
Jack
Jessica meluncurkan mobil menuju Markas Jack, ia masih tidak percaya dengan laporan yang ia dapat. Ia ingin memastikan dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, kalau Markas itu sudah terbakar hangus tanpa meninggalkan sisa sedikit pun.
"Jessica." Seorang wanita paruh baya memeluk Jessica erat, wanita itu masih menangis dalam pelukan Jessica.
"Kenapa bisa seperti, Ma?" tanya Jessica pada Mama Qiana yang tak lain Mama kandung Jack.
"Jack, dia..." Mama Qiana kembali menangis, air matanya sudah tak terbendung lagi.
"Jack kenapa Ma?" tanya Jessica khawatir.
"Dia hilang entah kemana, polisi sudah mengecek keseluruh ruangan, namun Jack tidak ada didalam." Mama Qiana menyeka air matanya, ia menatap Jessica penuh harapan.
"Mama tenang saja, polisi akan terus mencari Jack. Sampai ketemu." Jessica mengantar wanita itu untuk duduk ditempat yang teduh.
"Kak Jess." Yosi menghampiri Jessica dan Mama Qiana. Pria itu menatap Jessica, seolah-olah berkata, "Ada yang ingin ku bicarakan."
"Mama tunggu disini, Jessi akan kembali lagi," pamit Jessica, ia dan Yosi menjauh dari kerumunan orang-orang yang mulai berdatangan.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Jessica, wanita melirik bangunan yang sudah habis dilahap oleh si jago merah itu.
"Aku juga tidak tau kak." Yosi menarik nafas panjang, ia ingin menceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya.
"Tadi malam, kami pergi untuk melihat perlombaan ditempat biasa. Awalnya Jack masih bersama kami disana, tapi ia meminta izin pulang terlebih dahulu karena merasa tak enak badan. Aku dan yang lain mengiyakan. Jack kembali ke Markas sekitar jam 11.44 dari lokasi perlombaan." Yosi menarik nafas panjang lagi.
"Sekitar jam 02.23 aku mendapat telpon dari anak-anak yang berjaga disekitar Markas. Mereka bilang api sudah melahap Markas dengan ganas, bahkan Jack masih berada didalamnya." Yosi diam, tak sanggup membayangkan bagaimana keadaan Jack saat itu.
"Aku dan yang lain segera meluncur menuju Markas, namun saat kami sampai. Api sudah padam, dan mobil polisi sudah berjejer dipinggir jalan. Mereka masuk dan mencari apakah ada korban jiwa, sayangnya tidak ada siapapun didalam sana. Dan Jack, aku tidak tau dia dimana sekarang." Yosi lemas, wajahnya terlihat begitu pucat.
"Apa kalian punya masalah?" tanya Jessica menyelidiki.
Yosi menggeleng cepat, "Tidak, kami tidak punya masalah dengan siapapun," jelas Yosi.
"Bagaimana dengan Andre?"
"Dia dan kawan-kawannya juga disana, mereka bahkan duduk tak jauh dari kami," jawab Yosi, ia ingat betul Andre dan semua kawan-kawan dilokasi perlombaan tadi malam.
"Martin, apa Martin disana juga?" tanya Jessica.
"Martin ada, dia dan kawan-kawan lengkap disana. Ku rasa ini bukan ulah dari Martin ataupun Andre, keduanya tidak akan senekat ini," bantah Yosi. Jessica mengangguk setuju.
"Lalu siapa?" tanya Jessica.
"Polisi sedang menyelidikinya, dan mereka sedang mencari keberadaan Jack." Mendengar nama Jack, Jessica teringat seseorang.
__ADS_1
"Kamila, bagaimana perasaan gadis itu nantinya?" Jessica menatap Yosi, meminta bantuan pada pria itu.
"Kami akan tetap menjaganya, tapi...Kami tidak bisa menyembunyikan keberadaan Jack darinya." Yosi menatap langit yang tiba-tiba mendung, seolah-olah berduka atas kehilangan Jack.
"Aku akan meminta bantuan beberapa orang untuk menemukan Jack, masalah pelakunya. Serahkan saja pada pihak yang berwajib." Jessica melirik bangunan yang penuh dengan kenangan itu, senyum Jack bisa ia lihat jelas disana.
Tenang saja Jack, siapapun yang membuatmu menderita, Kak Jess akan membalasnya. Setimpal dengan yang kau rasakan. Jessica
Polisi sibuk mencari petunjuk sekecil apapun, sayangnya mereka tidak menemukan petunjuk apapun di dalam ataupun di luar bangunan.
"Apa tempat ini memiliki CCTV?" tanya seorang polisi pada Jessica. Jessica mengangguk lalu melirik ke arah CCTV yang dipasang disudut kiri gerbang.
"Sial, sudah dirusak." Jessica mencabut CCTV yang sudah rusak dan tak berbentuk itu.
"Hmmm, pelakunya pasti orang dalam, atau orang yang sering berkunjung ke tempat ini." Polisi itu mengambil kesimpulannya.
"Apa kalian mencurigai seseorang?" tanya polisi itu pada Jessica dan yang lainnya. Mereka menggeleng.
