Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Malam Tahun Baru (Final)


__ADS_3

Jessica dan Keisha terus mondar-mandir, keduanya sibuk dengan kipas dan bahan-bahan di tangannya.


"Cepat, Kei!" teriak Ken dengan tangan yang sibuk pada panggangan di depannya.


"Hehehe, tukang satenya tampan, aku mau beli banyak," ucap Kamila sambil menatap ke arah pria-pria tampan yang mendadak menjadi tukang sate itu.


"Kamila...." Kini Keisha yang berteriak memanggil gadis itu. Ia dan Jessica sibuk mengelar tikar dan menyiapkan nasi untuk makan malam mereka.


Halaman rumah utama tiba-tiba berubah menjadi tempat piknik. Ada begitu banyak tikar tergelar di sana.


"Tolong nyalakan," pinta Kamila pada Jack. Ia menggoyangkan kembang api di tangannya.


"Jangan sekarang, ya. Kak Aldy dan Kak Ken masih sibuk, bisa-bisa mereka memarahimu nanti," tolak Jack lembut. Pria itu meraih kembang api di tangan Kamila, menyimpan di tempat yang lebih aman.


"Hmmm, baiklah." Kamila kembali membatu Jessica dan Keisha. Kedua wanita itu masih sibuk saja. Ia mengangkat dan memindahkan sate-sate yang baru saja matang.


"Sini, taruh di sini!" ucap Jessica pada Aldy yang mendadak jadi tukang sate malam ini.


Aldy tersenyum, ia meletakkan sepuluh tusuk sate di atas piring yang di pegang Jessica. "Hati-hati," ucapnya lalu kembali fokus pada sate-sate baru di depannya.


Ken dan Aldy sibuk dengan sate mereka, sementara Jack dan Juan sibuk dengan ikan bakar mereka.


Ibu dan para pelayan memperhatikan remaja-remaja yang berkumpul di halaman rumah utama itu. Ibu tersenyum, ia bisa melihat wajah bahagia putranya walau menjadi tukang sate dadakan malam ini.


"Ibu." Jessica mendekat ke arah Ibu. "Ibu tidak bergabung, ayo, ikutlah, Bu," ucapnya dengan mata hangat yang begitu indah.


"Tidak, kalian lanjut saja. Ibu sudah bahagia dengan melihat saja," jawab Ibu dengan senyum manis di bibirnya.


"Ibu....Ibu harus mencoba ini." Ken dan Aldy berjalan ke arah Ibu, keduanya membawa hasil panggangan mereka.


"Hussst...menjauh dari Ibu.... bau badan kalian sangat mengganggu," ejek Ibu.


Aldy dan Ken mencium baju mereka, keduanya cengengesan. "Hehehe, apapun demi cinta," ucap keduanya bersamaan.


Jessica memutar bola matanya, "Harap Ibu maklum saja, ya." Jessica kembali ke halaman utama. Ia menata semua menu makan dengan rapi.


Para pria mengganti baju mereka sebelum ikut duduk di atas tikar itu. "Daun pisang? Aku ingin makan dengan daun pisang," ucap Aldy tiba-tiba.


Jessica mengerutkan dahinya, "Jangan yang tidak-tidak. Ini tengah kota, dimana kita akan menemukan daun pisang di sini? Lagi pula ini sudah malam," celoteh Jessica dengan tangan yang sibuk menaruh nasi di atas piring Aldy.


"Ah, kalau begitu, aku ingin piring itu." Aldy menunjuk piring Jessica.


"Ini piringmu! Kenapa menunjuk piringku lagi!" Jessica menatap Aldy tajam.


"Huh, maksudnya, dia ingin satu piring denganmu, begitu saja tidak peka," sahut Ken yang mengerti maksud Aldy.


Jessica masih menatap mata Aldy, "Ish, kau kan bisa makan sendiri, lagi pula tanganmu sudah sembuh," ucap Jessica. Wanita itu bergeser, mendekat ke arah Aldy setelah menatap mata Aldy yang penuh harap itu.


