Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
Serigala Betina Kembali


__ADS_3

Tiga Bulan sudah Jessica mengabdikan dirinya untuk Keluarga Pranata, dan tiga bulan juga ia menghilang dari perguruan. Sesuai janjinya pada guru dan anak-anak muridnya, ia akan kembali untuk membantu persiapan lomba akhir tahun nanti.


Sebelumnya, ia sudah berbicara dengan Aldy, dan pria itu mengizinkannya untuk keluar setiap akhir pekan.


Dan hari ini, Jessica dengan pakaian seperti biasa keluar dari kamarnya, membawa sebuah tas punggung berwarna hitam bergaris abu-abu dan putih.


"Mau kemana, Jess?" tanya Kepala Pelayan sambil memperhatikan penampilan Jessica. Terlihat seperti biasa, namun sangat mengundang banyak mata untuk menatapnya.


"Ada sedikit urusan di luar," jawab Jessica dengan senyum tipis di bibirnya.


"Owh...hati-hati, Jess." Kepada pelayan itu berlalu sambil melambaikan tangannya.


Jessica berjalan menuju gerbang utama, ia sudah memesan taksi online karena menolak menggunakan mobil milik Kamila.


"Kak Jess," teriak Kamila dari taman utama. Gadis itu berlari menghampiri Jessica, "Kapan Kak Jess pulang?" tanyanya.


"Ah...nanti sore." Jessica menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Beda ceritanya kalau sudah kaya gini. (Jessica)


"Hati-hati Kak Jess." Kamila melambaikan tangannya dari balik gerbang tinggi berwarna hitam itu. Jessica hanya tersenyum, membalas lambaian tangan Kamila.


Setengah jam perjalanan, Jessica sampai di sebuah gubuk yang sudah ramai sejak tadi. Tempat itu terlihat begitu sederhana, tidak seperti tempat berlatih pada umumnya. Lokasinya tepat di pinggir kota, posisinya juga sangat tepat untuk di jadikan tempat berlatih untuk para pemula dan juga juara.


"Selamat datang guru," sapa seorang murid pada Jessica, ia membungkukkan badannya hormat lalu tersenyum.


Jessica hanya tersenyum lalu masuk ke dalamnya diikuti oleh beberapa murid penggemarnya.


"Kak Jess." Seorang gadis berusia 16 tahun berlari menghampiri Jessica. Ia memeluk Jessica hangat.


"Hummm...kenapa baru datang sekarang?" tanya Zia manja.


Zia adalah murid kesayangan dan kebanggaan Jessica sejak dulu, di usianya yang masih muda, ia sudah mengharumkan nama perguruan dengan berbagai mendali emas yang berhasil ia raih. Bahkan Piala-piala yang terpanjang diluar pun setengah dari hasil usahanya.


"Hmmm...maafkan Kak Jess." Jessica mengelus rambut Zia lembut, gadis itu terus tersenyum pada Jessica.


"Kau ikut lomba, kan?" tanya Jessica sambil merangkul Zia menuju sebuah kursi kayu.


"Hmmm...aku ikut, tapi sudah tidak semangat lagi." Zia menekuk wajahnya cemberut.


"Kenapa, bukankah lomba ini yang kau nanti-nantikan setiap tahunnya?"


"Tahun ini berbeda, Kak Jess tidak ada untuk mendampingiku berlatih." Zia kembali memasang wajah cemberutnya.


"Hahaha...konyol sekali alasanmu, sang juara ternyata lemah juga," ucap Jessica mengejek.


"Ah...aku sampai lupa, Kak Jess tumben kesini ada apa? Mau bertemu guru ya?Ah aku lupa, mari ku antar." Zia bangun lalu menarik lengan Jessica, membawa Jessica ke tempat berlatih.


Terlihat beberapa orang sedang sibuk dengan buku-buku panduan di tangan mereka dan yang lain sedang berlatih bersama guru pembimbing yang sudah datang.


"Zi..." Seorang laki-laki berkulit putih melambaikan tangan pada Zia.


"Kau ke sana saja, Kak Jess akan menemui guru dulu." Jessica berjalan menuju sebuah ruangan khusus untuk guru pelatih dan pembimbing.


