
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Kini usia pernikahan Aldy dan Jessica sudah menginjak usia 3 bulan lamanya.
Begitu pula dengan Ken dan Keisha. Keduanya sudah kembali dengan kegiatan dan pekerjaan mereka. Ken tetap menjadi sekretaris pribadi Aldy, dan juga sekretaris Aldy di perusahaan. Dan Keisha tetap menjalankan tugasnya sebagaimana seorang Dokter.
Sama halnya dengan Aldy dan Jessica. Aldy sekarang lebih sibuk lagi dengan perusahaan. Begitu pula dengan Jessica yang sibuk mengajar karena ujian kenaikan tingkat akan segera dimulai.
Sore harinya di kediaman keluarga Pranata. Aldy membuka pintu kamarnya, dan mendapati Jessica yang baru saja selesai mandi. Hal itu terlihat karena rambut Jessica masih basah, dan juga aroma sabun mandi yang masih melekat di tubuhnya.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bisa turun menyambut kepulanganmu, aku baru saja pulang dari perguruan, hari ini lumayan melelahkan. Bagaimana dengan dirimu?" Jessica membalik tubuhnya menghadap Aldy yang memeluk dirinya dari belakang.
"Lelahku memudar setelah pulang dan melihat wajahmu. Apalagi setelah memelukmu seperti ini."
"Benarkah?"
"Aku tidak pernah berbohong padamu, Sayang. Apa yang kukatakan benar adanya. Aku benar-benar tidak lelah lagi jika sudah melihat wajahmu." Aldy mempererat pelukannnya, lalu menghirup aroma tubuh Jessica yang memabukkan.
"Sayang, bisakah kita mempercepat ritual malamnya. Aku ingin melakukannya sekarang," lanjut Aldy lalu melonggarkan pelukannya.
"Sekarang?"
"Iya, sekarang. Ayolah...." Aldy menatap Jessica dengan tatapan yang begitu memelas.
"Baiklah."
Setelah mendapatkan persetujuan, barulah Aldy memulai aksinya. Keduanya saling menyalurkan cinta dan kasih sayang mereka, sampai mereka mencapai titik kepuasan dan juga kebahagiaan mereka berdua.
"Sayang, kau sudah tidur?" tanya Aldy pada Jessica yang berada dalam dekapan hangatnya.
"Tidak, ada apa lagi? Jangan bilang kau ingin mengulanginya lagi?!" tuduh Jessica pada Aldy yang memang tidak ada puasnya.
Aldy hanya menggeleng dan tertawa kecil mendengar tuduhan dari Jessica.
"Jika kau mau," ucap Aldy lalu menahan tangan Jessica yang hendak memukul dirinya.
"Tidak, aku bercanda, Sayang. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu," lanjut Aldy menjelaskan maksudnya.
"Tanyakan saja. Istrimu ini akan menjawabnya dengan jujur."
"Kau tidak pernah datang bulan lagi, Sayang. Apa kau sadar hal itu?" tanya Aldy dengan mata yang menatap netra Jessica dalam.
"Datang bulan?" Jessica berpikir sejenak. "Iya, aku memang tidak pernah datang bulan. Tapi dari mana kau tau hal itu?" Jessica balik bertanya.
"Wajarlah aku tau, kita melakukannya hampir setiap malam. Kau tidak ingat itu? Atau perlu aku melakukannya sekali lagi agar kau ingat?" Goda Aldy.
"Tidak-tidak, aku ingat betul. Kau selalu memintanya setiap malam padaku, bahkan setiap paginya!"
"Ah, sudahlah.....jangan bahas itu lagi! Sekarang apa yang sebenarnya ingin kau bahas denganku?" lanjut Jessica lalu menggeser tubuhnya menjauhi Aldy.
"Apa mereka sudah ada di dalam sana?"
Aldy memegang perut Jessica lalu tersenyum manis. Hal itu membuat Jessica sedikit terharu, ternyata selama ini Aldy menantikan kehadiran buah hati mereka di dalam perutnya.
"Aku akan membeli tes kehamilan besok," ucap Jessica. Jessica menggelus kepala Aldy yang sudah menempel di dekat perutnya.