"Kami tidak mencurigai siapapun, Pak, kami memang tidak pernah terlibat masalah dengan seseorang ataupun sekelompok orang," jawab Yosi mewakili yang lain.
"Bagaimana denganmu?" Polisi itu menatap Jessica yang terlihat ragu.
"Sejauh ini adikku dan teman-temannya memang tidak pernah terlibat dengan siapapun," jawab Jessica. Polisi itu mengangguk lalu berjalan menjauh dari mereka.
"Kak Jessica," panggil Andre. Pria itu berjalan ke arah Jessica dan Yosi.
"A-aku punya ini, Jack memesannya padaku sekitar 2 minggu yang lalu." Andre memberikan dua gelang yang terbuat dari kayu dengan ukiran kecil bertulisan JK.
"Andre." Jessica meraih gelang itu, menatapnya lekat. "Aku tidak sanggup jika harus menyampaikan hal ini pada Kamila," sambungnya.
Jessica duduk, menggegam erat dua gelang cantik itu. Hatinya berteriak memanggil nama Jack, namun wajahnya masih bisa tegar, tidak serapuh dan sehancur hatinya.
"Jessi," panggil Mama Qiana. Wanita itu menatap Jessica lekat, "Mama pulang dulu, kamu juga pulang istirahat," pamit Mama Qiana.
"Hati-hati, Ma," ucap Jessica dengan senyum palsu dibibirnya.
"Kak Jess pamit, kalian bersabarlah. Jack pasti kuat, dia pasti kembali!" Jessica berlalu meninggalkan bangunan yang sudah hitam tanpa sisa itu.
____________
Jessica menyadarkan kepalanya pada kursi mobil, kepalanya terasa begitu berat, seakan-akan ingin pecah.
"Apa yang terjadi Jack, kemana kau sekarang. Apa mereka menyakitimu?" gumam Jessica.
Cukup lama Jessica termenung dalam mobil.
__ADS_1
"Kak Jess," panggil Kamila yang sudah masuk sejak tadi.
"Ah...Iya." Jessica membuang wajah jeleknya memasang kembali wajah tegar dan dinginnya.
"Kak Jess sakit?" Kamila menempelkan tangannya,memeriksa suhu tubuh Jessica.
"Tidak, Kak Jess tidak sakit." Jessica menurunkan tangan Kamila lalu tersenyum manis yang dibuat-buat.
"Hmmm...bagaimana kita ke Kafe dulu, seperti biasa," ucap Kamila, gadis itu sudah tidak sabar lagi, ingin bertemu atau hanya melihat wajah Jack dari kejauhan.
"Baiklah." Jessica menarik nafas dalam, mencoba tenang seperti biasa.
Tidak butuh waktu yang lama, Jessica dan Kamila sudah sampai di Kafe yang terlihat sepi dan begitu dingin itu. Kamila menatap sekitar.
"Tidak biasanya Kafe ini sepi dan sehoror ini," ucapnya.
"Selamat datang Nona Kamila, maaf hari ini Kafe harus tutup. Kami akan buka aktif setelah beberapa hari lagi," ucap seorang pelayan. Ia menatap Jessica yang memberi isyarat padanya lalu mengangguk pergi.
"Kenapa tutup, Kak?" tanya Kamila bingung.
"Mungkin mereka libur, atau ada kendala lainnya," jawab Jessica berbohong.
"Huh...aku rindu masakan kafe ini. Hmmm, ngomong-ngomong Jack kemana? Dia tidak pernah menghubungiku sejak tadi malam." Kamila menatap sekeliling Kafe, mencari keberadaan Jack si pemilik Kafe ini.
"Ayo pulang!" Jessica berjalan meninggalkan Kamila, ia tak kuat jika harus berlama-lama di Kafe yang penuh dengan kenangan manis ini.
"Ah...ayo." Kamila berlari menyusul Jessica ke dalam mobil. Ia terlihat sedikit berbeda hari ini.
"Memang begitu ya, jika hati sudah bertautan satu sama lain," gumam Jessica.
Mobil melaju memasuki kompleks perumahan elit, yang menjadi tempat tinggal Keluarga Pranata.
"Masuklah, dan bersihkan dirimu. Kak Jess ingin membicarakan sesuatu nanti," ucap Jessica. Kamila hanya mengangguk lalu masuk ke dalam Rumah Utama.
Jessica menyeret kakinya menuju Rumah Belakangan, pusing, lelah dan lemah ia rasakan. Namun ia harus tegar dan tegap jika dihadapan Kamila dan yang lainnya.
"Kau sakit Jess?" tanya Kepala Pelayan.
"Tidak, aku hanya sedikit pusing dan lelah saja," jawab Jessica sambil tersenyum palsu lagi.
"Istirahatlah, aku akan meminta yang lain untuk menyiapkan makan malam nanti." Kepala Pelayan itu kembali ke dapur belakang, terlihat ia sedang mengobrol dengan beberapa pelayan lainnya.
Jessica masuk ke dalam kamarnya, ia melepaskan jaket dan juga sepatunya lalu masuk ke dalam Kamar Mandi untuk membersihkan dan juga menyegarkan dirinya.
Bersambung....
__ADS_1
________
Semoga Sukaš¢ā„