Mencintai Seorang Bodyguard

Mencintai Seorang Bodyguard
2. Janji Aldy & Jessica


__ADS_3

Karena sakit yang Jessica rasakan pada bagian perut dan pinggang, membuat Jessica tidak bisa nyenyak dalam tidurnya. Ia membuka matanya, menoleh ke arah Aldy yang sudah menempel memeluknya.


"Sejak kapan di memindahkan bantal itu?" gumam Jessica ketika melihat bantal guling yang sudah terlempar ke lantai kamar.


"Jessi." Aldy membuka matanya. Ia menatap Jessica heran.


"Kenapa bangun, hemm?" lanjutnya sambil mempererat pelukannya.


"Aku tidak bisa tidur, bangunlah! Temani aku berbicara." Jessica mencubit-cubit pipi Aldy, membuat pria itu lebih nyenyak lagi.


"Sayang! Bangun!"


"Kau memanggilku apa? Ulangi!" ucap Aldy masih dengan mata yang terpejam.


"Tidak mau! Ayo, bangun! Lagipula, ini sudah jam 5 pagi! Bangun, bangun!" Jessica terus mencubit-cubit pipi Aldy gemas.


"Aku lelah, Sayang," jawab Aldy berbohong. Pria itu sebenarnya sudah tidak mengantuk lagi, namun ia enggan untuk membuka matanya dan berdebat sepagi ini dengan Jessica.


"Tidurlah."


Jessica mengelus rambut Aldy lembut. Sesekali ia tertawa saat tangan Aldy menggelitik perutnya.


"Kau bilang lelah, tapi dalam hal menjahiliku kau tidak pernah lelah rupanya," protes Jessica sambil menggenggam tangan Aldy yang mulai berkeliaran.


Aldy tidak merespon apapun. Ia bahkan tidak menolak Jessica menghentikan tangannya. Aldy tetap memeluk Jessica dengan mata yang masih terpejam.


"Jess," panggil Aldy setelah suasana hening beberapa menit.


"Ya?" Jessica membuka matanya, menatap ke arah Aldy yang sudah menatap ke arahnya sejak tadi.


"Aku mencintaimu, kumohon. Mulai saat ini, jangan sembunyikan apapun dariku, dan aku juga berjanji tidak akan menyembunyikan sesuatu darimu," ucap Aldy tersenyum lalu menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah Jessica.


"Aku berjanji padamu, aku akan mengatakan semuanya, tanpa mengurangi ataupun melebihinya." Jessica membalas senyuman Aldy, dengan senyum yang tak kalah manis dan juga menenangkan miliknya.


"Aku mencintaimu." Aldy mempererat pelukannya. Ia bahkan tidak rela melepaskan dan membiarkan Jessica jauh dari dirinya.


Aku juga mencintaimu. Aku mencintai kau yang sekarang. Jujur, aku tidak ingat seperti apa kau di masa lalu. Tapi yang kutahu dan ku-ingat. Kau adalah laki-laki tampan yang berhati lembut. Ya, kadang sedikit dingin, dan juga kadang sedikit gila. Terlepas dari semua itu, aku benar-benar mencintaimu, entah sejak kapan. Intinya aku merasa nyaman berada di dekatmu. Aku merasa sangat berharga berada di tengah-tengah keluargamu. Aku benar-benar beruntung menjadi bagian dari hidupmu. (Jessica)


"Jess, kenapa melamun?" Aldy mengecup kening Jessica berkali-kali, namun wanita itu tetap larut dalam pemikirannya. Akhirnya, Aldy pun gemas dan menggigit bibir Jessica.


"Auu, sakit!" Jessica memegangi bibirnya sambil menatap Aldy tajam.


"Kau melamun, Sayang. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Aldy penasaran.


"Tidak ada, aku hanya merenungi hidupku ini. Aku bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan karena sudah menulis takdir seindah ini untukku dan juga untukmu." Jessica tersenyum, tangannya beralih menyentuh pipi Aldy.


"Aku percaya, Tuhan tau yang terbaik untuk kita. Dan aku yakin, apapun yang kita alami dan lewati saat ini. Itu semua tidak terlepas dari takdir dan juga pengetahuan-Nya. Dia tau apa yang terbaik untuk kita."


Aldy terus tersenyum memandangi wajah Jessica. Ia terus memeluk Jessica, tidak mengizinkan wanita itu berpaling darinya walau hanya satu detik saja.