__ADS_1
"Kita langsung ke dokter saja," jawab Aldy memberi saran.
"Tidak, aku ingin mengetahuinya terlebih dahulu. Setelah itu kita akan mengecek keadaannya ke dokter," ucap Jessica mengutarakan keinginannya. Jessica ingin merasakan bagaimana rasanya melihat dua garis merah yang banyak dinantikan pasangan-pasangan di luar sana.
"Baiklah. Aku serahkan semuanya padamu."
"Jika mereka ada, kau ingin berjenis kelamin apa?" tanya Jessica pada Aldy yang masih menempelkan wajahnya di dekat perut Jessica.
"Apa-apa, mau laki-laki atau perempuan. Sama saja, aku akan menyayangi mereka, dan aku akan menjadi ayah yang terbaik dan terhebat untuk mereka," jawab Aldy tersenyum.
"Mereka? Memang kau ingin anak berapa, Sayang. Dari tadi kau menyebutnya dengan panggilan mereka?" tanya Jessica heran.
"Berapa? Jika bisa, aku ingin sepuluh, Hahahah." Aldy diam sejenak. "Berapa pun yang Tuhan berikan, aku akan menerimanya," lanjutnya tersenyum.
Jessica membalas senyum Aldy, ia juga tidak sabar ingin mengetahui hal itu. Semoga saja apa yang ia dan Aldy harapkan, dikabulkan oleh Tuhan.
☆☆☆☆☆
Setelah mandi dan berganti pakaian. Keduanya langsing turun untuk makan malam. Aldy selalu mengenggam tangan Jessica ketika menuruni tangga, ia juga selalu memperhatikan langkah Jessica, takutnya Jessica terpeleset dan jatuh nantinya.
"Selamat malam, Kak Jess," sapa Jack yang sedang duduk dengan Kamila di ruang keluarga.
Jessica menatap Aldy lalu mengajak Aldy menghampiri Jack dan Kamila.
"Bagaikan kabarmu, Jack? Lama tidak bertemu denganmu," ucap Aldy lalu duduk di samping Jessica dan Kamila.
"Kabarku baik, Kak. Bagaimanakah dengan Kak Aldy dan Kak Jess?" jawab Jack lalu balik bertanya pada Aldy dan Jessica.
"Kami juga baik."
☆☆☆☆☆
Di kediaman keluarga Can Candra.
Keisha menatap ke arah Ken yang terlihat begitu lelah. Ia mendekat lalu memijat bahu Ken lembut.
"Apa ada masalah lagi di perusahaan, sampai kau terlihat se-lelah ini?" tanya Keisha lalu mencium rambut Ken yang memiliki aroma yang berbeda dengan rambutnya.
"Sedikit, ada sedikit masalah di anak cabang. Dan ada sedikit hal yang harus aku selesaikan tadi. Tuan Aldy memintaku untuk mempersiapkan sesuatu untuk Jessica. Dia sangat mencintai istrinya itu, sama seperti aku yang sangat mencintaimu."
Ken berdiri lalu mengharapkan tubuhnya pada tubuh Keisha. Ia merapikan rambut panjang Keisha yang tidak pernah diikat jika sedang bersamanya.
"Apa kau merasa kurang kasih sayang dariku?" tanya Ken. Ia sadar, dirinya memang sibuk akhir-akhir ini. Sama dengan Keisha yang sangat sibuk menangani pasiennya.
"Tidak, kau selalu meluangkan waktu untukku. Kau bahkan memperhatikanku dengan begitu teliti, mulai dari rambut sampai ujung kakiku."
"Atau sebenarnya aku yang kurang perhatian padamu, Honey. Kau tidak sedang mengkodeku, kan?" lanjut Keisha sambil memegang kedua pipi Ken. Lalu menciumi keduanya dengan penuh cinta.
"Kau sangat peka, aku kurang kasih sayang darimu, kau bahkan lebih sibuk dari dirimu." Ken sedikit menekuk wajahnya.
"Ooo, bayi besarku ingin apa, umm....lucunya...kau ingin apa, Honey?" Keisha mencubit pipi Ken gemas. Lalu mengecup bibir Ken sekilas.
"Apa lagi kau bukan jatah suami, jangan bilang kau sedang halangan lagi! Aku tidak mau mendengar alasan itu," jawab Ken.