"Siapa dia?" tanya si kulit putih.


"Owh...dia Kak Jessica. Si Serigala Betina kebanggaan kita," jawab Zia tersenyum bangga.


"Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi entah di mana, aku lupa," ucap Juan si kulit putih.


Laki-laki kulit putih itu bernama Juan Candra, guru pembimbing yang membantu persiapan lomba akhir tahun nanti. Dia juga termasuk golongan senior utama tapi di bawah Jessica dan Ken tentunya.


Jessica keluar dari ruang pelatih, sudah lengkap dengan baju putih polos dan juga sabuk hitam melingkar di pinggangnya.


"Ada murid yang perlu ku tangani?" tanya Jessica pada Juan, laki-laki itu masih menganga tak percaya ketika melihat penampilan Jessica.


"Kak Juan." Zia memukul pundak Juan pelan, menyadarkan Juan dari lamunan.

__ADS_1


"Eh...ada beberapa, mereka sudah bagus tapi masih perlu sedikit perbaikan. Mungkin senior bisa membantu," jawab Juan ramah.


Juan dan Jessica memasuki ruang latihan untuk para peserta lomba. Mereka semua dibuat menganga karena kehadiran Jessica yang tiba-tiba.


"Matilah kita...Kak Jessica datang."


"Habislah riwayatku."


"Jantungku berhenti berdetak."


"Serigala Betina kembali."


Mereka menatap satu sama lain, menarik nafas dalam, mempersiapkan diri di terkam oleh Jessica.


"Bagas."


"Arfan."


"Zen."


"Zia."


"Kalian berempat ikut Juan, sisanya diam dan bersamaku di sini," ucap Jessica tegas.


Keempat juara tadi keluar, meninggalkan teman-teman mereka yang sudah berwajah pucat di dalam ruangan.


Semuanya berbaris, memberi salam hormat pada Jessica lalu diam, sepi dan sunyi.


"Kenapa masih ada yang belum siap, waktu terus berjalan. Kenapa masih ada diantara kalian yang santai, ini lomba besar, kalian membawa nama perguruan!" ucap Jessica sedikit berteriak.


Tidak ada jawaban, semuanya hening dan tertunduk dalam.


Jessica mulai menyebut beberapa materi yang harus dikuasai di luar kepala. Matanya tajam, memperhatikan setiap gerakan dari mereka.


"Kenapa masih ada yang salah, turun!" Jessica menatap dua orang yang berbaris dibagian tegah. Keduanya turun, Push Up sampai Jessica menyuruhnya berhenti.


"Argh...apa ini!" Jessica geram menatap semua yang berbaris di depannya. Mereka menunduk, sadar mereka salah.


"Istiratlah...hari ini latihan Full," ucap Jessica lalu keluar dari dalam ruangan.


"Huhuhu....kita membuat senior kecewa."


"Huhuhu....bagaimana dengan guru nantinya."


"Kita harus buktikan pada guru, kalau kita bisa!"


"Kita hanya butuh kefokusan dan keseriusan."


"Ayo! Semangat, kita bisa!"


"Semangat." Teriak mereka menyemangati diri mereka sendiri.


Sekilas Jessica tersenyum ketika mendengar teriakan anak-anak yang berada di dalam ruang latihan.


"Sedikit kasar, tidak apa-apakan," gumam Jessica.


_________


"Hah....kakiku sakit."


"Kakiku sudah berotot dan beranak." Mereka meruluskan kaki mereka yang sudah pegal dan lelah setelah berkeliling lapangan hampir 200 kali.


"Bagaimana Guys, kakiku sudah mati rasa. Bagaimana dengan kaki kalian?" tanya Zia. Ia berjalan ke arah kerumunan para lelaki yang sudah kelelahan itu.


"Huh...bukanya hanya kakiku yang mati rasa, tapi juga tangan dan seluruh badanku," sahut Zen, ia melepas baju putih bolos itu, menggantungnya di sebuah ranting pohon.


"Astaga." Zia menutup matanya ketika melihat tubuh kotak-kotak milik Zen, keringat membasahi tubuh sempurna itu.

__ADS_1


"Hahahaha....bermainlah dengan kawan sesama jenismu!" sahut Arfan ketika melihat tingkah Zia. Zia menatap tajam.


