
Beberapa bulan berlalu. Kini usia kandungan Jessica sudah memasuki usia 9 bulan. Dan tinggal menunggu hari-hari kelahiran sang buah hati, yang diketahui berjenis kelamin laki-laki.
02 Februari.
Jam menunjukkan pukul 2 malam. Jessica terbangun sambil memegangi perutnya yang terasa begitu mulas. Ia menoleh ke arah Aldy, lalu mencengkram tangan Aldy kuat.
"Sayang....Sakit....Bangunlah!" teriak Jessica dan berhasil membuat mata Aldy terbuka lebar.
Aldy bangun dan langsung menenangkan Jessica yang terus berteriak kesakitan.
"Sabar, Sayang....Tahan dulu."
Aldy mengangkat tubuh Jessica, ia berteriak memanggil para pelayan yang bahkan masih terlelap di rumah belakang.
"Apa yang terjadi, Nak?"
Ibu dan Kamila keluar dari kamar mereka secara bersamaan. Lalu menghampiri Jessica dan Aldy yang terlihat begitu panik.
"Tenanglah, Sayang. Aldy akan membawamu menuju rumah sakit," ucap Ibu berusaha menenangkan Jessica.
Sedangkan Kamila sudah terlebih dulu turun dan menyuruh para pengawal untuk mempersiapkan mobil menuju rumah sakit. Ia juga tidak lupa membangunkan kepala pelayan, meminta wanita itu mengantar semua kebutuhan Jessica dan bayinya nanti.
__ADS_1
Kini Aldy dan Jessica sudah berada di dalam mobil. Aldy mendekap tubuh gemuk Jessica, membelai lembut rambut istrinya itu.
"Tenanglah, Sayang.....Atur nafasmu... Kau harus tenang."
Aldy tau, ini pasti sangat sakit sampai Jessica terus mencengkram lengannya dengan kuat. Ia terus bersabar dan menenangkan Jessica, sampai tidak terasa mereka sudah sampai di halaman rumah sakit kota.
Aldy mengangkat tubuh Jessica keluar dari mobil, lalu membawa istrinya itu memasuki ruang persalinan yang sudah ia siapkan satu minggu yang lalu, khusus untuk istrinya.
Di dalam ruangan itu ada beberapa dokter kandungan terbaik dan juga jempolan. Mereka menatap ke arah Aldy yang masih setia menemani Jessica.
"Anda yakin untuk tetap di dalam, Tuan?" tanya seorang dokter wanita pada Aldy. Ia hanya ingin memastikan saja, sebelum nanti persalinan dimulai.
"Aku yakin, aku akan menemani istriku, apapun yang terjadi! Sekarang mulailah!' jawab Aldy lalu mengelus kepala Jessica yang sudah berkeringat dingin.
"Sayang, tatap mataku! Aku yakin, aku yakin kau bisa melewati ini, kau kuat, Sayang. Aku ada di sini untukmu dan untuk anak kita." Aldy menciumi wajah Jessica yang semakin berkeringat. Ia menggenggam tangan Jessica, menyalurkan semua tenaga yang ia punya pada wanita itu.
Di dalam ruangan itu tidak ada kecemasan ataupun keributan. Semua tenang dan fokus pada Jessica dan Aldy. Para Dokter terharu melihat ketulusan cinta yang Aldy berikan untuk Jessica dan bayi yang masih berada di dalam perut Jessica.
"Tuan, kita mulai sekarang."
Para Dokter bergerak mengambil posisi mereka. Dan salah satu Dokter terbaik itu mendekat dan akan membantu proses persalinan Jessica.
__ADS_1
Suasana yang tenang itu kini berusaha menjaga sedikit menegangkan. Aldy, dialah orang yang paling tegang saat ini, namun ia berusaha tenang demi menyemangati Jessica.
"Sedikit lagi, Nyonya....Tarik nafas Anda....Ayo, Nyonya....Anda bisa....."
Ekspresi wajah Jessica sudah tidak bisa diartikan lagi, antara sakit dan bahagia. Ia menarik nafasnya dalam lalu kembali mengenjan.
Oek....Oek....
Hening. Tidak ada yang bicara lagi. Aldy menoleh ke arah sumber suara bayi laki-laki itu. Ia tersenyum lalu kembali menatap ke arah Jessica. Aldy menciumi seluruh wajah Jessica. Mulai dari kening, mata, hidung, pipi sampai bibir wanita itu.
"Terimakasih, Tuhan. Dan Terimakasih, Sayang," ucapnya lalu mendekati sang buah hati.
Aldy menaikkan sebelah alisnya lalu menoleh ke arah Jessica. Dan kembali menatap wajah buah hati kecilnya.
"Ah, kenapa kau menatap Ayah seperti itu? Apa Ayah melakukan kesalahan selama kau di dalam perut?" gumam Aldy.
Ia melirik sang Dokter lalu tersenyum kaku. "Baiklah, Ayah minta maaf padamu. Maafkan Ayah karena selalu membuatmu terguncang di dalam sana."
Ekspresi wajah anak Aldy dan Jessica😂
__ADS_1