sengaja ke bawah, terus berharap aku menyusulmu, kan? Setelah itu, barulah kau akan mengucapkan selamat ulang tahun untukku! Dan untuk bau parfum dan kemejamu itu, aku tau itu parfum baru milik Kamila, kan? Pasti Kamila yang memelukmu! Aku tau itu, Sayang!" lanjut Jessica.
Jessica menepuk ruang kosong di sebelahnya, meminta agar Aldy ikut berbaring bersamanya.
"Tapi kau hampir menangis tadi, Sayang. Aku bisa melihat air matamu sudah membendung," ucap Aldy yang masih membahas soal prank tadi.
"Itu air mata buaya," jawab Jessica terkekeh.
"Berarti aku gagal dong dalam mengerjaimu?!"
Aldy bergeser mendekati Jessica lalu memeluk wanita itu erat.
"Hahahaha, begitulah. Tapi tidak apa, aku menghargai usaha jahat kalian." Jessica berpikir sejenak. Ada yang penting yang ia harus katakan pada Aldy sekarang.
"Sayang?" panggil Jessica.
"Iya, kau ingin apa? Ingin meminta hadiah ulang tahun? Atau ingin mem---"
"Diam, biarkan aku yang bicara sekarang!" potong Jessica dan langsung membuat Aldy diam seribu bahasa.
"Aku juga punya kejutan untukmu, Ayah," ucap Jessica sedikit berbisik.
"Katakanlah, apa kejutannya!"
"Kau mendengarkan ucapanku tidak?" Jessica melepaskan dirinya dari pelukan Aldy dengan wajah yang ditekuk masam.
"Iya, aku dengar, Sayang," jawab Aldy tersenyum bingung.
"Apa? Aku bilang apa tadi?"
"Aku juga punya kejutan untukmu, Ayah," Aldy menirukan ucapan Jessica, lalu terdiam sejenak.
"Ayah?" Pria itu menatap Jessica dengan wajah yang berbinar terang.
"Kau memanggilku Ayah? Aku akan menjadi seorang Ayah?" lanjut Aldy. Wajahnya bahkan semakin bersinar ketika Jessica membenarkan pertanyaannya.
"Sayang." Aldy kembali memeluk Jessica erat. Lalu mengelus perut rata Jessica.
"Maafkan aku, aku keterlaluan dalam mengerjaimu. Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya."
"Sudahlah, aku sudah memanfaatkanmu. Bukan kah begitu, Nak?" tanya Jessica pada janin yang masih berada di dalam perutnya.
Terimakasih, Tuhan. Engkau telah memberikan istri sebaik Jessica padaku. Dan terimakasih atas kehadiran janin ini, aku benar-benar bersyukur padaMu. Aku benar-benar bersyukur atas semua nikmatMu. Terimakasih, Tuhan. (Aldy)
__ADS_1
Aldy terus memeluk tubuh Jessica erat. Sampai mereka larut dalam tidur dan mimpi indah yang sudah menjadi nyata.
~Tamat~