Aldy tersenyum. Jack, Ken dan Juan hanya tersenyum tipis. Ketiganya memperhatikan dua pasangan yang rela makan dalam satu piring itu.


"Aku juga mau." Kini Ken ikut makan di piring Keisha. Sayangnya, ia tidak seberuntung Aldy. Keisha menepis tangan Ken keras.


"Tidak, aku tidak mau. Makan di piringmu!" ucapnya sambil menusuk-nusuk tangan Ken dengan tusuk satenya.

__ADS_1


"Yah, ayolah!" Ken terus memasukkan nasi yang ia ambil dari piring Keisha ke dalam mulutnya. Keisha menghembuskan nafasnya pelan, "Hmmm, makanlah!"


Jack dan Kamila diam, keduanya malu jika harus melakukan hal yang sama seperti Ken dan Keisha. Berbeda dengan Juan, pria itu menyendiri, pria setampan Juan tidak beruntung malam ini.


Semua makan dengan lahap dan bahagia. Sesekali Aldy menatap ke arah Jessica, ia terus tersenyum, matanya benar-benar candu pada wajah Jessica.


"Makanlah! Jangan menatapku seperti itu terus!" ucap Jessica yang sadar akan tatapan Aldy.


Aldy tidak menjawab, ia kembali fokus pada ikan bakar di hadapannya.


"Jack!" panggilnya setelah mencicipi ikan bakar itu.


Jack menoleh, "Kenapa, Kak?"


"Besok-besok kau buka saja satu lesehan di sekitar sini, aku suka bakaranmu," jawab Aldy. Jack hanya menanggapi ucapan Aldy dengan tawa kecilnya.


Jessica, Keisha dan Kamila kembali sibuk untuk merapikan piring-piring kotor mereka. Para pelayan keluar, mereka mendekat hendak membantu ketiga wanita itu.


"Jangan, Mbak. Biar kami saja." Kamila menghalangi tangan pelayan yang hendak menyentuh piring-piring itu.


"Sebaiknya Mbak berkemas saja, bukannya besok Mbak akan pulang?" tanya Kamila sambil meraih piring-piring itu. Ia membawanya ke dalam rumah utama, meletakkannya di dapur utama.


Terlihat Jessica sibuk mencuci piring-piring kotor yang sebelumnya di bawa oleh Keisha. Wanita itu tidak ragu-ragu untuk melakukan hal itu, lagi pula, wanita memang harus melakukan hal itu, bukan?


"Sini, Jess! Biar aku yang meletakkannya di rak piring." Keisha mengangkat piring-piring bersih itu, ia mengelapnya lalu meletakkan dengan rapi pada tempat semula.


Aldy dan Ken mengintip dari jendela dapur, "Apa kedua tidak takut kuku dan kulit mereka lecet?" bisik Aldy pada Ken.


"Kau kira keduanya model manja yang akan memperhatikan kukunya?" Ken dan Aldy mundur ketika Jessica mendekat ke arah Jendela.


"Ayo, kita lanjut bersenang-senangnya." Keisha menarik tangan Jessica, menyeret wanita itu ke halaman utama.


"Yang mau jagung bakar?" tanya Jack. Kali ini ia tidak membakar, teman-temannya-lah yang menghantar ke sini tadi.


"Masih panas?" Jessica melirik ke arah jagung bakar yang begitu menggoda itu.


"Masih, tadi Yosi yang menghantarnya," jawab Jack sambil memberikan satu tusuk jagung pada Jessica.


"Nah, ini enak, Jack." Aldy mengigit jagung yang masih menempel di bibir Jessica itu. Spontan Jessica mendorong wajah Aldy.


"Hei, hei, sekali lagi kau melakukannya...."


"Ya-ya. Aku minta maaf," potong Aldy karena tidak ingin mendengar omelan Jessica.