"Bagaimana dengan bulan madu? Maksudku, apa kita akan tetap bermain ke sana?" tanya Jessica. Tangannya masih menempel di pipi kanan Aldy, mengelus dan juga menusuk-nusuk pipi pria itu.

__ADS_1


"Aku tergantung padamu, jika kau ingin, maka kita akan tetap ke sana," jawab Aldy.


"Sebenarnya aku tidak ingin, tempatnya sangat jauh. Dan aku sedang dalam kondisi seperti ini...."


"Baiklah, kita ke tempat lain saja. Kau ingin ke mana?" potong Aldy. Kali ini Aldy melanggarkan pelukannya agar ia bisa menatap wajah Jessica dengan jelas.


"Emm, Villa Kamboja. Aku suka tempat itu," jawab Jessica antusias. Ia sudah tidak sabar ingin bermain di sekitar danau buatan dan juga rumah pohon yang sangat ingin ia kunjungi.


"Baiklah. Ke mana pun kau mau, aku akan menurutimu." Aldy menarik selimut, menutupi tubuh Jessica sampai wanita itu tidak terlihat lagi oleh dirinya.


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Jessica dari dalam selimut.


Aldy tidak menjawab. Ia malah memeluk tubuh Jessica gemas lalu menghujani pipi Jessica dengan ciuman yang begitu lembut.


Gilanya kumat! (Jessica)


☆☆☆☆☆☆


Hampir satu jam Aldy dan Jessica berpelukan, keduanya saling menatap lalu tertawa kecil secara bersamaan.


"Ayo, lepaskan aku. Ini sudah setengah tujuh. Aku ingin mandi dan juga berjalan-jalan di halaman utama." Jessica mendorong tubuh Aldy lembut, ia menusuk-nusuk perut Aldy, sampai pria itu kembali tertawa geli.


"Baiklah, kau mandi terlebih dahulu. Aku akan menelpon Ken, memintanya untuk membatalkan bulan madu kita," ucap Aldy lalu melepas Jessica dari pelukannya. Belum satu langkah Jessica menjauh darinya, Aldy sudah menarik tangan Jessica kuat. Ia menatap wanita itu lalu tersenyum manja.


"Berikan aku satu ciuman di sini!" ucap Aldy sambil menunjuk bibirnya seperti semalam.


"Tidak, kau sangat licik," tolak Jessica. Ia mulai kesal karena mengingat ucapan Aldy yang mengatakan ia tidak pandai berciuman.


"Tidak, satu kecupan singkat saja. Janji," rengek Aldy sambil menarik-narik tangan Jessica.


Cup


Jessica segera melepaskan dirinya dan menjauh dari Aldy. Ia meraih jubah mandi lalu mengunci pintu kamar mandi. Takut hal-hal aneh terjadi padanya sepagi ini.


Selama Jessica mandi. Aldy menghubungi Ken, memberitahukan bahwa ia dan Jessica tidak jadi berkunjung dan berbulan madu ke tempat pilihan Ken. Setelah menghubungi Ken, barulah Aldy merapikan tempat tidur, melipat selimut dan juga membenarkan sprei yang berantakan karena ulahnya.


Kasur sudah rapi, Aldy beralih membersihkan kelopak-kelopak mawar yang berserakan di mana-mana. Ia menyapu dan mengumpulkan menjadi satu, lalu membuangnya ke tempat sampah di pojok ruangan.


Kamar sudah rapi. Aldy kini berjalan mendekati kamar mandi dan juga ruang ganti. Ia melirik pintu kamar mandi yang sudah terbuka, lalu masuk ke dalam sana.


"Jess, tolong siapkan baju untukku," teriak Aldy dari dalam kamar mandi.


Jessica hanya menggelengkan kepalanya, ia merasa begitu banyak hal konyol yang dirinya temui setelah menikah dengan pria dingin itu.


Usai berpakaian. Barulah Jessica menyiapkan baju untuk Aldy. Ia memilih kaos lengan pendek berwarna putih dan juga celana levis berwarna hitam pekat.


"Kau sudah selesai?" Jessica menatap Aldy heran. Belum 10 menit, pria itu sudah keluar dengan wajah tampan yang begitu segar.


"Ya, untuk apa berlama-lama di kamar mandi," jawab Aldy sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya.


"Ya, kau memang selalu benar tanpa salah sedikit pun." Jessica meletakkan baju dan celana Aldy di atas sofa, lalu meninggalkan pria itu sendirian di sana.