__ADS_1
Ken menarik tengkuk Keisha, lalu mencium bibir Keisha dengan lembut.
Namun, aktivitas yang baru dimulai itu terhenti karena ketukan pintu yang cukup keras.
Ken menghentikan ciumannya lalu memaki siapapun yang telah mengganggu aktivitasnya.
"Kau tunggu di sini, biar aku yang membukanya," ucap Ken. Ia merapikan kaosnya dan berjalan mendekati pintu.
"Tata! Ada apa?!" tanya Ken sambil menatap adik kesayangannya itu tajam.
"Hehehe, maaf. Aku mengganggu, ya? Itu, Mama menyuruhku memanggil Kak Ken dan Kakak Ipar. Karena mertua Kakak datang, dan mereka sedang menunggu Kak Ken dan juga Kak Keisha di ruang keluarga," jelas Nathalia lalu memegang pundak Ken.
"Kakak tahan dulu, tidak baik loh, membuat mertua menunggu lama," lanjut gadis ingusan itu.
"Bocah ingusan!"
Nathalia langsung kabur sambil tertawa kecil. Ia menuruni tangga, dan sesekali menoleh ke arah pintu kamar Ken.
"Siapa, Honey?" tanya Keisha yang sudah kembali merapikan pakaiannya.
"Tata, katanya Papa dan Mama mertua ada di bawah. Sebaiknya kita turun untuk menemui mereka."
"Benarkah? Papa dan Mamaku datang?"
"Iya, Honey. Ayo, mereka sudah menunggu di bawah sana."
Ken meraih tangan Keisha lalu mengajak Keisha keluar untuk menemui orangtuanya.
"Mama...." Keisha berlari ke arah sang Mama. Rasa rindunya bahkan tidak bisa disembunyikan lagi.
"Sayang." Mama Keisha membalas pelukan hangat putrinya lalu mengecup kening Keisha beberapa kali.
"Bagaimana kabar kalian, Nak? Papa dan Mama sengaja mampir ke sini, dan sekaligus ingin bertemu dengan kalian berdua," ucap Papa mertua Ken.
"Kabar kami baik, Pa. Bagaimana dengan Papa dan Mama?" jawab Ken lalu balik bertanya pada kedua mertuanya.
"Kami juga baik." jawab mereka tersenyum.
"Bagaimana dengan cucu? Kapan kau memberikannya pada kami?" tanya sang Mama sedikit berisik pada Keisha.
Keisha terdiam sejenak lalu menatap ke arah Ken. Ia bingung harus menjawab apa sekarang.
"Tidak apa, Nak. Jangan dipikirkan. Mama hanya bercanda," lanjut Mama masih dengan berbisik pada putri bungsunya itu.
Setengah jam kemudian. Kedua orangtua Keisha pamit untuk pulang, karena besok mereka harus kembali beraktivitas lagi. Keisha dan Ken mengantar keduanya sampai halaman depan lalu kembali masuk setelah mobil yang orangtua Keisha tumpangi menjauh.
"Apa yang Mama tanyakan tadi? Kenapa kau tidak menjawabnya, Honey?" tanya Ken setelah keduanya masuk ke dalam kamar.
"Mama menanyakan tentang cucu." Keisha menatap Ken sebentar. "Aku tidak tau harus menjawab apa," lanjutnya sambil melilit ujung baju yang ia kenakan.
"Kenapa sebingung itu? Kita akan membuatnya sekarang. Jadi kau tidak perlu bingung jika ada yang menanyakan hal itu padamu."
"Kau ingin berapa, Honey? Satu, dua, atau satu lusin? Aku akan dengan senang hati memberikan dan menanam bibitnya padamu," lanjut Ken tertawa.
__ADS_1
Ken langsung memeluk tubuh Keisha, dan langsung melanjutkan kegiatan yang tertunda oleh kedatangan kedua mertuanya.
Pintar sekali kau, Honey. Menanam? Dari mana kau dapat istilah itu! Dan kau bilang apa tadi? Satu lusin? Kau kira aku tikus atau kucing yang akan sanggup melahirkan anak sebanyak itu?! (Keisha)