"Aku juga mau, Jack." Keisha berlari ke arah Jack. Jack yang melihat itu memberikan satu tusuk jagung pada Keisha.


"Aku juga mau," ucap Juan yang selalu terabaikan sejak tadi. Jack menoleh, "Maaf, aku tidak melihatmu dari tadi." Jack memberikan jagung yang sama pada Juan.


Kamila berlari dengan tangan yang dipenuhi oleh kembang api, "Kapan kita membakar ini?"


"Ah, sini...aku akan membakarnya." Juan meraih kembang api itu.


"Eh, jangan....kita tidak perlu membakarnya," sahut Jessica. Wanita itu mendekati Kamila dan Juan.

__ADS_1


"Jangan bakar mereka tanpa aku." Kini Jessica yang sudah menyalakan koreknya.


"Tunggu! Wanita tidak boleh menyalakan kembang api!" Aldy dan Ken ikut turun tangan. Keduanya tersenyum misterius.


Dar....dar....


Semua menatap langit yang sudah dipenuhi kembang api itu. Semakin lama semakin banyak yang menyala di atas sana.


"Ayo, nyalakan punya kita," desak Kamila tidak sabar.


"Ah, jangan. Kita cukup sebagai penikmat kembang api tetangga saja," sahut Keisha yang masih menatap langit.


"Ah, ayo, Jack!" Kini Kamila mendekati Jack, ia memohon dengan wajah manisnya.


"Baiklah, kita akan menyalakan, tapi nanti," jawab Jack. Ia menatap ke arah Aldy dan Ken. Kedua pria itu mengangguk.


"Sekarang saja!" Jack meraih kembang api itu, ia meminta korek ya ada di tangan Jessica.


Darr...darrr....darrr


Semua kembali menatap langit. Jessica tersenyum, ia tidak pernah sebahagia ini sebelumnya.


Aldy menatap ke arah Jessica, "Kau suka?"


"Ya, aku suka. Terimakasih," jawab Jessica dengan tangan kanannya menggegam erat tangan kiri Aldy.


"Aku yang berterimakasih padamu. Terimakasih karena sudah hadir di kehidupan kami. Terimakasih atas kasih sayangmu pada Kamila, adikku. Terimakasih karena kau sudah membalas perasaanku." Aldy mengubah posisinya, kini ia dan Jessica sudah berhadapan dengan kedua tangan bertautan satu sama lain.


"Aku mencintaimu dengan seluruh hati dan pikiranku. Hanya kau yang ada di sana. Tidak ada yang lain," ucap Aldy serius.


"Beri aku waktu dua bulan lagi, setelah itu. Aku akan menyerahkan seluruh hidupku padamu," jawab Jessica tidak kalah seriusnya.


"Aku masih ingin mewujudkan impianku," sambung Jessica.


Aldy tersenyum, "Bulan Maret akan menjadi saksi, seberapa besat cintanku padamu."


Aldy menarik Jessica ke dalam dekapannya. "Aku mencintaimu," bisiknya lagi.


Sontak terdengar tepuk tangan dari Ken, Keisha, Jack, Kamila dan Juan. Kelimanya tersenyum bahagia.


"Baiklah, akan ada dua pesta besar, dua bulan lagi," ucap Kamila. Ia sudah mendengar kalau Ken dan Keisha juga akan menikah di bulan yang sama seperti Aldy dan Jessica.


"Maret, aku menunggumu," teriak Kamila. Ia mendekat ke arah Aldy dan Jessica. Memeluk keduanya erat.


"Aku menyayangi kalian berdua." Kamila mengecup pipi Aldy dan Jessica bergantian.


"Aku sayang kalian."


โ™ก


โ™ก


โ™ก

__ADS_1


~TAMAT~


Tapi Bo'ong๐Ÿ˜ Ini udah final, ya. Tinggal lanjut Bagian kedua~ Jangan dihapus dulu dari daftar Favorit, ya๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜™


__ADS_2