__ADS_1


☆☆☆☆☆


Setelah memakai baju dan mengeringkan rambutnya, Aldy keluar dan langsung mencari keberadaan Jessica. Aldy mengedarkan pandangan pada tiap sudut kamar. Kamar itu kosong, tidak ada Jessica di sana.


"Jessi." Aldy berjalan ke arah balkon. Benar saja, Jessica berdiri di sana sambil menatap ke arah taman samping rumah utama.


"Ternyata di sini, ayo turun! Bukannya kau ingin jalan-jalan?" tanya Aldy sambil memeluk tubuh Jessica dari belakang.


"Ayo, tapi lepaskan aku terlebih dahulu. Mana mungkin aku berjalan dan menuruni tangga dengan kau yang manis menempel di tubuhku," jawab Jessica lalu membalikkan tubuhnya menghadap Aldy.


"Apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?" lanjut Jessica.


"Senyum salah, dingin salah, lalu kau ingin aku seperti apa?" protes Aldy.


"Ah, sudahlah. Aku tidak ingin berdebat sepagi ini, bisa-bisa aku cepat keriput dan menua." Jessica mendorong dada Aldy menjauhi, ia tersenyum kecut lalu menggandeng tangan Aldy keluar dari dalam kamar.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Jessica pada Kamila dan Nathalia yang berdiri di depan pintu kamarnya dan Aldy.


"Anu, itu, Tata, Kaburrrrr......" Kamila langsung menarik tangan Nathalia, mengajak gadis itu kabur dari hadapan Aldy dan Jessica.


"Mereka kenapa?" gumam Jessica.


Keduanya berjalan, dan menuruni tangga bersamaan. Para pelayan yang sendang menyapu dan mengepel senyum-senyum sendiri saat menyadari kehadiran Aldy dan Jessica.


"Selamat pagi, Tuan Muda dan Nona Muda," sapa sang Kepala pelayan.


"Selamat pagi juga, Mbak," jawab Jessica tersenyum.


Keduanya kembali melangkah menuju pintu utama. Aldy membukakan pintu lalu tersenyum mempersilahkan Jessica keluar terlebih dahulu.


Jessica membalas senyum Aldy. Ia pun langsung melangkah menuju taman utama.


"Lihatlah, mereka sudah tubuh sebesar ini sekarang." Jessica menyentuh bunga-bunga mawar yang Ibu tanam dan rawat di taman utama. Mawar itu memiliki warna yang berbeda-beda. Ada yang berwarna merah dan putih. Ada juga yang berwarna pink cerah.


"Kau suka?" Aldy mendekati Jessica. Tangannya sudah gatal ingin memeluk dan juga menjahili istrinya itu.


"Suka, kau tau. Ibu bahkan menanam dan merawat mereka di Villa Kamboja." Jessica melangkah mendekati kursi taman, lalu duduk di sana sambil menatap wajah Aldy yang tak henti-hentinya tersenyum pada dirinya.


"Sudah kubilang. Jangan tersenyum dan menatapku seperti itu. Apa kau tidak sadar, senyummu itu setara dengan manis gula satu ton, bisa-bisa aku diabetes jika terus-menerus melihatnya," gombal Jessica.


"Hahahaha, kau sangat pandai menggombal. Ini salah, seharusnya aku yang mengatakan hal itu padamu." Aldy duduk di samping Jessica dengan lengan yang sengaja ia sediakan sebagai tempat bersandar untuk istrinya.


"Tidak apa, aku malahan suka pria sepertimu, tidak banyak bicara dan berjanji palsu. Tapi selalu membuktikan apa yang sekali kau katakan dan janjikan. Aku mencintaimu dirimu, apapun yang ada padamu, kecuali sifat gilamu," jawab Jessica lalu diakhiri oleh tawa yang begitu renyah.


"Aku gila jika berhadapan denganmu saja. Kau pasti tau bagaimana sikapku jika berhadapan dengan orang lain selain dirimu," ucap Aldy sesuai fakta.


"Ya, kau memang benar. Selalu benar. Dan akan tetap benar."


Aldy mulai gemas. Ia kembali menyerang pipi Jessica dengan kecupan yang sangat lembut.


Kan, gilanya kambuh lagi! Bahkan ia tidak memandang di mana kita sekarang! Bagaimana jika dua gadis planet itu melihat kelakuan gila Kakaknya ini? (Jessica)

__ADS_1


☆☆☆☆☆


Note: Gila di sini bukan gila yang tidak waras, ya. Tapi gila di sini sama seperti orang bucin yang tingkat kebucinannya sudah sampai tingkat paling atas dan paling parah😅


__ADS_2