"Awas ya kalian," ancamnya lalu pergi dari kerumunan orang-orang tampan dan gagah tadi. Zen hanya tersenyum tipis, ia memperhatikan langkah kaki Zia yang lumayan besar dan cepat.


"Sebenarnya dia laki-laki atau perempuan ya?" tanya Zen. Arfan dan Bagas terkekeh lalu menoleh ke arah Zen yang masih memperhatikan Zia.


"Tubuhnya perempuan tapi jiwanya laki-laki," sahut Jessica tiba-tiba. Ketiganya kaget bukan main ketika melihat Jessica sudah berdiri di belakang mereka.


"Hehehehe....ada apa guru?" tanya Bagas, namun tak mendapat jawaban dari Jessica.


"Guruu...." seorang wanita dengan ikat rambut hitam tebal berjalan menuju Jessica. "Hmmm...boleh kita foto ber-samaa?" tanyanya ragu.


"Ah...tentu saja boleh." Jessica tersenyum lalu mengambil Handphone yang ada ditangan si ikat rambut hitam.


"Aku ikut."


"Aku ikut."


"Aku juga."


"Aku mau."


"Aku mau, Kak Jess, tunggu aku."


Kini semua orang sudah berkerumun, berebut tempat untuk berfoto dengan Jessica.


"Jangan dorong, berbaris yang rapi!" teriak Jessica ditengah-tengah kerumunan tadi.


Semua berjejer rapi dan memperbaiki pakaian mereka. Zen kembali memakai baju putih polos itu dan juga sabuk birunya.


Semua tersenyum manis menghadap kamera, entah tak terhitung berapa potret yang sudah diambil. Jessica hanya berdiri dan memasang wajah penuh senyuman setiap ada ponsel yang membidik ke arahnya.


"Sudah cukup ya, Kak Jess pamit dulu. See You Next Time." Jessica berjalan keluar dari kerumunan yang sudah sibuk menatap layar Handphone mereka masing-masing.


"Titip mereka," ucapnya pada Juan si kulit putih. Juan hanya tersenyum malu.


"Maaf, jika hasil bimbinganku buruk," jawab Juan.


"Bukan salahmu, mereka memang harus sedikit ditekan agar tidak membangkang." Jessica menepuk pundak Juan pelan.


"Makasih Kak," ucap Juan yang memang terpaut usia 2 tahun dengan Jessica.


"Kak Juan...Kak Jess. Senyum!" teriak Zia sambil mengarahkan Kamera pada keduanya.


"Sempurna!"


Jessica hanya menggelengkan kepala, pusing dengan tingkah konyol para murid penggemarnya hari ini.


"Terima Kasih, sudah menyempatkan diri untuk berkunjung, Nak," ucap Guru ketika bertemu dengan Jessica di ruang pelatih.


"Ah Guru...aku sudah berjanjikan." Jessica tersenyum sambil memasukan baju putih polos itu ke dalam tasnya.


"Anak-anak sangat lengket denganmu, membuat para guru dan pembimbing baru kewalahan untuk mengatur mereka," ucap wanita paruh baya itu. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, ia masih tetap semangat untuk memimpin perguruan ini. Bahkan sesekali terjun untuk memastikan perkembangan anak-anak muridnya.


"Ku rasa begitu, tapi guru tenang saja. Zia dan yang lainnya akan mengatur semua ini." Jessica tersenyum lalu membungkukkan badannya hormat.


"Saya pamit guru," sambungnya.


"Hati-hati di jalan dan semoga impianmu tercapai, Nak." Ia memberikan pelukan hangat untuk murid kesayangan dan juga kebanggaannya ini.


Terima kasih Guru....


Tanpa dukunganmu, aku bukanlah apa-apa sampai saat ini. Dan mungkin aku akan menjadi kerupuk yang lemas dan mudah ditindas oleh orang lain. Tapi kehadiran dan juga dukungan darimulah yang membuatku seperti ini sampai sekarang. (Jessica)


_________


Semoga suka dengan part ini.

__ADS_1


Semakin kenal dengan Jessica maka semakin Cinta Author padanya😂


__ADS_2